Puppy or True? part 2

introduction : sedih nih, ternyata yang jadi silent readers banyak banget ya😥 ayo dong readers dikomen. soalnya kalo pada diem aja, aku kan jadi males juga mau bikin ff. aku harap, semoga part selanjutnya komennya lebih banyak yaa

happy reading all🙂

Cast : Seo Joohyun, Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Tiffany Hwang, Krystal Jung, Choi Minho, Kwon Yuri

Genre : Romance, Friendship

Warning : Dilarang memperbanyak atau mengcopy fanfict ini tanpa ijin dari pemiliknya!

kalo butuh apa-apa, atau mau kenalan mungkin *muka aegyo* mention twitter aja yaa @niianio

*****

 

“Krystal-ah, kepalamu baru terbentur tembok ya?” tanya Seohyun.

“Mwo?”

“Habisnya kau senyum-senyum sendiri begitu,”

Krystal tersenyum kembali, “Seo-ah, aku mau bercerita sesuatu,”

Seohyun menyipitkan matanya. Seakan mengatakan bahwa dia penasaran dengan apa yang ingin diceritakan sahabatnya itu. Baru saja Krystal akan bercerita, Tiffany datang dan duduk di bangkunya. Kemudian membalikkan badan untuk berkata, “Kelihatannya aku sudah ketinggalan gosip.”

“Nyaris,” ralat Krystal.

“Ayo lanjutkan!” kata Seohyun.

Krystal mulai menceritakan dari awal kejadian tiga hari yang lalu. Saat dia tidak sengaja berdua dengan Minho. Terus waktu dia curhat soal nilainya yang bobrok banget. Sampai akhirnya dia jadi adik didiknya Minho. Dan akhirnya sudah dua hari dia ‘berempatan’ bersama Minho juga.. matematika dan fisika.

Semua mengangguk paham. Krystal memang sudah ngefans banget sama kakak kelasnya itu semenjak kelas 1 SMP. Tentunya ini sebuah kesempatan besar baginya untuk pedekate mengingat hampir empat tahun juga gadis itu hanya melihat Minho dari jauh.

“Krystal-ah, hwaiting! Buat Minho sunbae menyukaimu,” ucap Tiffany memberi semangat.

Krystal tersenyum cerah.

“Tapi gimana jadinya ya kalau kau jadi pacar Minho sungguhan?” tanya Seohyun tiba-tiba.

Tiffany menatap bingung, “Waeyo?”

“Habisnya, Minho kan seorang playboy. As we all know, dia tampangnya selangit, pinter, keren. Kalo denger Minho pacaran denganmu, itu sama aja aku denger Anastasia atau Drizella yang pacaran sama pangeran, bukan Cinderellanya,”

Senyum cerah yang sebelumnya terlihat di wajah Krystal langsung luntur begitu saja. berganti dengan wajah macan kelaparan yang ingin memakan Seohyun.

“Kau..”

“Selamat pagi, anak-anak! Sekarang hanya ada alat tulis diatas meja kalian. Hari ini adalah pre-test bab fluida,” kata Prof. Lee, membuat Krystal dengan terpaksa menghentikan omelannya.

“Awas kau, Seo Joohyun!”

Seohyun tertawa puas.

 

*****

“Kemana Krystal dan Tiffany?” tanya Kyuhyun, melihat Seohyun hanya datang sendiri ke parkiran mobil.

“Krystal ada rapat W-Day. Kalau Tiffany, dia disuruh Prof. Kim untuk ikut tambahan olimpiade matematika,” jelas Seohyun sambil memasang seatbeltnya.

“Berarti kita cuma berdua kesana? Minho juga rapat W-Day,”

“Tidak masalah, kita berkencan saja,”

“Mwo?!”

Seohyun menyeringai, “Tidak usah mengelak, kau juga ingin kan? Ayo jalankan mobilnya saja!”

Kyuhyun meringis. Kenapa gadis ini aneh sekali sih? Lalu menggerakkan stir untuk menjalankan mobilnya. Suasana cukup hening didalam mobil. Hanya terdengar alunan musik yang berasal dari radio yang mengisi kekosongan suara disana. Seohyun sedang bermain Unblock Me di iPodnya, sementara Kyuhyun lebih memilih untuk fokus menyetir.

Setengah jam kemudian, mobil Kyuhyun sudah melakukan sikap sempurna di parkiran Lotte World. Seohyun langsung berlari dengan riang menuju pintu masuk. Membuat Kyuhyun hanya mampu berdecak melihat tingkahnya.

“Kyuhyun-ah, ayo cepat beli tiket masuknya!” seru Seo, sambil menarik-narik tangan Kyuhyun.

“Hei! Panggil aku dengan oppa! Krystal saja sampai sekarang masih memanggilku sunbae,” omel Kyuhyun.

“Ah kan sama saja. Atau aku memanggilmu ‘jagy’ saja? Bagaimana?”

“Mwo?! Andwae!”

Seohyun merengut, “Sudahlah! Cepat sana kau beli tiket!”

“Ya lihatlah! Antreannya masih panjang, bersabarlah sedikit,”

“Kita pencet alarm kebakarannya saja,” cetus Seohyun.

Kyuhyun langsung mendelik, “Kau mau cari mati ya?”

Seohyun terkikik.

Setelah berhasil mendapatkan tiket dan masuk gerbang, keduanya benar-benar tidak sabar untuk bermain sepuasnya hari ini. Mereka mulai berkeliling, melihat-lihat wahana apa yang seru untuk dimainkan sekarang.

“Naik itu yuk!” ajak Kyuhyun, yang menunjuk kearah tower setinggi 200 meter. Banyak orang-orang berteriak disana karena mereka dinaik-turunkan disana. Seo sempat melongo sesaat. Ini tower kayak kurang tinggi deh ya? Kalau seandainya sabuknya lepas sangat lagi diturunkan gimana?

“Kenapa? Takut? Katanya jagoan?” kata Kyuhyun menyeringai, melihat raut wajah Seo yang agak absurd. Seohyun berkacak pinggang. Menunjukkan kalau mainan gituan bukan tandingannya.

“Ayo! Siapa takut!”

 

******

Hebat! Dua setengah jam lewat dan sekarang hampir tiga jam Krystal belajar sama Minho di perpustakaan. Dan dalam waktu selama itu, Krystal hanya mampu mengerjakan 12 soal matematika dan 10 soal fisika. Padahal masing masing mata pelajaran, Minho memberikan 20 soal.

“HAAAH.. SELESAI!!” seru Krystal setengah berteriak karena begitu senang. Minho menggelengkan kepalanya. Diambilnya pekerjaan gadis itu untuk dikoreksi.

“Ya! Tiga jam mengerjakan kenapa yang salah masih tetap banyak?” omel Minho, sambil membetulkan letak kacamatanya. Jujur saja, tampang serius Minho saat mengoreksi seperti ini benar-benar membuat Krystal meleleh. Dia paling suka melihat cowok dengan tampang orang sibuk.

“Jangan melihatku terus! Cepat kerjakan yang lingkari,” suruh Minho, membuyarkan lamunan Krystal. Gadis itu memanyunkan bibirnya, kembali mengerjakan soal matfis nista itu.

Tiba-tiba suara lagu Thanks For The Memories-nya Fall Out Boys berdering dari handphone Minho. “Aku angkat telpon dulu,”

Krystal mengangguk. Kira-kira telepon dari siapa ya? Penasaran, diam-diam dia meninggalkan kerjaan yang diberikan Minho. Dengan mengendap-endap, ditempelkan tubuhnya di tembok sebelah jendela. Didepan pintu perpustakaan, Minho berbicara dengan seseorang lewat telepon itu.

Kelihatannya itu Se Kyung sunbaenim.

Krystal menguping.. eh salah maksudnya, berusaha mendengarkan diam-diam apa yang sedang dibicarakan Minho. Sepertinya sesuatu yang serius, karena wajah Minho mendadak agak menegang.

“Mianhae Se Kyung-ssi, carilah laki-laki yang memang benar-benar mencintaimu,”

“…”

“Kenapa aku minta putus? Karena aku tidak mencintaimu lagi,”

“…”

Buset! Krystal masih berusaha mencuri pendengaran lewat tempat bersembunyinya sekarang.

“Kamu ngerasa kurang cantik? Kurang pantas denganku?”

“…”

“Kau benar! Aku tidak mencintaimu lagi karena semua alasanmu itu,”

GLEK!

Krystal menahan napas. Bilang sudah tidak cinta karena gadis itu tidak cantik? Gadis itu tidak pantas untuknya? Ampun! Padahal mereka baru berpacaran hampir dua minggu. Katanya playboy, tapi kenapa mulutnya tidak ada manis manisnya sih?

“Aku tahu kau bersembunyi disana, Krystal,”

PABO KRYSTAL! Gadis itu merutuki dirinya sendiri yang ketahuan bersembunyi. Yah sudah terlanjur basah, akhirnya dia keluar kearah pintu perpustakaan. Dilihatnya Minho berdiri menatapnya sinis dengan tangan terlipat didepan dada.

“Sudah berapa banyak yang kau dengar?”

“A.. itu.. dari awal,” jawab Krystal tergagap.

“Kenapa sunbae jahat sekali?” protes Krystal sok berani.

“Apanya?”

“Memutuskan seorang perempuan dengan alasan tidak pantas untukmu. Apa lidahmu dibuat setajam pisau sampai bisa mengatakan hal seperti itu?”

“Aku tidak mengatakan seperti itu,”

“Apanya yang tidak? Jelas-jelas sunbae mengiyakan omongannya,”

“Omongannya kan?” kata Minho, “Dia yang mengatakannya sendiri. Dia sendiri yang merasa kalau dia tidak pantas untukku.”

Krystal melongo, “Eh?”

Minho berkata, “Kalau dia tidak bisa menerima dirinya sendiri, mana bisa dia menerima orang lain?” tambahnya.

Krystal terdiam. Jadi itu alasannya kenapa Minho ngomong begitu? Agar Se Kyung sadar kalau dia harus menghargai dirinya sendiri dulu baru orang lain. Sejurus Krystal paham. Ternyata itu hanya pedas kata-katanya saja. Tapi maksudnya baik.

“Dasar suka ikut campur! Sudah selesai kerjaanmu?”

Krystal menganga. Dia segera lari untuk kembali mengerjakan nomor yang dibundari kakak kelasnya itu. Minho yang melihatnya, sekali lagi hanya mampu menggeleng.

 

*****

Waikiki Wave baru saja berhenti berputar. Tanpa memakai sepatu, Kyuhyun lari keluar dari arena meninggalkan Seohyun–yang sedang berusaha mengembalikan cairan di saluran setengah lingkarannya agar tubuhnya seimbang lagi. Dijungkir-balik hingga kaki berada di kepala dan kepala di kaki, rasanya membuat dunianya tidak berhenti berputar.

Kemana sih Kyuhyun itu? Ngajakin naik kipas muter nggak jelas begitu, terus tiba-tiba menghilang begitu saja? Bener-bener nggak gentle kan? Seohyun masih ngedumel sendiri. Sambil membawa sepatu dan tas Kyuhyun, dia berjalan keluar arena. Rasanya kakinya masih belum bisa berdiri dengan baik di tanah, masih agak sempoyongan.

“Kyuhyun, kau di…”

Seohyun melongo. Dia melihat Kyuhyun sedang memegangi perutnya, setengah jongkok dan mengeluarkan isi perutnya.

WHAT?! COWOK SOK JAGOAN BEGITU MUNTAH?!

Niatnya yang tadi untuk mengomel sontak hilang begitu saja melihat Kyuhyun muntah-muntah di selokan seperti itu. Seohyun langsung tertawa sekencang-kencangnya sambil berkata, “HAHAHAHA.. MENGAKUNYA JAGOAN KOK MUNTAH!!”

Kyuhyun sudah melotot lebar. Tangannya ingin disiapkannya untuk menghajar Kyuhyun. Tapi sepertinya perutnya lebih dahulu ingin menghajarnya.

“Hoeeek..”

 

“Isi perut dulu nih,” ujar Seohyun memberikan sebuah nampan berisi sebuah burger besar dan air putih. Kyuhyun langsung menyambarnya tanpa ba-bi-bu. Mengeluarkan semua isi perutnya seperti tadi membuatnya didera kelaparan tingkat dewa.

“Hwa..fis..mih..fu..gwi..nya,”

Seo mengerutkan dahi akibat omongan Kyuhyun, “Tidak jelas, habiskan dulu deh makananmu.”

Kyuhyun berusaha menelan semua burger. Alih-alih menelan, yang ada justru tenggorokkannya tersedak. Dia memuntahkan makanannya, dan hasil telanannya kelempar kemana-mana. Langsung Seohyun berdiri kesal. Cowok ini..

“Minum.. minum..” omel Seohyun, “Jangan makan kayak sapi dong! Habis dikunyah, dimuntahin lagi.”

“Ya! Kenapa kau jadi menyama-nyamakan aku dengan sapi?”

Wajah cowok itu tertekuk. Dia kembali meneguk air putihnya. Berharap semua makanannya segera turun pada tempatnya sehingga tidak membuat sesak lehernya lagi. Akhirnya Kyuhyun memutuskan untuk menghabiskan makanannya dulu. Seo juga kembali menyantap makanannya.

“Habis ini main lagi ya,” pinta Kyuhyun.

“Lalu kau muntah dan merepotkanku lagi?” cerocos Seo, “Tidak!”

“Siapa yang mau mengajak main yang seperti itu lagi? Aku mau mengajakmu main yang lain,”

Seohyun menyipitkan matanya. Kyuhyun segera bangkit dari tempat duduknya. Dan mengajak Seo berlari.

“Ya appo! Tanganku!!”

Kyuhyun masih sambil tertawa menarik tangan Seo. Mereka terus berlari sampai akhirnya..

DUK!
“Ya! Kenapa berhenti mendadak?” Seohyun mengelus dahinya yang terjedot badan Kyuhyun. Dilihatnya ada apa didepan Kyuhyun. Hawa dingin langsung menghampiri tubuhnya. Hamparan balok es cukup luas berada didepan mereka.

“Ayo main ice skating!”

“Mwo? Andwaee..”

Kyuhyun tampak menyatukan kedua alisnya, “Wae? Ini lebih menyenangkan. Tidak akan membuat kita muntah.”

“Tapi membuatku mati kedinginan,” celetuk Seohyun, “Kau main sendiri saja! Aku akan menunggu disini.”

Kyuhyun menjulurkan lidahnya. Dan kembali menarik tangan Seohyun menuju tempat persewaan alat-alat ice skating. Muka Seo tampak merengut saat dipasangkan alat-alat skating. Yang cowok nampak begitu semangat memasuki arena skating.

“Seo, kenapa kau masih berdiri disana? Cepat kesini!”

Seohyun menggeleng. Bibirnya dimajukan beberapa senti. Membuat Kyuhyun terpaksa keluar arena untuk menghampirinya.

“Ayo kita main!”

Seohyun yang dari tadi diam akhirnya berteriak, “AKU DARI DULU KAN TIDAK BISA MAIN SKATING, BODOH!”

Kyuhyun melongo.

“Payah! Kau ini benar-benar tidak peka,” Seohyun beranjak melepaskan genggaman cowok itu. Dirinya merasa kesal. Bukannya Kyuhyun sudah bersamanya sejak kecil? Apa cowok ini tidak ingat kalau dia pernah jatuh sampai benjol gara-gara main skating? Semenjak kejadian itu kan, Seohyun tidak mau main ice skating lagi.  Apa cowok ini tidak ingat? Menyebalkan!

“AW!!” pekik Seohyun kencang, karena rambutnya tertarik sesuatu. Ternyata yang menarik itu Kyuhyun.

“Ya! Kau mau mencari mati denganku? Aish!”

Kyuhyun terkikik, “Jangan marah seperti itu! Kau terlalu cantik saat marah-marah.”

“Kalau kau pikir dengan gombalanmu itu aku akan luluh, berarti otakmu harus diupgrade OS-nya,”

“Tidak! Siapa yang mau menggombal!” tangan Seohyun diambilnya, “Aku akan memegangimu, jadi kau tidak akan jatuh seperti dulu, oke?”

“Apanya yang oke?” Seohyun masih sinis.

Kyuhyun mensejajarkan wajahnya pada Seohyun, “Dulu aku masih kecil. Mana kuat mau menahan tubuhmu waktu jatuh. Tapi sekarang aku kan sudah besar. Pasti aku bisa menjagamu,”

Seohyun tampak berpikir sejenak.

“Paling-paling kalau ternyata aku masih tidak menjagamu, kamu hanya pulang dengan memar. Bukan benjol,”

Seohyun mendelik.

 

*****

“Aku tidak tahu kalau kau bisa bangun pagi,” ujar Seohyun yang baru saja masuk ke rumah Kyuhyun keesokan harinya. Dilihatnya cowok itu sedang membaca sebuah buku tebal yang entah apa itu. Sesekali menyelinginya dengan memakan roti.

“Gara-gara main dengan kau, aku jadi tidak belajar polimer semalam,” kata Kyuhyun.

“Mwo? Aku? Jelas-jelas kau yang mengajakku jalan,”

Kyuhyun tidak membalas. Berusaha tetap serius dengan materi-materi yang akan diulangankan nanti. Seohyun otomatis hanya duduk diam juga di kursi makan. Lima belas menit kemudian, Kyuhyun mengajaknya berangkat sekolah.

 

Sesampainya di sekolah, Kyuhyun memarkikan mobilnya. Kemudian jalan bersama Seohyun menuju ruang kelas mereka yang lumayan jauh dari parkiran mobil. Parkiran mobil letaknya persis setelah gerbang depan sekolah. Setelah parkiran nanti gedungnya akan terbagi dua, untuk anak IPA dan IPS. Kelas Seohyun dan Kyuhyun sama-sama berada didekat laboratorium-laboratorium yang letaknya hampir seratus meter dari gerbang. Yah, lumayan buat jogging pagi-pagi.

“Aku ke kelas ya,” ujar Kyuhyun yang dijawab dengan anggukan dari Seohyun.

Bel tanda pelajaran pertama berbunyi. Semua anak mulai kembali ketempat duduk masing-masing. Pelajaran pertama hari ini adalah fisika(lagi). Bisa dipastikan agenda hari ini adalah pembagian hasil pre-test kemarin. Benar saja, Prof. Lee masuk kelas dengan membawa setumpukan kertas di tangannya.

“Baiklah! Saya akan membagikan hasil pre-test kalian. Seperti biasa, saya akan membagikannya mulai dari urutan paling atas. Nilai tertinggi di kelas ini adalah Tiffany Hwang, 97,”

Semua anak bertepuk tangan. Bukan hal yang barulah kalau Tiffany mendapat nilai segitu. Dan siapapun juga bisa menebak, kalau yang mendapatkan nilai tertinggi kedua adalah…

“Kim Ki Bum, 92. Bagus! Pertahankan ya,”

“Selanjutnya, Krystal Jung, 90. Ini kemajuan yang sangat baik. Saya pertama kalinya melihat nilai pre-testmu setinggi ini. Bagus sekali, Krystal!”

Krystal nampak begitu sumringah melihat hasilnya. Prof. Lee memberikan hasil pekerjaan beberapa anak di kelasnya. Sebelum akhirnya memberikan hasil pekerjaan Seohyun.

“Bukan nilai yang buruk sebenarnya, tapi saya yakin sebenarnya kamu bisa lebih baik dari ini, Seohyun-ssi,”

Seohyun terhenyak melihat nilainya. 80? Hanya 80? Dari dulu hingga sekarang, dia tidak pernah mendapatkan nilai dibawah 85. Memang nilai 80 bukanlah angka yang buruk. Malah untuk ukuran pre-test, nilai 80 itu sudah cukup lumayan. Masalahnya, Seohyun merasa tidak puas kalau nilainya hanya segini. Bahkan Krystal–yang notaben sering dibawahnya–justru mendapat 92.

“Seo-ah, aku pinjam tip-ex dong,” mohon Krystal.

Seohyun tidak menjawab.  Dia hanya memberikan kotak pensilnya. Sepanjang pelajaran, Seo yang biasanya rame mendadak kayak orang planet Mars baru datang ke Bumi. Diam hening. Tidak mood untuk bicara. Tidak mood untuk ngapa-ngapain. Bahkan dia tidak mencatat apapun di papan saking tidak moodnya. Hal ini jelas membuat Tiffany dan Krystal agak kebingungan.

Juga Kyuhyun. Cowok itu memperhatikan Seohyun hanya diam seharian ini. Di kantin Seo sering sekali mengeluarkan celetukan. Tapi ini tidak. Hanya diam melihat yang lain tertawa.

“Seo kenapa sih?” bisiknya pada Tiffany.

“Hah?”

“Kenapa dia diam saja dari tadi? Apa dia ada masalah?”

“Ehm.. entahlah, sunbae. Seo sudah seperti itu sejak hasil pre-testnya dibagikan tadi,”

Kyuhyun mengerutkan dahi, “Memangnya dia tidak lulus pre-test?”

“Lulus sih,” kata Tiffany, “Tapi sepertinya dia tidak puas dengan nilainya,”

“Khasnya anak ini. Terlalu perfeksionis,” gumam Kyuhyun, sambil melirik seorang gadis yang diam saja didepannya

 

*****

“Ayo ikut aku!” Kyuhyun menarik tangan Seohyun. Lalu memasukkan gadis itu kedalam mobil. Belum sempat Seo melayangkan protes, Kyuhyun sudah menancap gas. Dijalankannya mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi. Mau tidak mau, Seohyun harus fokus komat-kamit semoga dewi fortuna melindunginya di jalan. Beruntung jalanan agak sepi sehingga jaminan keselamatan Seohyun agak lebih terjaga.

Begitu keduanya sampai didepan rumah, Kyuhyun kembali menarik Seohyun. Mengajak gadis itu ke halaman belakang rumahnya. Disana terdapat sebuah trampolin besar berwarna ungu tua.

“Ada apa sih?” akhirnya Seohyun dapat bertanya.

“Melompatlah,”

“Mwo?”

“Melompatlah disini. Teriaklah sekencang kamu bisa. Buat hatimu lega,”

“Kau bicara apa sih?”

“Aku tahu kau sedang kesal. Jadi buang semua kesalmu itu dengan lompat-lompat dan teriak-teriak. Apa kau tau, wajahmu saat kesal itu sangat mengganggu kami?”

Seohyun terdiam. Diliriknya lembaran karet besar yang terbentang disebelahnya. Setelah itu menatap kearah Kyuhyun. Dia mencoba naik ke atas, dan melompat. Awalnya pelan. Lama kelamaan semakin tinggi dan tinggi. Seohyun mulai menikmati lompat-lompat seperti ini. Rasanya seperti dia mampu menggapai segala sesuatu yang begitu tinggi diatasnya. Setelah agak lama melompat saja, Seo menambahnya dengan teriakan, “AKU KESAL DENGAN NILAIKU!!”

“KENAPA NILAIKU CUMA SEGITU?!”

“KALAU NILAI RAPORTKU JELEK BAGAIMANA??!!”

Kyuhyun tersenyum. Dia kemudian ikut lompat dan berteriak, “AYO KITA TERUS MELOMPAT DAN TERIAK!!”

Dan berbagai luapan hati lainnya diteriakkan oleh Seohyun. Intinya sih tidak jauh dari soal nilai pre-testnya yang jelek. Sesekali, Kyuhyun juga ikut berteriak. Setelah cukup lama lompat sambil teriak diatas trampolin, Kyuhyun dan Seohyun sama-sama merasa lelah. Mereka membanting tubuhnya diatas trampolin. Mencoba untuk mengembalikan kecepatan bernapas seperti semula. Seohyun melirik kearah Kyuhyun.

“Sudah lebih lega?” tanya Kyuhyun, masih dengan napas yang satu-dua.

Seohyun tersenyum manis. Lalu mengangguk.

“Hah, memang merepotkan berteman dengan anak SMA bermental TK,”

“Kau mau mengajakku ribut?”

Kyuhyun terkikik.

“Aku kesal nilaiku jelek. Kalau nilaiku seperti ini, mana bisa ikut jalur prestasi untuk kuliah nanti,” keluh Seohyun.

“Ya Tuhaaan!” Kyuhyun memutar bola matanya, “Memangnya kalau satu nilaimu saja jelek, maka kamu langsung divonis tidak mungkin ikut jalur prestasi?”

“Tapi kalau nilaiku jelek kan orang-orang juga tidak akan menganggapku pintar lagi. Lalu tidak ada yang mendengarkan omonganku lagi,”

Kyuhyun menggelengkan kepalanya, “Paranoid sekali sih. Satu kali mendapat nilai jelek tidak akan membuat orang-orang menganggapmu bodoh. Lagipula nilai 80 itu bukan nilai yang jelek, masih diatas standar juga,”

Seohyun terdiam mendengarkan perkataan kakak kelasnya itu. Dipikir-pikir ya benar juga. Buat apa sih dia ngambek bodoh nggak jelas begini? Toh dia ngambek sampe tua juga nilainya tidak akan berubah.

“Sekarang yang penting, kamu bisa mengembalikan nilaimu seperti semula. Mungkin kamu sudah terlalu lama diatas, perlulah sekali-kali turun ke tanah. Burung juga tidak mungkin terbang selamanya kan?” hibur Kyuhyun. Kemudian dia mengelus-elus kepala Seo sambil tersenyum manis.

“Aku ambil minum sebentar, kamu tidak mau mati kehausan kan?”

Seohyun terkikik. Lalu mengangguk.

Entah kenapa, hatinya terasa hangat. Dalam hati, dia tersenyum heran memperhatikan sosok laki-laki yang saat ini sedang masuk kedalam rumah. Sejak kapan Kyuhyun yang dia kenal semaunya sendiri berubah jadi sebijak ini? Dia jadi merasa bodoh sendiri kalau seperti sekarang.

Gadis itu membuka tas sekolahnya. Mengambil sebuah buku kecil, dan dirobeknya sehelai kertas didalamnya. Dengan bulpen bertinta hitam, dia menuliskan sesuatu disana. Syukurnya Kyuhyun meninggalkan tasnya diluar.

Seohyun hapal sekali penyusunan barang-barang di tas cowok itu. Dia membuka resleting depan tas itu untuk mengambil sebuah dompet hitam. Dibukanya dompet itu. Terulas senyum mengembang di wajah Seohyun. Ternyata Kyuhyun memasang foto mereka berdua pas berantem masih kecil dulu. Tapi Seo sadar akan tujuannya. Dibukanya resleting uang recehan Kyuhyun. Dan menyimpan kertas itu disana. Setelahnya mengembalikan dompet itu kedalam tas.

“Ini minumannya,” Kyuhyun menyodorkan sebotol ukuran tanggung pocari sweat.

Seohyun tersenyum manis.

 

*****

6 thoughts on “Puppy or True? part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s