Puppy or True? part 3

introduction : mau ngucapin makasih banyak buat readers yang udah mau baca dan ngomen, apalagi ngelike🙂 sumpah demi apapun makasih banget .. semoga silent readersnya berubah jadi ngomen ya eheheh

happy reading all :)

Cast : Seo Joohyun, Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Tiffany Hwang, Krystal Jung, Choi Minho, Kwon Yuri

Genre : Romance, Friendship

Warning : Dilarang memperbanyak atau mengcopy fanfict ini tanpa ijin dari pemiliknya!

kalo butuh apa-apa, atau mau kenalan mungkin *muka aegyo* mention twitter aja yaa @niianio

*****

“Mianhae,” ujar Seohyun sambil membungkukkan badannya. Membuat Krystal dan Tiffany heran.

“Kenapa minta maaf, Seo-ah?” tanya Tiffany.

“Maaf, kemarin kalian pasti kesal dengan tingkah kekanak-kanakanku,”

“Lho, bukannya kamu memang tidak pernah dewasa?”

Seohyun memanyunkan bibirnya. Membuat Krystal tertawa. Kemudian gadis itu berdiri dari tempat duduknya. Berjalan untuk merangkul bahu sahabatnya itu.

“Ya, aku hanya bercanda. Makanya kalau merasa sedih atau kesal, berceritalah pada kami. Jangan khawatir kami tidak peduli denganmu! Kami selalu menganggapmu hebat kok,” hibur Krystal.

“Iya, kami tidak peduli walaupun seribu kali kau mendapat nilai 80, kami akan selalu menganggap bahwa kamu yang paling hebat,” tambah Tiffany, yang ikut merangkul bahunya.

“Sungguh? Aku merasa seperti diatas awan sekarang,”

Tiffany dan Krystal tertawa. Sementara Seohyun merasa lega. Ternyata dia memang memiliki sahabat-sahabat yang begitu baik. Mereka bisa memaklumi sifatnya yang masih kayak anak kecil.

Aku memang beruntung.

Ketiganya kembali duduk di bangku masing-masing dan mulai menggosip sana-sini. Hitung-hitung sambil menghabiskan waktulah menunggu bel jam pertama berbunyi.

“Apa kau sudah membuat cokelat?”

“Aku baru beli resep membuat cokelat yang baru,”

“Oya? Aku..”

Krystal merasa heran. Ada apa dengan cokelat? Kenapa orang-orang membahas cokelat? Memangnya di sekolahnya ada lomba memasak cokelat? Diambil handphonenya dari saku rok. Mencoba mengotak-atik menu, mencari kalender.

“MWOOOO??!!” pekik kencang Krystal.

“Ya! Kenapa kau teriak sekencang itu?” omel Seohyun. Pekikan Krystal yang sebesar sound system jelas bisa bikin kuping orang budek. Eh nggak ding.. sadis amat ya?

Krystal langsung berbalik badan. Menghadap kedua temannya dengan sudut bibir yang melengkung kebawah. Menunjukkan tanggal hari ini di kalender handphonenya.

“Memangnya kenapa, Krys?” tanya Tiffany, menatap bingung ke layar handphone Krystal.

“Kau tidak lihat, hari ini tanggal 7 Februari!”

Seohyun mengerutkan dahinya, “Lalu?”

“Seminggu lagi Valentine dan aku belum membuat cokelat sama sekali!! OTTOKHAE??!!”

GUBRAK!

Dapat dilihat sekarang ekspresi wajah Seohyun dan Tiffany sama kayak emoticon strip-underscore-strip. Krystal masih saja panik, memukul-mukul handphonenya ke telapak tangan.

Seohyun menggelengkan kepala. “Kupikir terjadi sesuatu yang berbahaya. Ternyata hanya seperti itu.”

“Hanya? Ini bukan hanya! Bagaimana kalau Minho sunbae tidak mendapat cokelat penuh cinta dariku?” Wajah Krystal tampak begitu sedih ala artis-artis.

“Sepertinya dia terlalu banyak menonton drama tante-tante,” desah Seohyun yang langsung mendapat tatapan diam-kau-Seohyun.

Tiffany hanya tertawa pelan saja. Dia memang sudah terbiasa melihat Seohyun dan Krystal yang nyaris tak pernah akur. Kalaupun adem bisa dihitung pakai jari berapa menit.

“Memangnya kau tidak ingin membuat cokelat, Seo?” tanya Tiffany.

“Aku malas,” jawab Seohyun singkat.

“Kok gitu? Kan kasihan Kyuhyun sunbae tidak mendapatkan cokelat darimu,”

“Kenapa jadi bawa Kyuhyun?”

*****

“Besok kalian temani aku beli cokelat batangan ya?” pinta Krystal.

“Kamu masih ngebet membuat cokelat ya?”

“Tentu. Ayolah temani aku,” Kali ini Krystal mengeluarkan wajah aegyo-nya. Berharap ini bisa membantunya membujuk sahabatnya itu.

“Baiklah,” kata Tiffany tiba-tiba, “Aku akan menemanimu membeli cokelat. Aku juga ingin membuatnya nanti.”

“Aah jeongmal?! Gomawoo Fany-ah!!” Krystal langsung memeluk Tiffany yang duduk disebelahnya. Sementara pada Seohyun, dia menjulurkan lidahnya mengejek. Seohyun mencibir tidak jelas.

“Memangnya kau benar-benar tidak ingin memberi cokelat untuk siapapun?” tanya Tiffany kepada Seohyun, kedua kalinya dalam hari ini.

“Ehem.. ehem..” Seohyun menoleh, mencari suara orang yang sok-sok batuk. Dibelakangnya ternyata sudah berdiri Kyuhyun dan Minho. Entah darimana mereka datang, sampai tiba-tiba sudah berdiri disana.

Pantas saja Krystal langsung cengar-cengir barusan.

“Kau batuk? Nih minum,” kata Seo sambil menyodorkan jus jeruk kesukaannya. Kyuhyun hanya nyengir kuda.

“Bukannya akan menyenangkan jika kau memberikan cokelat pada kami? Jadi kita bisa saling bertukar cokelat,” ujar Tiffany.

“Dan tentunya, cokelat spesial untuk Kyuhyun sunbae,” seringai Krystal, melirik bolak balik antara Kyuhyun dan Seohyun.

Kyuhyun mengibas-ngibaskan tangannya, “Buat apa anak ini memberiku cokelat? Cokelat buatannya pasti kepahitan seperti dulu lagi. Tidak mungkin enak. Lagipula aku pasti nanti banyak mendapatkan cokelat dari fans-fansku. Jadi tidak penting juga cokelat darinya.”

Seohyun menyipitkan matanya, “Kau benar-benar senang bertengkar denganku ya?”

Aku tahu aku memang selalu cantik, terutama saat marah. Tapi bukan berarti kau harus membuatku kesal tiap hari kan?

Yang lainnya senyum menggeleng-geleng.

*****

“Tumben kau masih di sekolah. Biasanya kau sudah pulang dengan Seohyun,” ujar Minho, melihat Kyuhyun yang duduk santai bersandar dibawah pohon.

“Kau lupa? Kemarin anak itu kan bilang mau menemani Krystal membeli cokelat,”

Minho menganggukkan kepalanya. Kemudian ikut duduk disebelah Kyuhyun. Diteguknya air botol Evian yang ada di tangannya.

“Dasar perempuan, Valentine biasa saja repot-repot sekali mengurusi cokelat,” desah Kyuhyun.

“Namanya juga perempuan. Itu kan menyangkut kepuasan hati mereka. Mereka menganggap memberi cokelat dapat mewakili perasaan tulus mereka kepada seseorang yang disukainya. Dan hari Valentine adalah hari kasih sayang. Benar-benar waktu yang tepat bukan untuk menunjukkan perasaan kepada orang yang disuka?”

Kyuhyun menatap sahabatnya itu cukup lama. Kalimat yang baru saja dilontarkan Minho agak membuatnya linglung. Sepertinya tidak heran jika Minho dikenal sebagai cassanova. Mulutnya terlalu manis.

“Ya! Berhentilah menatapku seperti itu! Bahu kiriku sudah kesemutan nih,” kata Minho sinis.

“Darimana kau mendapatkan kalimat tadi?”

“Hah?”

“Percayalah, aku sudah berteman denganmu dari SD. Jelas aku sudah tahu dari cara kamu makan sampai cara kamu kencing. Dan aku benar-benar tahu kau tidak semanis omonganmu tadi,”

“Sialan!” umpat Minho.

Keduanya lalu tertawa ringan. Kemudian mereka sibuk mengamati sparring basket antara kelas sepuluh dan kelas sebelas. Sesekali keduanya mengomentari skill dari adik-adik kelasnya itu. Dulu, Minho dan Kyuhyun juga salah anggota tim inti basket sekolah. Bahkan Minho adalah seorang kapten basket yang berhasil membawa tim sekolahnya masuk semifinal kejuaraan nasional. Jadi, wajarlah kalau banyak gadis yang akhirnya ngefans sama mereka.

“Ngomong-ngomong, aku berhasil mendapatkannya,” kata Minho tiba-tiba.

“Mendapat apa?”

“You know what I mean,”

Kyuhyun menyipitkan matanya, “Anak itu?”

Minho mengangkat satu alisnya.

“Kau yakin bersamanya? Nanti bisa ada yang terluka lho,”

“Yah kita lihat saja nanti,”

Kyuhyun hanya mengendikkan bahu.

*****

“HAPPY VALENTINE, GUYS!!” teriak Krystal dari depan kelas. Tidak terasa Valentine tiba. Tentu semua anak perempuan mulai bersiap memberikan cokelat kepada seseorang yang dia suka. Begitu pula dengan Krystal yang berlari menuju bangkunya. Tersenyum begitu manis kepada kedua sahabatnya.

“Hei, cengiranmu sangat menakutkan tahu,” ujar Seo.

“Hari ini kan hari kasih sayang. Jadi kita juga harus menunjukkan kebahagiaan dan keceriaan dong sama orang-orang disekitar,” Seohyun langsung bergaya memasukkan tangannya ke mulut. Berlagak mau muntah karena omongan bualan Krystal.

Tiffany senyum-senyum saja. Lalu membuka resleting tasnya. Mengeluarkan dua kotak ukuran sedang berwarna soft-pink dengan pita merah. Kemudian memberikannya kepada Seohyun juga Krystal.

“Selamat Hari Valentine, Seo-ah, Krystal! Aku sayang kalian,” ujar Tiffany dengan senyuman manis. Seohyun baru saja akan mengambil kotak itu, tapi buru-buru diambil oleh Krystal.

“Ya! Itu milikku!” omel Seo.

“Jangan dibagikan sekarang, Fany! Nanti saja waktu pulang bareng denganku, ya?”

Sejurus Tiffany paham makna tersirat dari Krystal. Dia mengambil kembali kotak-kotak coklatnya, memasukkannya kedalam tas. “Baiklah! Nanti kita bagi sekalian untuk Kyuhyun sunbae dan Minho sunbae.”

Krystal tersenyum senang. Sementara Seohyun merengut. “Kau menghambat rejekiku, Krys.”

*****

“Nah ini untuk Kyuhyun sunbae dan Minho sunbae. Selamat hari Valentine, sunbae,” kata Tiffany dengan halus. Kyuhyun dan Minho tersenyum cerah, mengambil cokelat persahabatan dari Tiffany.

“Ini juga dariku, sunbae,” Krystal menyodorkan dua kotak coklat dengan berbeda, “Ini untuk Kyuhyun sunbae. Dan yang ini buat Minho sunbae.”

Kyuhyun kelepasan ngomong, “Kenapa punyaku pitanya warna biru, tapi Minho warna merah?”

Krystal langsung menginjak kaki Kyuhyun. Dasar cowok bodoh! Harusnya dia kan tidak perlu keceplosan seperti itu. Kalau begini, bisa-bisa gagal rencananya memberi cokelat part 2 pada Minho? Buat apa memberi lagi kalau sekarang sudah ketahuan.

Seohyun hanya terkikik. Kemudian mengeluarkan kotak cokelat dan memberikannya kepada Minho. “Selamat hari Valentine, Minho!”

Minho tersenyum, “Sampai kapan sih kau menjadi dongsaeng nakal? Panggil aku dengan sunbae atau oppa.”

Gadis itu hanya menjulurkan lidahnya manja.

“Ya Hyunnie! Mana cokelat untukku? Kenapa hanya Minho yang kau beri?” protes Kyuhyun.

“Sudah menghina cokelatku masih berani meminta? Enak saja! Aku tidak akan memberikannya padamu. Katamu kan cokelat buatanku tidak penting,”

“Hei, kenapa kau serius sekali sih menjadi orang? Aku kan hanya bercanda,”

“Terlanjur. Kau sudah menghinaku. Jangan salahkan aku kalau kau satu-satunya orang yang tidak mendapatkan cokelat dariku,” Seohyun memalingkan mukanya dengan santai.

Kyuhyun mencibir, “Cih, dendaman!”

“Ini namanya adil,”

“Hei, sudahlah,” lerai Minho, “Kalian ini kenapa sih bertengkar terus dari dulu?”

Kyuhyun langsung berdiri. Mendengus kesal. “Aku mau pulang.”

Yang lain terkikik saja melihat tingkah Kyuhyun. Di mobil, Kyuhyun benar-benar tidak ngomong apa-apa. Cuma diam fokus menyetir saja. Seohyun juga tidak mengajaknya berbicara sama sekali. Sibuk menyelesaikan lebih level 513 Unblock Me di iPodnya.

Dasar tidak peka! Aku kan ingin cokelat darinya. Kyuhyun masih menggerutu dalam hati.

Keduanya turun dari mobil setelah mobil Kyuhyun terparkir sempurna di garasi. Kyuhyun yang masih ngedumel, berjalan mendahului Seohyun masuk rumah. Dalam hatinya, dia menghitung. Satu.. dua.. ti..

“Kyuhyun!” Cowok itu tersenyum.

Pasti cokelat. Pura-pura pasang wajah kesal, dia membalikkan badan. “Wae?”

Seohyun maju beberapa langkah. Tas ranselnya dipindah kedepan. Dibukanya resleting tasnya. Kyuhyun semakin yakin kalau Seohyun mengeluarkan cokelat untuknya.

“Nih,”

Kyuhyun mengerutkan dahinya, “Buku?”

Seohyun mengangguk, “Ini buku catatan biologimu yang dulu kupinjam. Aku sudah selesai menyalinnya. Jadi kukembalikan.”

“Bukan cokelat?”

“Kau benar-benar berharap mendapat cokelat dariku?”

“Kau.. Aish!” Kyuhyun kesal bukan kepalang. Disautnya buku bersampul hijau itu dan pergi ngeloyor kedalam. Seohyun terkikik.

*****

Krystal memantapkan hatinya. Tadi kan dia sudah memberi cokelat persahabatan sama Minho. Yang kali ini dia ingin memberikan cokelat sebagai tanda perasaannya sebagai seorang yeoja.

Tekadnya sudah bulat. Sepulang sekolah, gadis itu ingat kalau Minho hari ini ada tambahan di bimbingan belajar. Untuk persiapan ujian nasional. Jadi dia segera mencari bus, untuk menyusul Minho ke tempat bimbelnya. Lumayan juga perjalanan, hampir 20 menit. Dia takut Minho keburu sudah masuk pelajaran.

Thanks God!

Dia melihat masih banyak anak-anak SMA berseliweran didepan tempat bimbel. Berarti kemungkinan besar pembelajaran didalam belum dimulai. Krystal melangkah masuk. Menyusuri beberapa lorong untuk sampai di kelas Minho.

“Minho sun..”

Krystal tertegun. Dia membatalkan langkahnya untuk masuk. Matanya terbelalak melihat apa yang ada didalam. Minho sedang duduk bersebelahan dengan Yuri. Dengan posisi kepala Yuri bersandar di dada bidang Minho. Sementara cowok itu memainkan rambut panjang Yuri. Minho juga bolak balik mencium puncak kepala kakak kelasnya itu. Syukurnya tadi dia memanggil nama Minho tidak begitu kencang. Jadi dia sekarang bisa lari dari sana tanpa disadari Minho.

BRAK!

Astaga! Cokelatku..

Gadis itu agak panik. Cokelatnya yang semula digenggam erat olehnya, tanpa sengaja jatuh dari tangannya. kalau dia mengambil cokelat itu sekarang, Minho akan tahu kalau dia mengintip. Sudahlah, berpikir positif saja. Semoga yang mengambil cokelat itu bukan Minho, dan bukan orang yang dikenalnya.

Krystal berlari sejauh yang dia bisa. Berlari dengan dada kesakitan.

*****

Rasa penasaran menghinggapi diri Seohyun. Dalam hatinya, dia bertanya-tanya. Dia tahu, orang itu memang pintar. Bayangkan sejak SMP sekolah, orang itu tidak membayar uang sekolahnya sendiri karena beasiswa. Kurang pintar apa? Tapi dia tidak peka. Itu yang dipahami Seo selama berteman dengan orang itu hampir dua belas tahun.

Jam sudah menunjukkan pukul nol dini hari. Tidak etis bagi seorang perempuan keluar rumah selarut ini. Tapi kan itu hanya disebelah rumahnya? Sepertinya perasaan ini sudah tidak bisa ditahan lagi. Gadis itu mengambil google inframerahnya. Segera turun dari kamarnya, menuju pintu depan. Kemudian berlari melihat kearah pohon besar yang memisahkan rumahnya dengan rumah Kyuhyun.

Gadis itu menunduk. Melihat kearah lubang gelap yang ada di pohon itu dengan googlenya. Betapa kecewanya dirinya melihat sebuah kotak masih tetap hinggap dengan nyamannya disana. Tak berpindah seincipun. Pertanda bahwa tidak ada yang menyentuhnya, sebelum Seo.

Seohyun mendesah, “Pabo.”

*****

“Kau ada masalah?” tanya Kyuhyun dengan nada agak khawatir.

“Ani.”

“Lalu? Kenapa diam saja daritadi?”

“Tidak mood ngomong.”

Kyuhyun hanya menghela napas. Dia merasa aneh dengan sikap Seohyun hari ini. Tumben sekali dia membangunkan tidak pakai marah-marah seperti biasa. Saat menunggui Kyuhyun makan, gadis itu hanya diam. Sampai perjalanan menuju sekolah, Seo masih tetap bungkam tanpa kata.

Seohyun sebenarnya ingin sekali mengatakan bahwa dia dalam keadaan kecewa berat. Tapi mana mungkin dia mengatakannya pada Kyuhyun? Moodnya bisa semakin hancur kalau dia menceritakannya pada Kyuhyun. Sehingga menurutnya, diam adalah terbaik saat ini.

“Aku yakin ini bukan karena nilai jelek lagi. Benar kan, Seo-ah?” tanya Krystal. Sampai di kelas Seohyun masih saja terdiam.

Seo tersadar, “Hah?”

“Kau kenapa? Dari tadi kami melihat kamu hanya diam saja,” wajah Tiffany agak ikut khawatir melihat arus mood Seohyun yang akhir-akhir ini agak labil. Yang ditanya hanya menarik napas pelan, menggeleng.

“Benar tidak ada apa-apa?”

“Ne,” jawab Seohyun singkat.

*****

Bersikaplah biasa saja, Krystal!

Krystal terus memberikan sugesti positif pada dirinya. Lusa dia akan ulangan harian matematika. Mau tidak mau dia harus mengesampingkan dulu urusan hatinya dengan Minho. Kalau tidak, maka nilainya yang menjadi taruhannya. Jujur, dada Krystal masih sering ngilu jika mengingat kejadian Minho-Yuri beberapa hari yang lalu.

Sampai di perpustakaan, dia langsung menemukan sosok Minho yang selalu duduk di bangku paling ujung dekat jendela. Dihampirinya cowok itu, dengan membawa kotak bekal untuk Minho.

“Maaf membuat sunbae menunggu lama,” ujar Krystal.

“Cepatlah duduk! Aku hanya bisa menemanimu sejam paling lama,”

“Waeyo?”

“Aku ada perlu dengan Yuri.”

Krystal mencibir. Bilang saja mau berkencan!

“Ah, ini aku membawakan bekal untuk sunbae. Aku membuatnya sendiri,” diberikannya bungkusan yang dibawanya pada Minho. Tapi cowok itu menolak halus.

“Aku tadi sudah makan bekal dari Yuri.”

“Oh begitu,” Dengan berat hati, Krystal mengambil lagi kotak bekalnya. Dan mulai mengerjakan soal yang diberi Minho. Suasana sangat amat terasa aneh. Awkward. Biasanya mereka akan menyelingi dengan celetukan untuk mengusir sepi. Tapi sepertinya yang terjadi sekarang, keduanya sibuk dengan dunianya. Minho hanya menatap layar handphonenya sambil sesekali mengetik sesuatu. Sementara Krystal fokus mengerjakan semampunya.

Selesai mengerjakanpun, Krystal hanya memberikan pekerjaannya pada Minho. Yang cowok juga tidak bertanya apa-apa. Mengoreksi, melingkari yang salah, lalu mengembalikan pada Krystal untuk dibenahi.

Handphone Minho bergetar. dia membuka sliding handphonenya, lalu berbicara. Krystal yakin kalau itu pasti Yuri. Kata ‘Jagy’ sering diucapkan oleh Minho. Pasti itu Yuri bukan?

“Krys, aku duluan ya. Sudah sejam. Annyeong!”

Krystal mengangguk pelan.

*****

Clamus. Tempat ini akan menjadi tempat pertama yang dikunjungi Seohyun jika sedang suntuk. Disini dia bisa meminjam piano sheet dan kaset musik klasik. Dan lebih bagusnya lagi, Kyuhyun tidak pernah diajaknya ke rental ini. Jadi tidak mungkin cowok itu tahu dia dimana sekarang.

“Destiny.. destiny..”

Ah itu dia!

Tanpa sengaja, tangannya menyentuh tangan seseorang saat akan mengambil buku Beethoven itu. Ditolehnya ke belakang. Sesosok laki-laki dengan polo-shirt garis biru-putih yang diberi bawahan berwarna krem. Orang itu nampak menatap Seohyun cukup kaget.

Tampan.

“Maaf, aku tidak tahu kalau kau juga mau meminjam sheet ini,” ujar laki-laki itu. Seohyun agak malu. Bahkan tata bahasanya sangat halus. Tangan panjang cowok itu terjulur mengambil buku piano itu. Lalu memberikannya pada Seohyun.

“Ini untukmu,”

“Ah tidak usah, kau saja yang meminjamnya duluan,” kata Seohyun.

“Mana bisa aku bersikap seperti itu pada perempuan? Ambilah,”

Seohyun tersenyum. Kemudian mengambil buku itu dari tangan cowok itu sambil berkata, “Gamsahamnida.”

“Aku Choi Siwon, kamu?”

“Aku Seo Joohyun. Panggil saja Seohyun. Annyeong!”

Cowok bernama Siwon itu tersenyum hangat. Jika dilihat dari gayanya, seperti Siwon seumuran dengannya atau paling lebih tua setahun. Dadanya bidang, tubuhnya juga tegap. Tidak kalah dengan Kyuhyun dan Minho yang notaben anak basket.

Seohyun berjalan kearah kasir. Segera mendata diri karena akan meminjam buku Beethoven – Destiny dengan kasetnya.

“Habis ini kau mau kemana?”

“Ke halte bus. Pulang,” jawab Seo masih canggung.

“Mau menemaniku mengopi?”

“Selama kau membebaskanku dari biaya beli, aku mau saja,”

Siwon tersenyum. Mempersilahkan Seohyun masuk ke mobilnya.

*****

Anak itu kemana sih?

Kyuhyun terus berjaga di teras depan rumahnya. Dia tampak khawatir dengan tetangga sebelah rumahnya itu hari ini. Tadi pagi dia diam saja. Lalu pulang sekolah sudah ngeloyor duluan.

Sebenarnya ada apa dengan gadis itu? Apa dia sedang ada masalah? Kalau ada masalah, biasanya Seohyun selalu bercerita padanya. Tidak sampai menghilang tidak jelas begini. Kyuhyun masih berusaha menerka-nerka alasan Seo menghilang seharian ini.

Kekhawatiran Kyuhyun sirna melihat Seohyun turun dari sebuah mobil sedan warna merah. Tapi berganti dengan sinis saat mengetahui ternyata ada seorang cowok yang mengantarkan gadis itu pulang. Dia masih memperhatikan Seohyun yang suasana wajahnya tampak lebih cerah dari tadi pagi.

Aku menunggunya dengan cemas dari tadi, sementara dia enak-enakan berduaan dengan cowok lain? Cih!

“Siapa dia?” tanya Kyuhyun begitu mobil itu pergi.

“Oh, Siwon. Kenapa?”

Kyuhyun menatap begitu sinis.

7 thoughts on “Puppy or True? part 3

  1. Kyaa,, minstal ny ngegantung nih,,

    kyuppa cemburu kah seoni di anterin sama seong namja,,wkwkwk..

    Wonppa sama fany aja gih,, hehe..

  2. Kyaa,, minstal ny ngegantung nih,,

    kyuppa cemburu kah seoni di anterin sama seorang namja,,wkwkwk..

    Wonppa sama fany aja gih,, hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s