ARTIST’s LOVE STORY part 6

“Aku mencintaimu,” kata Seohyun mengaku.

“Kuanggap jawaban ‘iya’ atas pertanyaanku,” kata Kyuhyun sebelum kembali mencium lembut bibir gadis itu. Seohyun pun mengalungkan tangannya di leher Kyuhyun. Menerima segala lumatan dari Kyuhyun.

“Sekarang tinggal satu yang belum selesai,” ujarnya setelah dia melepas ciumannya.

Seohyun menyipitkan matanya.

*****

“WOW! Aku benar-benar hampir mati tadi,” seru Seohyun, sembari mengambil napas panjang. Tiffany menjatuhkan tubuhnya disebelah Seohyun. Menyodorkan sebuah minuman isotonik pada sahabatnya itu.

Hari ini hari pertama Seohyun kembali ke sekolah setelah kemarin dua minggu liburan semester satu di tingkat akhir. Dan sambutannya.. GOD! Sangat mengagumkan, bung! Seohyun serasa baru menjadi koruptor atau habis melakukan suatu hal tabu. Semua orang menatapnya seakan mereka sedang berusaha berkata ‘mati-saja-kau-Seohyun’. Dia yakin, ini pasti karena acara special dinner-nya dengan Kyuhyun yang ditayangkan LIVE di TV. Maklum, habis lima puluh persen murid perempuan sekolahnya merupakan Sparkyu.

“Tenang saja, itu hanya tatapan aku-akan-membunuhmu. Tidak sungguhan,” balas Tiffany santai.

“Syukurnya mereka cuma tau kau fans yang menang special dinner sama Kyuhyun aja. Kalau sampai mereka tahu kalau kalian..”

“SSSSSTTT!! Diam atau aku yang akan membunuhmu?”

Tiffany meringis.

Well, sebenernya Seo sudah berjanji pada Kyuhyun, tidak akan memberitahukan perihal hubungan mereka pada siapapun. Tapi sepertinya pengecualian bagi Tiffany. Gadis centil berambut hitam legam ini memang orang yang selalu tahu apapun yang terjadi pada Seo. Bukan karena dia indigo, melainkan dia satu-satunya orang kepercayaan Seo diantara semua anak B-Girls, ganknya. Terlepas cuma mereka yang berada di sekolah yang sama.

“Tapi aku heran denganmu,”

Seo mengerutkan dahi, “Hah?”

“Tampang biasa aja, tukang molor, bukan anak aktif organisasi, bukan anak dari keluarga superpower juga. Yah, terlepas otakmu yang memang udah canggih dari sananya tanpa perlu belajar. Tapi, kenapa bisa ya sampe artis terkenal begitu jatuh cinta padamu? Seleranya rendah sekali,” tukas Tiffany.

Seohyun langsung mendelik, “Kau ingin mati muda?”

*****

Seohyun duduk di halte dekat sekolahnya. Menunggu bus datang bersama beberapa murid lainnya. Karena hari pertama, semua siswa dipulangkan jam 12. Tidak mungkin dia meminta eomma menjemput karena sekarang beliau sedang ada operasi besar. Terpaksa deh, dia pulang naik bus.

Jangan tanya mana Tiffany! Seo berani kayang satu tangan kalau sekarang Tiffany tidak bersama mantan ketua umum OSIS sekolahnya yang super power bernama Choi Siwon. Yap! Sahabatnya itu berhasil menarik hati kakak kelasnya itu semenjak Tiffany pertama kali menginjakkan kaki di SMA. Siwon sudah jatuh hati pada pandangan pertama melihat Tiffany berseragam SMP. Waktu itu Siwon bertugas sebagai pington-nya Tiffany saat MOS. Hubungan merekapun berlanjut di OSIS sampai akhirnya saat akhir semester pertama, mereka memutuskan untuk berpacaran. Sekarang Siwon sedang berkuliah Inha University jurusan Fisika. Kebetulan ayah Siwon memiliki sebuah perusahaan yang bergerak dibidang properti.

TIN!TIN!

Gadis itu menoleh. Rasanya suara klakson mobil ini begitu dikenalinya. Tak lama, handphonenya berdering. Sebuah pesan telah masuk. Ini pasti Kyuhyun!

Begitu membukanya, Seohyun terbelalak.

Kok pesan dari provider?

Sedetik kemudian, sebuah pesan masuk kembali ke handphonenya. Dan dia yakin ini pasti Kyuhyun.

BINGO! Itu benar-benar Kyuhyun.

From : Nappeun Namja

Masuklah! Aku tidak mungkin turun. Kau tidak mau aku tercekik oleh gadis-gadis itu kan?

Seohyun meringis. Kemudian melangkah menuju sebuah mobil Hyundai NF Sonata. Sebenarnya dia sempat bingung. Bukannya biasanya mobil Kyuhyun berwarna hitam? Kenapa yang kali ini berwarna putih?

“Jujurlah padaku! Apa benar pekerjaanmu seorang penyanyi?” tanya Seo blak-blakan, membuat Kyuhyun mengernyitkan dahi.

“Tentu saja, aku Cho Kyuhyun seorang penyanyi terkenal,” jawab Kyuhyun dengan bangganya.

“Tapi kenapa mobilmu gonta-ganti warna? Apa kau diam-diam sedang menjadi salesman?”

Kyuhyun langsung mendelik. Dia merasa harga dirinya jatuh. Bagaimana bisa gadis disampingnya ini berkata seperti itu?

“Jangan kaget! Aku heran saja, kenapa mobilmu mudah gonta-ganti warna? Kupikir kau seorang sales mobil,”

Kyuhyun memutar matanya, “Ini mobil noona-ku. Puas?”

Gadis itu tertawa kecil. Membuat Kyuhyun kesal. Dia merasa Seohyun begitu mudah menjatuhkan harga dirinya. Semua orang didekatnya juga tahu, Kyuhyun paling tidak suka diejek.

Enak saja! Aku tampan dan kaya seperti ini kau bilang seorang sales mobil. Menyebalkan!

“Pacar, kenapa diam saja?” tanya Seohyun setelah menyadari suasana dalam mobil begitu hening. Kyuhyun tak menggubris perkataannya.

“Car, pacar!” panggil Seohyun, menggoyangkan tangan Kyuhyun. Tetap saja cowok itu diam tak bergeming.

Seohyun mencibir. “Cih! Baru sehari pacaran sudah mau berantem saja,”

Gadis itu mengalihkan pandangannya keluar. Sejenak dia berpikir. Sepertinya dia harus berbaik-baik pada Kyuhyun. Kenapa? Jika Kyuhyun ngambek dan menurunkannya disini, dijamin dia pasti cuma bisa menangis. Ini dimana sih?

“Pacar, kita mau kemana sih sebenarnya?” tanya Seohyun, dengan nada khawatir. Jalanannya semakin lama, semakin masuk ke area penuh pohon.

“Ke rumahku,” jawab Kyuhyun singkat.

“Mau ngapain?”

“Mengenalkanmu pada Noona-ku,”

“Mwo?! Ya! Aku masih berseragam sekolah. Mana mungkin aku berkenalan dengan kondisi seperti ini,” sergah Seohyun.

“Kenapa tidak? Kau tidak bau kok. Santai saja,”

“Tidak lucu!”

“Ini yang kumaksud kemarin belum selesai. Aku sudah berjanji pada noona, kalau nanti aku berhasil mendapatkanmu, aku akan langsung mengenalkanmu padanya,” jelas Kyuhyun. tetap saja itu membuat Seohyun tidak tenang. Bagaimana jika pandangan pertama kakak perempuan buruk terhadapnya? Harusnya Kyuhyun memberitahunya sejak awal. Jadi dia masih sempat berdandan dulu. Atau minimal, dia bisa berganti pakaian yang lebih pantas.

Mobil Kyuhyun mulai mengurangi kecepatannya. Tandanya mereka sudah dekat dengan tempat tujuannya. Lalu berhenti sejenak didepan sebuah pagar bergaya klasik.

“Wow!” seru Seo spontan.

Mereka mulai memasuki sebuah bangunan dengan dua pilar putih yang menyangganya. Sepertinya ini tidak pantas disebut rumah, karena bangunannya lebih mirip dengan kuil Parthenon.

“Benar-benar diluar dugaanku,” ujar Seohyun, mengagumi rumah pacarnya itu.

“Apanya yang diluar dugaan?”

“Beritahu padaku, apa ayahmu seorang mafia?”

Cowok itu meringis. “Kau pikir kau sedang melihat Song Woo Bin di Boys Before Flowers? Ayahku hanya pengusaha biasa,”

Kyuhyun mengajak Seo untuk masuk kedalam rumahnya. Membuat Seo tak henti-hentinya heran pada pacarnya. Ada berapa banyak hal sih yang sebenarnya belum diketahui olehnya? Mereka menuju ke ruang tengah. Dimana Seohyun melihat ada sebuah piano tua dengan beberapa pigura foto diatasnya.

“Mau kemana?” tanya Kyuhyun, yang tak dijawab oleh Seohyun. Gadis itu melangkah menuju piano milik Kyuhyun. Membuka penutup tutsnya, dan duduk di kursi.

Bilang saja mau bermain piano.

Kyuhyun tersenyum. Kemudian turut duduk disebelah Seohyun. Gadis itu tampak begitu antusias menekan tuts grand piano putih milik keluarganya. Matanya terlihat berbinar-binar.

“Mau kumainkan sesuatu?” tawar Seohyun.

“Apapun,”

Nada demi nada mulai mengalun dari piano tua itu. Seohyun memainkan sebuah lagu lembut milik Liszt yang berjudul Liebesträume atau Dream of Love. Kyuhyun tampak begitu menikmati permainan piano gadisnya itu.

Dream of Love.. Permainan yang begitu lembut. Tapi kuat. Hangat. Lurus. Benar-benar musik yang indah.

Dalam hati, Kyuhyun terus memujinya. Betapa dia mengagumi sosok Seohyun dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Seo yang manis, Seo yang galak, Seo yang lucu, Seo yang jutek, semuanya terlihat menyenangkan baginya.

Seohyun menekan nada terakhir dilagu itu. Menoleh kearah Kyuhyun dan tersenyum dengan manisnya.

“Lagu ini dibuat untuk seseorang yang bisa membuka sebuah hatimu. Yang berhasil meraih sebagian atau mungkin seluruh cinta dan jiwamu. Lagu ini bisa mengekspresikan tentang keinginan kita untuk saling menjaga hati dan berbagi segala mimpi dalam hidup kita,” ujarnya sambil tersenyum.

Kyuhyun bangkit dan segera memeluk Seo dari belakang. Gadis itu tersenyum bahagia. Yah, impiannya untuk memiliki pacar pertama benar-benar terwujud saat ini. Walaupun dulu pernah bermimpi Donghae yang menjadi cinta pertamanya, Seo tidak menyesal kalau justru Kyuhyun yang merebut hatinya terlebih dahulu. Karena cowok itu benar-benar memahami dirinya.

“Jangan bilang padaku kalau kalimat yang barusan kau ucapkan itu bersumber darimu langsung,” Kyuhyun menyeringai.

“Memangnya kenapa?”

“Karena aku pacarmu dan aku tahu kalau kau tidak mungkin seromantis itu,”

Sontak Seo melepaskan pelukan Kyuhyun. Dan menghadap cowok itu dengan wajah cemberut, “Ya! Apa kau diciptakan untuk selalu merusak suasana? Aku kesal denganmu,”

Kyuhyun tertawa cekikikan. Membuat badmood saja bagi Seo. Baru akan melangkah pergi, terdengar suara yang entah darimana, “Siapa kau?”

Seohyun langsung mendongak dan melihat seorang wanita begitu anggunnya turun dari tangga. Badannya terasa beku. Tatapan wanita ini begitu dingin. Seperti tidak suka melihat Seo berada disini. Mata wanita itu dengan intens menatap kearah Seohyun. Dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Noona, kau tidak perlu menatapnya seperti itu,” kata Kyuhyun berusaha melindungi Seo.

“Jadi ini gadis yang kau ceritakan beberapa hari yang lalu? Anak kecil seperti ini? Yang bahkan belum lulus SMA?” tanya Ara, seakan sangat tidak menyukai Seohyun.

Sementara gadis itu masih membeku ditempatnya berdiri sekarang. Dia begitu takut untuk mengeluarkan kata-kata. Takut nanti dia salah ucap. Tapi matanya tetap mengikuti kemana Ara berada.

Seo mengakui, Ara benar-benar memiliki kharisma yang khas. Seperti sekali melihat, siapapun akan tunduk dengannya. Bahkan gayanya setingkat lebih narsis dibanding Kyuhyun.

Harusnya Kyuhyun sekarang menyediakan ember untukku muntah.

Sekarang kakak Kyuhyun itu sudah ada didepannya. Ini benar-benar tatapan yang tidak disukai Seohyun. Tatapan menghina. Tatapan meremehkan. Membuatnya mual. Saat ini dia benar-benar berusaha mengendalikan diri untuk tidak memukul wanita itu.

*****

iPod. Headset. Kacamata. Jaket. Topi. Semua yang dibutuhkan Donghae sudah siap. Rasanya suntuk sekali tidak ada kerjaan seperti sekarang  baginya. Kerjaan cuma bangun, mandi, latihan, tidur, begitu seterusnya. Pak Young Joon memang mengurangi maksimal kegiatan Super Junior diluar untuk kepentingan SuperShow.

Donghae melangkahkan kakinya kearah taman belakang dorm. Tampak beberapa anak kecil sedang bermain bersama ayunan mereka. Adapula yang tertawa canda dengan teman-temannya di perosotan. Tiba-tiba lagunya tershuffle, dan membuatnya tersenyum miris.

Tiga tahun yang lalu…

Suasana musim semi memang selalu menyenangkan. Apalagi bagi kedua pasangan yang sedang dimabuk asmara. Bunga-bunga yang baru bermekaran, cuaca yang cerah, betapa menyenangkan bagi keduanya.

Donghae memegangi tangan Jessica, seakan takut gadis itu terjatuh. Padahal mereka berjalan di dataran yang sama. Gadisnya itu tersenyum begitu hangat. Turut menggenggam tangannya begitu erat.

Mata keduanya tertuju pada teriakan dan tawa dari seberang jalan. Sore hari memang waktu yang tepat bagi anak kecil untuk bermain. Bercanda bersama teman-teman. Tertawa bersama. Keduanya tersenyum. Begitu indah melihat siklus harmoni dunia.

“Anak kecil memang lucu ya,” ujar Jessica, mendudukkan pantatnya diatas kursi taman. Donghae ikut duduk disebelahnya.

“Tak ada yang selucu dirimu, sayang,” balas Donghae, sambil kembali menggenggam tangan gadisnya.

Jessica memutar mata. Lalu kembali memfokuskan pandangannya ke playground. Menatap seorang gadis kecil manis yang memberikan separuh rotinya pada anak laki-laki yang sedang menangis. Dia tersenyum kecil.

Donghae memandangi ekspresi Jessica yang melembut. Memberikan tatapan yang intens kepada gadis itu. Setahunya dulu, Jessica kurang menyukai anak kecil. Tapi dia memang senang memandangi kalau seorang anak perempuan sedang bermain. Donghae tersenyum, lalu berdiri.

“Aku juga mau anak perempuan,” Donghae menoleh kebelakang, kearah Jessica. Gadis itupun menunjukkan wajah yang terkejut. Lama mereka saling bertatapan, seperti dengan cara itu, semua pikiran dan cinta mereka akan tersalurkan.

Jessica ikut berdiri. Tersenyum lembut. Lalu kembali menatap Donghae, “Apa kau sedang melamarku?”

“Uhm hm, apa kau mau menjadi ibu dari anak-anakku?” tanya Donghae dengan wajah yang begitu serius. Membuat Jessica tertawa.

“Ya! Apa yang kau tertawakan?”

Jessica masih tertawa.

“Hei, tidak ada yang lucu disini!”

Gadis itu masih saja tertawa. Membuat laki-lakinya itu sedikit kesal.

“Mianhae,” kata Jessica masih tertawa kecil, “Aku hanya lucu saja. Apa oppa tidak lihat, kita masih muda. Masih ada waktu untuk bersenang-senang. Kenapa sudah memikirkan pernikahan,”

“Aku hanya ingin kau tidak menjadi milik orang lain,” jawab Donghae polos. Memang pada kenyataannya, dia ingin mengikat Jessica agar tidak ada laki-laki manapun yang bisa mendekatinya. Jessica menghentikan tawanya, saat melihat Donghae menampakkan wajah kesalnya.

“Oppa, hadaplah kepadaku,” pintanya. Namun tak digubris sama sekali.

“Oppa, lihat aku dulu!” kali ini Jessica memutar tubuh Donghae. Menarik dagu pria itu turun, agar dapat melihat matanya. Donghae memalingkan mukanya, namun ditahan oleh kedua tangan Jessica.

“Dengar dulu oppa. Aku rasa, kita berdua masih sama-sama labil. Kita masih muda, banyak hal yang bisa kita lakukan. Aku masih 19 tahun dan oppa juga masih 22 tahun. Masih terlalu dini untuk saling mengikat seperti itu,” jelas Jessica.

“Jadi kau tidak serius berpacaran dengan?” tanya Donghae.

“Bukan begitu, oppa. Tentu saja aku serius. Hanya saja, sepertinya ini terlalu cepat. Kita bahkan berpacaran tiga bulan yang lalu. Masa iya sudah mau menikah? Aku mau oppa menungguku lima tahun lagi,”

Donghae mengangkat alis, “Lima tahun?”

Jessica mengangguk, “Lima tahun lagi, barulah kau bisa melamarku. Selama jangka 5 tahun itu, aku mau membuktikan dulu pada semua orang, aku akan menjadi generasi Jung yang membanggakan. Aku ingin karierku sukses dulu. Lalu aku mengajak eomma dan appa pindah ke Seoul. Aku membuatkan rumah untuk kami disini. Kalau sudah semua itu tercapai, baru aku mau terikat hubungan seperti itu.”

Donghae sempat terperangah mendengar semua perkataan Jessica. Gadis itu… ternyata memiliki impian yang masih panjang. Jika dia mengikatnya sekarang, bagaimana Jessica bisa mewujudkan mimpinya.

“Lima tahun itu terlalu lama. Tiga tahun saja bagaimana?”

“Pilih lima atau sepuluh!” cetus Jessica.

“Mwo? Sepuluh? Kau.. Aish!”

Donghae pura-pura kesal. Lalu berjalan meninggalkan Jessica sendirian. Gadis itu berusaha untuk memanggilnya, berusaha menjelaskan. Tapi Hae sok sok tidak peduli. Hingga Jessica mengeluarkan kalimat yang ditunggu-tunggu olehnya.

“Aku harus gimana supaya oppa tidak begini?”

Donghae tersenyum. Dia membalikkan badan, dan menunjuk kearah pipinya.

“Sooyeon-ah.. poppo!”

Jessica langsung menunjukkan wajah sebal, “Mwo?! Andwae..”

“Ya Sooyeon-ah, poppo!” kata Donghae menunjukkan matanya yang berseri-seri. Membuat Jessica menyerah. Akhirnya dia berusaha mencium pipi Donghae. namun..

CUP!

Donghae mengambil langkah terlebih dahulu, mencium pipi Jessica. Dan dia tersenyum puas.

Pria itu menghela napas panjang. Andaikan semua itu bukan hanya sebuah ingatan. Saat dimana mereka masih bisa saling menggenggam tangan. Saat dimana mereka saling menceritakan tentang cita dan harapan.

Lima tahun? Bahkan hubungan kami tidak sampai tahun ketiga.

Donghae meneruskan langkahnya ke arah sebuah cafe yang dulu sangat sering dikunjunginya, bersama Jessica. Poirot Cafe. Tempat ini selalu ramai dikunjungi orang, apalagi menjelang akhir minggu. Dulu, dia dan Jessica juga sering kemari. Sekadar untuk mengobrol atau menyeduh original espresso saja.

Dan tempat ini tidak berubah sama sekali. Tetap ramai. Membuatnya harus mencari tempat untuk duduk. Sampai dia dekat dengan meja favorit Jessica dulu.

DEG!

Seorang gadis berambut dark brown-wavy sedang duduk disana. Apa itu Jessica? Sempat terpikir untuk pergi sebelum gadis itu melihatnya. Tapi, inilah takdir. Bernostalgia, lalu menghadapi realita. Dia tidak bisa mundur. Mungkin Tuhan memberikannya kesempatan untuk menjelaskan semuanya pada gadis itu.

“Permisi, boleh aku duduk disini? Tempat lainnya sudah penuh,” kalimat itu langsung membuat sang gadis menoleh cepat. Dan matanya terbelalak.

*****

“Siapa namamu?”

Seohyun menelan ludah. “Seo.. Joohyun. Sunbaenim bisa memanggilku Seohyun.”

Ara masih terus mengitari tubuh Seohyun. Membuat Seo merasa tidak enak, mual, dan gugup. Apa yang sebenarnya diinginkan oleh Ara sebenarnya? Kenapa dia menunjukkan ekspresi ketidaksukaan begitu padanya? Ini benar-benar membuat feelingnya tidak bagus.

Satu… dua… tiga… “HAHAHAHAHA!”

Seo melongo. Ara tertawa terpingkal-pingkal. Membuat gadis itu makin kebingungan. What’s happening?

“Ya! Kau seharusnya melihat wajahmu barusan. Seperti teroris yang siap dihukum mati saja,” ujar Ara masih tertawa.

CTAK!

“Aw!” Ara mengaduh, “Kenapa kau menjitakku?!”

“Noona, kau benar-benar keterlaluan! Kau lihat, pacarku benar-benar ketakutan karena ulahmu,” ujar Kyuhyun dengan wajah yang begitu kesal.

“Aku kan hanya iseng. Mana aku tahu kalau kalian menganggapnya serius,” balas Ara, yang sekarang berusaha menahan tawa.

“Harusnya kau merekam semua adegan tadi,” tambahnya.

“Lalu kau berharap aku memasukkannya ke youtube dan ada produser yang mengajakmu untuk casting film begitu?”

Ara menjulurkan lidahnya pada adiknya. Dia kemudian maju untuk mengajak Seohyun berkenalan.

“Annyeong, Seo-ah! Naneun Cho Ara. Jangan panggil aku sunbaenim! Panggil saja eonnie, arrachi?” sapanya, membuat Seohyun menghela napas. Kemudian tersenyum.

Astaga! Kakak adik ternyata tak ada bedanya.

“Annyeong, eonnie!”

“Aigoo!! Kyeoptaa..” Ara mencubit kedua pipi Seohyun hingga memerah. Membuat Kyuhyun kembali mengomel.

“Noona! Berhentilah seperti itu! Apa kau tidak kasihan dengan pacarku?” seru Kyuhyun.

Ara menyeringai, “Wah, mentang-mentang pacar pertama, disayang-sayang terus. Sudahlah, teruskan dulu permainan kalian. Aku mau melakukan sesuatu dulu. Annyeong Seo-ah!”

Kemudian wanita cantik itu naik menuju lantai atas. Dan memasukki sebuah kamar yang mungkin adalah kamarnya sendiri. Seohyun masih amaze dengan semua kejadian barusan. Dalam hatinya, dia bersyukur. Kakak pacarnya menerimanya dengan tangan terbuka. Yah walaupun sempat ada sandiwara bawang merah-bawang putih dulu.

“Maafkan kakakku ya, dia hanya iseng,”

Seo mendesah, “Aku merasa melihat pacarku yang dibentuk perempuan barusan. Apa satu keluargamu seperti itu semua?”

“Kau marah?”

“Hanya heran,”

Keduanya berdiri terpaku. Diam tanpa kata. Suasana hening seketika menyergap diantara mereka. Mungkin karena syok. Sandiwara barusan diperagakan Ara benar-benar membuatnya menarik napas panjang.

Mungkin jika Ara eonnie jadi artis, dia akan meraih piala Oscar pertama untuk Korea, batin Seohyun.

Tak tahan melihat gadisnya itu diam, Kyuhyun mengeluarkan ide jahil.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Kyuhyun-ssi!!” pekik Seo saat tiba-tiba Kyuhyun menggendongnya. Membawanya kebelakang. Dan..

BYUR!
Kyuhyun membanting Seo kedalam kolam renang. Air kolam langsung terciprat kemana-mana. Cowok itu tertawa. Sementara tangan Seo berusaha menggapai-gapai udara.

“Pa..blup,” Seo tampak megap-megap, “Ga..blup..le..blup..nan..blup..”

Kyuhyun semula tidak mengerti apa yang diucapkan Seo. Tapi begitu melihat semakin lama gadis itu semakin tenggelam, dia langsung meloncat kedalam kolam tanpa membuka pakaiannya terlebih dahulu. Berusaha untuk menarik Seonya keatas.

“Hyunnie.. gwaenchana?” dia benar-benar panik. Seohyun tidak menjawab pertanyaannya. Napasnya tersengal-sengal. Segera Kyuhyun membawa Seo menuju kamarnya di lantai dua. Dipanggilnya Ara untuk menolongnya.

“Ngapain kau masih disini? Sana aku mau mengganti baju Seo dulu,”

“Kenapa eonnie yang mengganti pakaian Seo?”

“Ya! Jangan berpikiran porno! Kalian belum menikah. Mana boleh melihat tubuh masing-masing,”

GLEK!

Sekujur tubuh Kyuhyun bergetar. Mereka baru berpacaran satu hari, mengapa dia sudah hampir melihat tubuh Seo? Ini memang terlalu cepat.

“Mau ngapain lagi kau disini? Cepat buatkan Seo teh hangat,” suruh Ara yang begitu galak. Dengan segera Kyuhyun turun ke dapur untuk membuatkan gadisnya secangkir teh hangat. Saat membuat minuman itu, Kyuhyun sempat terhenti sesaat. Dia berusaha menormalkan kembali detak jantungnya yang sudah mengalahkan kecepatan kereta api ekspres.

“Kau tidak bisa berenang? Kenapa tidak mengatakannya sejak awal?” Kyuhyun berjalan. Lalu duduk di samping ranjang Seo. Berusaha mencari tahu, apakah pacarnya sedang baik-baik saja. Gadis itu terdiam membisu. Rambutnya nampak masih basah. Sepertinya Ara mengganti seragam sekolah Seo dengan kemeja lengan panjang miliknya. Kyuhyun menyodorkan teh hangat buatannya. Tapi tak diambil oleh Seo.

“Mianhamnida, jagi. Jeongmal mianhae,” dia tampak begitu menyesal melempar Kyuhyun ke kolam tadi.

Oh no!

Seohyun terlihat mulai meneteskan air matanya. Dengan segera Kyuhyun mencium kelopak mata gadis itu dan berkata, “Jangan menangis! Lebih baik kalau kau memukulku daripada melihatmu menangis, sayang.”

Dia berusaha menghisap semua air mata itu. Lalu mengangkat dagu gadis itu. Membuat Seo menatap kearahnya. Sempat berusaha untuk kembali menunduk, namun dicegah cepat oleh Kyuhyun.

“Bercandamu tadi keterlaluan, oppa. Kalau aku mati tenggelam sungguhan tadi bagaimana,” ucap Seohyun lirih. Jemari Kyuhyun mulai mengusap-usap pipi gadisnya itu.

“Aku minta maaf, sayang. Aku benar-benar tidak tahu kalau kau tidak bisa berenang. Sudah ya, jangan menangis lagi! Ini hari pertama kita, masa harus pakai tangisan,” kata Kyuhyun, berusaha menenangkan Seo. Dan juga dirinya sendiri. Dipeluknya gadis itu erat. Disandarkannya Seohyun didepan dadanya. Membuat gadis itu mendengar detak jantungnya yang menjerit. Kyuhyun ingin menunjukkan bahwa, bukan hanya Seohyun yang ketakutan. Dia benar-benar panik saat melihat Seohyun mulai tenggelam. Jantungnya mencelos saat melihat Seohyun membeku diatas tanah.

Cukup lama mereka berpelukkan. Hingga Kyuhyun mendengar suara napas yang teratur. Dilihatnya perlahan. Ternyata Seo tertidur dipelukkannya. Saat dia berusaha menidurkan Seo dan beranjak pergi, gadis itu ternyata masih mencengkram tangannya dan mengigau, “Jangan..”

Kyuhyun tersenyum. Kemudian dia memilih untuk menemani Seohyun disamping ranjang. Sampai keduanya tertidur bersama.

*****

2 thoughts on “ARTIST’s LOVE STORY part 6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s