Puppy or True? part 6 – END

Oke. Mari dikesampingkan terlebih dahulu masalah antara Kyuhyun dengan Seohyun! Kenapa? Karena ujian nasional untuk murid tahun ketiga sekolah menengah atas sedang berlangsung. Tentu mereka yang menghadapi ujian, sedang berlatih dengan maksimal. Ditambah lagi besok, hari kedua, mata pelajaran yang diujikan adalah fisika. Mau tidak mau, mereka harus melahap habis buku rumus Bernoulli yang setebal serial Harry Potter nanti malam.

“Seharusnya kau tidak mengajar teman-temanmu itu. Lihat dirimu sendiri! Kelelahan seperti ini. bagaimana kalau hasil ujianmu buruk?” omel Ara saat melihat adiknya baru sampai rumah pukul delapan malam.

“Kasihan mereka! mereka butuh bantuanku, masa tidak kubantu?”

“Setidaknya ingat dirimu juga. Aku berani jamin, pasti habis ini kau tidak akan belajar karena kelelahan. Kalau tidak lulus kau mau apa?”

Kyuhyun yang semula duduk di sofa ruang tengah, berdiri sambil menenteng tasnya. melangkahkan kakinya. Entah kemana dia akan beranjak. Tetapi sebelumnya pergi terlalu jauh, dia menolehkan wajahnya dan berkata dengan nada tegas, “Aku pasti lulus dengan nilai terbaik! Kau cukup melihatnya dengan baik, noona.”

Mata Ara terus mengikuti kemana adiknya itu pergi. Hingga Kyuhyun sampai didepan pintu kamarnya. Kemudian menghilang masuk kedalam.

Nemu dimana sih eomma anak seperti dia? Kenapa dia bisa jadi adikku? Menyebalkan.

*****

Harus digaris bawahi bahwa insting seorang wanita memang tidak akan pernah salah. Buktinya? Baru setengah jam duduk di meja belajar yang tentunya ditemani buku soal fisika, matanya sudah tidak bisa diajak kompromi. Sudah berapa kali dia menguap juga tidak terhitung saking seringnya.

Seharusnya kau tidak berkata seperti itu, Noona.

Penglihatannya mulai menyapu ke sekeliling kamarnya. sekadar untuk menghilangkan bosan juga jenuh. Tanpa sengaja, mata Kyuhyun terpaku pada sebuah botol kecil berisi bintang-bintang glitter. Terulas senyum di wajahnya, dengan samar. Kemudian tangannya berusaha meraih benda yang berdiri disebelah pigura fotonya dengan Seo.

Tidak tahu siapa yang menyuruhnya, dia membuka tutup botol itu. Lalu mengambil salah satu bintang kecil didalamnya. Iseng, dia membuka lipatannya. Dan betapa terkejutnya melihat apa yang dia dapatkan disana.

Cho Kyuhyun pintar! Harus dapat nilai ujian terbaik! S

 

Kyuhyun langsung membuka satu demi satu bintang didalamnya.

Cho Kyuhyun hebat! Semua akan berjalan dengan baik! S

Cho Kyuhyun keren! Ayo buat aku bangga! S

 

Dia terus membaca satu demi satu tulisan tersembunyi dari bintang-bintang itu. Hatinya terasa begitu sesak. Mengetahui betapa pedulinya Seohyun padanya. Masih teringat jelas di otaknya, kapan dia menemukan botol ini. Persis saat dia mulai menjauhi Seo, dan nilainya yang mulai agak kurang terkendali.

Ini bintang terakhir yang ada didalam botol. Terbuat dari kertas glitter berwarna merah hati. Kyuhyun membuka lipatannya dengan halus. Tak lama setelah membacanya, matanya terpejam. Jari telunjuk dan tengah dari tangan kanannya tampak mengelus alisnya.

“PABO!!” pekiknya pelan, sambil mengacak-acak kasar rambutnya.

Berjuanglah, Cho Kyuhyun! Jadilah yang terbaik untuk semuanya, terutama untukku! S

*****

“Nah itu dia datang!” seru seorang wanita dari dalam rumah. Membuat Krystal yang awalnya menundukkan kepala, mengembalikan posisi kepalanya menjadi pandangan lurus. Dia baru sadar, bahwa sedari tadi pintu rumahnya terbuka lebar. Pasti ada tamu.

Krystal tertegun diambang pintu. Sementara Jessica berdiri dari sofa, menyambutnya yang baru saja menginjakkan kaki di teras.  Gadis itu tidak beranjak dari tempatnya berdiri sama sekali. Tentu saja keadaannya dipenuhi rasa terkejut. Dan sakit.

“Darimana saja kau, Krys? Minho-ssi sudah menunggu dari satu setengah jam yang lalu,”

“Jalan-jalan,” jawab Krystal singkat. Berusaha menormalkan gejolaknya, seakan tidak terjadi apa-apa.

“Baiklah! Minho-ssi, aku pergi dulu ya! Aku ada janji dengan temanku,”

“Teman apa pacar, noona?”

Krystal terbelalak. Bahkan dia memanggil eonnieku dengan sebutan noona?

“Ah kau ini, sudah! Aku pergi dulu,”

Minho tersenyum mengangguk, “Ne, gamsahamnida!”

Kemudian cowok itu mengalihkan pandangannya. Berpindah pada seorang gadis yang masih berdiri terpaku didepan pintu sedari tadi.

“Jangan menatapku seperti melihat hantu begitu! Aku yakin wajahku lebih tampan dari hantu,”

Krystal tertawa kecil, “Tumben kemari. Ada perlu apa? Bukannya sekarang harusnya belajar untuk ujian? Besok ujian matematika bukan?”

“Hei, tanyanya satu-satu! Jangan seperti rombong kereta api,”

Gadis itu berjalan menuju sofa. Menjatuhkan tasnya terlebih dahulu sebelum tubuhnya. Krystal duduk berhadapan dengan Minho. Menatap cowok itu. “Ada hal penting?”

Minho bertanya balik, “Memang tidak boleh menemuimu ya kalau tidak penting?”

“Aniyo, hanya..”

“Hanya apa?”

Krystal menghempaskan napas kasar, “Aku tidak mau waktumu terbuang hanya untuk hal yang tidak penting.”

“Ini penting,” ucap Minho tegas. Angin bersemilir diantaranya. Membuat keduanya saat ini terdiam. Sibuk dengan pikiran mereka sendiri-sendiri. Krystal masih menunggu apa yang dimaksud Minho penting. Cukup lama keadaan hening.

“Maaf,” kata pertama meluncur dari bibir Minho.

“Untuk?”

“Untuk semuanya. Aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri ya?”

“Tidak masalah. Toh memang sudah seharusnya kau mengurusi kebutuhanmu, bukan kebutuhanku.”

“Bukan itu, maksudku…”

“Sudahlah,” potong Krystal cepat, “Aku mengerti.”

Minho mengaitkan jemarinya sendiri sambil menunduk, “Aku kurang berusaha mengerti dirimu.”

“Ani, berusahalah untuk mengerti apa yang kau inginkan,” balas Krystal dingin. Suasana kembali bisu setelahnya. Seperti segalanya tercekat diujung lidah. Tak ada sepatah katapun terucap dari bibir keduanya. Sampai Minho mengeluarkan sebuah kertas undangan bertuliskan ‘Unforgettable Waltz’.

“Untuk apa ini?” tanya Krystal yang mengerutkan dahinya.

“Mau ke prom night denganku?”

“Kenapa tidak mengajak Yuri sunbaenim?”

“Yuri?” Minho tersenyum kecil, “Karena kau hanya tahu bahwa kami berpacaran?”

“Aku tahu tidak hanya itu,”

“Lalu?”

Krystal menghela napas sejenak, “Itu bukan wilayahku untuk berbicara.”

“Karena kau melihat kami berciuman waktu itu?”

DEG!

Rasa sakit hati itu semakin menguak di hati Krystal. Padahal selama ini dia sudah berusaha membuat benteng untuk ingatan tentang itu. Dan hebatnya, dalam sekejab kedatangan Minho berhasil menghancurkan pertahanan pikirannya itu. Gadis itu berusaha untuk mengembalikan keseimbangan pikirannya.

“Kau tidak tahu apa-apa tentang kami. Kenapa kau men-judge seperti itu?”

“Apa-apa tentang hubungan kalian bukan urusanku. Kenapa aku harus tahu?” elaknya.

“Karena kau ikut campur tangan didalamnya,” jawab Minho.

“Aku? Campur tangan?” Krystal tersenyum pahit, “Aku tidak ada urusan dengan hubungan kalian.”

“Tentu saja ada! Kau yang merusak hubungan kami,”

Krystal sontak terbelalak. Tentu saja dia tidak terima dengan apa yang dikatakan Minho. Gadis itu yakin bahwa dia tidak pernah sama sekali melancarkan pendekatan begitu tahu Minho sudah bersama Yuri. Apalagi menggodanya. Lalu apa alasan Minho menuduhnya?

“Mau kemana kau?” tanya Minho, melihat Krystal beranjak dari tempatnya.

“Pergi. Buat apa aku disini? Mendengar lelucon bodohmu?”

“Duduk! Aku belum selesai!” perintahnya.

“Apa lagi?!”

“Dengarkan penjelasanku!”

“Aku tidak punya banyak waktu.”

“Kau pikir aku punya? Maka dari itu, duduk dan biarkan aku menjelaskan semuanya,” tangan Minho menarik tangan Krystal untuk kembali duduk seperti semula. Wajah gadis itu nampak begitu kesal. Bahkan dia tidak mau menatap Minho. Maka dari itu, kedua tangan cowok itu memegang pipi Krystal. Membuat gadis itu terus melihatnya.

“Kau tahu kenapa aku menciumnya? Karena itu tanda perpisahan dariku untuknya. Asal kau tahu, Yuri bukanlah gadis yang mudah menyerah. Tapi saat mengetahui lawannya adalah kau..”

Krystal berusaha melepaskan tangan Minho, tapi gagal, “Lawan? Aku bukan seorang Lady ataupun Countess yang patut dilawan. Lagipula, semua orang tahu siapa yang menang,”

“Kau!” sergah cepat Minho, “Kau pemilik hatiku seutuhnya! Ketika kau menjauh, hubunganku dengan Yuri justru semakin aneh. Entah kenapa aku takut jika ulangan nanti kau tidak bisa mengerjakan. Aku bingung siapa yang mengajarimu setiap bab fisika. Aku khawatir jika kau akan menangis jika nilaimu jelek. Aku hanya mengkhawatirkanmu,”

“Yuri menyadari perubahanku itu. Dan aku menceritakan semuanya. Bukan keinginanku untuk putus darinya. Tapi, dia yang mau merelakanku untukmu. Seakan Yuri sendiri tahu, bahwa selamanya dia tidak akan mendapatkan hatiku jika masih ada dirimu. Apa sekarang kau ingin membiarkanku pergi juga?”

Minho tersenyum miris, “Padahal dulu aku seorang playboy yang sesukanya meninggalkan perempuan. Apa ini balasan untukku?”

Krystal terhenyak mendengar semua penjelasan Minho. Gadis itu menatap mata hitam yang besar milik Minho. Mencoba mencari kebohongan yang mungkin sedang ditutup-tutupi. Hingga dia menghela napas panjang.

“Kau benar-benar rela jika aku bersama orang lain?”

“Mana mungkin aku membiarkan kau pergi, sunbae,” Krystal memeluk leher Minho.

*****

“Jadi kalian..”

Krystal mengangguk malu-malu. Wajahnya nampak memerah saat mengakui bahwa sekarang dia berstatus sebagai pacar dari seorang Choi Minho. Seohyun dan Tiffany segera memeluk sahabatnya itu, mengucapkan selamat hari pertama mereka berpacaran. Setidaknya, apa yang dilakukan Krystal selama empat tahun ini benar-benar berbuah manis.

“Hei! Berhentilah memeluk pacarku! Sekarang bantu aku belajar matematika!” suruh Minho, melepaskan pelukan Seo pada Krystal.

Seohyun mencibir, “Cih, mentang-mentang pacar baru stok lama.”

“Kau bilang apa?”

“Ani,” gadis itu menjulurkan lidahnya. Minho mendengus sebal. Sementara yang lain terkikik saja. Tidak mengerti pula apa yang melintang, pikiran Seohyun tiba-tiba teringat pada tetangga sebelah yang hampir sebulan ini tidak terlihat olehnya. Apa kabarnya Kyuhyun? Apa cowok itu mampu mengerjakan semua soal ujiannya dengan baik? Apa cowok itu ada kesulitan dalam mengingat materi lama? Andaikan kemarin-kemarin dia berhasil menemui Kyuhyun, pasti sekarang dia sudah ada di kamar sebelah dan mengoceh bertengkar tidak jelas. Tapi memang berandai-andai itu bukan hal yang baik.

“Memikirkan Kyuhyun ya?” tanya Siwon tiba-tiba, membuat Seohyun menghentikan lamunannya. Dia hanya menjawab dengan senyuman tanpa arti.

“Tadi aku sudah mengajaknya untuk belajar bersama. Tapi katanya dia masih harus mengajari Changmin dan teman-temannya,” jelas Minho.

“Aku juga tidak mengerti. Akhir-akhir ini Kyuhyun selalu menolak untuk diajak bersama kita,” tambahnya.

Tiffany tampak merangkul Seohyun. Berharap dengan ini dapat meringankan perasaan Seohyun. Minho memang tidak tahu menahu apa yang terjadi diantara Seo dan Kyuhyun. Krystal, Tiffany, Siwon, semuanya sepakat untuk menutup soal ini, karena kemungkinan besar Minho akan salah paham juga dan beroposisi dengan Siwon.

“Mungkin dia sibuk karena pekerjaan barunya menjadi guru les,” ujar Seohyun.

“Mungkin juga keluarganya begitu membutuhkan uang sehingga dia harus banting tulang seperti itu,”

Semua hanya memutar mata mendengar perkataan Siwon. Hello! Kyuhyun merupakan anak dari seorang importir alat-alat kesehatan ternama. Mana mungkin kekurangan uang? Kemudian yang lain segera menuju gazebo dekat kolam renang rumah Minho. Sementara Seo masih betah duduk sendiri di ruang tengah.

Segitu marahnya kah kau padaku, Kyu?

*****

“Terakhir,”

Kyuhyun menghela napas lega. Besok adalah hari terakhir ujian dengan mata pelajaran biologi. Tidak terlalu berat bukan? Yah, paling tidak minimal dia sudah menyelesaikan satu tugas dari sekian tugas besar yang menunggunya.

Selesai mandi sore, dia bergegas menuju meja belajar. Kemudian mengambil buku soal-soal biologi. Matanya melotot. Astaga! Besok ujian dan dia tidak ingat sama sekali soal jaringan hewan dan tumbuhan? Ini pembodohan namanya. Segera dicarinya catatan biologi tahun keduanya.

SRET!

Rasakan nikmatnya cokelat dariku tahu ini kekeke~ Happy Valentine Cho Kyuhyun! S

 

Kyuhyun termenung sejenak saat mengetahui ada sebuah notes di halaman paling depan buku biologinya. Dia berusaha mengingat, kapan Seohyun mengembalikan catatannya itu. Tepat hari Valentine! Dimana dia ngambek karena tidak mendapat cokelat sendiri!

Segera dia berlari keluar. Pergi menuju pohon maple yang masih terus tumbuh disebelah kamarnya dan kamar Seohyun. Dia berharap, Seohyun tidak mengambil kembali cokelat untuknya.

Benar saja! Sebuah kotak berwarna merah berbentuk hati berdiam didalam lubang pohon itu. Dapat dipastikan keadaan coklat didalamnya masih sangat baik, karena dari luar kotak  diisolasi begitu rekat. Kyuhyun mengambilnya perlahan. Membawanya menuju kamar. dibalik kotak tertulis ‘Happy Valentine K! Kau yang terbaik dalam hidupku! S’.

“Mian,” satu kata yang terucap dari bibir Kyuhyun. Yang masih termenung memperhatikan kotak cokelat valentine dua bulan yang lalu seharusnya didapatkan. Seakan memahami perasaan Kyuhyun sekarang, iPodnya melantunkan lagu Broken milik Secondhand Serenade. Cowok itu masih memandang nanar tulisan Seohyun. Di otaknya, berputar kenangan manis yang pernah dilalui bersama Seohyun. Teringat perkenalan mereka pertama yang penuh dengan pertengkaran. Saat pertama dia melihat gadis itu menangis, lalu sesaat kemudian dia menjulurkan lidahnya penuh kemenangan.  Saat pertama dia mendengar betapa cerianya gadis itu berteriak. Saat pertama dia melihat seorang Seo Joohyun tersenyum, untuknya. Tuhan, betapa segalanya begitu indah saat nyaris terlupakan seperti sekarang.

Kakinya perlahan menuntunnya untuk mengambil google inframerahnya. Lalu berjalan kembali ke pohon maple. Kyuhyun benar-benar ingat. Saat dia menganggap dirinya telah ditolak oleh Seohyun.

“Seo-ah! Turunlah!”

“Tidak mau!”

“Ya! Kau yeoja macam apa sih? Hobi memanjat pohon, tidak ada manis-manisnya,”

Seohyun mendesis, “Berisik!”

Kemudian kembali menutup matanya dengan google inframerah. Dan melanjutkan mencorat-coret pohon dengan sebilah cutter tajam. Kyuhyun begitu penasaran. Apa yang sebenarnya dilakukan oleh Seohyun sebenarnya?

“Kau sepertinya sibuk sekali,” ujar Kyuhyun menyindir.

“Memang, makanya kau jangan menggangguku!”

“Sebenarnya apa yang lakukan disana sih?”

“Kepo ya,”

Kyuhyun mendesah, “Ayolah, aku tidak suka memanjat. Apa kau benar-benar ingin menyiksa rasa penasaranku?”

Tidak ada jawaban. Gadis itu tetap sibuk dengan cutternya.

Kyuhyun mulai memanjat pohon itu. Pohon yang selama ini tidak pernah sama sekali disentuh rantingnya oleh Kyuhyun selama 18 tahun, karena dia tidak suka memanjat. Dia berharap dari sini, dia bisa menemukan sesuatu yang mampu membuktikan segala kegelisahannya. Dia baru menyadari, kalau malam hari, dari sana tidak terlihat apapun. Hanya sependar kecil lampu jalanan yang tertutup lebatnya dedaunan. Dipakainya kacamata berframe merah itu. Alat yang membuat matanya dapat melihat di kegelapan.

DASH!

Sebuah tulisan terukir disana. Karena ukirannya begitu dalam, menyebabkannya dapat dibaca hingga sekarang. Kalimat sederhana yang dilingkari sebuah bentuk ukiran hati.

Saranghae, K

 

Dan rasa itu benar-benar hadir. Rasa kecewa. Rasa sedih. Rasa sakit. Kecewa karena apa yang selama ini diekspektasi olehnya salah. Sedih karena kini dia dan Seo benar-benar jauh, bagai langit dan bumi. Sakit karena apa yang telah dia perbuat berbanding terbalik dengan apa yang telah Seo perbuat.

Kyuhyun yang menjauhi Seohyun terlebih dahulu. Membuat benteng pembatas antar hubungan mereka yang selama ini terjalin indah. Semua itu dilakukannya atas dasar kekecewaan karena perasaannya yang tidak pernah dibalas Seo. Tanpa Kyuhyun tahu, Seo telah menunjukkannya dengan caranya sendiri.

Cowok itu mengacak-acak rambutnya sendiri. Melonglong dalam hati. Berteriak penuh rasa kesal. Kau benar-benar bodoh, Cho Kyuhyun!

 

*****

Mana cowok bodoh itu? Apa dia tidak datang ke sekolah?

Seohyun masih mengawasi daerah bimbingan konseling. Kebanyakan anak tahun ketiga seperti Kyuhyun sedang bergerumbul disana. mereka menunggu giliran untuk konsultasi soal rencana masa depan mereka di universitas.

Sudah hampir setengah jam dia memperhatikan ruangan itu. Tapi kenapa Kyuhyun sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya?

*****

“Selamat pagi, ahjumma!”

“Ah Kyuhyun! ayo masuk. Bibi pikir siapa,”

Kyuhyun melangkah memasuki rumah Seohyun. Setelah dipersilahkan, dia duduk di salah satu sofa di ruang TV. Sepertinya sudah cukup lama juga dia tidak bertamu ke rumah ini. padahal dulu, setiap hari terutama Sabtu-Minggu, dia akan mengganggu ketentraman rumah ini dengan membuat Seohyun mengomel.

“Hyunnie belum pulang. Katanya dia ada latihan dance untuk lomba minggu depan,”

“Ah gwaenchana ahjumma. Bolehkah aku meminta izin untuk masuk ke kamar Seo?”

Eomma Seo tampak tertawa kecil sambil mengibaskan tangannya, “Ya ampun! Kau seperti baru saja berkenalan dengan kami. Masuk saja! Bibi mau ke dapur dulu ya,”

Kyuhyun membuka pintu kamar Seo yang berada dilantai atas. Menatap kamar kosong yang tertata rapi didepannya. Dia tersenyum miris. Dulu, setiap membuka pintu tiba-tiba seperti ini, Seo akan menyambutnya dengan lemparan bantal atau guling. Namun keadaan yang ada sekarang seperti ini.

Tangannya mulai menyusuri setiap sudut kamar bernuansa pink itu. Setiap hal yang ada di kamar ini merupakan saksi bisu hubungan keduanya yang penuh intrik.

Hingga akhirnya dia sampai di meja belajar. Menyentuh sebuah album foto bergambar sepasang teddy bear yang berpelukan. Kyuhyun mengambilnya, dan membuka album itu sembari duduk dipinggir ranjang. Membalik halaman demi halaman. Menatap lembar demi lembar peristiwa masa lalu keduanya yang berhasil terabadikan. Saat mereka mandi bersama di halaman depan dengan selang taman. Saat mereka kejar-kejaran di ruang tengah rumah Kyuhyun. Saat ulang tahun kesebelasnya Seohyun. Akankah segalanya kembali seperti ini lagi? Saat keduanya masih begitu polos. Tanpa balutan rasa sayang melebihi sahabat sama sekali. Atau sebenarnya sejak dulu perasaan yang disebut orang cinta itu sudah ada diantara mereka?

Kyuhyun tersadar dari lamunannya saat handphonenya berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari noonanya. Diangkatnya beberapa saat.

“Ne, wae noona?”

“…”

“Aku masih di rumah Seo,”

“…”

“Ne, arraso,”

Cowok itu menutup teleponnya. Sebelum pergi, dia teringat sesuatu. Dirogohnya saku jaketnya. Lalu meninggalkan sebuah amplop berwarna pink didalam album foto itu.

Annyeong, Hyunnie. Kyuhyun meninggalkan kamar Seo.

*****

“Annyeong,” sapa Seohyun sambil menutup pintu depan.

“Ah Hyunnie! Baru saja eomma akan menelponmu. Ternyata kau sudah datang duluan,”

Seohyun hanya membalas dengan senyuman. Jujur yang saat ini dibutuhkan olehnya adalah ranjang. Badannya terasa remuk setelah menghabiskan tiga jam lebih untuk persiapan kompetisi dance mendatang. Begitu masuk kamar, badannya segera direbahkannya diatas pulau kapuknya yang nyaman.

PUK!

“Aw!” Seohyun mengaduh. Badannya seperti terbentur sesuatu entah apa itu. Rasanya tadi pagi, dia tidak menaruh album fotonya bersama Kyuhyun di kasur. Segera gadis itu berteriak untuk eommanya.

“Eomma, apa kau baru saja memasuki kamarku?”

“Ani, tadi yang masuk kamarmu itu Kyuhyun,”

Seohyun terbelalak, “Mwo?! Eomma bilang Kyuhyun?!”

Eomma tampak mengangguk, “Ne, tadi sore dia datang kemari. Tapi hanya sebentar.”

Gadis itu terduduk ditepi ranjang. Tempat yang sama diduduki oleh Kyuhyun. Termenung sambil menatap cover album berwarna cokelat muda itu. Hatinya bertanya tanya, ada apa Kyuhyun ke rumahnya? Kenapa dia memasuki kamarnya? Apa sebenarnya Kyuhyun ingin berbaikan dengannya?

“Argh!” umpat Seo, memukul kepalanya sendiri. Seharusnya dia tidak usah ikut latihan hari ini. Jadi dia bisa menjelaskan keadaan sebenarnya pada cowok itu. Berusaha menghilangkan kesalnya, dia bangkit menuju kamar mandi. Alangkah terkejutnya saat dia tidak sengaja menjatuhkan benda yang berada dipangkuannya. Album itu terbuka persis di halaman pertama yang dimana terdapat sebuah amplop gambar teddy bear warna pink. Penasaran, Seohyun mengambil isi amplop yang tertempel dengan double tape itu. Mulai membaca dari kata : ‘Untuk seseorang paling sempurna yang pernah kukenal, Seo Joohyun’.

My tears run down like razor blades and no

I’m not the one to blame

It’s you or is it me?

Aku tidak tahu harus menghubungimu dengan cara apalagi. Sebenarnya aku ingin menemui secara langsung. Tapi waktuku begitu sedikit. Entah apa yang membuat sepertinya kita sulit bertemu. Padahal rumah saja bersebelahan. Kita juga masih satu sekolah. Apa yang menjadikan kita begitu sulit untuk berbicara? Mungkin takdir.

Seohyun segera berlari keluar rumah setelah berhasil membaca sekilas surat itu. Eomma berteriak dari teras. Hanya dijawab, “Pergi sebentar!” olehnya. Astaga! Seo benar-benar tidak bisa berpikir jernih saat ini.

And all the words we never say

come out and now we are all ashamed

And there is no sense in playing games

When you’ve done all you can do

Sungguh aku merasa ada yang aneh diantara kita. Bukankah kita sudah berteman sejak kecil? Berapa lama waktu yang kita habiskan bersama? Berapa banyak kenangan yang sudah berhasil kita rajut? Kupikir dengan semua itu, aku sudah cukup memahamimu. Ternyata masih kurang ya?

“Maaf, Seohyun-ssi. Tuan Kyuhyun sudah berangkat ke bandara dengan Nona Ara dari dua jam yang lalu,” ujar pelayan rumah Kyuhyun.

Seohyun mengangguk pamit. Kemudian segera mencari kendaraan. Syukurnya ada taksi yang lewat. Sehingga dia bisa segera pergi ke bandara sekarang juga.

But now it’s over, it’s over, why is it over?

We had the chance to make it. Now it’s over

It’s over. It can’t be over.

I wish that I could take it back, but it’s over.

Maaf. Aku terlambat menyadari segalanya. Menyadari bahwa kau begitu mempedulikanku. Menyadari bahwa kau begitu menyayangiku. Menyadari bahwa kau.. mencintaiku. Dalam hati aku merasa kesal. Kenapa semua ini baru disadari saat semuanya terlambat? Apakah kita memang tidak mungkin bersama?

Seohyun menelan ludah. Tanpa disadari olehnya, air matanya meluncur dengan sendirinya. Tanpa suruhan. Tanpa paksaan. Seo berdoa dalam hati, semoga dia masih sempat menemui Kyuhyun.

I lose myself in all these fights

I lose my sense of wrong and right.

I cry, I cry.

Beberapa waktu yang lalu, aku tak sengaja memergoki Siwon sedang berduaan dengan Tiffany disebuah kafe. Saat itu, aku benar-benar marah. Saat itu, aku benar-benar ingin menunjukkan padamu, bahwa Siwon bukan pria yang pantas bersamamu. Dia bahkan bisa dengan santainya bermain dengan wanita lain dibelakangmu. Saat aku berniat memarahinya, aku mengetahui bahwa kau dengannya hanya sebatas rekan. Bahkan yang lebih membuatku kecewa.. dia bercerita, kau menjadi lebih pemurung karenaku. Apa aku benar-benar tidak berguna untukmu? Hanya mampu membuatmu sedih?

Saat membaca bagian itu, terlihat ada bulatan serta tinta yang memudar. Dapat dipastikan, Kyuhyun juga meneteskan air mata saat menulis surat ini. Air matanya terus mengalir dengan begitu deras membaca setiap curahan hati Kyuhyun.

I’m shaking from the pain that’s in my head

I just want to crawl into my bed and throw away

The life I’d led. But I won’t let it die.

But I won’t let it die.

Saat aku memperhatikan bintang-bintang buatanmu, aku juga untuk kesekian kalinya tak sengaja membongkarnya. Hanya berniat untuk mengusir bosan. Ternyata, kau menuliskan banyak kalimat motivasi untukku. Disetiap bintang bahkan. Astaga! Kau begitu peduli padaku. Apakah aku pernah sepeduli ini padamu? Sepertinya aku memang tidak terlihat mencintaimu sama sekali.

Seohyun menggeleng lemah. Rasanya dia ingin berteriak dihadapan Kyuhyun. Menjelaskan betapa cowok ini selalu berusaha menghiburnya. Seo teringat, kejadian di trampolin. Saat Kyuhyun menyanyi didepan rumahnya dengan gitar, untuk menghibur Seo yang kalah lomba. Kyuhyun selalu memperhatikannya dengan caranya sendiri.

I’m falling apart, I’m falling apart

Don’t say this won’t last forever

You breaking my heart, you’re breaking my heart

Don’t tell me that we will never be together

We could be over and over, we could be over

Aku diterima di Public Care and Medical Centre Harvard University. Impianku terkabul! Tapi justru ini membuatku sedih. Karena kemungkinan besar, aku baru bisa menemuimu enam tahun lagi. Semoga kita masih bisa bertemu lagi nanti!

Gadis itu semakin mengencangkan tangisannya. Kaget bercampur bangga. Sedih bercampur senang. Pikirannya terlalu dipenuhi dengan Kyuhyun, Kyuhyun, dan Kyuhyun saat ini. Tuhan, buatlah perjalanan ini lebih cepat!

It’s not over, It’s not over, It’s never over

Unless you let it take you, it’s not over

It’s not over, it’s not over, unless you let it break you

It’s not over.

PS : Jangan benci padaku! Aku hanya pergi karena ingin menjadi orang yang pantas berada disampingmu. Jika suatu saat kau sudah menemukan seseorang yang kau impikan, sebelum kita bertemu, buatlah aku menjadi orang pertama yang mengetahuinya! Aku akan menjadi orang pertama juga yang mengucapkan selamat padamu.

Dan disini aku mengaku, secara tertulis, bahwa aku mencintaimu. Sejak dulu hingga sekarang. Aku tidak bisa memprediksi apa yang terjadi nanti. Tapi yang kutahu, hatiku hanya untukmu.

Saranghae.. Seo Joohyun.

“Gamsahamnida, ahjussi!”

Seohyun segera berlari menuju penerbangan internasional. Tidak peduli orang-orang menatapnya sinis, karena berlari seperti di taman bermain. Hanya satu hal yang dipikirannya saat ini, menemui Kyuhyun.

Dimana dia?

“Seohyun,”

Gadis itu terkejut. Tubuhnya menoleh. Dan sesaat dia menangis. Melihat ternyata Siwon berdiri dibelakangnya. Memberi isyarat. Bahwa dia.. sudah pergi.

*****

6 tahun kemudian..

“Cheers!”

Wajah sumringah menghiasi wajah Seohyun, Krystal, Tiffany, Siwon, serta Minho. Bagaimana tidak, mereka baru saja merayakan kesuksesan mereka masing-masing. Seohyun baru diwisuda menjadi seorang dokter muda dari Seoul University. Sebentar lagi akan menjalani masa dua tahun abdi negara. Krystal berhasil membuka label fashionnya yang bernama ‘CSJ’. Tiffany juga berhasil naik pangkat menjadi asisten manager bagian maintenance di sebuah perusahaan pembangkit listrik tenaga uap. Siwon dan Minho? Yah penggembira saja karena senang melihat pacar-pacarnya berhasil.

“Wah, benar-benar menyenangkan ya! Kita semua sudah lulus dan mulai bekerja sekarang,” ujar Siwon.

Minho mengiyakan, “Tentu saja! Tapi sehabis ini, kita akan sulit bertemu. Kita pasti akan memulai kehidupan kita yang baru bukan?”

“Seohyun akan S2 ke Amerika setelah abdi negara, Tiffany pasti akan sibuk di Incheon, Siwon juga akan mengurusi perusahaan keluarganya. Aish, sepertinya kita akan seperti orang tidak kenal kedepannya,” tambahnya.

“Jagi, kenapa kau begitu apatis sih? Kita kan masih bisa bertemu bila waktu senggang. Seperti kita yang akan tinggal di Mars saja,” serobot Krystal. Membuat Tiffany dan Seohyun terkikik.

“Sayang, Kyuhyun tidak ada disini,”

Ups! Sepertinya Siwon mengucapkan kalimat yang salah. Semua segera menatap kearah Seohyun. Takut-takut gadis itu akan kembali kalut dalam pikirannya sendiri seperti awal-awal dia ditinggal Kyuhyun.

“Ya, gwaenchana. Kenapa kalian melihatku seperti melihat zombie begitu?”

Sebenarnya Minho ingin memberitahu. Bahwa dia sudah mengajak Kyuhyun kemari. Tapi sayangnya cowok itu menolak dengan alasan sibuk dengan project klinik pasutri yang sedang dibangunnya.

Seohyun menghela napas panjang. Dia ingin sekali Kyuhyun melihat, bahwa sekarang dia berhasil mewujudkan cita-citanya. Tapi apa itu mungkin? Enam tahun lebih menghilang, cowok itu tidak pernah menghubunginya sama sekali. Bukankah kita sudah hidup di millenium kedua? Dimana semua alat komunikasi hanya tinggal menyentuh? Sebegitu sibuknya kah Kyuhyun sampai tidak bisa mengabarinya sama sekali?

*****

Seo berjalan menyusuri trotoar menuju rumahnya. Dia sengaja memilih untuk pulang tanpa kendaraan karena ingin merefresh otaknya yang kembali terisi dengan Kyuhyun. Dia mendesah, ternyata efek kepergian cowok itu masih meliputi dirinya hingga sekarang.

GREP!

“UMMHH!!” teriak Seo tak jelas. Seseorang membekap Seohyun dari belakang. Menutup mulut dan hidungnya dengan saputangan. Gadis itu berusaha memberontak. Namun, kekuatannya tidak sebanding dengan penculiknya. Hingga gadis itu pingsan di tangan sang penculik.

****

Gelap. Apa dia buta?

Seohyun tersadar dari pingsannya. Angin dingin malam berhembus begitu kencang. Apa dia sedang berada diluar ruangan? Dia berusaha untuk menggerakkan tubuhnya. Namun tidak ada yang merespon. Sepertinya tangan dan kakinya diikat. Matanya juga ditutupi dengan kain. Tuhan, apa yang terjadi sebenarnya?

Seohyun meyakini bahwa dia sudah berusaha bersikap baik pada semua orang. Dia juga merasa tidak memiliki musuh. Lalu siapa yang merencanakan semua ini?

“Siapa kau?! Apa yang kau lakukan padaku?!” teriak Seohyun saat kesadarannya sudah penuh kembali. Mulutnya syukur tidak dilakban. Jadi dia bisa berteriak.

Hanya terdengar suara cekikikan dari seseorang. Menjawab pertanyaan bodoh Seo.

“Aku mohon, lepaskan aku!”

Tidak ada respon. Namun terdengar suara langkah mendekat kearahnya. Seohyun benar-benar ketakutan.

“Hentikan! Jangan mendekatiku!”

Orang itu semakin mendekat. Seohyun tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya mampu menangis dan meronta tak guna.

“Jangan lakukan apapun padaku! Kumohon..”

Seohyun mulai menangis. Dia ketakutan setengah mati. Membayangkan apa yang bisa dilakukan orang itu terhadapnya, yang saat ini tidak berdaya sama sekali. Seohyun bergidik ngeri, saat tangan orang itu mencengkram keras tulang rahangnya. Tangannya mulai mengelus bagian paha Seohyun yang tidak tertutupi roknya.

Seohyun benar-benar hampir pingsan saat tangannya mulai mencapai perutnya. Sungguh dia belum siap menghadapi semua ini. Tiba-tiba..

Sebuah ciuman hangat menempel di bibir manis Seohyun. Sungguh, dia ingin menolaknya. Akan tetapi, ciuman ini sangat lembut dan begitu menggodanya. Air matanya masih mengalir sembari ciuman ini menghampiri. Hingga orang itu berbisik didepan bibirnya.

“Jangan menangis! Aku paling tidak tahan melihatmu menangis,”

Seohyun terbelalak. Dan matanya semakin membesar saat penutup matanya dibuka. Sesosok pria yang selama ini ditunggunya menatap matanya begitu dalam. Tubuhnya melemas saat itu juga. Rasa khawatirnya yang tadi bergemuruh, berubah menjadi rasa kesal dan rindu yang tiada tertahan.

Tangan Kyuhyun terulur, mengusap air mata di pipi Seohyun. Kemudian menghilangkan bekasnya, dengan menghisap kedua pipi merahnya. Gadis itu tidak menolak sama sekali. Hanya terdiam tanpa kekuatan.

“Kau ingin membuatku mati ketakutan ya?” tanya Seo, saat berhasil mengembalikan tenaganya.

“Aku hanya ingin membuat sedikit sapaan kejutan saja. Ini keren bukan?”

Seohyun tertawa lemah, “Bahkan pada sahabatmu sendiri kau tega melakukan hal sesadis ini.”

“Sadis? Ayolah! Aku bukan seorang psikopat. Ini hanya kejutan biasa. Lagipula memangnya kau sahabatku?”

DEG!

Rasanya benar-benar lebih panas dari ditampar. Bagaimana bisa Kyuhyun tidak menganggapnya sebagai seorang sahabat? Tapi memang benar. Diantara mereka memang tidak ada ikrar itu sama sekali tentang hubungannya. Badannya meringsut lemas. Kyuhyun yang menyadari perubahan sikap tubuh Seo, langsung mendadak panik.

“Kau kenapa?”

“Lepaskan aku! Aku mau pulang,”

Kyuhyun dengan bodohnya melepaskan begitu saja ikatan pada tubuh Seo.

“Kau mau kemana?”

“Pulang, aku lelah,”

“Ya! Kau pikir aku membuat semua ini hanya untuk sekadar menyapa?”

“Apa lagi?!” Seohyun mulai kesal dengan perilaku Kyuhyun. Cowok itu menjentikkan jarinya dan..

BOOM!

Kembang api bermunculan di langit. Begitu menawan. Begitu indah. Warna-warninya menghiasi gelapnya malam. Mempercantik keadaan taman yang indah ini. Dan tentunya, membuat Seo tercengang.

“Jangan takjub dulu! Belum selesai,” Kyuhyun kembali menjentikkan jarinya. Seohyun menutup mulutnya. Sesuatu berukuran besar muncul mendadak dari kejauhan. Membentuk sebuah menara Eiffel dari bahan mungkin tripleks berhiaskan lampu-lampu cantik berdiri dengan megah didepannya. Bukan itu yang membuatnya menganga. Melainkan kalimat diatasnya menara itu yang tertulis ‘Marry Me, S?’

“Kyu.. itu..”

Kyuhyun berlutut dihadapan Seohyun.

“Aku tidak mampu mengungkapkannya dengan kata-kata. Mungkin lebih baik, aku mengungkapkannya dengan caraku sendiri. Aku sudah berusaha semampu yang kubisa. Dan kurasa, sekarang aku pantas untuk menanyakan hal ini. Aku tidak ingin hanya menjadi tetangga, sahabat, ataupun puppy love untukmu. Aku ingin lebih dari itu.”

Kyuhyun berdeham sekali, “Bolehkah aku mengisi lembar baru dalam hidupmu, dengan menjadi suamimu, Seo Joohyun?”

Seo benar-benar lemas. Ini hal paling indah yang pernah ia dapatkan seumur hidup. Dia baru menyadari, betapa Kyuhyun membuatnya merasa menjadi wanita paling bahagia hari ini. Gadis itu hanya menjawab dengan senyuman. Benar-benar menyetujui Kyuhyun tidak hanya menjadi puppy love atau cinta monyet semata. Lalu ikut berlutut, mencium lembut bibir Kyuhyun.

Tidak ada yang terucapkan. Bukankah seperti itu sejak awal?

*****

 3 tahun kemudian …

Seohyun memberikan secangkir teh pada Kyuhyun yang sedang duduk di sofa, “Oppa?”

“Hm?”

“Kalau dihitung dari satu sampai sepuluh, berapa rating cintamu padaku?”

Kyuhyun menyesap tehnya sejenak. Dahinya mengerut. Tanda bahwa dia sedang berpikir. Sebelum akhirnya menjawab, “Dua.”

Gadis itu seketika merengut. Membuat Kyuhyun ingin tertawa.

“Memang hanya dua?” tanya Seohyun.

Kyuhyun mengangguk, “Dua. Dualaaaaaaaaaam sekali..”

Seohyun memukul lengan Kyuhyun pelan. Tersipu malu.

END

*****

8 thoughts on “Puppy or True? part 6 – END

  1. Keren,, D.A.E.B.A.K!!

    Aku baca ny campur aduk,,
    awal ny sedih tpi saat menjelang akhir2 aku senang bnget,,

    yeay!!
    Happy end,,

  2. DAEBAK. SO SWEET, SO SAD berpadu dalam satu crita.
    jadi mewek baca ny. 6 tahun lo nunggu nya, tanpa kabar sma skli. kalau mmng cinta dan takdir ny pasti akn brtsama. jadi nggak rela udah end. heheh
    K.E.R.E.N

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s