Saltarcume part 2

Saltarcume

Romance & Sad | Characters : Tiffany Hwang, Choi Siwon, Kwon Yuri, Lee Donghae, Jessica Jung |

tak ada hal yang terindah dari melihatmu berputar dan.. mencintaiku

*****


“Bagaimana keadaannya?” tanya Siwon.

Dokter tampak serius mempelajari hasil foto rontgen kaki Tiffany. Kemarin, setelah sadar, wanita itu mengatakan ingin ke kamar mandi. Belum sampai didepan pintu, dia mengaduh kesakitan. Giginya bergeretak, meringis saat akan menggerakkan kakinya. Tentu ini membuat Siwon panik dan segera meminta dokter untuk memeriksa keadaan Tiffany dengan X-Ray.

“Ada keretakan di kakinya jika dilihat disini,” katanya sambil menunjuk ke salah satu bagian pergelangan kaki.

“Apa itu parah, dok?”

Dokter itu melepas kacamatanya, “Saya juga tidak bisa memprediksi seberapa parah retaknya itu.”

“Pasien sudah bisa pulang hari ini. Namun, untuk dua bulan kedepan, pasien tidak diperbolehkan berjalan normal, jika ingin melakukan aktivitas harus menggunakan kruk. Kakinya harus digips pula untuk perawatan. Setelah itu baru diperiksa apakah keretakannya ini bersifat permanen atau tidak,” tambahnya.

Dada Tiffany mendadak nyeri.

*****

Choi Siwon, kau benar-benar bodoh!

Siwon merutuki dirinya terus menerus setelah mendengar perkataan dokter tadi. Karena kecerobohannya mengemudikan mobil, membuat seorang wanita harus berada di kursi roda selama dua bulan? Itupun belum diketahui dengan pasti apakah kaki gadis itu akan normal kembali atau tidak.

Matanya terus menerawang. Meratapi kebodohan yang dilakukannya semalam.

“Jagiya.. Gwaenchana?”

Pria itu tersentak. Kemudian menoleh.

“Yuri-ah,” gumamnya, sambil tersenyum. Dilihatnya wajah wanita itu tampak memandangnya begitu khawatir.

Yuri meraih tangan kiri Siwon. Mengelusnya dengan lembut. Ingin menunjukkan bahwa dia sangat khawatir dengan keadaan pasangannya itu. Karena kecelakaan yang dialami Siwon, terpaksa acara makan malam keduanya dibatalkan. Akan tetapi, semalam Yuri tidak bisa langsung ke rumah sakit karena ada latihan malam di sanggar tarinya.

“Kau baik-baik saja, oppa?”

Siwon tersenyum, memberi tanda bahwa dia tidak ada masalah.

“Lalu bagaimana dengan yang kau tabrak?”

Wajahnya kembali menegang. Teringat kembali dengan omongan dokter beberapa saat yang lalu. Yang membuat wajah Tiffany mendadak begitu suram.

“Dia.. tidak mau menemuiku,”

“Apa?”

“Dokter tadi mengatakan bahwa kakinya harus digips selama dua bulan. Dan itupun belum bisa dipastikan apakah kakinya ada masalah atau tidak. Setelah itu, mendadak dia berubah dingin dan tadi menyuruhku untuk tidak menjenguknya hari ini. Sepertinya dia marah besar denganku,” jelas Siwon merunduk. Ekspresinya terlihat jelas bahwa dia benar-benar menyesal dengan kejadian itu. Yuri–yang merasa iba–segera memeluk Siwon begitu erat. Berharap ini dapat membantu menenangkan pria itu.

*****

Tiffany menyesap teh hangat yang baru saja diberikan suster kepadanya. Minum secangkir teh ternyata mampu meringankan perasaannya yang benar-benar jatuh ketimpa tangga seperti sekarang. Tadi, rasanya dia benar-benar tidak tahan untuk membuang air kecil. Dan saat dia berjalan, yang terjadi justru dia jatuh tak berdaya di lantai. Kakinya benar-benar tidak mampu menopang berat tubuhnya karena keretakan yang sepertinya cukup parah. Beruntungnya, Sae Jun sigap siaga menolongnya. Ayahnya meninggalkan pekerjaan dan mengambil cuti tiga hari untuknya.

Ah, dia benar-benar menyesal!

Seandainya dia tidak dirawat di rumah sakit seperti ini, pasti ayahnya sekarang bisa bekerja dengan tenang. Seandainya dia tidak dirawat, pasti sekarang dia bisa menemani Haera untuk persiapan ujian masuk School of American Ballet. Seandainya dia tidak dirawat, pasti dia bisa mengajar murid-muridnya saat ini.

Tiffany terhenyak sesaat. Menatap kakinya yang dibalut dengan kain putih yang begitu tebal, hingga membuat kakinya mati rasa. Teringat betapa sedihnya tidak bisa menari. Menari, terutama balet, merupakan bagian dari hidup Tiffany. Separuh dari pikiran, raga, serta jiwanya tercurahkan untuk balet. Sejak kecil, dia berusaha keras, hingga akhirnya bisa masuk dan lulus BFA Juilliard School, dan berbagai pengalaman hidupnya yang terisi oleh balet. Dan bayangkan jika kamu tidak bisa melakukan apapun untuk sesuatu yang kau cintai? Benar-benar sebuah ironi.

“Sayang,”

Panggilan itu membuat Tiffany menoleh.

“Mobilnya sudah siap. Ayo kita pulang!”

*****

“Ada apa dengan kakimu, nak?”

“Ah, ini..” Tiffany tampak sedang mengatur kata-kata, “Hanya jatuh dari tangga.”

“Berhati-hatilah lain kali,” ujar wanita pemilik toko, sambil memberikan kembalian Tiffany.

“Gamsahamnida, ahjumma,”

Tiffany melangkah meninggalkan supermarket itu. Tuhan, betapa merepotkannya hari-harinya kedepan. Karena salah satu kakinya patah, dia harus menopang dengan kruk untuk berjalan. Jalan juga jadi tidak leluasa. Melakukan hal normal untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari juga sulit.

BRAK!

“Aw..” Tiffany meringis nyeri. Ketidakbiasaannya menggunakan kruk, ditambah dengan barang belanjaannya yang cukup banyak, membuatnya kehilangan keseimbangan. Dan jatuh. Pergelangan kakinya yang bermasalah semakin mengganggunya. Rasa nyerinya semakin menusuk-nusuk, membuatnya tidak mampu untuk menahan air mata kesakitan.

“Kau tidak apa-apa?” tanya seseorang, membuat dia menoleh.

Orang ini..

Tiffany menunjukkan ketidaksukaannya terhadap pria yang kini sedang memegang lengannya. Matanya menatap Tiffany dengan begitu khawatir. Ditepisnya pegangan Siwon, berusaha bangkit sendiri. Tapi terjadi justru dia terjatuh kembali.

“Jangan berusaha sendiri! Aku ada disini untuk membantumu,”

“Aku tidak meminta bantuanmu,”

“Memang, tapi aku berinisiatif sendiri untuk membantumu,” Siwon meraih kantung-kantung belanja yang tadi dibawa Tiffany.

*****

Ada dua hal yang membuat Siwon sebenarnya sangat malu untuk bertemu lagi dengan Tiffany. Pertama, karena dia telah menabrak gadis itu sampai kakinya tidak bisa difungsikan dengan sempurna beberapa waktu. Sejujurnya, dia benar-benar menyesal dengan apa yang terjadi dibelakang. Kedua, karena takut. Masih hangat dibenaknya, saat Tiffany marah dan mengusirnya dari kamar rawatnya saat mengetahui keadaan kakinya.

Tapi dia tidak bisa meninggalkan hal ini tanpa melakukan pertanggungjawaban terlebih dahulu. Sebenarnya Siwon ingin melunasi semua perawatan di rumah sakit. Ternyata, ayah Tiffany sudah terlebih dahulu melunasinya. Siwon ingin meminta maaf pada Tiffany keesokan harinya. Dan kenyataan mengatakan lain, bahwa yang dicarinya sudah pulang sejak kemarinnya. Selama beberapa hari ini, tidurnya ikut tidak nyenyak. Terpikir keadaan Tiffany. Dia tidak mau terus menerus dihantui rasa bersalah.

Dan Tuhan benar-benar baik hati. Saat dia ingin membeli beberapa minuman kaleng untuk persediaannya, maka dia menemukan seorang wanita berparas ayu ini terjatuh sendiri. Tentu Siwon tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

“Berhenti mengikutiku!” seru Tiffany, menyadarkan lamunan Siwon. Dia melihat sebuah rumah dengan gaya klasik Eropa bercat putih. Tidak begitu megah jika dibandingkan  dengan rumahnya memang, tetapi bisa dipastikan bahwa Tiffany bukan berasal keluarga yang ‘biasa-biasa saja’.

“Apa maumu sebenarnya? Kau ingin mematahkan kakiku yang satunya lagi? Belum puaskah kau mematahkan satu saja?” hardik Tiffany.

Siwon jelas tidak terima. Niat baiknya disangka yang buruk-buruk.

“Aku hanya meminta maaf padamu. Aku ingin bertanggungjawab atas apa yang aku lakukan padamu. Aku ingin membantumu. Tapi jika kau tidak bisa menerima itikad baik, tidak masalah. Ini menguntungkanku karena aku tidak akan dihantui rasa bersalahku lagi dan aku juga tidak perlu melakukan apapun,”

Siwon menjulurkan tangannya yang penuh dengan belanjaan, “Ini. Ambil.”

Tiffany mendengus kesal, “Ini yang kau sebut dengan bertanggungjawab? Huh, tidak seperti laki-laki yang gentleman sama sekali.”

Siwon melotot, “Lalu kau mau aku melakukan apa? bukannya dari tadi aku sudah mengatakan ingin membantumu? Kau saja yang tidak memasang telingamu dengan baik.”

“Sudah membuatku seperti ini masih berani menghinaku? Kau benar-benar.. aish,”

Kepala Tiffany benar-benar melepuh karena panas kesalnya dia pada pria didepannya itu. Sudah salah, masih bisa berkelit, membuat seolah-olah dia yang salah dan bodoh karena tidak mau menerima pertolongannya. Ditatapnya dengan sinis dari atas sampai bawah seorang Choi Siwon.

Menggunakan jas formal berwarna krem dengan kemejanya berwarna biru langit. Bawahannya senada dengan warna jasnya. Wajahnya juga aristokrat dengan tubuh tegap tinggi menjulang. Banyak orang yang mengatakan bahwa Tiffany memiliki tinggi badannya diatas rata-rata, tetapi saat berhadapan dengan Siwon, tingginya hanya sebatas dibawah telinga pria itu.

“Tidak perlu melihatku seperti itu, kau bukan orang pertama yang begitu terpesona melihatku,”

Mata Tiffany mendadak membesar.

Pantas dia sangat sombong dan menyebalkan, dia orang kaya.

“Kau benar,” kata Tiffany.

“Hah?”

“Kau memang salah dan sepatutnya merasa bersalah. Kau harus mempertanggungjawabkan apa yang kau perbuat terhadapku bukan?”

“Itu bukan mauku,” bela Siwon.

“Apapun itu. Aku berpikir, mungkin sebaiknya kau menjadi pelayanku selama perawatan hingga kakiku benar-benar pulih. Aku juga kesulitan melakukan segala sesuatunya jika sendirian,” Tiffany berdeham sekali, “Baiklah. Kau akan menjadi pelayanku mulai dari sekarang.”

*****

“APA?! KAKIMU PATAH?”

Tiffany mendesis, “Kau ini benar-benar bermulut besar ya? Sudah kubilang kan dari awal jangan terlalu kencang bicaranya!”

Jessica menutup mulutnya sebentar, “Mian, habisnya kau mengagetkanku. Bagaimana ceritanya kakimu seperti ini?”

Rasa malas mendatangi Tiffany saat sahabatnya bertanya seperti itu. Karena kalau mau menjawab, mau tidak mau otaknya akan berpikir lagi tentang pelayan barunya, Siwon. Dan kalau sudah teringat betapa menyebalkannya cowok itu (tidak pernah datang tepat waktu, selalu memarahinya setiap saat, tidak bisa kalau segala sesuatunya tidak sempurna), rasanya dia ingin sekali berada didekat karung tinju.

Tidak menemukan cara yang efektif, akhirnya dia memilih menjawab, “Panjang. Dan aku malas menceritakannya.”

“Makanya aku meminta padamu, tolong temani Haera selama aku pemulihan. Dia benar-benar butuh latihan intensif agar tes masuk SAB-nya bisa lancar,” tambah Tiffany. Jessica baru saja akan menjawab, sebelum seorang pria lewat didepannya dan menghampiri keduanya.

“Tiffany, apa yang terjadi padamu?” matanya tidak menutupi rasa keterkejutannya melihat kaki Tiffany yang digips serta adanya kruk disebelah tempat duduk wanita itu.

“Hanya kecelakaan kecil, Donghae-ssi,” ujarnya sambil tersenyum.

“Benar? Tapi lukanya tidak terlihat kecil,”

Tiffany hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum.

“Lalu bagaimana kau pulang? Apa kau mau kuantar?”

Dia hanya menggeleng pelan, “Tidak perlu, aku sudah ada yang menjemput nanti.”

“Oh begitu..” pria itu mengangguk, “Tapi jika kau butuh apa-apa, jangan sungkan untuk menelponku! Aku akan siap membantumu setiap saat.”

“Ne. Gomawo,” balas Tiffany sambil tersenyum. Kemudian Donghae berlalu karena dia ada jam mengajar sekarang. Setelahnya, mata Tiffany segera melirik kearah Jessica. Wanita itu tampak pura-pura tidak peduli dengan keadaan.

“Menghindar?”

“Dia yang tidak menyapaku,” jawab Jessica kalem.

Tiffany hanya mengangguk santai.

“Kulihat, Donghae begitu panik melihat kakimu. Selama kau mengajar disini, dia selalu menunjukkan perhatiannya padamu,” kata Jessica tiba-tiba.

“Donghae memang baik,”

“Dia memang baik. Dan juga.. menyukaimu,”

Tiffany menoleh kearah sahabatnya, “Oh ya?”

“Dia memang menyukai, Tiff. Dia baik, perhatian, dan menyukaimu. Apa kau tidak menyukainya?”

“Aku menyukainya,” bantah Tiffany.

Membuat mata Jessica menyipit, “Aku yakin yang kau maksud tidak sama seperti yang kumaksud.”

Tiffany mencoba mengubah suasana dengan melihat kearah iPhonenya. Ternyata ada satu pesan masuk. Digesernya panah yang ada dilayar handphonenya.

From : Choi Siwon

Aku sudah didepan. Keluarlah!

Seulas senyum mengembang di wajah manis wanita itu. Dia mengambil tasnya kemudian berdiri dengan kruknya.

“Siwon sudah datang. aku duluan ya!”

Lalu pergi berlalu meninggalkan Jessica yang masih terduduk di sofa dekat resepsionis. Dalam hatinya, Jessica benar-benar gemas dengan sahabatnya itu. Tiffany itu memang tidak peka atau tidak pernah peduli sekitarnya sih?

*****

KENAPA WANITA INI BENAR-BENAR MENYEBALKAN SIH?!

Siwon menggerutu tidak karuan membaca pesan singkat dari Tiffany.

From : Tiffany

Cepat kemari! Aku butuh kau untuk menyiapkan makanan. Sekarang!

Pria itu mencoba melakukan negosiasi pada Tiffany. Berharap wanita ini masih punya hati untuk membiarkannya bersenang-senang dulu sesaat. Baru sejam yang lalu dia meninggalkan rumah itu.

iPhonenya bergetar. Segera dibukanya pesan itu.

From : Tiffany

Itu bukan urusanku. Cepat datang sebelum appaku marah karena tidak ada makan malam. Kujamin hidupmu tidak akan aman setelahnya.

“Argh!” Siwon mengacak-acak rambutnya sebal. Yuri yang melihat keanehan pada Siwon, memutuskan untuk menghentikan memakan fettuchini sesaat. Menaruh sendok garpunya pelan sebelum bertanya, “Ada apa?”

“Ani,” jawab Siwon singkat.

Yuri tersenyum halus, “Kenapa kau menutupi masalahmu dariku? Bukankah dari dulu tidak ada yang kita tutup tutupi?”

Yuri masih menatapnya dengan intens. Menunggu pria itu mengatakan sesuatu.

“Kulihat beberapa hari ini, kau jarang sekali mengirim pesan padaku untuk bertanya keadaanku. Tidak seperti biasanya. Benar tidak ada apa-apa denganmu?”

Siwon tersenyum dalam hatinya. Entah sudah keberapa kalinya dia merasakan bahwa Yuri benar-benar wanita yang perhatian. Akhirnya dia menceritakan semuanya. Mulai dari pertemuan tidak sengajanya kembali dengan Tiffany hingga akhirnya dia menjadi pelayan untuk wanita itu.

Semula dia berpikir, Yuri akan marah padanya karena secara otomatis Siwon akan meluangkan waktunya lebih banyak untuk wanita lain. Kenyataannya, Yuri justru tetap tersenyum seperti sedia kala sambil berkata, “Aku senang ternyata kau begitu bertanggungjawab. Betapa beruntungnya aku memilikimu, oppa.”

Siwon tidak mampu menutupi rasa senangnya terhadap Yuri. harusnya dia yang mengatakan betapa beruntung dirinya memiliki Yuri. Wanita itu sangat lembut dan berpikir positif. Juga sangat perhatian padanya.

*****

“Kau terlambat satu setengah jam,”

Suguhan pertama yang didapatkan Siwon begitu sampai di ruang tengah rumah Tiffany. Dia yakin gadis itu sekarang sedang berada di dapur karena dia mendengar suara mendesis dan aroma bawang putih. Benar saja, gadis itu sedang menumis beberapa bumbu. Wajahnya nampak penuh keringat.

Siwon berjalan memasuki dapur. Melihat ada beberapa sayuran yang masih utuh, tangannya tergerak untuk mengambil pisau. Dipotong-potongnya seukuran dadu wortel-wortel itu. Lalu memberikannya pada Tiffany.

“Bisakah kamu mencampurkan ini, kemudian mengaduknya? Aku mau memotong yang lain,” Siwon hanya mengambil spatula yang digunakan Tiffany tanpa mengucapkan sepatah katapun. Wanita itupun pergi ke kulkas, mengambil daging sapi yang belum dipotong-potong.

“Tadi kau sedang makan malam dengan pacarmu?”

“Kau bertanya padaku?”

“Aku yakin aku waras dan tidak akan bertanya kepada orang yang wujudnya tidak ada,”

Siwon tersenyum samar, “Ya begitulah.”

“Apa aku mengganggu kalian?”

“Itu pertanyaan retoris kan?”

Kini ganti Tiffany yang tersenyum kecut, “Baguslah. Tak kusangka kau cukup profesional.”

Cukup katanya? Aku merelakan untuk pergi dari kencan demi kau. Hanya dibalas dengan kata cukup? Keterlaluan!

“Ah!”

Siwon membalikkan tubuhnya setelah mendengar pekikan dari Tiffany. Dan dia menemukan jari telunjuk gadis itu sudah penuh darah. Gadis itu merintih tanpa melakukan apapun.

“Cepat dicuci, bodoh!”

Pria itu segera menarik tangan kiri Tiffany. Membawanya kedepan wastafel. Mencuci darah merah segar yang masih mengucur lumayan deras–karena memang lukanya lumayan panjang–dari telunjuknya.

Tanpa disadari oleh Siwon, semburat rona memerah hadir di pipi Tiffany. Rasanya benar-benar malu dia, kenapa cowok ini selalu melihatnya dalam keadaan bodoh sih? Kapan hari cowok itu melihat kecerobohannya saat menyebrang jalan, sekarang tangannya. Mana bisa jaim kalau begini?

“Tunggu sini!” Siwon sudah ngeloyor entah kemana. Herannya dia menurut saja perkataan orang itu. Sekembalinya dia sudah membawa kotak P3K. Mengambil antiseptik dan plester untuk membalut lukanya.

“Hash, pelan pelan!” pekik Tiffany mengaduh.

“Berisik! Salahnya sendiri luka.”

Tiffany hanya merengut sebal. Dia terus memperhatikan Siwon yang meneteskan cairan berwarna coklat kemerahan itu ke lukanya. Kemudian meniupnya sampai mengering. Baru dipasangkan plester. Siwon melakukan semua itu dengan begitu halus dan hati-hati.

“Selesai. Sana kau duduk di sofa, merepotkan saja,”

“Kalau aku duduk, siapa yang memasak?” protesnya.

“Untuk apa aku disini? Patung penggembira? Sudah sana, jangan menggangguku!” Siwon mendorongnya menuju ruang tengah. Lalu kembali ke dapur untuk menyelesaikan sup dan lauk untuk makan malam Tiffany dan Sae Jun. Jadilah Tiffany hanya diam nganggur.

Tiga puluh menit kemudian, Siwon sudah menyelesaikan sup dengan daging ayam dan cincang sapi. Setelah dicicipi dan rasanya pas, baru dia menuangkan masakannya dalam wadah dan membawanya meja makan.

“Fany-ah, i..”

Kalimatnya terhenti saat melihat Tiffany sudah tertidur pulas di sofa. Tubuhnya jatuh kesisi sebelah kiri dari sofa ruang tengah. Siwon memperhatikan setiap lekuk wajah dari wanita cantik itu. Entah kenapa baginya, saat tertidur seperti ini, Tiffany terlihat tidak seperti biasanya. Setiap hari, Tiffany terlihat seperti wanita kuat yang siap berperang dan tidak mau kalah dari siapapun. Tapi ketika tidur seperti ini, dia jadi wanita lembut yang diciptakan untuk dilindungi.

Harusnya setiap hari kau memperlihatkan wajah seperti ini padaku, Siwon tersenyum samar. Tergerak, dia mengangkat tubuh Tiffany ke kamarnya. Wanita itu sempat menggeliat sesaat.

“Sstt! Just sleep. I’m here,” kata Siwon, sambil mengelus dahi Tiffany. Wanita itu kembali dengan alam bawah sadarnya yang indah.

*****

8 thoughts on “Saltarcume part 2

  1. aaaaaaaaaaa………………………..so sweet……………………..
    tpi siwon msih pcran sama yuri………..andweeee!!!!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s