Saltarcume part 3

Saltarcume

Romance & Sad | Characters : Tiffany Hwang, Choi Siwon, Kwon Yuri, Lee Donghae, Jessica Jung |

tak ada hal yang terindah dari melihatmu berputar dan.. mencintaiku

*****

“Kenapa kau selalu datang terlambat sih?”

“Karena rumahmu berada di kawasan rawan macet. Aku bisa datang ke rumahmu tepat waktu jika mobilku diberi sirine polisi,”

“Seharusnya kan kau bisa berangkat lebih pagi dari apartementmu,”

Siwon mendelik kesal, “Kau pikir siapa dirimu? Bisa datang ke rumahmu jam segini saja sudah keajaiban dalam hidupku, tau,”

“Cih, laki-laki macam apa dia, tidak berguna,” cibir Tiffany.

“Ya! Apa yang kau katakan barusan?!”

Tiffany tidak menjawab. Diambil kruknya, kemudian dia melangkah dari sofa ruang tamu ke ruang tengah. Siwon, masih dengan ekspresi kesalnya, berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.

Sae Jun sedang menjalankan dinas ke luar negeri. Entah pekerjaan apa yang dilakukan seorang pengacara disana, Tiffany juga tidak peduli. Tapi, Siwon begitu peduli. Kenapa? Karena gara-gara ini, semalam ayah Tiffany menelponnya, memohon kepadanya, “Tolong, tinggallah di rumah kami selama aku pergi! Tidak mungkin aku membiarkan Tiffany sendirian di rumah, sementara tidak ada yang mengawasi. Aku takut terjadi apa-apa dengan putriku nanti. Aku percayakan dia padamu. Kau mau kan, Siwon-ssi?”

Sayangnya, Siwon belum berani mengiyakan permintaan Sae Jun itu. Selain karena jarak ke kantornya cukup jauh dari rumah Tiffany, dia juga belum minta izin pada Yuri. Rencananya mereka baru akan bertemu nanti saat jam makan siang.

Sambil menunggu Siwon yang berkutat di dapur, Tiffany memilih untuk menyibukkan diri dengan majalah Asian Hits edisi terbarunya. Tangannya juga terulur mengambil remote untuk menyalakan TV. Setengah jam menunggu, kelihatannya dia mulai gusar. Tiffany memang paling tidak suka menunggu.

*****

“Hoaaam..”

Tiffany menguap. Tangannya menggaruk-garuk belakang kepalanya. Jam berapa sekarang? Sejak kapan dia tertidur? Diliriknya jam dinding diatas TV. Jam sebelas? Berarti sudah dua jam dia tertidur.

Kepala menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siapa-siapa. Kemana Siwon? Mungkin sudah pulang.

KRUYUK!

Dipegang perutnya yang mulai berteriak kelaparan. Apakah ada makanan di dapur? Gadis itu segera berdiri–dengan kruk tentunya–untuk melangkah menuju dapur. Wanita itu tersenyum kecut saat melihat pasta mentahnya dan beberapa bumbu makanan lain berceceran di dapur. Siwon itu maunya apa sih? Sudah mengotori dapur, meninggalkannya begitu saja tanpa ada satupun yang dapat dimakan? Keterlaluan!

“Kau sudah bangun?”

Tiffany menoleh. Mendapati Siwon membawa dua kantong yang cukup besar di tangannya. Berjalan melewati Tiffany, menaruh belanjaannya itu didekat wastafel. Mulai mengeluarkan barang-barang yang ada didalam kantong. Mulai dari dua kotak susu cair, macaroni mentah, tomat, daging sapi cincang, sayur-mayur, bawang putih, serta buah-buahan segar.

“Darimana saja kau?” tanya Tiffany.

“Kau pikir dengan belanjaan seperti ini aku darimana? Butik?”

Tiffany mendengus.

“Punya kulkas sebesar gajah, tapi isinya kosong melompong. Menyedihkan sekali,” tambahnya, semakin membuat Tiffany kesal.

“Kau mau masak spaghetti?”

Siwon mengangguk, “Sepertinya makan pasta dapat membuatmu berhenti merengut hari ini. Kau suka pasta kan?”

Wanita cantik itu tampak mengangguk, “Pastikan spaghettimu bisa dimakan dan tidak membuat tanganku ikut patah! Cukup kakiku saja yang kau patahkan,”

Gantian, kini Siwon yang mendengus pelan. Tapi tidak membalas dengan kata-kata apapun.

“Oh ya,” tiba-tiba gadis itu teringat sesuatu, “Apakah aku harus mengganti uangmu untuk belanjaan ini?”

“Tidak perlu, aku sangat kaya. Uang yang kukeluarkan untuk membeli ini tidak ada apa-apanya dibanding dengan harta yang kumiliki. Lagipula, aku juga harus bertanggung jawab atas dirimu. Jadi anggap saja ini caraku membayar hutang padamu,”sahut Siwon sambil mencuci beberapa buah.

“Bagus. Aku baru sadar, betapa bodohnya aku jika tidak memanfaatkan keadaanku sekarang untuk memoroti uangmu sebanyak-banyaknya,”

Siwon meringis. Lalu kembali fokus memasakkan spaghetti untuk sarapan–dan juga makan siang–perempuan disebelahnya itu. Sementara Tiffany, memilih berdiri mematung saja disana. Memperhatikan aktivitas yang terjadi di dapur.

“Daripada kau hanya berdiri melongo tidak jelas, lebih baik kau membantuku menumis ini,”

Tiffany menggeleng dengan ekspresi mengejek, “Untuk apa ada kau jika aku masih harus bekerja? Yang jadi pelayan itu kau, bukan aku.”

Tangan Siwon yang awalnya sibuk memotong, tiba-tiba berhenti sesaat. Mulutnya sempat terbuka, namun tertutup kembali. Seperti memikirkan ulang apa yang akan dikatakannya merupakan balasan yang tepat. Otaknya terus berputar hingga akhirnya dia mendesah, “Terserahlah!”

Di telinga Tiffany, terdapat gumaman kata ‘pabo’ berulang-ulang. Sepertinya Siwon begitu kesal padanya. Dalam hati, dia tertawa puas melihat reaksinya seperti ini.

DRRRT! DRRRT!

Merasakan getaran dari saku hotpantsnya, Tiffany mengeluarkan benda tersebut. Menekan tombol hijau, untuk mengangkat telepon yang masuk. “Yeoboseyo? Ah Wookie-ssi .. Ne? .. Jeongmal? Kau menyebalkan, lalu? ..”

Siwon mengerutkan dahinya saat mendengar percakapan Tiffany dengan seseorang yang–sedengarnya–bernama Wookie. Dua minggu lebih dia berada didekat Tiffany membuatnya sadar, bahwa wanita itu merupakan seseorang yang sangat populer, kelihatannya. Setiap hari, ada saja yang menelponnya dan nama yang disebutkan selalu pria. Sungmin, Kangin, Eunhyuk, dan sederet nama-nama lainnya bergantian menghubungi gadis ini via telepon. Siwon memang tidak tahu apa-apa tentang pekerjaan Tiffany. Tapi kelihatannya, dia bekerja di suatu tempat yang dipenuhi pria. Itu sih opininya.

“Kenapa kau melamun?! Mana spaghettiku?!”

*****

“AH!”

“Ini aku, jagi,” ujar Siwon, sambil membuka tangannya yang menutup mata Yuri. lalu mencium pipi kanan gadisnya itu. Yuri menatapnya kesal, sementara yang ditatap hanya cengar-cengir tidak jelas.

“Kau ingin membuatku jantungan ya, keterlaluan,” desah Yuri.

“Percayalah, aku yakin kau justru terpikat denganku karena cara-caraku yang membuatmu jantungan,”

Yuri terkikik.

“Astaga, aku baru sadar rasa percaya dirimu itu terlalu tinggi,”

“Itulah yang selalu kubanggakan,” balas Siwon santai. Yuri nampak sedikit berjinjit. Mencari-cari sesuatu diantara rak video yang ada di kamarnya. Siwon terus memperhatikan sampai akhirnya Yuri meraih suatu kaset yang bertuliskan ‘Princess And The Nutcracker’ disamping kotaknya. Kemudian pergi mendekati DVD player ruang belajar di rumah Yuri.

“Untuk apa kau menyetel video itu?”

“Madam Browning dari School of American Ballet menyuruhku ikut casting Princess And The Nutcracker untuk tahun depan di Broadway. Beliau mengatakan bahwa Princess And The Nutcracker tahun 2009 adalah yang terbaik sepanjang sejarah teatrikal Broadway. Makanya aku ingin melihatnya,” jelas Yuri, sembari menekan tombol play di DVD playernya.

“Broadway? Kau akan ke Amerika?”

Tampak sebuah anggukan dari kepala wanita dengan rambut dikuncir ekor kuda tersebut.

“Kapan kau berangkat?”

Yuri tampak menghitung menggunakan jarinya, “Mungkin paling cepat bulan depan,”

Mendengar pernyataan singkat tersebut, wajah Siwon langsung merengut, “Ya! Cepat sekali kau akan pergi. Kau tega meninggalkanku secepat itu, jagi?”

“Oppa, jangan begitu! Aku juga butuh konsultasi bersama guruku dulu untuk konsep inovasi yang kubawa, sebelum aku mengikuti audisinya. Ini impianku sejak dulu, oppa. Menjadi balerina utama di Broadway. Bukankah itu sangat membanggakan? Apa kau tidak ingin melihatku berhasil, oppa? Apa kau tidak ingin melihatku meraih mimpi? Menjadi balerina di Broadway?” bujuk Yuri.

Siwon tidak menjawab. Air mukanya masih terlihat kesal dengan keputusan pacarnya. Yuri adalah seorang balerina lulusan School of American Ballet yang berada didaerah Lincoln Center, NYC. Karena keputusan keluarga, akhirnya Yuri kembali ke Korea untuk belajar di Seoul University Fakultas Economy Business. Tapi akhir-akhir ini, ayah Yuri mulai kembali membebaskan Yuri untuk menekuni dunia balet. Buktinya, wanita itu kembali mengikuti pementasan-pementasan dalam skala nasional.

Rekaman video itupun dimulai dengan masuknya balerina-balerina kecil yang begitu manis. Dengan menumpu diujung kedua kakinya, mereka mengelilingi panggung Broadway yang sangat besar dan megah. Lampu-lampu yang tertata cantik disana, mulai memfokuskan cahaya pada satu orang gadis. Balerina anggun memakai tiara dikepalanya, mulai melangkah ketengah panggung. Kemudian berdiri menumpu pada kaki kanannya. Kaki kirinya dijulurkan membentuk sudut 120o, kedua tangannya juga dikepakkan lebar-lebar.

Gerakan gadis itu sangat halus, namun kuat. Setiap putaran yang dilakukannya terlihat sangat anggun, dengan karakter yang khas. Dari dalam tubuhnya muncul emosi yang begitu kuat yang mengikuti irama. Walaupun Siwon tidak mengetahui balet dengan spesifik, tapi dia sangat yakin kalau gadis yang sedang menari disana itu memiliki teknik komplet tanpa cela sedikitpun. Siwon menunggu, menunggu wajah gadis ini disorot kamera karena dia ingin tahu seperti apa ekspresi wajah balerina itu dalam membawakan tariannya.

Tiba-tiba napasnya tercekat. Balerina utama itu sedang dalam posisi berlutut, menundukkan wajahnya. Kemudian tangannya terangkat disusul dengan wajahnya yang menghadap keatas. Mulut Siwon semakin menganga saat melihat gadis itu dipeluk seseorang dari belakang.

“Dia..”

*****

“Sedang sibuk, Jess?”

Pertanyaan seseorang membuat Jessica mengangkat kepalanya. Disana Donghae berdiri. Tangannya terulur, memberikan sebotol air mineral untuknya. Jessica mengambilnya sambil mengatakan, “Gamsahamnida!”

Donghae hanya mengangguk. Kemudian ikut mendudukkan dirinya di lantai ruang latihan balet. Dilihatnya napas Jessica nampak tersengal-sengal. Keringat juga ikut membanjiri wajah dan tangan wanita itu.

“Baru selesai melatih?”

“Ani,” Jessica menggeleng, “Aku sedang membantu Haera membuat koreo,”

“Haera? Bukannya dia murid didik Tiffany?”

“Ne, tapi Tiffany kan sedang bermasalah kakinya. Dia memintaku untuk menggantikannya membimbing Haera sampai tes masuk SAB,”

“Aku tidak menyangka segini merepotkannya menjadi Tiffany,” desahnya, sebelum kembali meneguk air mineralnya kembali. Lalu mengambil saputangan, mengelap keringat yang memenuhi dahi dan lehernya.

“Tiffany memang balerina yang hebat. Siapapun yang melihatnya pasti tidak akan mampu untuk menghindari pesonanya,” ujar Donghae.

Jessica menatap wajah Donghae dari samping. Ekspresi pria yang mengajar modern dance di studio tari sebelah itupun tampak berubah-ubah dengan cepat. Terlihat senang, lalu berubah cepat menjadi malu-malu. Jessica kembali mendesah. Sepertinya Donghae benar-benar menyukai Tiffany.

“Iya, Tiffany memang sangat keren. Laki-laki manapun pasti menyukainya. Tidak mungkin ada perempuan yang bisa menandingi pesonanya, termasuk aku,”

Tanpa Jessica sadari, Donghae terus menatapnya begitu dalam saat dia mengatakannya. Entah apa artinya.

*****

“Dia benar-benar balerina berbakat,” puji Yuri yang sepertinya benar-benar kagum dengan kemampuan balerina bergaun warna soft-pink tersebut.

“Kau tahu siapa nama penari itu?”

Yuri tampak mengingat-ingat sejenak, sebelum menjawab, “Aku lupa namanya. Tapi dia orang Korea juga, sama seperti kita. Kata Madam Browning, ia termasuk lulusan terbaik di Juilliard. Tapi dia sudah tidak aktif pementasan lagi sekarang dan sudah kembali ke Korea,”

“Lulusan terbaik Juilliard? Juilliard School di NYC?”

“Kau kira Juilliard membuka cabang di Korea?” Yuri tertawa kecil.

Baiklah, rasa penasaran Siwon kini semakin besar. The Juilliard School terletak di Lincoln Center, merupakan salah satu sekolah seni terbaik dan terelite di dunia. Baik dari seni musik hingga seni pertunjukkan seperti tari. Setiap tahun, ribuan orang dari berbagai belahan dunia mendaftar dan berusaha mati-matian agar dapat masuk ke Juilliard. Namun yang diterima mungkin hanya sekitar 5 persennya saja. Yuri saja–yang menurut Siwon sudah cukup keren dalam balet–dulu gagal tes masuk Juilliard. Sekarang, dia mendengar Tiffany merupakan salah satu lulusan terbaik di Juilliard? So amazing, isn’t it?

Siwon semakin menyimak setiap gerakan tari yang disuguhkan Tiffany didalamnya. Benar-benar mengagumkan. Teknik virtuosonya begitu indah dan tegas.  Siwon benar-benar dapat merasakan cerita yang ingin Tiffany sampaikan lewat gerakannya. Lewat lekukan tubuhnya. Lewat emosinya. Lewat hatinya.

Sejujurnya baru kali ini Siwon tertarik dengan dunia seni tari. Selama ini dia memang sering menemani Yuri berlatih balet. Dia selalu memuji gerakan-gerakan yang dilakukan oleh wanitanya itu. Namun bukan berarti dia ikut hanyut dalam tarian Yuri. Kenyataannya, dia baru benar-benar menyimak gerakan balet saat menonton rekaman video Tiffany ini.

Tiffany melakukan grand jeté (gerakan split di udara) dan mendarat diatas tangan penari prianya dengan sempurna. Butuh beberapa detik untuk para penonton disana kembali ke dunia nyata. Semuanya begitu hening. Sebelum tepukan meriah dan sorak-sorai memenuhi hall. Mungkin mereka merasa baru saja berada di dunia khayal melihat penampilan Princess And The Nutcracker itu. Begitu pula dengan Siwon dan Yuri.

Ternyata, aku mematahkan kaki seorang balerina terbaik dunia. Kau benar-benar bodoh, Choi Siwon!

“Jadi apa yang oppa ingin katakan?”

“Hah?”

“Bukannya ditelpon tadi oppa bilang ingin mengatakan sesuatu? Ada apa?”

Siwon menghela napas panjang sesaat. Matanya kini menatap mata indah milik Yuri. Sementara perempuannya itu menunggu kalimat apa yang habis ini dilontarkan olehnya.

“Bolehkah aku menginap di rumah Tiffany seminggu ini?”

“Hah?” pekik Yuri, tanpa sadar terlalu keras. Membuat Siwon agak panik.

“Tolong diskualifikasikan terlebih dahulu pikiran negatifmu! Aku punya alasan mengapa aku menanyakan seperti ini,”

Ditariknya napas panjang sebelum melanjutkan, “Kemarin, ayah Tiffany meminta kepadaku untuk menemani anaknya selama beliau pergi ke Italia. Cukup lama, sekitar dua mingguan. Ayahnya takut, jika ditinggal sendiri akan terjadi apa-apa pada Tiffany. Mengingat kondisi Tiffany yang sedang sulit berjalan. Karena melihat Tiffany sedang dekat denganku gara-gara kecelakaan kemarin, makanya beliau jadi meminta bantuanku.”

“Kau sudah menyetujuinya?”

Siwon menggeleng, “Aku tidak berani langsung mengiyakan. Masalahnya aku belum meminta izin padamu. Kalau kau mengizinkan, nanti malam aku akan ada di rumah Tiffany. Tapi jika tidak, mungkin aku..”

“Tidak apa,” celetuk Yuri tiba-tiba.

“Apa?”

Yuri mengangguk paham. Kemudian menatap Siwon sambil tersenyum, “Aku mengerti keadaanmu. Kupikir bahaya juga jika dia sendirian dengan keadaan seperti itu. Bagaimana jika dia tak sengaja terpeleset di kamar mandi dan tidak ada yang tahu? Itu sangat berbahaya. Dia memang benar-benar membutuhkanmu.”

Siwon menatap dalam mata Yuri. Mencoba mencari tahu apa yang ada dipikiran wanita itu. Benarkah Yuri mengijinkannya bersama Tiffany satu rumah? Bukannya bermaksud yang tidak-tidak, tapi jarang sekali–bahkan hampir tidak ada–perempuan yang memperbolehkan pacarnya untuk tinggal bersama sementara waktu.

“Benar kau tidak apa-apa?” tanya Siwon memastikan, “Biar bagaimanapun, aku tidak ingin menyakitimu, jagi,”

“Ne, gwaenchana. Tapi tentunya dengan syarat,”

Siwon menyipitkan matanya.

Yuri memencet hidung mancung pacarnya itu, “Jangan lupa menghubungiku jika kau ada disana tapi. Mentang-mentang dia wanita cantik, lalu kau melupakanku. Aku tidak mau seperti itu,”

“Hmm.. Tiffany memang cantik. Badannya sangat proporsi. Kulitnya juga lebih putih darimu,” tutur Siwon sambil mengelus dagunya.

Membuat Yuri gemas. Dicubit pinggang Siwon dengan keras. Hingga pria itu mengaduh, “Aw! Brutal!”

“Awas kalau sampai kau menggoda wanita lain,” ancam Yuri.

“Lihat saja nanti!”

*****

“Ah, segarnyaa..” seru Tiffany sambil mengacak-acak rambutnya yang basah. Dia baru saja selesai mandi sore. Rasanya benar-benar segar. Entah berapa lama dia tidak merasakan nikmatnya berendam dengan campuran air hangat dan garam mandi didalam bathtub-nya. Sensasi yang mampu membuatnya merasa rileks sesaat.

Tak paham juga angin apa yang melandanya, tapi malam ini Tiffany begitu ingin berdandan cantik. Memakai gaun tidur malam yang anggun, menata rambutnya agar ketika bangun tidak terlihat seperti singa, memulas wajahnya dengan bedak tipis supaya tetap terlihat segar. Padahal dia juga tahu bahwa tidak akan ada yang melihatnya cantik nanti malam.

Paling enak memang setelah mandi sore adalah duduk didepan TV sambil memakan makanan ringan. Ditengoknya suasana diluar rumahnya dari jendela kamarnya. Cuaca sedang hujan lebat. Sepertinya makan yang hangat-hangat dan berkuah menyenangkan.

Sepertinya lain kali dia harus menyuruh Siwon untuk memasakkan makanan berkuah bila cuaca mulai mendung. Tiffany melihat ke dapurnya. Makanan yang tersisa hanyalah spaghetti tadi siang dan buah-buahan saja. Ada sih snack ringan atau kue-kue, tapi sangat tidak seru untuk dimakan saat ini.

TING! TONG!

Kepalanya menoleh. Dia mendengar bel rumahnya berbunyi. Dahinya mengkerut, siapa yang bertamu malam-malam begini? Apakah dia tidak tahu sopan santun dalam bertamu? Dengan langkah malas, Tiffany pergi menuju pintu depan. Membuka pintu rumahnya.

*****

Astaga, kenapa dia harus tinggal di kawasan macet begini sih?

Siwon menggerutu selama menyetir mobilnya yang melaju di daerah Gwang-Ju. Kawasan elite ini memang selalu dipenuhi oleh mobil-mobil. Ditambah lagi ketika jam pulang kerja seperti sekarang, yang dibumbui oleh hujan lebat. Bisa dipastikan keadaan jalanan akan padat merayap.

Cukup lama menggerutu, akhirnya Siwon dapat memarkirkan mobilnya didepan rumah Tiffany. Dengan memanggul satu tas ransel dan satu tas laptop jinjing, dia turun dari mobil dan memencet bel rumah Tiffany. Siwon menatap kearah taman rumah. Rumput hijau yang diterangi oleh lampu taman. Cukup banyak juga bunga-bunga yang ditanam disana. Tiffany suka bunga? Entahlah. Tapi bunga-bunga itu terlihat terawat dengan baik.

“Kau? Mau apa kau kemari?”

Siwon membalikkan badannya. Seorang wanita dengan balutan gaun malam warna putih yang manis, rambut keriting gantungnya yang hitam tergerai indah, berdiri didepan pintu. Wajahnya juga terlihat segar. Walaupun ada sepasang kruk yang menyangga tubuhnya, tapi tidak mengurangi rasa kagumnya terhadap wanita itu. Sesaat kesadarannya menghilang. Dia tidak pernah melihat wanita seanggun ini dalam hidupnya. Benarkah? Sepertinya Siwon saja yang terlalu berlebihan. Tapi fakta bahwa wanita itu sangat cantik bukanlah hal yang berlebihan.

“Jangan menatapku seperti itu! Aku merasa kau seperti ingin menerkamku, tahu!”

Siwon menggelengkan kepalanya.

“Mau apa kau kemari? Bawa tas segala. Apa apartement mahalmu sedang kebakaran, jadi kau mau mengungsi kemari? Tidak keren sekali,”

Hapus paragraf dimana Siwon mengatakan bahwa Tiffany sangat anggun dan cantik! Dua kalimat terakhir yang diucapkan Tiffany berhasil menurunkan moodnya. Apartementnya kebakaran? Bahkan dia tinggal di apartement yang bangunannya terbuat dari bahan anti terbakar. Dan apa itu tadi, mengungsi? Wanita ini benar-benar..

“Hei, kenapa diam saja? Aku sudah bilang, jangan menatapku seperti itu!”

Tanpa dipersilahkan, Siwon nyelonong masuk kedalam rumah Tiffany. Meninggalkan gadis itu sendirian didepan pintu rumah. Dilihatnya ada handuk basah yang tergeletak di jemuran handuk. Pantas saja terlihat segar, gadis itu baru selesai mandi ternyata.

“Ini kamar tamunya kan?”

Baru akan memegang kenop pintu kamar tamu, tangannya terburu ditepis oleh Tiffany. Gadis itu menatapnya dengan dahi mengkerut. Tatapannya seolah bertanya apa-sebenarnya-rencanamu.

Siwon menghela napas panjang. Dirogohnya isi saku celana, mengambil iPhonenya. Entah menu apa yang ditekan-tekannya. Sampai akhirnya, dia memberikan smartphonenya itu pada Tiffany.

“Kemarin ayahmu menyuruhku untuk menemanimu disini selama beliau pergi dinas. Katanya beliau takut terjadi apa-apa padamu. Aku hanya menurutinya saja,” jelasnya yang langsung mendapat protes dari Tiffany.

“Hah? Kau pikir aku anak kecil yang harus selalu ditemani? Sana pulang! Aku pasti baik-baik saja, sekalipun sendirian. Kau hanya perlu datang pagi hari,”

“Ini permintaan ayahmu. Aku tidak enak untuk menolaknya,”

“Kenapa harus tidak enak? Kau itu kan jadi pelayanku, bukan pelayan ayahku,” cela Tiffany.

Siwon masih berusaha membela diri, “Ayahmu tidak akan meminta pertolonganku jika keadaanmu tidak seperti ini,”

Tiffany menyerobot, “Aku hanya cacat kaki. Bukan seluruh tubuhku yang cacat. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan bukan?”

“Hei, kakimu bukan cacat. Itu hanya..” Siwon menghentikan katanya sementara, karena dia akan menambahkan nada kesal setelahnya, “Astaga! Bisakah kau berhenti memprotes? Kalau kau masih ingin melakukannya, kau bisa menelpon ayahmu sekarang juga.”

Kemudian Siwon menghilang kedalam kamar.

*****

“Berhenti memasang wajah merengut begitu! Makan saja supmu!”

Tiffany melirik kesebelah kirinya. Memandangi pria yang sedang menyesap teh Oolongnya yang nikmat dengan kesal. Kenapa dia harus punya pelayan yang keras kepala seperti ini sih? Benar-benar menyebalkan!

“Apa? Kau mau apa?”

“Kenapa kau tetap berada di rumahku sih?”

Siwon memutar matanya, “Bisakah kita membahas yang lain saja? Kalau kau merasa terganggu denganku, kau bisa menganggap seolah-olah aku tidak ada. Bagaimana?”

Gadis itu kembali menatap ke layar TV, tanpa menjawab pertanyaan Siwon. Mau berdebat seperti apapun, toh endingnya Siwon juga tidak akan pergi dari rumahnya kan? Sebenarnya, Tiffany sendiri juga bingung kenapa dia ingin Siwon meninggalkan rumahnya. Padahal bukankah lebih baik jika ada Siwon? Kalau butuh apa-apa, dia tinggal menyuruh pria itu saja selesai bukan? Tapi itu membuat Tiffany sadar akan satu hal. Tidak baik jika dia terus bergantung pada Siwon setiap saat. Selain karena pria itu sudah memiliki pasangan, ada beberapa alasan yang menurutnya tidak perlu diketahui oleh Siwon.

Cukup lama juga dia termenung didepan TV. Membuatnya merasa bosan. Tiffany meraih kruknya. Diberdirikan tubuhnya, kemudian berjalan pelan menuju kamarnya. Dia tahu kalau mata Siwon terus mengawasi setiap langkahnya. Tapi dia tidak peduli.

Ah,

Tiffany tersentak. Kepalanya mendadak terasa berputar tak karuan. Napasnya mulai tersengal-sengal. Tangannya terangkat ke dekat pelipis. Menekan-nekan daerah sekitar sana, berharap pusingnya berkurang. Tiffany menggigit bibirnya bawahnya. Rasa sakit itu kembali menghampirinya, dan semakin lama semakin menyakitkan. Apa karena dia telat makan hari ini?

Hampir saja dia tergeletak di lantai, jika Siwon tak segera menopang tubuhnya dari belakang. Tanpa aba-aba, Siwon mengangkat tubuh Tiffany menuju ranjangnya. Dibaringkan perlahan, sementara Tiffany masih terus memegangi pelipisnya. Sebelah tangannya yang lain meraba-raba kearah laci, mengambil sebuah botol kecil berisi obat warna putih. Entah apa. Siwon yang berlari keluar, sudah kembali membawakan air putih hangat untuknya. Diminumnya obat itu.

Perlahan, rasa nyeri di kepalanya pun berkurang. Matanya terpejam, berusaha menormalkan kembali napasnya. Menenangkan dirinya sendiri. Sementara Siwon kembali keluar kamarnya.

*****

“Buka mulutmu!”

Tiffany mengangkat alisnya. Siwon melihat wajah gadis itu begitu pucat, namun perlahan mulai membaik. Tapi Tiffany tetap memegang pelipisnya. Diaduknya semangkuk berisi nasi dan sup wortel. Kemudian menyendoknya, mengarahkannya pada Tiffany.

“Kau ingin lebih parah lagi dari ini karena tidak makan? Cepat buka mulutmu!”

Gadis itu hanya membuka mulutnya. Tidak memberikan bantahan apapun seperti biasanya. Siwon terus menyuapi Tiffany sampai makanannya habis. Disodorkannya segelas air putih hangat kepada Tiffany.

Sebenarnya dia sudah merasakan ada yang aneh dari Tiffany sejak duduk di sofa. Tidak biasanya gadis itu malas memakan masakannya. Sekesal-kesalnya Tiffany padanya, kalau dicekokin dengan makanan pasti akan luruh juga. Tapi tidak dengan tadi.

Dan semuanya semakin jelas saat Tiffany berjalan menuju kamarnya. langkahnya terhuyung, tangannya pun terangkat memijat pelipisnya. Dengan sigap dia mendekati pelan Tiffany saat gadis itu mulai akan terjatuh. Entah kenapa, dia merasa begitu panik saat melihat napas Tiffany terputus-putus seperti tadi.

Setelah Tiffany menghabiskan minumnya, Siwon membereskan alat-alat makan dan minumnya. Ditatapnya gadis itu, berusaha mencari tahu keadaannya.

“Dengan keadaan seperti ini, kau masih menyuruhku untuk pulang?” ujar Siwon, menggelengkan kepalanya. Kemudian berdiri dengan membawa nampan keluar kamar Tiffany.

“Terima kasih,”

Siwon menghentikan langkahnya sebelum mencapai pintu kamar Tiffany. Badannya setengah membalik menghadap gadis itu. Suara itu terdengar sangat halus, berbeda dengan gaya bicara Tiffany biasanya.

“Terima kasih kau sudah menolongku! Suatu saat aku akan membalasnya,”

“Aku tidak membutuhkan balasan apapun. Cukup hanya dengan kau sembuh, itu merupakan balasan indah bagiku,”

Lalu Siwon menghilang dari kamar Tiffany.

*****

TBC..

9 thoughts on “Saltarcume part 3

  1. Yuri baik bnget ea? Masak pcar.a d izinin tinggal brdua dlm satu rmh dg orang lain.
    Ayo. . Ayo cpetan d lnjutin
    bnxakin moment sifany ea????

  2. Waduh, siwon romantis bgt kalo udah dilembutin sama fany-.- awaas loh lama2 ntar suka :3 gapapalah suka, wkwk. Yurinya biarin aja bahagia sm yecung ><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s