Saltarcume part 4

Saltarcume

Romance & Sad | Characters : Tiffany Hwang, Choi Siwon, Kwon Yuri, Lee Donghae, Jessica Jung |

tak ada hal yang terindah dari melihatmu berputar dan.. mencintaiku

*****

“Mau kemana?”

“Hah?”

“Kau sudah mandi dan berpakaian rapi. Mau kemana?” tanya Siwon lagi.

Tiffany mendesah, “Memangnya aku tidak boleh berpakaian rapi?”

Cowok itu memutar matanya, “Ayolah! Aku sudah bersamamu setiap hari selama sebulan ini. Aku cukup tau bahwa kau bukanlah tipe wanita yang rajin bangun pagi untuk berolahraga. Hari ini kau bahkan sudah ada di meja makan lebih cepat dari biasanya dan sudah berdandan juga.”

“Jadi ada apa?” tanyanya terakhir.

Sebenarnya Tiffany sangat enggan mengatakannya, tapi akhirnya, “Aku mau ke rumah sakit.”

Mata Siwon seketika melebar, “Ada apa denganmu? Ada masalah dengan kepalamu seperti dua hari yang lalu? Apa dia masih sakit?”

“Aniyo, aku ingin check-up untuk keadaan kakiku saja. Ini sudah sebulan sejak kau mematahkan kakiku,”

Siwon terlihat mengangguk-angguk, tidak mempedulikan sindiran Tiffany.

“Lalu siapa yang akan mengantarkanmu? Hari ini aku ada meeting penting dengan pemilik saham,”

Gadis itu langsung melayangkan protes, “Ya! Kau itu kan pelayanku. Harusnya kau bertanggung jawab atas apapun yang terjadi padaku,”

“Terus? Aku harus mengantarmu dan meninggalkan rapat yang menyangkut hidup dan mati hotelku? Tidak, aku tidak mau,”

“Cih, kau ini memang tidak ada gunanya,” cibir Tiffany, menatap sinis kearah cowok yang duduk didepannya. Sedangkan yang ditatap, pura-pura tidak mendengar dan menyesap teh Oolongnya.

Tiffany juga kembali fokus ke sarapannya. Sayang sekali kan jika nasi goreng kornet lezat ini terbuang sia-sia hanya karena rasa kesalnya pada Siwon? Sekalian memikirkan kira-kira dia akan pergi ke rumah sakit naik apa.

“Mungkin naik taksi lebih baik,” gumamnya pelan, namun cukup terdengar oleh Siwon.

DRRRT! DRRRT!

Gadis yang rambutnya sedang terkuncir satu itupun melirik ke handphonenya yang bergetar diatas meja. Sebuah panggilan masuk. Tiffany segera mengambil ponselnya dan menempelkannya ke telinganya.

“Hai,” kata Tiffany dengan riang. “Ne… Ah mianhaeyo, pagi ini aku akan ke rumah sakit… Molla… Jeongmal? Ah Gomawoyo!.. Ne, annyeong,”

Tiffany menutup teleponnya dengan senyum merekah diwajahnya. Siwon menatapnya menyelidik. Sepertinya, dia tahu apa yang baru dibicarakan oleh gadis itu lewat telepon.

“Apa dia akan mengantarmu ke dokter?”

“Darimana kau tahu?”

Tiba-tiba Siwon pergi meninggalkan meja makan. Menghilang ke kamarnya. Tiffany masih mengerutkan dahinya. Sepertinya dia tidak perlu menerka-nerka, karena dua menit kemudian Siwon sudah keluar kamarnya dengan setelan jas warna abu-abu muda. Berjalan menuju pintu depan tanpa mengatakan apapun. Sementara Tiffany masih terdiam, dengan matanya yang mengikuti langkah orang itu.

“Ayo!”

“Hah?” Tiffany melongo.

“Katanya mau ke rumah sakit. Ayo kuantar!”

“Ah tidak usah, kau kan ada rapat habis ini,” tolaknya sambil melambaikan tangan.

“Cepat kemari sebelum kutinggal kau sendiri,” Siwon mulai berjalan keluar rumah. Meninggalkan Tiffany yang panik sendiri. Gadis itu tak sengaja melihat ke arlojinya. Jam setengah 7? Janjian dengan dokternya kan jam 7 pas. Mana sempat menunggu Donghae jika perjalanan ke rumah sakit saja hampir dua puluh lima menit.

“Ya.. aish,” Tiffany menyambar tas Prada biru miliknya. Kemudian melangkah menuju teras rumah dengan kruknya. saat dirinya berpikir bahwa Siwon kemungkinan telah duduk di bangku pengemudi, langkahnya pun dipercepat. Ternyata..

“Bisakah kita pergi dengan mobilmu saja? Kelihatannya salah satu lampu mobilku hidup semalaman, jadi air baterainya habis.”

Tiffany mempersilahkan, “Di laci biasanya,”

Siwon mengangguk. Lalu berlari kedalam rumah sebentar.

“Kuncinya yang mana?”

“Yang gantungan merah muda,”

Selang beberapa saat, cowok itu kembali dengan menggenggam kontak mobil milik Tiffany. Karena mobilnya jarang dipakai, terpaksa mereka harus meluangkan waktu untuk membuka pintu garasi terlebih dahulu.

“Audi? Ini mobilmu?”

“Ne, waeyo?”

Siwon menelan ludahnya, lalu mencibir, “Dasar mobil wanita!”

“Kita akan naik mobilku, bukan ayahku,” gerutu Tiffany.

Tapi tidak dipedulikan oleh Siwon. Dengan bergegas, cowok itu membuka pintu untuk kursi penumpang didepan. Matanya terbelalak saat menemukan sebuah jaket tergeletak disana.

“Ini milikmu?” pekiknya kaget, “Kau benar-benar lulusan Juilliard atau hanya punya temanmu yang tertinggal?”

Tiffany menarik jaket dengan tulisan ‘Juilliard’ warna putih yang dipegang Siwon. Lalu melemparkannya ke kursi belakang. Siwon segera duduk di kursi sebelah Tiffany. Memasangkan sabuk pengamannya.

“Kau benar-benar lulusan Juilliard?” tanyanya sambil membantu memasangkan sabuk pengaman Tiffany.

“Memangnya hanya kau yang boleh bersekolah di Amerika?”

“Ya, bukan begi.. tapi tunggu! Darimana kau tau kalau aku lulusan Amerika?” tanya Siwon keheranan. Apa gadis ini mencari tahu tentangnya lewat internet juga?

Tiffany berdecak, “Tidak kusangka lulusan Harvard punya ingatan lebih buruk dari ikan nemo,”

Mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Tiffany itu membuat mulut Siwon mecucu. Asalkan tahu saja, Siwon memiliki IQ superior dengan ingatan yang cukup baik. Dan dia sangat bangga akan hal itu. Herannya, Siwon merasa tidak ingat pernah memberitahu Tiffany kalau dia lulusan Harvard.

“Kau pernah mengatakannya pada seseorang ditelpon saat aku dirawat di rumah sakit. Sudah ingat? Cepat jalankan mobilnya!”

 

*****

Tiffany keluar dari ruang pemeriksaan dengan senyum ceria. Sepertinya pagi ini benar-benar indah ya? Dokter baru saja memperbolehkan Tiffany berjalan tanpa kruk. Beliau juga mengatakan bahwa kakinya tidak mengalami keretakan parah yang bersifat permanen. Mungkin butuh sekitar dua minggu baginya untuk terapi agar kakinya dapat digunakan seperti sedia kala. Berarti tandanya, dia akan mampu menari lagi. Ini benar-benar berita yang membahagiakan.

Sepertinya dia harus memberitahukan ini pada orang itu. Baru saja mengambil handphonenya, ternyata sudah ada satu pesan dari Siwon. Jam menunjukkan pukul sembilan lebih dua puluh tujuh menit yang lalu. Berarti sudah dua jam lebih sejak dia sampai di rumah sakit.

 

From : Siwon

Kau pulang sendiri bisa? Aku tidak bisa menjemputmu, rapatku baru dimulai

 

“Haah..” desah Tiffany. Kemudian mengetuk-ngetukkan jemarinya diatas layar sentuh ponselnya. Beruntung saat ini moodnya sedang baik. Jadi Siwon akan terbebas dari omelannya sepulang nanti. Send!

Gadis itu melangkah pelan keluar dari rumah sakit. Dilihatnya seorang pria melambaikan tangannya kearahnya di parkiran. Tiffany membalasnya dengan tersenyum, berjalan menghampirinya.

“Sudah lama?”

“Ani,” Donghae tersenyum, “Ayo kita jalan-jalan!”

Tiffany mengangguk, “Ne, kajja!”

 

*****

“Mau pesan apa?” tanya Donghae, begitu pelayan datang dan membawakan keduanya daftar menu. Beatus Cafe, sebuah kafe terkenal bagi orang-orang yang sering nongkrong di daerah Gwang-Ju, tidak jauh dari lokasi studio balet tempat Tiffany mengajar. Beatus selalu menjadi pilihan utama bagi kawula muda untuk menghabiskan waktu lunch mereka. Pilihan menu yang tidak terlalu berat dan harganya yang relatif murah membuat kafe ini dipenuhi oleh konsumen-konsumennya.

Setelah beberapa jam menghabiskan waktu dengan mengelilingi pusat perbelanjaan, rasa lapar mulai mendera keduanya. Tiffany tampak membalik-balikkan menu ditangannya. Menimang-nimang sesaat apa yang akan dipesannya.

“Mungkin aku mau hot pancake dan teh Oolong hangat saja,” ujar Tiffany.

“Teh Oolong? Sejak kapan kau suka teh Oolong?” tanya Donghae heran.

Gadis itu mengangkat alisnya. Dia teringat sesuatu. Teh Oolong adalah minuman kesukaan Siwon. Awalnya dia tidak suka dengan teh Oolong. Rasanya hambar dan tidak pernah diberi gula sama sekali oleh Siwon. Dan sialnya, hampir setiap hari juga dia dicekoki minuman itu dengan alibi ‘minuman ini dapat membantu meningkatkan metabolisme tubuh’.

Sepertinya dia mulai mempengaruhi kebiasaanku.

“Entahlah. Tiba-tiba aku berpikir, pancake dengan teh Oolong bukan kombinasi yang buruk,”

Donghae hanya mengangguk, “Saya pesan burritos dan satu latte.”

“Baiklah! Ditunggu sebentar, tuan!” ujar pelayan itu dengan ramah. Lalu berjalan meninggalkan meja keduanya. Tiffany menatap sekeliling kafe. Serasanya sudah cukup lama juga dia tidak makan siang ditempat ini. Terakhir bersama Jessica saat persiapan kontes nasional, itupun sudah lewat sebulan lebih. Kangen juga ternyata.

“Harusnya ada Jessica disini, dia pasti senang,” gumam Tiffany pelan.

“Tadi aku sudah mengajaknya. Tapi katanya dia masih ada tambahan untuk Haera-ssi,”

Tiffany mendesah, “Sepertinya dia benar-benar sibuk mengerjakan tugasku. Hah, ini semua karena kakiku patah ini.”

“Hei, kau juga sudah berusaha keras selama ini. Tidak ada salahnya jika kau bersantai sejenak, walaupun gantinya kakimu bermasalah,” hibur Donghae, yang hanya dibalas dengan senyuman oleh Tiffany. Mereka kemudian mengobrol hal-hal ringan, sampai pesanannya datang.

“Selamat menikmati!”

Mata gadis itu sangat berbinar-binar melihat sepiring pancake yang disiram madu dan secangkir teh Oolong hangat tersaji dihadapannya. Memang sedikit berlebihan, tapi pancake buatan Beatus Cafe merupakan pancake terbaik yang pernah dimakannya selama hidupnya. Dia merasa sudah tidak sabar untuk melahapnya.

“Pelanlah sedikit, Tiffany. Nanti kau bisa tersedak,” kata Donghae mengingatkan. Habisnya tidak ada lima detik, Tiffany sudah memasukkan makanan lagi ke mulutnya. Gadis itu hanya tersenyum saja, dengan pipi yang menggembung penuh kunyahan pancake.

DRRRT! DRRRT!

Diliriknya sepintas ke handphonenya diatas meja. Mencari tahu siapa yang menelponnya. Ah, orang itu. Dengan terpaksa, Tiffany menelan semua makanan yang ada di mulutnya. Mengatur napas sejenak. Kemudian mengangkat telepon tersebut.

“Ya! Kemana saja kau?!”

Tiffany mengkerutkan dahi, “Hei, apa kau tidak tahu sopan santun dalam menelpon? Baru diangkat sudah mengomel-ngomel.”

“Ada dimana kau sekarang?”

“Di Beatus, kenapa?”

“Kenapa tidak bilang kalau makan diluar? Kau pikir pekerjaanku hanya mengurusi dirimu saja?” omel Siwon.

“Aish! Tau begitu tadi aku tetap melanjutkan rapat saja,”

Siwon masih menggerutu tidak jelas di telepon, sedangkan Tiffany sibuk berpikir. Jadi Siwon sekarang ada di rumahnya? Untuk apa? Kan dia sedang diluar. Siwon pasti paham.. Ah! Ada yang lupa. Dia kan tidak mengatakan pada Siwon kalau akan makan siang bersama Donghae hari ini. Pantas saja jika Siwon pulang dan pastinya sudah menyiapkan makan siang.

“Mian, aku lupa mengatakan bahwa aku makan siang diluar,”

“Yah, terserahlah,” Siwon menghela napas, “Aku sibuk. Jangan pulang terlalu malam! Kututup ya.”

“Ah tunggu,” sergah Tiffany, “Kau tidak marah kan?”

“Marah untuk apa? Sudah, sana kembali fokus dengan makananmu. Annyeong!”

KLIK!

Tiffany menjauhkan teleponnya dari telinga. Menatap layar handphonenya dengan raut yang agak tidak mengenakan. Donghae–yang tidak mengetahui pembicaraan di telepon–menatap Tiffany dengan sedikit khawatir. Tapi sepertinya ini bukan masalah yang harus diceritakan, jadi Donghae lebih memilih diam saja.

 

*****

“Benar tidak mau kuantar ke rumah saja?”

Tiffany mengangguk, “Gomawo, kau sudah mau mengantarku kesini.”

“Tidak apa, kalau begitu aku duluan ya!”

“Ne, hati-hati di jalan!”

Donghae membalasnya dengan tersenyum. Kemudian menginjakkan pedal gas, melajukan mobilnya keluar dari areal Hotel berbintang lima, Miracle.

Gadis itu melangkah masuk menuju ruangan sang pemilik hotel. Kebetulan Tiffany pernah sekali datang ke hotel ini, sehingga dia tidak perlu repot-repot untuk bertanya pada resepsionis terlebih dahulu.

“Annyeonghaseyo, ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang wanita muda yang dengan name tag ‘Kim Hyoyeon’.

“Bisakah saya bertemu dengan..”

“Hwang?” Tiffany menoleh. Nampak seorang pria dengan kacamata full-frame hitamnya baru saja keluar dari ruangannya. Di tangannya, dia menjinjing sebuah tas laptop. Kelihatannya Siwon benar-benar sibuk hari ini. Mengingat orang itu cenderung perfeksionis, dia selalu melepaskan kacamatanya begitu selesai kerja. Tapi nyatanya hari ini tidak.

“Kukira aku harus menunggumu lebih dari sejam untuk datang,”

“Yang tadi siang hanya kelupaan, aku minta maaf,”

Siwon mengendikkan bahunya.

“Sepertinya aku tidak melihat penyangga di kiri dan kananmu,” ujarnya.

“Ah itu, dokter tadi mengatakan aku sudah boleh berjalan tanpa tongkat. Tapi belum bisa lepas perban. Mungkin dua minggu lagi kakiku akan kembali normal,”

“Oh, syukurlah kalau begitu. Jadi bulan depan aku tidak akan mendengar kau mengganggu kerjaanku lagi,”

Tiffany mencibir tanpa suara.

“Sekarang temani aku ke toko musik!”

 

*****

TIT!

Yuri melihat ke layar handphonenya. Kemudian men-dial kembali, menekan tombol 3. Mencoba kembali menghubungi pacarnya yang sudah dua hari ini tidak menghubunginya. Apakah Siwon begitu sibuk? Apakah Siwon benar-benar tidak ada waktu untuk sekadar mengiriminya pesan? Atau Siwon.. ah tidak! Saat ini dia harus berusaha untuk positive thinking.

Tersambung!

“Annyeong?”

“Jagiya, apa kau sedang sibuk? Apa aku mengganggumu?” tanya Yuri, yang sebenarnya agak kaget.

“Tentu tidak sayang, aku sedang ada di toko musik saat ini. Ah! Mianhae jagi, aku sudah tidak memberimu kabar dua hari ini. Hotel sedang sibuk dengan rapat saham dan urusan lainnya,”

Yuri tersenyum, “Gwaenchana. Mendengar suaramu saja sudah membuatku lega. Yang penting, oppa baik-baik saja.”

“Ah jeongmal mianhamnida, jagi… Ah benar yang itu… Hwang, kembalikan DCD itu!.. Jagi, bisa kututup dulu teleponnya? Tiffany menyembunyikan DVD yang ingin kubeli,”

Yuri masih menjawabnya dengan senyuman, walaupun perasaannya berbeda, “Ne, jaga dirimu baik-baik ya!”

KLIK!

Gadis itu mendesah pelan. dalam hatinya dia bertanya tanya, sejak kapan Siwon menyapanya dengan kata ‘annyeong’? bukan ‘jagi’?

 

*****

“Jagi, bisa kututup dulu teleponnya? Tiffany menyembunyikan DVD yang ingin kubeli,” pinta Siwon, sambil menatap tajam kearah gadis yang saat ini sedang berdiri dekat pramuniaga toko.

“Ne, jaga dirimu baik-baik ya!”

KLIK!

Tanpa aba-aba, Siwon menutup teleponnya dengan Yuri. Kemudian melangkah mendekati Tiffany. Mengambil DVD yang dipegang gadis itu di tangan kirinya.

“Ya!”

“Kau ini benar-benar berbakat jadi pencuri ya? Ini milikku, tahu!”

“Untuk apa kau membeli video baletku ini? Apa kau diam-diam juga ingin menjadi penari balet?” dengus Tiffany.

“Kau berisik sekali. Terserah aku ingin membeli video apa, itu bukan urusanmu.”

Tiffany masih merutuk kesal. Ini artinya Siwon sudah tahu dengan pasti kalau dirinya seorang balerina. Tapi apa itu tidak membuat cowok ini semakin merasa bersalah? Telah mematahkan kaki yang merupakan setengah nyawa bagi seorang balerina? Sepertinya tidak.

“Berhenti menatapku sesadis itu! tatapanmu bisa membunuhku,” celetuk Siwon, melihat Tiffany masih menatapnya sinis hingga keluar dari toko. Bahkan saat mereka sudah didalam mobilpun, gadis itu masih menatapnya. Namun gadis itu tampak tidak menggubris perkataan Siwon sama sekali.

DRRRT! DRRRT!

“Annyeong?.. Ah Minhwan-ssi.. aku sudah mendengarnya dari Donghae tadi siang.. benarkah? Wah kau sepertinya dalam masalah ya..”

Tiffany tertawa sementara mobil melaju ke jalan raya. Siwon sebenarnya beberapa kali mencuri pandang ke kursi sebelah. Tapi yang disana sepertinya lebih sibuk dengan seseorang di teleponnya. Pertanyaan lama itupun muncul kembali.

Apa kelebihan seorang Tiffany Hwang? Sepertinya begitu banyak pria yang ingin mendekati gadis ini. Herannya, Tiffany seperti memberikan lampu hijau saja ke setiap pria itu. Tunggu! Itu lampu hijau atau memang sikapnya biasa ke semua orang? Entahlah. yang dirinya ketahui, Tiffany adalah seorang gadis yang sangat tegas dan siap berperang. Tidak mau kalah dengan siapapun.

Ini menarik! Siwon merasa ingin tahu, sesuatu apakah yang dimiliki oleh Tiffany, yang belum diketahui olehnya, yang mampu membuat semua orang merasa begitu ingin mengenalnya. Lagi dan lagi.

“Sepertinya ini bukan jalan pulang,” kata Tiffany, setelah menutup teleponnya.

“Memang bukan,”

“Kita mau kemana lagi? Ayolah, aku butuh istirahat,”

Siwon melirik ke arah Tiffany, “Kau pikir aku tidak akan membalas perbuatanmu tadi siang? Kau sudah membuang waktuku dengan sia-sia, Hwang,”

“Ya! Sejak kapan kau memanggilku dengan sebutan ‘Hwang’?”

“Sejak aku benar-benar kesal padamu. Lebih baik kau diam saja dan biarkan aku konsentrasi menyetir,”

“Cih,” cibir Tiffany, mengarahkan pandangannya keluar jendela.

 

*****

TOK! TOK!

Siwon mengetuk pintu salah satu rumah di sebuah perumahan elite Gwang-Ju.

“Ini rumah siapa?”

Pertanyaan itu tidak digubris oleh Siwon. Justru dia kembali mengetuk pintu rumah tersebut. Tak lama, terdengar suara berdecit tanda pintu terbuka. Seorang pria seumuran Siwon dengan kemeja krem dan celana pendek hitam berdiri.

“Siwon hyung!”

“Kyuhyun!” Siwon menyapa sambil tersenyum.

Pria bernama Kyuhyun itu segera merentangkan tangannya, berusaha memeluk Siwon. Sesaat, sebelum matanya menatap seorang gadis yang berdiri disebelah Siwon.

“Ini..”

“Ah,” Siwon sadar, “Ini temanku, Tiffany Hwang. Dan ini Kyuhyun, teman akrabku dari SMA.”

Walaupun masih agak kaget dan bingung, Tiffany tetap membungkuk sambil berkata, “Annyeonghaseyo! Tiffany imnida,” lalu melontarkan senyum manisnya.

“Ah, kupikir ini Yuri. Kau tidak pernah mengajak pacarmu bertemu denganku,”

Kyuhyun kemudian mempersilahkan Siwon dan Tiffany masuk ke rumahnya. Berselang beberapa detik, seorang wanita cantik dengan rambut coklat gelombang, bertubuh langsing, dan memakai terusan warna biru muda, turun dari lantai atas rumah itu. Tiffany melihat senyum wanita itu begitu merekah saat menatap Siwon.

“Siwon-ssi,” sapanya riang.

“Halo Seohyun-ah!” Siwon segera memeluknya sesampainya Seohyun didepannya. Mata bulat Seohyun menatap aneh kearah Tiffany. Dengan segera dia tersenyum dan membungkukkan badannya kearah Seohyun.

“Kau Yuri?”

“Bukan,” sela cepat Tiffany, “Aku Tiffany.”

“Oh maaf, kupikir kau pacarnya Siwon. Habis kalian terlihat begitu cocok,” kata Seohyun polos. Membuat Siwon dan Tiffany saling bertatapan aneh. Rasa tidak enak Tiffany tentunya semakin bertambah.

Seohyun buru-buru menambahkan, “Ah jangan khawatir! Teman Siwon teman kami juga. Anggap saja rumah sendiri,”

“Ne, gamsahamnida,” Tiffany kembali membungkuk. Tanpa sadar, akibat perkataan Seohyun barusan, Tiffany jadis sering mencuri pandang kearah Siwon.

 

*****

Siwon benar-benar kaget. Dalam waktu tidak sampai satu jam, Tiffany sudah mampu akrab dengan Seohyun. Keduanya sering terlihat tertawa bersama di dapur, seperti kawan lama.

“Nah, ini dia waffle-nya datang! Tiffany yang membuat ini lho!” seru Seohyun.

“Ini pertama kalinya, masih banyak juga bantuan darimu, Seohyun-ssi,”

Seohyun menyenggol siku Tiffany, “Kau ini terlalu jujur. Tunggu disini ya! Akan kuambilkan sausnya.”

Tiffany terkikik. Kemudian mengambil tempat persis didepan Siwon. Beberapa detik kemudian, Seohyun ikut duduk disamping dengan menuangkan saus cokelat ke setiap potongan wafflenya. Acara makan-makan sederhana ini diselingi dengan penuh canda dan tawa. Mereka tampak sama-sama akrab. Seperti sudah lama mengenal.

“Kau kerja jadi pegawai di hotelnya Siwon, Tiff?” tanya Kyuhyun disela meminum air mineralnya.

“Tidak, aku bekerja di salah satu studio balet disini,”

Seohyun memastikan, “Jadi kau seorang balerina?”

Tiffany tersenyum sambil mengangguk.

“Sepertinya kau bukan balerina biasa. Aku pernah melihatmu dimana gitu,”

Kini gantian Siwon yang bertanya, “Benarkah? Dimana kau melihat gadis model begini?”

Cowok itu tahu kalau Tiffany sudah memberikannya tatapan tajam. Tapi tidak dipedulikannya. Sementara Kyuhyun tampak mengingat-ingat.

“Ah!” mata Kyuhyun seketika berbinar, “Aku pernah lihat kau di studio tari Juilliard.”

“Mwo?”

Seohyun segera menjelaskan, “Suamiku ini lulusan musik Juilliard. Apa kau juga lulusan Juilliard?”

Tiffany nampak segan, namun tetap mengangguk, “Ne, aku dari divisi tari balet.”

“Kalau tidak salah, dua tahun yang lalu, Juilliard untuk pertama kalinya menobatkan salah satu balerina Korea sebagai lulusan terbaiknya. Apakah itu kau? Aku benar-benar takjub dengan penampilanmu saat ujian kelulusan. Aku sangat menyukainya,”

Kyuhyun masih terus bercerita. Tiffany lebih memilih untuk diam. Jika ada pertanyaan, dia akan menjawabnya dengan senyum saja. Sedangkan Siwon sedang mengingat-ingat tarian Tiffany yang pernah ditontonnya. Tidak heran dengan kemampuan seperti itu, Tiffany dinobatkan sebagai lulusan terbaik Juilliard.

“Tapi dengan kemampuan sehebat, mengapa kau tidak tampil di opera saja?”

Pertanyaan Kyuhyun itu semakin membuat Tiffany terdiam. Membuat suasana jadi agak awkward.

“Oppa, sepertinya kau terlalu banyak bertanya. Kasihan Tiffany!” bela Seohyun.

“Gwaenchana. Aku hanya sedang tidak ingin berkecimpung dalam dunia entertainment saja. Aku lebih suka mengajar disini,” jawab Tiffany dengan tersenyum. Kemudian membuka topik baru dan menghangatkan kembali suasana yang sempat runyam.

Siwon memahami dua hal tentang Tiffany. Satu, gadis ini memang sangat fleksibel dan menyenangkan dengan orang baru. Kedua, alasan Tiffany tentang keputusannya tidak tampil di opera itu pasti bukan yang sebenarnya.

 

*****

 TBC…

27 thoughts on “Saltarcume part 4

  1. Pasti nanti siwon maupun tiffany ketika mrka sdah tdk brsma2 lagi, pasti ada sesuatu yg hilang d antara mereka.
    Donghae itu msh suka sma tiffany ea?ah. .donghae dg jessica saja ea???

  2. wah wah makin seru aja nihhh
    Kasihan yah Yuri unnie dikacangin ama Siwon oppa -_-
    Tp gak apaapalah yg penting SiFany bahagia
    *ditabokYuristable😀

    Ayo min cepetan Updatenya
    Yah yah yah *maksa -_-

  3. eee,.
    suka ma magnae couple d sni…^_^

    sorry chingu bru coment..
    smgat trus ya buat nulis krya yg bgus….!!!!!

  4. unnie jahat, aku selalu nunggu2 ff part 4 ni d post d blog yg satu lagi tapi tiap kali d cek hanya trus sampe part 3 ga ada part 4, aku baru tau sekarang kebetulan liat ada part 4 sama 5 knapa ga bilang d post d sini unnie, hiks … part 4 bagus sekali disini ada kyu ma seo juga ya ??

  5. waaah,, best couplenya jdi cast smua nih..
    SeoKyu udah married?
    berarti tinggal nunggu undangan dari Sifany & HaeSica (omma&appa) haha..
    TaeTeuk & SunSun jg ya thor
    next chap.. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s