After Wedding part 1

After Wedding

Romance, Marriage Life & Friendship | Characters : Krystal Jung, Choi Minho, Kwon Yuri, Choi Sulli, Lee Taemin |

Are we a match made in heaven?

*****

“Haaah..”

Krystal mendesah. Dengan langkah berat, dia berjalan menuju apartementnya. Ditatapnya sejenak pintu didepannya itu. Dihelanya napas panjang, sebelum dia memegang gagang pintu.

Hari ini benar-benar melelahkan

“Soojung,”

Gadis itu terbelalak. Melihat seorang laki-laki dengan kaos ketat hitam, menampakkan tubuhnya yang atletis, sedang berdiri membukakan pintu untuknya. Tersenyum manis saat melihat dirinya yang baru saja akan membuka pintu.

“Sudah kuduga, kau baru saja datang,” katanya.

“Darimana kau tahu aku sampai, Minho oppa?”

Laki-laki bernama Minho itu hanya mengangkat bahunya, “Mungkin karena aku merasakan adanya sinyal cinta yang mendekat.”

Krystal terkikik, memukul dada laki-laki itu pelan, “Kalimatmu menjijikan,”

“Aku yakin kau menyukainya,”

Masih dengan wajah yang kegelian, Krystal berjalan masuk ke apartementnya. Diikuti oleh Minho dibelakangnya. Dia berduduk di sofa, menaruh tasnya bersebelahan dengan tubuhnya. Diliriknya kearah jam dinding. Ternyata sudah jam delapan malam.

“Kenapa pulang telat hari ini?” tanya Minho, memecahkan suasana hening di apartement. Terdengar suara guyuran air dari dapur. Kelihatannya laki-laki itu sedang membuat minuman.

“Hari ini sedang banyak pesanan. Mungkin karena sekarang lagi musimnya orang menikah, jadi banyak yang memesan baju pengantin,”

Krystal menyandarkan kepalanya sambil menutupi mata dengan lengan bawahnya. Dia menghela napas panjang. Lelah benar-benar mendera seluruh tubuhnya. Hari ini, butiknya sedang kedapatan begitu banyak pesanan gaun pengantin. Lebih dari empat pasangan yang datang dan meminta model gaun yang cocok untuk mereka. Tentu hal ini sangat memeras otak Krystal sebagai sang designer.

Aroma teh chamomile menyeruak ke saluran pernapasan Krystal. Dibuka matanya perlahan. Minho sudah ada disampingnya dengan membawa secangkir teh kesukaannya. Menyodorkannya kepada Krystal.

“Minumlah,”

Ditegakkan tubuhnya, sebelum akhirnya Krystal mulai meneguk perlahan teh buatan Minho. Rasanya sangat segar meminum teh saat pulang kerja. Setidaknya mampu menghilangkan sedikit penat di otaknya.

“Bagaimana keadaan di hotel, oppa?”

“Agak sibuk belakangan ini. Sebentar lagi opening ceremony untuk cabang hotel di Incheon. Jadi, semuanya agak lebih panik dari biasanya,” jawab Minho sambil menegak teh miliknya.

Seperti inilah keadaan keduanya sehari-hari. Minho dan Krystal pulang kerja, salah satu dari mereka pasti ada yang pulang terlambat. Saat hal itu terjadi pada Krystal, maka Minho yang akan segera menyambutnya dengan seduhan teh chamomile. Kemudian ditemani dengan suara TV, mereka mulai mengobrol di ruang tengah. Mereka akan membahas diawali oleh soal pekerjaan, lalu merambah ke dunia entertainment, sampai masalah politik terkini. Apa saja, yang penting ada bahan pembicaraan.

CUP!

Sebuah kecupan hangat akan menghampiri pipi Krystal. Menandakan Minho mengajaknya untuk beristirahat.

“Kau pasti lelah. Ayo ganti bajumu dan kita ke kamar!”

Krystal menjawabnya dengan senyuman.

*****

Menikah karena perjodohan. Hal yang sudah sangat tidak lazim, mengingat kita sudah hidup di millenium baru dan dunia yang serba elektronik. Rasanya kalimat terdengar seperti kita hidup di jaman putri Deokhye yang sudah sangat lampau. Tapi, itu tidak akan berlaku bagi mereka yang terlahir dari keluarga pebisnis. Krystal Jung–atau Jung Soojung–adalah salah satu yang merasakan menikah karena perjodohan tersebut.

Delapan bulan yang lalu, ayahnya tiba-tiba menyuruhnya pulang ke Seoul. Padahal dia sedang ada fashion show di Paris. Terpaksa, serangkaian tur-nya di Eropa harus dibatalkan. Saat itu, ternyata ayahnya mengajak dirinya makan malam bersama rekan-rekan bisnisnya. Disanalah Krystal dikenalkan dengan seorang pria berpakaian black tie yang gagah.

Awalnya, Krystal tidak tertarik sama sekali untuk mengenal Minho. Pikirannya sangat terfokus pada karirnya dibidang fashion designer dikancah internasional. Namun segalanya berubah begitu ayahnya mengeluarkan dua kalimat yang mengagumkan.

“Kalian akan menikah lima bulan lagi. Appa tidak menerima penolakan apapun.”

Demi apapun, dia sudah berusaha melontarkan berbagai alasan logis yang intinya menolak perjodohan ini. Tapi tak ada satupun perkataannya yang dianggap masuk akal oleh ayahnya. Sialnya lagi, ibu dan Jessica, kakak perempuannya, juga menyetujui perjodohan ini.

Namanya juga Jung Soojung. Tidak ada kata menyerah dalam kamus hidupnya. Dia terus melakukan berbagai penolakan kepada ayahnya. Sampai hari itu..

“Maukah kau berkencan sehari denganku?”

Krystal terkejut, “Mwo?”

“Aku ingin berkencan sehari denganmu. Aku ingin kau mengenalku terlebih dahulu, sebelum kau menolak perjodohan ini. Setelah kau paham diriku seperti apa, barulah aku terima apapun keputusanmu. Kumohon Soojung-ah! Perjodohan ini sangat penting bagiku,” jelas Minho.

Ada tiga hal yang membuat mata Krystal begitu membesar hari ini. Satu, kedatangan Minho yang tiba-tiba. Dua, permohonan Minho untuk berkencan sehari dengannya. Tiga, perkataan Minho bahwa perjodohan ini sangat penting untuknya. Memangnya ada masalah apa sampai laki-laki itu menganggap perjodohan ini penting?

“Bagaimana? Kau setuju?” tanya Minho, karena tidak mendapat respon dari Krystal.

“Kenapa aku harus menyetujuinya?”

Sesaat Minho terdiam. Tatapannya mendadak menanar. Menerawang begitu dalam. Krystal sendiri juga tidak mengerti apa maksud dari tatapan tersebut. Minho berdeham beberapa kali.

“Hmm karena..” ucapnya dramatis, “Ini permohonan eommaku yang sedang kritis saat ini. Beliau terkena kanker usus stadium akhir.”

Hari ini benar-benar penuh kejutan.

*****

“Hari ini mungkin aku akan lembur lagi. Pekerjaanku cukup banyak yang menumpuk di butik,” izin Krystal ketika keduanya sedang sarapan pagi. Satu momen yang tidak pernah dilewatkan sama sekali oleh Minho selama hampir tiga bulan mereka berstatus suami-istri. Dia selalu menikmati saat-saat mengawali hari bersama wanita cantik dihadapannya itu.

“Jangan terlalu lelah! Aku tidak mau kau sampai jatuh sakit,” pesannya.

Krystal memutar matanya, “Percayalah oppa, aku tidak akan sakit jika vitamin yang kau cekoki padaku sebanyak sekarang.”

Minho terkikik, “Ini wujud kepedulianku, jagi,”

Setelah menghabiskan menu yang mereka sebut cheers breakfast (telur mata sapi dengan setangkup roti panggang plus segelas susu), keduanya segera mengambil tas masing-masing dan menuju mobil Minho. Kebetulan mobil Krystal sedang diservice karena ada suatu masalah dengan freon AC-nya. Jadi dia harus berangkat ke tempat kerjanya diantar oleh Minho.

“Sudah siap? Tidak ada yang ketinggalan?”

Gadis itu mengangguk yakin.

“Baiklah, tuan putri! Kita berangkat!”

*****

“Tunggu sebentar ya, jagi!” ujar Minho, kemudian mengecup kening Krystal sesaat. Gadis itu mengangguk, ketika suaminya berlalu sesaat kedalam ruangannya. Keduanya tidak sadar, jika ada cukup banyak pasang mata yang menatap kejadian barusan dengan tatapan iri. Siapa yang tidak iri melihat sikap romantis pak direkturnya terhadap sang istri?

Krystal menunggu sembari membuka beberapa emailnya lewat iPad. Melihat sejenak kiriman-kiriman desain gaun pernikahan dari beberapa kawannya di Amerika. Krystal memang seorang designer, tapi biasanya yang didesain olehnya adalah kostum-kostum panggung artis atau mode-mode yang sedang dibutuhkan di Michael Adams. Dia agak kaget saat beberapa artis di Korea meminta bantuannya untuk membuatkan wedding dress. Benar-benar pengalaman baru untuknya, tapi tidak ada salahnya kan jika dicoba?

“Lama ya?” tanya Minho. Tangannya sudah kosong tanpa barang, hanya ada kontak mobil digenggamannya. Krystal menutup iPadnya dan menaruhnya kedalam tasnya.

“Kita berangkat sekarang?”

Minho mengulurkan tangannya. Menggandeng lembut tangan istrinya.

*****

“Nanti jika kau ingin pulang, kirimkan aku pesan atau telepon aku!”

Krystal tersenyum. Dia menjawab sambil melepaskan sabuk pengamannya, “Jangan khawatirkan aku! Lebih baik pikirkan bagaimana rencana peresmian hotelmu saja,”

“Hotel kita, sayang,” ucap Minho, menarik hidung Krystal. Membuat gadis itu mengaduh. Tetapi Krystal tidak membalas perbuatan Minho. Hanya menggerutu pelan. Baru akan membuka pintu mobil, sebuah suara muncul dari tempat duduk sebelah Krystal.

“Langsung turun begitu saja? Kau marah padaku, jagi?”

Entah kenapa, rasanya Krystal ingin tertawa. Nada bicara Minho barusan yang begitu manja, membuatnya geli. Dia memang hampir melupakan satu hal. Ditengadahkan kepalanya, lalu mencium bibir Minho lembut. Satu momen wajib yang harus Krystal lakukan untuk Minho. Kiss Before Work.

“Hati-hati di jalan oppa,” ujar Krystal sambil tersenyum.

Minho mengangguk. Kemudian menginjakkan pedal gas mobilnya, melintasi jalanan Gangnam. Krystal menghela napas panjang. Baiklah, sekarang waktunya bekerja.

DRRRT! DRRRT!

From : My Only Namja

Soojung-ah, pekerjaanmu banyak sekali kan? It’s time to work! Hwaiting, jagi😀

kalau kau bosan, kau bisa menelponku kapanpun yang kau mau. Semangat!!

Krystal tersenyum. Hatinya terasa hangat setelah membaca pesan dari Minho. Sepertinya suaminya itu baru saja memberikan dirinya satu suntikan motivasi untuk bekerja. Dalam hatinya, dia bersyukur telah memiliki namja seperti ini. Kalau dijodohkan dengan laki-laki seperti Minho, siapa yang tidak bersyukur?

*****

DRRRT! DRRRT!

Minho tersenyum samar. Dia tahu, siapa yang baru saja membuat handphonenya berbunyi. Dia menekan tombol unlock handphonenya. Yap! Tebakannya memang tidak pernah salah.

From : My Only Yeoja

Gamsahamnida, oppa!😀 kau juga harus semangat bekerja. Awas kalau pulang tanpa membawa uang! Kau pikir makanan bisa dibeli dengan daun? hihihi

Hwaiting, jagiyaa :*

Gadis ini memang paling bisa membuat senyumnya timbul. Minho mengetuk-ngetukkan jarinya, merangkai kata demi kata balasan untuk Krystal. Kemudian, dia meletakkan handphonenya kembali di jok sebelahnya.

Seperti biasanya, sesampai di hotel, Minho akan membalas semua sapaan pegawai dengan ramah. Tapi kali ini ada hawa yang berbeda. Oh, bukan kali ini saja, tapi semenjak tiga bulan yang lalu. Minho selalu tersenyum sambil menjawab ‘selamat pagi’ untuk setiap orang. Semua pegawai hotel, mulai dari office boy sampai manajer, juga merasakan perubahan sikap yang dialami GM-nya tersebut.

“Wah, sepertinya menikah membawakan aura positif untukmu ya,”

Minho terkaget, sadar bahwa baru saja dia terlalu larut dalam dokumen-dokumen di hadapannya. Matanya teralihkan pada pemandangan seorang pria berjas abu-abu dan  kemeja dalaman merah marun. Tangannya terlipat didepan dada, sambil menyeringai santai.

Pria itu berjalan, lalu duduk di sofa ruang kerjanya. Dengan santai, orang itu mengambil salah satu majalah yang disediakan dibawah meja. Terpaksa Minho harus menutup semua folder didepannya. Kemudian ikut menaruh tubuhnya berhadapan dengan pria itu di sofa.

“Dari dulu kau memang tidak pernah mengenal kata ‘permisi’ ya, Taemin-ah,”

“Jangan berlagak seolah baru mengenalku kemarin! Aku yakin kau sudah paham diriku, mulai dari cara berjalan sampai cara kencingku,”

Minho terkikik pelan. Sahabat terbaiknya itu memang tidak pernah berubah sejak dulu.

“Maaf, aku tidak bisa datang ke pernikahanmu beberapa waktu yang lalu. Salah sendiri kau menikah saat perusahaanku merayakan ekspansinya,”

“Cih, kau harusnya bersyukur kita sudah berteman sejak lama. Kalau tidak, kupastikan nasib kepalamu sama seperti gantungan kepala rusa itu,” cibir Minho.

“Kau terlalu sayang padaku. Tidak mungkin kau melakukan hal sesadis itu. Dulu saja, kau lebih memilih untuk tidak makan siang daripada meninggalkanku sendirian di UKS,” seringai Taemin, membuat laki-laki itu teringat masa-masa SMA-nya dulu.

“Bahkan kupikir, rasa cintamu terhadapku jauh lebih besar dari rasa cintamu terhadap istrimu,” tambahnya.

“Sialan!”  umpat Minho.

Taemin tertawa puas. Sudah lama juga mereka tidak saling menyeletuk, walaupun endingnya selalu Minho yang kalah. Setelah lulus kuliah, keduanya sama-sama sibuk mengurusi perusahaan keluarga mereka masing-masing. Minho mengurusi Banya Hotel yang sedang dalam masa keemasannya, sementara Taemin resmi menjadi General Manager di LTS Coorporation, yang bergerak dibidang pariwisata. Akibat dari semua itu, mau tidak mau frekuensi pertemuan mereka juga sedikit demi sedikit mengurang. Hanya sekadar mengirimkan email untuk memberitahu kabar saja sulit.

“Ngomong-ngomong, apa gadis itu yang berhasil membuatmu bertekuk lutut?”

“Hah?”

Jari telunjuk Taemin mengarah ke sebuah bingkai foto yang terpajang di meja kerjanya. Memakai pakaian pengantin bernuansa hitam-putih, sepasang kekasih disana berfoto begitu manis. Minho teringat saat pengambilan foto tersebut. Waktu itu, Krystal sempat ngambek karena kelelahan, sementara Minho memaksanya untuk foto bersama. Dengan penuh perjuangan (mulai dari menggoda sampai janji memijat punggung Krystal), akhirnya jadilah foto ini.

“Dia seperti apa orangnya?” tanya Taemin tiba-tiba.

“Siapa?”

“Istrimu!”

“Oh,” Minho berpikir sesaat, “Cantik, tingginya se-telingaku, seorang desainer kelas internasional..”

“Desainer internasional?”

Minho mengangguk, “Di Amerika, dia dikenal dengan nama Krystal Jung.”

Mata Taemin seketika terbelalak, “Mwo?! Krystal Jung yang itu?!”

“Memangnya Krystal Jung ada yang mana lagi,” jawab Minho ketus

“Dia sangat pintar, tapi sangat manja juga. Kadang, sikapnya seperti anak kecil. Mungkin efek dari dia anak bungsu dan biasa dimanjakan. Eh, tapi aku anak bungsu dan aku tidak semanja dia,” dia jadi bingung sendiri, kemudian menertawakan kecil kebodohannya. Taemin menghela napas panjang yang pelan. Tapi terlalu kencang untuk tidak didengar Minho.

“Kenapa harus menahan napas segala?”

“Apa benar Krystal Jung itu istrimu?” Taemin mendesah, “Mendengar siapa istrimu, aku jadi berpikir bahwa kalian berdua seperti Rasputin dan Anastasia, Cinderella yang berpacaran dengan salah satu tikusnya, atau bisa juga Putri Salju menikah dengan salah satu kurcacinya,” jelas Taemin. Mata Minho seketika melotot maksimal.

Gelengan kepala Taemin semakin membuat tangan Minho mengepal keras, “Bagaimana bisa kau mendapatkan wanita sesempurna itu,”

“AW! YA!” pekik Taemin mengaduh, saat rekannya itu menjitak kasar kepalanya. Berulang-ulang lagi. Segala umpatan serta sumpah serapah diucapkan oleh Taemin, sementara Minho ketawa puas.

******

“Besok kau ada acara?”

Krystal baru saja selesai mandi. Dia duduk didepan meja riasnya. Sedang mengeringkan rambutnya yang habis dikeramas menggunakan handuk. Minho meninggalkan tempat tidurnya, mendekati kursi rias yang duduki istrinya. Krystal tentu tahu apa yang ingin dilakukan laki-laki itu. Diberikannya sisir perak yang biasa dia pakai kepada Minho. Dengan halus, suaminya itu menyisiri rambutnya.

Minho selalu suka menyisir rambut istrinya itu. Rambut Krystal berwarna hitam pekat, namun begitu halus. Dia sangat suka saat gadis itu mengurai rambutnya yang panjang. Lebih membuatnya senang lagi karena Krystal tidak suka mengurai mahkotanya itu didepan umum. Karena dengan begitu, yang mengetahui kecantikan Krystal berarti hanya dirinya seorang. Gadis manjanya itu juga pernah berkata ‘aku tidak suka memperlihatkan rambutku didepan orang yang menurutku tidak spesial’. Makanya Minho begitu senang. Bukankah sangat menyenangkan ketika mengetahui dirinya sangat spesial di mata Krystal?

“Besok kau ada acara?” tanya Minho lagi, sambil menyisir halus rambutnya.

“Ani, bukannya oppa sudah menyuruhku besok cuti sejak seminggu yang lalu?”

Ah, ternyata istrinya selalu mengingat pesannya.

“Segitu pentingnya kah barbaque dengan sahabat-sahabatmu itu?”

“Tentu saja,” sahut Minho berapi-api, “Mereka sangat ingin mengetahui seperti apa istriku. Benar-benar menyebalkan, bahkan tidak ada satupun diantara mereka yang datang ke pernikahan kita. Makanya, aku ingin memperkenalkanmu pada mereka.”

Krystal terkikik, “Kau terlihat sangat semangat, oppa,”

“Apapun yang menyangkut dirimu pasti akan membuatku kembali bersemangat,”

CUP!

“Ayo kita tidur!” ajak Minho setelah mencium bahu Krystal yang tidak tertutupi gaun tidur. Namun sayangnya, gadis itu tidak beranjak dari tempat duduknya setelah Minho sampai di ranjang. Membuat laki-laki itu agak khawatir.

“Gwaenchana, jagi?” tanyanya memastikan.

“Ne.. kajja! Aku matikan lampu dulu,”

Minho tersenyum samar. Melihat wajah Krystal yang memerah.

*****

Cahaya matahari menyelinap masuk lewat jendela besar kamar, membelai halus wajah Minho dengan sinarnya yang lembut. Minho mengerjap-ngerjapkan matanya. Tangannya terasa agak berat untuk diangkat. Tapi tak masalah, karena hal itu membuatnya dapat melihat wajah Krystal yang sedang terlelap.

Minho menatap lurus setiap  lekukan wajah Krystal. Dirinya tersadar, betapa cantiknya istrinya ini. Wajahnya yang kecil, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis. Semuanya begitu pas membentuk wajah Krystal.

Tangannya terangkat untuk menyampirkan rambut yang jatuh ke dahi Krystal. Lalu dia memejamkan matanya. Mengarahkan kedua tangannya ke pinggang Krystal, merapatkan tubuh keduanya. Membuat mata Krystal terbuka, tersadar dari alam tidurnya.

“Sudah bangun, jagi?”

Krystal mengangguk pelan. badannya masih terasa lemas akibat terbangun dari tidur.

“Jam berapa sekarang?”

“Entahlah,” Minho semakin merapatkan pelukannya di pinggang Krystal, “Lebih baik kita kembali tidur.”

“Kau tidak kerja, sayang?” tanya Krystal, menatap mata Minho yang teduh.

“Aku sedang bekerja di kasurku,”

Jawaban Minho sontak membuat semburat halus merah memenuhi pipi Krystal. Selama ini, keduanya belum pernah melakukan hal-yang-seharusnya-dilakukan-suami-istri. Minho sangat menghargai keinginan Krystal untuk fokus dalam perkerjaan dan menunda kehamilan sementara. Karena itu, Krystal sempat berpikir maksud dari kata ‘bekerja di kasur’ yang dimaksud Minho itu apa.

“Apa kau sedang tidak enak badan, Soojung-ah?”

“Hm?”

“Sejak bangun tidur tadi, wajahmu terus memerah. Apa badanmu baik-baik saja?” Minho mendongakkan kepala Krystal. Menatap matanya begitu dalam. Krystal seketika kehilangan fokusnya akibat tatapan itu.

“Sudahlah, oppa. Kita tidur lagi saja. Lebih menyenangkan,” ujar Krystal, sambil membalas pelukan Minho erat.

Tak ada jawaban. Hanya terdengar suara cekikikan pelan dari Minho. Sebelum keduanya kembali tertidur dalam posisi berpelukan.

*****

“Jagi,” panggil Krystal tiba-tiba.

“Ne?”

“Aku menanyakan satu hal bodoh,” Krystal berdeham sekali, “Apa sahabatmu itu memiliki wajah yang tampan? Rasanya aku suka dia jika melihat rumahnya sebesar ini,”

Pernyataan Krystal itu langsung membuat Minho merengut. Bagaimana bisa Krystal bertanya seperti itu, sementara dia sudah memiliki suami.

“Aduh! Apa sih,” gerutu Minho saat pipinya ditarik keras oleh Krystal.

“Wajah merengutmu itu sangat menggemaskan, jagi,”

Laki-laki itu mendengus tanpa suara. Setelah membawa mobilnya sejauh lima ratus meter dari gerbang khusus kediaman keluarga Lee, akhirnya mereka sampai didepan sebuah rumah mewah berwarna krem. Taman hijau dengan bunga mawar pink disekelilingnya tampak cantik mengitari rumah tersebut. Bangunan didepan Krystal itu bukan rumah yang paling besar, karena rumah induknya berada lebih depan dari rumah tersebut.

“Kau tunggu disini sebentar!”

Krystal mengangguk sembari Minho berjalan keluar mobil. Mendekati pintu rumah sahabatnya itu. Gadis itu hanya menunggu sambil melihat kearah handphonenya yang sepi. Sepertinya karena dia sudah mengatakan pada asistennya kalau dia ingin bersantai hari ini, jadi tidak ada yang berani mengirimkan pesan padanya perihal pekerjaan. Dia hanya mendapatkan pesan dari asisten Kim dan Jessica eonnie yang isinya selamat berlibur. Dalam hati dia mendengus pelan. Siapa juga yang berlibur?

Lama dia menunggu di mobil. Namun Minho tidak kembali juga ke mobilnya. Membuat Krystal penasaran. Memangnya kemana suaminya itu? Sampai-sampai tidak kembali juga. Daripada gusar sendirian, lebih baik dia menghampiri Minho diluar.

DEG!

Baru saja turun dari mobil, jantung Krystal berdegup keras. Dadanya begitu nyeri, sakit. Melihat pria yang menemaninya selama tiga bulan terakhir, berciuman dengan seorang perempuan cantik berambut cokelat ebony di teras rumah.

“Oppa,”

TBC..

11 thoughts on “After Wedding part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s