What I Mean is..

What I Mean is…

Romance, Sad & Marriage Life | Characters : Tiffany Hwang, Choi Siwon, Lee Donghae |

Because I love you

*****

DRRRT! DRRRT!

From : Siwon

Maaf, aku pulang telat hari ini.

Aku mendesah pelan. Lagi lagi Siwon melupakan hari penting dalam hidup kami untuk ketiga kalinya. Pertama, hari ulang tahunku. Waktu itu, laki-laki itu mengatakan kalau dia ada rapat dengan pemegang saham yang tidak bisa ditunda. Aku dapat memaklumi waktu itu. Rapat pemegang saham memang sangat mempengaruhi hidup dan mati suatu perusahaan.

Kedua, saat hari pernikahan kami yang ke-6 bulan. Siwon harus mengerjakan beberapa presentasi dan mengadakan rapat dengan staf utama karena perusahaannya akan melakukan perekrutan untuk cabang perusahaan selanjutnya. Dia hanya memohon maaf padaku karena dia melupakan 6 bulannya pernikahan kami. Bukannya berusaha membujukku, dia malah mengatakan, “Miyoung-ah, aku lelah seharian ini bekerja. Ayo kita tidur!”

Dan yang ketiga, hari ini. First anniversary kami. Ulang tahun pernikahan kami yang pertama. Untuk yang kali ini hanya mampu diam. Aku tidak mau mengatakan apapun. Tadi pagi, saat sarapan, kami makan di meja makan seperti biasa. Tidak ada bahasan tentang merayakan ulang tahun pernikahan kami sama sekali. Membuatku tidak habis pikir dengannya.

Semua ini membuatku benar-benar uring-uringan di kamar seharian. Apa sebegitu sulitnya bersikap romantis? Hanya sehari saja, di hari-hari penting dalam kehidupan rumah tangga kami. Aku tahu, dia tipe orang yang kaku dan pendiam. Sangat menjaga sikap dalam menyentuhku seakan-akan wanita itu adalah barang pecah belah yang sangat rapuh. Tapi bukan berarti aku tidak ingin disentuh olehnya kan? Apa dia tidak berpikir, hampir dua bulan dia seperti robot pekerja? Tiap malam pulang hanya untuk tidur, pagi-pagi buta sudah bekerja lagi, apa dia pikir aku hanya boneka pajangan di kasurnya?

Gara-gara kejadian ini, aku jadi kembali mengingat-ingat apa yang telah terjadi dalam diriku selama setahun terakhir. Hidupku terasa hambar. Tak ada rasa. Sebulan pertama, Siwon sangat berusaha untuk menunjukkan rasa cintanya padaku. Membuatku merasa seperti wanita paling beruntung di dunia.

Benar kata orang. Jangan terlalu lama kita berada di langit, karena kita akan terbuai dengan kelembutan awan yang semu. Sekembalinya kami dari bulan madu, Siwon mulai menampakkan sifat aslinya. Yang bekerja keras tanpa kenal waktu. Yang membuatnya hanya memberikan 24 jamnya untuk pekerjaan. Yang selalu memberikan usaha maksimalnya untuk perusahaannya.

Bisa dihitung dengan jari, berapa kali kami pergi berlibur berdua setelah bulan madu. Jawabannya, satu kali. Itupun karena aku yang meminta, dan lokasinya adalah rumah orang tuaku. Apa dia tidak memiliki inisiatif untuk membuatku senang? Apa dia tidak ingin berubah untukku? Apa aku tidak berarti di matanya?

Sudah. Pokoknya aku kesal dengan Choi Siwon. Titik.

*****

Kami memang menikah tanpa melalui proses penjajakan terlebih dahulu. Lebih tepatnya, hanya karena balas budi orang tuaku kepada orang tuanya atas perusahaan appa yang hampir bangkrut waktu itu. Aku yang waktu itu masih mengenyam bangku kuliah di Amerika, terpaksa pulang ke Seoul dan menerima perjodohan ini.

Beberapa kali kami bertemu sebelum akhirnya memutuskan untuk naik pelaminan. Waktu itu aku sungguh kagum dengannya. Siapa yang tidak kagum melihat calon suamimu sangat tampan, cerdas, berpikiran maju, badan atletis, dan tentunya mapan? Ditambah lagi dia sangat taat ibadah dan setia. Aku terbuai dengan semua kesempurnaan yang dia tunjukkan kepadaku diawal hubungan kami.

Sebulan kemudian, atas keputusan kedua orang tua kami, aku dan Siwon menikah di salah satu gereja besar di Seoul. Resepsi pun diadakan semeriah mungkin. Maklum, Siwon merupakan anak satu-satunya dalam keluarga Choi Sunghwan. Tamu undangan berdatangan dari pagi hingga malam. Teman-teman lamaku di Korea–sebelum pindah ke Amerika–juga mengucapkan selamat atas pernikahan kami berdua. Aku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia saat itu. Sampai Im Yoona, teman lamaku yang bekerja di kantor Siwon, datang mengucapkan selamat dan mengatakan, “Aku tak menyangka, kau akan memilih direktur kami sebagai suamimu. Padahal dia sangat berbeda dari Donghae.”

Aku hanya mengerutkan dahi sambil bertanya, “Maksudmu?”

Dia berbisik padaku, “Dia sangat tidak romantis. Sama sekali. Well, Siwon memang sangat sempurna dan baik hati. Dia juga sabar di kantor. Tapi dia tidak romantis, Tiffany. Dia hidup hanya untuk perusahaan saja. Dia tidak memiliki jiwa Shakespeare sama sekali, seperti mantan-mantanmu yang kukenal.”

Aku berusaha menutup telingaku dari perkataan Yoona. Bagaimanapun, saat ini aku sudah berstatus sebagai nyonya Choi. Istri dari Choi Siwon. Aku bertekad untuk mengubah pendapat Yoona. Bahwa Siwon tidak seperti yang dia katakan. Tapi sepertinya aku gagal.

*****

“Siwon, aku butuh bicara denganmu,” tekadku sudah bulat. Aku tidak mau membiarkan masalah ini berlarut-larut.

Pria yang baru saja pulang dari kantornya itupun melonggarkan ikatan dasinya. Menepuk-nepuk sofa disebelahnya. Aku duduk disana, menatap mata Siwon dalam. Selama ini aku berusaha untuk memahami jalan pikirannya. Namun kenyataannya, aku tidak mampu. Dia terlalu jauh untuk kujangkau.

“Apa yang ingin kau tanyakan?”

“Kalau aku buta, apa kau mau memberikan matamu untukku?”

Siwon hanya terdiam.

“Kalau aku lumpuh, apa kau mau memberikan kaki tanganmu untukku?”

Tidak terdengar jawaban apapun yang terlontarkan.

“Apa kau pernah menyukaiku?”

Semua masih hening. Tanpa suara.

“Apa kau mau berubah untukku?”

Aku masih berusaha menahan tangisku sendiri.

“Apa kau mau mengatakan kata cinta untukku?”

Siwon masih membungkam.

“Pilih hidupku atau hidupmu?”

“Hidupku,”
Kali ini aku sudah tidak mampu membendung air mataku sendiri. Kini aku mengerti apa yang diinginkan olehnya. Semua ini terlalu fiktif. Terlalu semu untuk diharapkan. Membuatku tersadar, bahwa hanya aku yang selama ini hidup mengharapkan dia mengerti aku.

Aku memilih untuk tidur duluan. Membiarkannya duduk sendirian di sofa.

*****

Aku ingin mencari udara segar hari ini. Kepalaku terlalu dipenuhi penat yang menyumbat semua aliran darahnya. Kutuliskan pesan di kulkas rumah yang intinya mengatakan aku sedang pergi dan jangan mencariku. Aku juga sengaja tidak membawa telepon genggamku karena tidak ingin dia mencariku. Yah, padahal belum tentu juga dia mencariku sungguhan.

Mobilku melaju di jalanan sekitar Myeongdong. Sebenarnya aku tidak ingin berbelanja. Aku hanya ingin mencari seseorang yang kupikir mampu kuajak bicara. Tidak seperti seseorang yang hanya bisa membisu di rumah.

Ah, itu dia. “Hae oppa!”

Seorang pria dengan jas hitam melambaikan tangannya. Lalu berjalan berbalik arah, mendekati diriku. Dia menyodorkan segelas kopi susu yang masih hangat.

“Kalau kau menelponku sampai menyuruhku untuk bolos kerja, pasti kau sedang butuh kopi susu yang manis,” ujarnya sambil mencubit hidungku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman.

Kami melihat sejenak toko-toko yang ada di sebelah kanan kiri kami. Sambil mencari tempat yang pas untuk bercerita. Aku memang butuh refreshing kan? Akhirnya kami memutuskan untuk duduk di salah satu warung jjolmyeon.

“Ada apa dengan suamimu?”

Donghae oppa membuka pembicaraan tanpa basa-basi. Padahal aku ingin bersantai sejenak sebelum membicarakan soal Siwon. Tapi sepertinya Hae oppa juga sudah tidak sabar. Jadi, kujawab dengan anggukan pelan.

Lidahku sempat kelu, tapi aku tetap menceritakannya secara runtut. Kulampiaskan segala kekesalanku padanya. Sampai tanpa kusadari, air mataku kembali mengalir sendiri. Aku memang lelah dengan segala sikapnya. Tampak Donghae oppa tersenyum. Dia mengelus puncak kepalaku halus, sambil aku menceritakan semuanya.

“Jadi masalahnya hanya karena dia tidak romantis? Hahaha..” Huh! Ketawanya benar-benar tidak lucu, “Tiffany, sepertinya kau terlalu terpaku padaku ya. Tidak ada satupun pria yang bisa kau samakan denganku,”

“Aku tidak menyamakan kau dengannya, oppa. Dan masalahnya tidak semudah seperti kau mengatakan ‘dia tidak romantis’,” gerutuku kesal. Donghae oppa masih saja tertawa, tapi kali ini volumenya berangsur-angsur menurun.

“Tiffany, kalau kau lihat baik-baik, apa yang kurang dari suamimu selain dia tidak romantis? Kurasa dia sangat baik, alim, setia dan tentunya sabar menghadapimu. Dia sayang padamu,”

“Bahkan dia tidak menjawab pertanyaanku semalam,” gumamku pelan. Namun masih terdengar oleh Donghae oppa. Dia akhirnya menggenggam kedua tanganku dengan lembut dan hangat.

“Tiff, tidak semua pria sebaik suamimu. Aku bisa berkata seperti itu karena aku juga seorang pria. Tapi bukan berarti aku lebih buruk dari suamimu lho! Aku hanya mengatakan realita yang terjadi saja,”

Aku menyimak setiap perkataannya dengan baik.

“Tidak semua pria mampu mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata, apalagi tindakan. Kami harus berpikir berulang-ulang untuk melakukannya, apa itu pantas atau tidak untuk diberikan pada orang yang kami sayangi. Karena terlalu matangnya kami berpikir, sampai-sampai semua yeoja keburu garing menunggunya,”

“Ya, dan aku termasuk salah satu yeoja yang sudah garing menunggunya. Dia sangat sibuk dengan dirinya sendiri, tanpa memperdulikanku. Dia kira aku hanya boneka penghias ranjangnya apa? Aku bahkan meragukan cintanya padaku,” kataku datar.

“Cinta itu dinamis, Tiffany. Dia selalu mengalami perkembangan, tidak akan sama setiap harinya. Bisa bertambah, bisa berkurang. Tergantung kita yang menjalaninya,”

“Ada yang mengatakan cinta itu sederhana. Sesederhana kau mengatakan ‘saranghae’ atau ‘I love you’. Memang, tapi untuk mendapatkan cinta yang sederhana itulah yang tidak sederhana. Butuh proses, butuh waktu, butuh pemahaman. Begitu banyak kebutuhannya. Dan kebutuhan yang paling utama darinya adalah.. pengorbanan,”

Napasku tercekat saat mendengar kata ‘pengorbanan’ yang ditekankan oleh Donghae oppa.

“Pengorbanan sangat penting untuk cinta. Bukankah kau ingin dia berubah untukmu? bagaimana dia ingin melakukannya jika kau tidak pernah melakukan apapun untuknya? ‘Melakukan sesuatu’ yang kumaksud ini dalam konteks ‘sesuatu’ yang dapat membuat dia tersadar akan kesalahannya. Sesuatu yang bukan anarkis, tapi mengena tepat sasaran,”

“Jika dia belum bisa berkorban, bukankah lebih baik kau mencontohkan padanya arti berkorban? Dengan begitu, Siwon akan paham dan mau melakukannya untukmu,”

Berkorban ya.. kalau kupikir-pikir, kapan aku berkorban untuknya? Rasanya selama ini aku terlalu sering menuntutnya ini-itu. Bisa jadi dia tidak mengerti makna kata ‘berkorban’ yang baru aku pelajari dari Donghae oppa barusan. Makanya dia tidak bisa memahami keinginanku. Apa aku perlu mencontohkannya?

Ya. Aku harus memberitahukan padanya, apa itu berkorban. Dengan begitu, Siwon akan mengerti dan bisa mempraktekannya untukku. Aku akan membuatnya tersenyum, dengan begitu dia akan membuatku tersenyum juga. Sehingga nantinya, dia akan bisa mengungkapkan semuanya sesederhana mengatakan ‘saranghae’.

Ya. Aku harus melakukannya.

*****

KLIK!

Kuhidupkan lampu ruang tengah rumah kami. Sepertinya Siwon belum pulang, buktinya tidak ada satupun lampu rumah yang hidup. Terbersit perasaan kecewa dalam hatiku saat mengetahui hal ini.. Tiffany! Berubahlah! Kau sedang berusaha menunjukkan ciri berkorban pada suamimu. Aku memutuskan untuk membuat sup wortel kesukaannya. Bukankah sangat menyenangkan jika suami yang lelah disambut dengan hangatnya sup wortel buatan istrinya?

Supnya sudah siap. Begitu pula dengan teh Oolong kesukaannya. Kulirik kearah jam dinding. Sekarang sudah jam sebelas malam. Mungkin sebentar lagi dia akan pulang. Sebaiknya aku mandi dan berdandan yang cantik untuknya. Aku berjalan menuju kamarku.

Namun langkahku terhenti saat melihat seorang pria sedang meringkuk lemas dibalik selimut kami. Aku langsung berjongkok mendekati wajahnya. Menyentuh pipinya yang hangat. Astaga! Siwon sakit! Bagaimana aku tidak mengetahuinya? Aku benar-benar istri yang bodoh.

“Miyoung-ah,” panggilnya pelan.

“Aku disini, oppa,”

Matanya terbuka perlahan. Menatap wajahku yang khawatir dengan begitu teduh. Tampak rasa senang dan lega menghampiri mata  Siwon. Aku tidak menyangka, dia sampai sakit begini karena mengkhawatirkanku.

Tangan hangatnya menggenggam erat tangan yang berada disamping wajahnya. Sementara satu tangannya yang lain menyentuh pipiku lembut.

“Miyoung-ah, semalam kau menanyakan beberapa hal padaku. Kalau kau buta, apa aku mau memberikan mataku untukmu? Kalau kau lumpuh, apa aku mau memberikan kaki tanganku untukmu? Apa aku pernah menyukaimu? Apa aku mau berubah untukmu? Apa aku mau mengatakan kata cinta untukmu? Dan aku pilih hidupku atau hidupmu? Aku hanya mampu menjawab satu pertanyaanmu semalam, bahwa aku memilih hidupku,”

“Oppa, aku tidak ingin mendengarnya sekarang..”

“Semalaman aku berpikir jawaban untuk setiap pertanyaanmu. Dan sekarang aku akan memberikannya untukmu,”

“Kalau kau buta dan lumpuh, aku tidak akan mampu memberikan kedua mata, kedua kaki, ataupun kedua tanganku untukmu. Aku hanya memiliki satu hati yang dapat kubagi denganmu. tapi percayalah, hatiku akan membuatku mampu menjadi kedua matamu, kedua kakimu, dan kedua tanganmu,”

“Apa aku pernah menyukaimu, aku tidak pernah menyukaimu. Aku mencintaimu, Miyoung-ah,”

“Aku tidak mau berubah untukmu, karena aku tidak mau kau mencintai pantulan dirimu yang ada dalam diriku. Aku ingin kau mencintaiku yang seperti ini,”

“Aku tidak akan mengatakan kata cinta untukmu, karena cinta bukanlah kata-kata yang lumrah dan murah untuk kukatakan setiap saat. Cinta sangat suci, tidak pantas hanya dikatakan oleh mulutku yang kotor ini,”

“Dan yang terakhir, aku memilih hidupku. Karena dalam hidupku sepenuhnya kuusahakan untuk hidupmu. Kau yang membuatku merasa hidup, Miyoung-ah,”

Aku tak sanggup mengatakan apapun lagi. Kututup mulutku dengan kedua tanganku. Air mataku mengalir deras, tanpa bisa kuhentikan. Betapa jahatnya aku, berpikir bahwa Siwon tidak mengatakan apapun untukku, melakukan apapun untukku, tidak mencintaiku. Kenyataannya, dia memikirkanku sampai dia lupa akan dirinya sendiri. Karena aku adalah hidupnya.

“Saranghae, Hwang Miyoung,”

“Nado.. nado saranghae, oppa,”

–          END –

31 thoughts on “What I Mean is..

  1. Ternxata di sini ada oneshot sifany.
    Q suka. . . .cerita.a chingu, pokok.a semua tentang sifany q suka.hehe
    ff saltarcume part 5 cepat d post ea chingu🙂

  2. So sweet kata-katanya Siwon. Duh.. beruntung banget Tiffany punya suami kayak gitu xD
    Semoga SiFany beneran! haha.
    Bahasanya keren dan mantaaap! Seperti membaca novel bestseller saja._.
    Ditunggu FF SiFany selanjutnyaaa xD

  3. so sweet bgt sich……………………..
    tpi SiFany kok nggak punya anak sich………………….
    bikin donk hehehe…………….^_^

  4. Hwaa SiFany!
    Suka suka suka!
    Kalimat nya bagus!

    bikin SiFany yang Marriage Life lagi kalo perlu sampe punya anak!#readerbawel

    Oh ya lupa!chingu kenalin new reader N2 imnida.96 lines.SiFany shipper.

  5. Eaaaaaaa romantis banget
    suka kata-katanya author
    sip dah pkoknya
    bkin senyum-senyum sendiri
    aku jadi pany umma pasti nangis bercampur bahagia ihihihhi

  6. Ah… wonnienya so sweet amat ya u.u
    Itu tingkat kemanisannya melebihi kadar batas bikin cewek kelepek-kelepek deh kayanya(?)
    Haha good job😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s