After Wedding part 3 – END

After Wedding

Romance, Marriage Life & Friendship | Characters : Krystal Jung, Choi Minho, Kwon Yuri, Choi Sulli, Lee Taemin |

Are we a match made in heaven?

*****

“Yeoboseyo?”

“…”

“Ne, kau bisa datang kemari sekarang,”

“…”

“Baiklah! Kutunggu,”

KLIK!

 

*****

Ketukan pintu dari luar membuyarkan lamunan Krystal.

“Masuk!”

Krystal tak berkedip melihat seseorang yang berdiri didepan pintu ruangannya saat ini. Wanita dengan mantel bulu dan rok mini warna putih berjalan kearahnya serta skarf coklat terlilit. Rambutnya yang indah terjuntai menghiasi bulu-bulu disekeliling lehernya.

Penampilannya sangat menarik. Dari caranya berjalan, Krystal tahu jika wanita dihadapannya itu memiliki kharisma yang sangat memikat. Wanita itu tersenyum begitu anggun. Dia menjulurkan tangannya pada Krystal sambil berkata, “Annyeonghaseyo, Kwon Yuri imnida!”

“Annyeong! Silahkan duduk,” Krystal mempersilahkan. Keadaan mendadak hening karena Krystal sendiri masih sibuk dengan pikirannya. Wanita bernama Yuri tidak bosan-bosannya menunjukkan senyum miliknya.

“Jangan terlalu canggung begitu, Krystal-ssi,”

“Ah ne,” jawabnya sambil tertawa kecil, “Bisa kita mulai sekarang ya?”

Yuri mengangguk halus. Krystal mulai menjelaskan mengenai setiap desain gaunnya. Dimulai dari gaun-gaun bermodel kasual hingga yang bertemakan nightlife, sesuai dengan pesanannya. Sementara Yuri menyimak setiap penjelasan Krystal dengan baik. Terkadang dia sedikit memberi permintaan untuk menambah payet atau detail.

“Oke, kalau begitu bagaimana? Gaunnya sudah bisa saya buatkan?”

“Ya, tapi saya ingin gaun yang ini selesai dalam satu minggu,”

“Satu minggu? Itu terlalu cepat Yuri-ah,” protes Krystal.

“Ah ayolah Krystal-ssi! Gaun ini akan kupakai untuk pesta ulang tahunku minggu depan. Bisa ya?”

“Kau bisa menaikkan harga gaunku jika memang itu dapat membuatnya selesai cepat,” tambahnya.

Tawaran tersebut membuat desainer cantik itupun nampak menimang-nimang kembali. Sementara Yuri masih mengharap jawaban baik dari Krystal.

“Sebenarnya satu minggu bukanlah waktu yang cukup untuk membuat gaun serumit ini. Tapi ya sudahlah, akan saya usahakan,”

“Jeongmal? Gamsahamnida, Krystal-ssi!” seru Yuri kegirangan.

“Ne, cheonmaneyo. Kuharap kau membalas budiku dengan mengundangku ke acara ulang tahunmu,”

Yuri tertawa, “Jangan khawatir, you’re on my list,”

 

*****

Jalanan di kawasan Apgujeong tampak sedikit lengang sore ini. hanya segelintir mobil yang tampak melintas. Membuat Minho dapat membawa Fiat Alfa Romeo merahnya dengan kecepatan tinggi. Rencananya agak sedikit berantakan. Mulanya dia ingin pulang lebih cepat sehingga dapat mengejutkan istrinya yang sudah dua hari ini lembur di butik. Akan tetapi, tiba-tiba sekretarisnya masuk ke ruangannya untuk mengatakan bahwa hari ini para pemegang saham meminta untuk diadakan rapat dadakan melihat berita anjloknya harga saham di berita.  Minho berharap, semoga Krystal masih ada di butiknya.

BINGO!

Dia baru saja memarkirkan mobilnya di seberang jalan ketika Krystal sedang mengantar seorang kliennya ke mobil. Nampak istrinya itu sedang melambaikan tangan sembari mobil kliennya menjauh. Minho menyipitkan matanya. Dia seperti pernah melihat mobil BMW seri 5 warna putih itu. Entah dimana.

“Oppa,”

Minho melambaikan tangannya. Berjalan mendekati Krystal.

“Sudah selesai?”

“Ne, klienku sudah meng-acc desainnya, tinggal kerja saja,”

“Cha,” laki-laki itu menepuk tangannya, “Ayo kita makan diluar! Rasanya sudah lama kita tidak makan bersama,”

“Boleh, asalkan tidak memakai uangku saja,”

“Cih, perhitungan sekali,” decak Minho.

Krystal tertawa.

 

*****

Hidup Krystal seakan terhimpit oleh waktu. Pesanan gaun ulang tahun Yuri yang harus selesai seminggu itu sukses membuat Krystal kewalahan. Dia terpaksa harus menunda beberapa pekerjaan lamanya demi menyelesaikan payet dan beberapa motif gaun tersebut. Otomatis lembur juga menjadi kebiasaannya serta pegawai-pegawainya selama lima hari terakhir.

Syukurnya Minho mau mengerti kesibukannya. Laki-laki itu tidak memaksanya untuk menghabiskan waktu sarapan ataupun makan malam bersama seperti yang biasa mereka lakukan. Kebetulan suaminya juga sedang sibuk mengurusi masalah keuangan hotel ditengah-tengah inflasi yang sedang melanda perekonomian Korea Selatan.

TOK! TOK!

“Krystal-ssi!”

Krystal menoleh. Kemudian tersenyum manis, “Annyeong,”

“Wah, kau terlihat lebih kurus. Pasti gaunku membuatmu repot. Mianhanda,” ucap Yuri agak menyesal.

“Gwaenchana, ini memang pekerjaanku. Akhir-akhir ini pesanan membludak. Makanya aku harus ekstra kerja menyelesaikannya,” hibur Krystal tersenyum.

“Kau ingin mencoba gaunmu?”

Yuri menggeleng, menggerakkan kedua pergelangan tangannya, “Tidak usah. Aku sedang malas untuk fitting. Langsung bungkuskan saja,”

“Kalau ukurannya tidak pas bagaimana?”

“Aku percaya, hasil kerjamu pasti akan sangat memuaskan,”

Krystal memastikan, “Benar?”

Yuri mengangguk mantap. Krystal menghela napas, lalu menyuruh salah satu pegawainya untuk mengambil kotak khusus yang dia siapkan di rak. Kotak berwarna hitam dengan pita silver menghiasi bagian tutupnya. Krystal sengaja membelikan kotak khusus karena menurutnya, gaun yang dia buat untuk Yuri ini merupakan gaun yang sangat spesial, sehingga dari wadahnya juga harus spesial.

“Ah, gomawo Krystal-ssi. Kau benar-benar desainer hebat,”

“Ya, berhentilah memujiku sebelum kepalaku terkena hidrosefalus,”

Yuri tertawa geli.

“Oh ya, hampir terlupa,” Yuri merogoh-rogoh isi tas Pradanya. Kemudian mengeluarkan sebuah undangan berwarna putih yang cantik. Diberikannya kepada Krystal.

“Ini untukku?”

“Tentu saja! Aku tidak mau dibilang orang yang tak tahu balas budi,” jawab Yuri.

Krystal menepuk dahinya, “Astaga! Aku hanya bercanda soal itu,”

Yuri tersenyum, “Tak apa. Acaranya hari minggu malam besok. Pokoknya kau harus datang, dandanlah yang cantik ya!”

“Pastinya. Tapi, aku belum ijin dengan suamiku. Kira..”

“Kau sudah menikah?”

Krystal agak terkejut mendengar pertanyaan kliennya. Dia jadi agak sedikit tersinggung. “Kenapa kau sekaget itu? Memangnya tampang sepertiku tidak pantas untuk bersuami, Yuri-ah?”

“Bukan begitu,” ralat Yuri, “Aku hanya kaget saja. Kau kan masih muda, tidak kusangka kau ternyata sudah memiliki keluarga. Lagipula debutmu sedang banyak yang mengapresiasi. Kupikir kau hanya fokus pada karir fashionmu saja.”

Krystal tersenyum kecut.

Mauku dulu juga begitu.

 

*****

“Aku tidak tahu kalau ternyata Yuri itu cucu mantan Presiden Korea,” gumam Krystal saat melihat papan ucapan selamat ulang tahun berjajar didepan ballroom, lokasi acara ulang tahun. Beberapa dari ucapan tersebut mencantumkan fakta tersebut.

Krystal mengangguk paham. Pantas saja kliennya itu meminta desain gaun yang sempurna. Padahal itu kan cuma ulang tahun biasa. Ternyata, acaranya saja semegah ini. Yuri jelas akan menjadi sorotan publik. Mau tidak mau, dia harus berpenampilan sempurna.

DRRRT! DRRRT!

“Yeoboseyo?”

“Soojung-ah, kau sudah sampai disana?”

“Hm,” Krystal mengangguk, “Oppa dimana?”

“Mianhae jagi, sepertinya aku akan datang telat. Rapatku belum selesai. Kau tidak apa-apa kan sendiri dulu disana?”

Dia menghela napas panjang, “Ne, arraso.”

“Jagi, benar tidak apa? Kalau tidak, biar aku minta agar rapat ini ditunda saja dulu,”

“Jangan,” sergah Krystal, “Kasihan yang lain. Lanjutkan saja dulu, aku tunggu,”

“Benar nih? Penawaran hanya datang sekali saja lho, sayang,”

“Benar. Sudah sana kerja yang benar. Kalau kau kerjanya asal-asalan, nanti aku makan apa?”

Suara cekikikan Minho terdengar di telepon. Krystal juga ikut tertawa. Sebelum akhirnya, mereka bertukar ciuman dan menutup teleponnya.

 

*****

“Hotel The Plaza.. Ah! Ini dia!” Minho segera membanting stir, mengarahkan mobilnya memasuki halaman parkir hotel bintang lima plus saingannya tersebut. Dia berjalan santai ke lobby hotel. Kalau tidak salah, acaranya diadakan di ballroom. Laki-laki itu segera menuju lift hotel. Biasanya disana ada papan denah hotel.

Setelah berhasil menemukan, Minho segera masuk kedalam lift. Jari telunjuknya menekan tombol berangka 1. Kelihatannya dia tidak perlu bertanya pada orang dimana letak ballroom, karena jajaran papan ucapan ini pasti mampu menuntunnya sampai lokasi. Minho masih berjalan santai sebelum dia memutuskan untuk membaca nama yang ada disalah satu dari papan tersebut.

“Minho,”

DEG!

 

*****

Krystal mulai gusar. Acaranya sudah hampir mulai dan Minho belum menunjukkan batang hidungnya juga. Kemana sih orang ini? Empat puluh lima menit yang lalu, laki-laki itu mengirimkan pesan bahwa dia sudah didaerah Myeongdong. Kenapa sampai sekarang belum sampai juga?

Diambilnya telepon genggamnnya dari dalam tas. Ah, ternyata didalam ballroom sinyalnya buruk. Terpaksa Krystal berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke pintu keluar.

“Minho,”

Kepalanya terangkat, mendengar nama suaminya disebut. Sesaat Krystal takjub melihat Yuri yang begitu anggun dengan gaun rancangannya. Tubuh wanita cantik itu terbalut gaun Versaces warna silver dengan aksen bulu-bulu menutupi dari batas pinggang hingga ekor gaun. Rambutnya disampirkan ke kanan seluruhnya dengan hiasan tiara yang begitu indah. Benar-benar mirip dengan putri-putri dari kerajaan Inggris.

Namun, dia tersadar saat ternyata Minho menatap Yuri begitu terkejut. Membuatnya mengurungkan niat untuk keluar. Menghentikan langkahnya saat itu juga.

“Yuri?”

Wanita cantik itu tersenyum, “Apa aku begitu banyak berubah? Sampai kau tidak mengenali siapa aku?”

Minho tertawa. “Ani, aku hanya kaget melihat kau secantik ini,”

“Berarti selama ini aku tidak cantik begitu?”

“Kau selalu cantik, Yul,”

DEG!

Dada Krystal nyeri mendadak. Entah kenapa, dia merasa tidak suka melihat Minho memuji Yuri seperti itu. Dilihatnya, tatapan Yuri pada Minho benar-benar berbeda. Seperti ada sesuatu diantara mereka.

“Jadi, ini acara ulang tahunmu? Kenapa aku tidak diundang?” tanya Minho. Ada nada kecewa dalam perkataannya tadi.

“Bukan begitu, tapi.. ah sudahlah, yang penting sekarang kau sudah datang. Ayo kita masuk!”

Krystal baru berpikir untuk mengangkat kepalanya dan pergi menjauh dari pintu tepat saat Minho berbalik. Mata pria itu menangkap sosoknya yang mematung disana. Krystal berusaha tersenyum, seakan tidak mendengar apapun. Tapi bagaimanapun, dia tidak dapat menutupi rasa nyeri di hatinya.

“Soojung,” Minho berlari mendekatinya. Seolah tidak terjadi apa-apa. Yuri tampak kaget saat melihat antusiasme laki-laki itu begitu menyadari ada Krystal disana.

“Krys, jadi dia suamimu?”

Krystal mengangguk, memaksakan untuk tetap tersenyum, “Ne,”

Sejurus pria itu paham, “Jadi, kau yang sudah membuat Krystal kerepotan beberapa hari terakhir ini?”

Nyeri di hati Krystal semakin terasa. Biasanya, Minho selalu menyebutnya didepan orang dengan kata ‘istriku’ atau ‘yeojaku’. Kenapa sekarang hanya dengan Krystal? Bahkan Minho tidak pernah memanggilnya dengan sebutan Krystal.

Krystal menghela napas berat.

 

*****

“Ada masalah, jagi?”

“Hah?”

“Apa kau ada masalah?”

Krystal tersenyum datar sambil menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan sepatah katapun. Kemudian kembali menatap kearah panggung.

Ada yang tidak benar disini.

Minho yakin itu. Seharusnya saat ini, perempuan yang duduk disebelahnya itu akan menatapnya sambil mengomentari pakaian atau tata panggung atau apapun yang bisa dijadikan bahan pembicaraan mereka. Kenyataannya, Krystal sedari tadi diam saja. Menatap kearah panggung tanpa jeda. Saat semua orang menyanyikan lagu selamat ulang tahun, Krystal tetap diam. Hanya ikut bertepuk tangan saja.

Berulang kali dia melihat, Krystal menghela napas berat dan panjang. Seperti ada sesuatu yang mengganggunya. Tapi saat ditanya, maka gadis itu hanya menggeleng dan tersenyum dipaksakan.

Mungkin dia sedang tidak ingin diganggu.

Bosan hanya duduk saja, akhirnya Minho meminta izin pada istrinya itu untuk mengambil minuman. Yang sekali lagi, hanya dibalas dengan senyuman tanpa kata apapun. Minho mulai mengingat-ingat, apa hari ini masuk jadwal bulanan Krystal? Seingatnya baru dua minggu yang lalu Krystal kedatangan tamu.

Dia mengambil gelas kecil. Kemudian mengisikannya dengan wine. Minho berdecak. Dia pecinta wine dan dirinya tahu pasti kalau yang ada di gelasnya ini adalah jenis wine lezat yang harganya bisa mencapai lima ratus ribu won sekali minum. Benar-benar pesta yang berkelas.

Dilihatnya sekilas kearah jendela. Yuri sedang berdiri sendiri disana, menatap pemandangan diluar hotel. Diambilnya gelas kosong yang baru yang dia isi dengan wine pula. Langkahnya ditujukan ke tempat Yuri berada.

“Mau?”

Wanita itu menoleh, “Terima kasih,”

TING!

Yuri mulai menegak wine yang diberikan Minho tadi. Begitu pula dengan Minho. Minuman itu mampu menghangatkan tubuh mereka dari udara malam yang dingin di Seoul. Keduanya masih sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba Minho teringat pada sambutan Yuri tadi.

“Apa kau benar akan pergi ke Amerika?”

“Hm,” Yuri mengangguk, “Kau tidak menyimak sambutanku tadi ya?”

“Aku hanya memastikan saja. Tapi kenapa mendadak sekali? Apa kau sudah merencanakan ini matang-matang? Nanti kau kembali lagi ke Seoul kan?”

“Hei,” potong Yuri, “Kalau tanya satu-satu. Jangan seperti kereta api.”

Minho terkekeh.

“Ini tidak dadakan sama sekali. Semuanya memang sudah kurencanakan sejak awal. Kupikir, aku lulusan Harvard. Tidak ada salahnya jika aku meniti karierku sebagai pengacara disana. Tantangannya sangat banyak dan itu pasti sangat menyenangkan,” jelasnya.

“Kenapa tidak bekerja disini saja?”

“Aku ingin membangun citraku dulu. Kalau bekerja disini, semua orang pasti akan meremehkan usahaku dengan mengatakan aku mendompleng nama kakekku ataupun ayahku. Sementara di Amerika, tidak ada yang mengenalku. Aku bisa berekspresi semauku dan menunjukkan bahwa aku mampu,” Yuri kini menatap Minho, “Makanya aku memutuskan untuk pergi ke Amerika,”

“Apa kau yakin akan tinggal disana? Amerika jauh sekali lagi Korea. Aku khawatir anak manja sepertimu tidak akan bisa bertahan hidup disana,”

Alis Yuri terangkat, “Kenapa khawatirnya baru sekarang? Dulu aku pergi S2 ke Harvard wajahmu santai saja,”

Minho mencubit pipi Yuri gemas, “Tentu saja itu berbeda, bodoh!”

“Aw! Appo!”

Yang mencubit tertawa-tawa. Lalu berkata, “Kalau dulu, cintaku padamu yang membuatku yakin kalau kau akan baik-baik saja. Sekarang, aku tidak ada didekatmu lagi. Aku harap kau bisa menjaga dirimu dengan baik,”

Yuri menahan gelinya, “Cintamu? Konyol sekali. Dari dulu pemilihan katamu memang sangat buruk, Choi Minho,”

“Walaupun begitu, hal itulah yang membuatmu cinta padaku,”

Demi apapun, kali ini Yuri tidak dapat menahan rasa ingin tertawanya. Betapa norak jaya kalimat pilihan Minho. Kemudian keduanya seperti kehabisan kata, sehingga memilih untuk menikmati udara malam yang berhembus kencang sejenak.

 

DRRRT! DRRRT!

 

From : My Only Yeoja

Minho-ah, aku tidak enak badan. Aku pulang duluan ya. Kulihat tadi kau masih mengobrol dengan Yuri, tidak enak jika kuganggu. Aku bawa mobil kok.

 

“Oh no,”

 

*****

Krystal tolah-toleh. Melihat ke kanan-kiri. Kemana Minho? Hanya mengambil minum saja lama sekali. Dia sendirian, sementara tidak ada satupun orang yang dikenalinya didalam. Tamu undangan yang hadir rata-rata dari kalangan pejabat dan orang politik. Tentu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan Krystal.

Gadis itu memutuskan untuk ikut mengambil minuman. Dia melihat sebotol wine berdiri dihadapannya begitu menggoda. Sayangnya, Krystal ingat kalau Minho tidak mau melihatnya meminum-minuman alkohol. Jadinya dia hanya mengambil jus jeruk saja.

“Apa kau benar akan pergi ke Amerika?”

Itu suara Minho! Krystal mengangkat kepalanya. Matanya lurus melihat Minho sedang berdiri didekat jendela. Disebelahnya ada seorang wanita yang bisa dia pastikan itu Yuri. Krystal mencari tempat untuk mendengarkan pembicaraan mereka. Mungkin dia bisa mendapatkan informasi dari sana.

“Hm.. Kau tidak menyimak sambutanku tadi ya?”

“Aku hanya memastikan saja. Tapi kenapa mendadak sekali? Apa kau sudah merencanakan ini matang-matang? Nanti kau kembali lagi ke Seoul kan?”

“Hei, kalau tanya satu-satu. Jangan seperti kereta api.”

Krystal kaget. Kenapa Minho begitu perhatian dengan Yuri? Buat apa dia bertanya seperti itu? Ini membuatnya semakin penasaran. Dia semakin menempelkan tubuhnya ke tembok. Mengawasi dari belakang keduanya yang sedang berdiri di sisi kiri balkon.

Yuri menjelaskan, “Ini tidak dadakan sama sekali. Semuanya memang sudah kurencanakan sejak awal. Kupikir, aku lulusan Harvard. Tidak ada salahnya jika aku meniti karierku sebagai pengacara disana. Tantangannya sangat banyak dan itu pasti sangat menyenangkan,”

“Kenapa tidak bekerja disini saja?”

“Aku ingin membangun citraku dulu. Kalau bekerja disini, semua orang pasti akan meremehkan usahaku dengan mengatakan aku mendompleng nama kakekku ataupun ayahku. Sementara di Amerika, tidak ada yang mengenalku. Aku bisa berekspresi semauku dan menunjukkan bahwa aku mampu. Makanya aku memutuskan untuk pergi ke Amerika,”

Dia tidak suka ini. Tatapan keduanya.. sekali lagi itu mengisyaratkan sesuatu. Sesuatu yang tidak ingin Krystal ketahui, sekaligus membuatnya penasaran.

“Apa kau yakin akan tinggal disana? Amerika jauh sekali lagi Korea. Aku khawatir anak manja sepertimu tidak akan bisa bertahan hidup disana,”

“Kenapa khawatirnya baru sekarang? Dulu aku pergi S2 ke Harvard wajahmu santai saja,”

Minho mencubit gemas pipi kanan Yuri. Membuat wanita cantik itu mengaduh. Krystal benar-benar terkejut. Dia mulai berpikir tentang tindakan fisik manja yang sering Minho tunjukkan padanya. Selama ini, apakah melakukan skinship seperti itu bagi Minho merupakan hal yang lumrah kah?

“Kalau dulu, cintaku padamu yang membuatku yakin kalau kau akan baik-baik saja. Sekarang, aku tidak ada didekatmu lagi. Aku harap kau bisa menjaga dirimu dengan baik,”

Cukup! Krystal segera beranjak dari tempat berdirinya sekarang untuk keluar dari ruangan. Tangannya menekan-nekan keypad qwerty-nya. Mengirimkan pesan untuk Minho yang intinya dia ingin pulang duluan. Syukurnya dia membawa mobil sendiri, jadi tidak bergantung pada suaminya itu untuk pulang.

Di mobil, air di matanya sudah tak kuasa untuk dibendungnya.

 

*****

Semenjak pulang dari ulang tahun Yuri beberapa waktu yang lalu, Krystal benar-benar menghindari pertemuan dengan Minho. Dia akan berangkat lebih awal ke butik, lalu pulang nyaris melewati tengah malam. Waktunya dihabiskan untuk mengerjakan semua pesanan yang dia dapatkan. Dia juga selalu menerima pesanan baju apapun dari kliennya. Yang penting, dapat menghabiskan waktunya dan menjauhkannya sementara dari Minho.

 

*****

Sudah seminggu lebih. Minho sadar kalau Krystal sengaja melakukannya. Krystal sengaja menjauhinya. Setiap hari berangkat sebelum jam setengah enam pagi. Lalu pulang hampir jam dua belas malam. Semula dia berusaha berpikiran positif, mungkin Krystal sedang kebanjiran order. Dia tahu kalau istrinya itu termasuk tipe orang yang perfeksionis. Jadi semua pekerjaan harus tuntas sampai akhir di tangannya. tapi apa iya dalam tujuh hari, gadisnya itu tidak menyempatkan sehari saja untuk pulang tepat waktu?

Yang dia tidak habis pikir, kenapa Krystal melakukannya. Dia ingin sekali menanyakan hal itu. masalahnya Minho sendiri juga sedang sibuk untuk hotelnya. Pulang-pulang badannya sudah lelah dan tidak menginginkan untuk berdebat juga. Sepertinya membiarkan masalah ini mengendap dulu lebih baik.

 

*****

Akhirnya Krystal jatuh sakit. Setelah dua minggu menghantam tubuhnya sendiri dengan bangun terlalu pagi dan tidur terlalu malam, kondisi tubuhnya sedikit demi sedikit drop hingga melemah.

Pagi ini saja, Krystal sudah dua kali muntah-muntah di kamar mandi. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Lebih parahnya lagi, gadis itu tidak mau makan dan minum obat. Saking rewelnya Krystal sampai Minho harus izin tidak masuk kerja dadakan karena mengurusi istrinya itu.

“Jagi,” panggil Minho dengan membawakan sebuah nampan berisi sup hangat dan teh. Dilihatnya istrinya itu meringkuk lemah dibawah selimut. Keringat dingin terus mengucur dari dahinya.

“Soojung-ah, ayo bangun dulu. Kau harus makan dan minum obat,”

Minho tahu cara membangunkan istrinya yang paling ampuh. Kepalanya dimajukan untuk mencium belakang telinga Krystal, dilanjutkan mencium bibirnya. Lihat, baru disentuh sebentar telinganya gadis manis itu sudah menggeliat. Matanya perlahan terbuka. Minho segera menunjukkan senyum hangatnya.

“Bangun dulu ya,” ujarnya membantu Krystal bangun dari tidurnya. Ditegakkannya bantal Krystal agar gadis itu bisa bersandar dengan nyaman. Minho menyodorkan secangkir teh chamomile kesukaan mereka. Yang dia tahu, meminum teh hangat di pagi hari itu mampu menambah tenaga.

Anehnya, yang terjadi justru Krystal meneteskan air matanya setelah meminum teh tersebut. Kontan Minho kebingungan. Tangannya mengangkat wajah Krystal. Membuat mata gadis itu menatap ke benik matanya. Dihapusnya air yang mengalir membasahi pipi merah Krystal.

“Hei, ada apa? Kenapa malah menangis?”

Krystal menggeleng pelan. Kembali menunduk.

“Aku salah ya? Boleh tahu apa salahku?”

Krystal kembali menggeleng. Makin membuat Minho frustasi. Baru akan melontarkan pertanyaan, handphonenya berdering. Minho mengambil teleponnya, membawa dirinya ke depan pintu. Sekretarisnya mengatakan ada sedikit masalah di hotel cabang dan membutuhkan tanda tangan Minho segera. Dengan berat hati, Minho mengganti pakaiannya.

Sebelum berangkat, Minho mencium dahi, kedua pipi serta bibir Krystal, “Aku berangkat ke kantor dulu ya. Tidak akan lama. Makan supnya lalu minum obat. Aku tidak mau melihat istriku terbaring seperti ini,”

 

*****

Dalam hatinya, Krystal bertanya-tanya sendiri. Begitu banyak hal yang sebenarnya ingin dia tanyakan pada Minho. Perihal hubungannya dengan Yuri. Kenapa waktu itu, Minho sampai mengatakan cinta-cinta pada Yuri? Mereka berdua punya hubungan khusus kah dulu? Dan.. bagaimana perasaan Minho saat ini? Semua pertanyaan itu terus berkecamuk di otaknya. Tapi Krystal tidak sanggup untuk bertanya. Lidahnya kelu. Dia belum siap sepenuhnya mendengar jawaban Minho yang mungkin saja tidak sesuai dengan harapannya.

Krystal tertawa miris jika mengingat percakapan Minho dengan Yuri kemarin. Mengingat betapa perhatiannya Minho pada wanita itu. Mengingat saat Minho mengucapkan kata cinta untuk Yuri. bahkan Minho tidak pernah sekalipun mengucapkan ‘saranghae’ padanya.

Apa? Minho tidak pernah sekalipun mengatakannya?

Helaan napas itu semakin berat.

Diliriknya kearah jam dinding. Sudah hampir empat jam Minho pergi. Sepertinya ada masalah yang cukup serius di hotel. Krystal beranjak dari ranjangnya, menuju kulkas di dapur. Sayangnya, dia tidak menemukan apapun disana. bagaimana dia bisa membuat makan siang untuk suaminya.

Krystal mengambil mantel dan kunci mobilnya. Dia akan pergi ke swalayan di daerah Myeongdong untuk membeli beberapa bahan makanan dan bumbu yang habis. Rasa sakit di kepalanya tidak dihiraukannya. Daripada Minho tidak makan?

 

*****

“Tomat, sudah.. daging cincang, sudah.. berarti semua sudah,”

Krystal berjalan pelan keluar swalayan. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas lebih. Sebentar lagi waktunya istirahat makan siang. Berarti dia harus buru-buru pulang dan menyiapkan makanan. Kasihan Minho kalau sampai pulang ternyata tidak ada makanan. Baru berjalan menuju parkiran..

DEG!

Apa ini?

Belanjaan itu jatuh semua dari tangan Krystal. Dia berdiri tertegun sendiri. Ada apa ini? sakit kepala yang dideranya bercampur dengan nyeri di dadanya begitu menyesakkan. Ini bukan pemandangan yang dia harapkan.

Dadanya seakan terhantam sebuah benda berat ketika dia melihat sesosok mirip suaminya sedang berpegangan tangan dengan perempuan. Bukan, bukan. Itu bukan Minho. Hanya tampak sampingnya saja yang mirip.

Air matanya kembali jatuh ketika Krystal mendapatkan fakta bahwa  pria yang dia sangka mirip suaminya itu benar-benar suaminya. Minho dan Yuri berpegangan tangan. Dan Yuri mencium bibir Minho. Dan Minho tidak menolaknya! Keduanya tertawa begitu senangnya. Sementara Krystal, hanya berdiri sendirian menatap semua kejadian singkat barusan dengan tatapan kosong.

“Soojung,” mata Minho tampak terbelalak melihatnya disana. Krystal tak menjawab panggilan Minho sama sekali. dia mengambil belanjaannya. Masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana. Butuh waktu untuk mencerna semua ini.

 

*****

Minho bolak-balik menatap kearah jam dinding. Sekarang sudah jam sepuluh malam dan Krystal belum pulang juga. Dia sudah menelpon semua orang yang memiliki kemungkinan menyembunyikan istrinya. Namun semuanya mengatakan bahwa Krystal tidak ada disana. Entah jujur atau tidak.

Rasa bersalah menyergap tubuhnya. Dia teringat, Krystal masih sakit. Dan sekarang dia tidak tahu Krystal ada dimana. Membiarkan istri yang sedang sakit berada diluar rumah sampai larut malam seperti ini merupakan kesalahan fatal dalam hidupnya. Ditambah lagi, keyakinannya bahwa Krystal melihat kejadian Yuri mencium Minho seperti tadi. Dia melupakan satu hal. Walaupun sangat manja, istrinya itu merupakan tipe orang yang suka memendam semuanya sendiri. Tidak mau orang tahu apa yang dia rasakan. Kejadian tadi siang tentu melukai perasaan Krystal.

Jarum jam terus berputar. Minho tidak bisa menunggu lagi. Dia harus mencari Krystal. Harus.

 

*****

Lagu A Thousand Years milik Christina Perri mengalun dari speaker toko dekat halte bus. Dada Krystal semakin nyeri. Ingatannya berputar pada saat-saat dimana keduanya pertama kali berkencan. Ingat sekali, Minho selalu memutarkan lagu ini di mobilnya. Mereka bernyanyi bersama. Tertawa bersama. Sampai akhirnya mereka menikah, keduanya masih sering mendengarkan lagu ini. Ada ucapan Minho yang selalu diingatnya dari lagu ini.

Semoga kita bisa bersama sampai seribu tahun nanti ya..

Butiran kristal mengalir lembut dari matanya. Dia mencintai Minho. Ya, Krystal mengakuinya. Bahwa Jung Soojung mencintai Choi Minho. Selama ini, dia bertahan atas pernikahannya karena cintanya pada Minho yang selalu menyeruak dalam tubuhnya. Tanpa dia sadari, pria itu berhasil membuatnya bertekuk lutut, membuatnya menyerahkan sebagian mimpi dan hidupnya. Sayangnya dia tidak tahu, apa Minho melakukan hal yang sama untuknya.

Hujan deras dan duduk sendiri di halte. Sakit. Tangannya mencengkram bajunya bagian dada begitu kuat. Ini pertama kalinya dia sakit hati karena pria. Believe it or not, Minho adalah cinta pertama Krystal. Sebelumnya Krystal tidak pernah terlibat hubungan apapun dengan pria karena kesibukannya sebagai desainer. Dan ternyata, sebegitu ngilunya tubuhnya karena sakit hati. Dia baru tahu.

Mata Krystal membesar. Melihat seorang pria basah kuyub duduk berjongkok dihadapannya. Menatapnya dengan begitu khawatir. Isakan Krystal semakin tak tertahan. Gadis itu menundukkan kepalanya. Tidak mau suaminya melihatnya dalam keadaan menyedihkan seperti sekarang.

“Apa melihatku saja sudah membuatmu sakit, Soojung-ah?”

Tubuhnya bergetar. Krystal sudah tak mampu menahan isaknya. Rasanya benar-benar pedih. Belum sembuh rasa sakitnya karena perkataan Minho mencintai Yuri waktu itu, hatinya sekarang kembali teriris akibat ciuman Yuri pada Minho tadi siang. Dia belum siap bertemu Minho sekarang.

Tangan pria itu terulur menghapus air mata di pipinya. Krystal mengangkat kepalanya. Betapa terkejut dia..

Minho menangis!

Krystal ingin menyentuh pipi suaminya itu, tapi tangannya tak mau digerakkan sama sekali. Keduanya sama-sama terdiam membisu di suasana malam yang sunyi. Hanya suara tangisan yang memekakan telinga mereka.

“Feelingmu soal hubunganku dengan Yuri memang benar. Dulu memang kami pernah memiliki hubungan yang sangat indah. Dia wanita yang sangat baik,” Minho mulai menjelaskan. Membuat Krystal mendengarkannya.

“Kami saling mencintai. Dia wanita pertama yang berhasil menyentuh hatiku. Segala tindakannya yang lembut, sikapnya yang dewasa, senyumnya yang menawan, aku menyukai segala hal yang ada dalam dirinya. Dia orang yang sangat baik. Yuri juga selalu mendukungku dalam hal apapun. Aku sangat beruntung memiliki seluruh cinta seperti yang diberikan Yuri padaku,”

“Kami berpisah saat aku mendapatkan berita dari appa bahwa aku akan dijodohkan. Waktu itu aku sangat marah dan kecewa. Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi tangisan Yuri setiap harinya. Mendengarnya menangis membuat sesuatu melolong dari lubuk hatiku. Sakit sekali,”

Tangis Krystal yang tadi sempat mereda kembali mengeras. Rasa nyeri itu kembali menjalari tubuhnya. Menyadari bahwa dia tidak mungkin mendapatkan hati Minho.

“Aku baru tahu kalau perjodohan ini permohonan eomma. Aku tidak kuasa menolaknya, mengingat aku satu-satunya anak mereka. Dan eomma juga sakit parah. Makanya aku memutuskan hubunganku dengan Yuri. Lalu mencoba mencari tahu siapa calon istriku. Waktu itu aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan bertahan dalam pernikahan ini hanya untuk eomma saja,”

Krystal menutup telinganya rapat-rapat, “Jangan diteruskan lagi! Aku tidak mau mendengarnya,”

“Biar saja..” Minho menjauhkan tangan Krystal, membuka telinga gadis itu, “Saat aku tahu kalau yang akan menikah denganku itu kau, entah kenapa hatiku menyambutmu  dengan suka cita. Aku begitu bersemangat atas pernikahan ini, waktu kulihat kau berjuang keras menolaknya demi cita-citamu. Walaupun tidak suka, tapi aku ingin kau menerima perjodohan ini. Aku sadar bahwa aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama padamu,”

Suara Minho melemah diakhir. Krystal terus menatap Minho yang masih berkaca-kaca. Dia menunggu pria itu mengatakan sesuatu. Sesuatu yang membuatnya yakin akan perasaan Minho padanya.

“Saranghae Soojung-ah. Neol jeongmal saranghae,”

“Aku mencintaimu seutuhnya. Semenjak pernikahan kita, aku memutuskan bahwa satu-satu wanita yang mengisi diriku hanyalah kau. Aku tidak akan peduli pada Yuri atau siapapun lagi jika itu justru membuatmu menangis seperti ini. karena satu-satunya orang yang kupedulikan saat ini hanya kau, Jung Soojung,”

Mata Krystal kembali berair. Kali ini bukan nyeri yang menyeruak dalam dirinya, melainkan kelegaan dan kebahagiaan. Senyumnya mengembang. Dipeluknya leher Minho begitu erat.

Kembali tak ada kata-kata. Tak ada yang terucap. Tapi tak apalah. Bagi Minho, pelukan Krystal ini sudah memberikannya jawaban. Itu sudah cukup baginya.

“Nado saranghae, oppa. Maafkan aku, selama ini meragukan perasaanmu padaku,”

Minho memeluk Krystal seerat-eratnya. Tidak mau gadis ini menghilang lagi dari hadapannya. Karena bahtera rumah tangga mereka yang indah ini tidak akan berhasil tanpa Krystal.

“Never mind, Soojung-ah. Kita berdua memang diciptakan Tuhan untuk bersama. We are a match made from Heaven,”

Krystal tertawa geli mendengar pilihan idiom yang buruk dari Minho. Tapi kalimat terakhir itu juga yang membuatnya sangat senang dan lega.

“I love you for a thousand more, honey,” ujarnya, masih mendekap tubuh Minho begitu erat.

“Me too, babe. Me too,”

 

After wedding, we are.. happily ever after.

 

-END-

22 thoughts on “After Wedding part 3 – END

  1. endingnya bikin perasaanku gusar sempet ngira kalo mereka bakal pisah ternyata engga,buat epilognya dong terus mereka udah punya anak,hehehe
    daebak chingu!

  2. halo, reader baru nih. Sebenernya udah baca dari part 1, cuman komen di sini aja, gk papa kan? hehheh

    jujur fanfic ini kereeen sangat. kalau ada tombol ‘add to favorite’ maka udah saya klik dari awal baca. bahasanya, top. alurnya, mantap. pokoknya sip deh. suka banget sama semua karakter tokohnyaa. apalagi nuansa ‘wah’ kehidupan orang banyak duitnya kerasa bangeet.

    tapi ada yang agak janggal bagi saya. pertama masa Minho nyium Sulli? wew padahal keduanya udah menikah. Trus keduanyaa masih mudaa banget udah berkeluarga. kalau gak salah tadi saya baca Krys umurnya 24 ya? berarti Taemin 25 dan udah sukses gitu? wew hebat bener.

    hahha itu aja. aduh sampe 3 paragraf komenya abal beneer. maaf ya, chingu =D
    jangan berhenti nulis. Keep writting, FIGHTING!

    • hahah persahabatan mereka emang aneh kok :p
      maaf yaa kalo agak kayal ceritanya, kalo terlalu logis namanya aku bikin KTI dong *pembelaan-_-
      aku seneng baca komen readers yang kayak novel kok
      kan jadi masukan buat aku juga😀
      gamsahamnida komennya ({})

  3. Waktu yuri memperkenalkan dirinya udah punya feeling soal hubungan minho ama yuri…aigoo krystal kasihan….sempat jengkel sama minho…yeay happy ending…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s