Seongsilhan

Seongsilhan

Romance & Sad | Characters : Jessica Jung, Lee Donghae, Im Yoona, Kim Jaejoong |

Aku bertahan karena kekuatan cintamu padaku

*****

Seoul, 15 April 2014

“Sica-ah, chukkae!!” pekik Yuri, segera memeluk erat sahabatnya itu.

“Gomawo, yuri-ah,”

Jessica tersenyum manis.

Kini gantian Kyuhyun yang mengucapkan selamat pada Jessica. Namja itu segera memeluk dongsaeng cantiknya, memutarkan tubuhnya sambil, “Chukkae uri Sooyeon. Selamat menempuh hidup baru ya! Jangan jadi istri yang manja,”

Disebelah Kyuhyun, berdiri Seohyun yang juga sudah siap untuk memeluk eonnienya itu.

“Selamat eonnie! Semoga pernikahan eonnie langgeng sampai maut memisahkan ya,”

“Gomawo Kyuhyun oppa, Hyunnie. Kalian juga harus cepat-cepat menyusulku lho,”

Kyuhyun terkikik. Tangannya merangkul bahu Seohyun erat, “Jangan khawatir! Sebentar lagi undangannya akan sampai ke rumahmu,”

“Ish, oppa,” seru Seohyun, mencubit perut namjanya.

Mereka tertawa bahagia, termasuk Jessica. Sampai matanya menangkap sosok dengan tuksedo putih dan kemeja dalam warna biru laut, sedang berdiri tak jauh darinya. Senyum itu memudar dari wajah Jessica.

“Oppa,”

*****

Seoul, 15 April 2006

Gadis itu benar-benar menarik. Matanya tak berhenti sedari tadi untuk memperhatikan gerak-gerik gadis itu. Disaat semua perempuan sibuk memperbaiki dandanannya yang agak berantakan sehabis latihan, gadis yang telah diselidikinya memiliki nama Jessica itu justru mengambil earphonenya. Kemudian bersandar disalah satu bagian tembok. Dan.. tidur.

“Apa yang kau perhatikan Donghae-ah?”

Donghae terkesiap. Dia mengelus-elus dadanya, menurunkan adrenalinnya yang baru saja terpacu karena kaget.

“Sialan kau, Hyuk,”

Eunhyuk tertawa. Badannya diturunkan, ikut duduk disebelah Donghae, “Salah sendiri melamun. Kau meli.. ah, sepertinya aku tahu kau melihat apa?”

Alis Donghae terangkat, “Memangnya apa?”

“Pasti kau ingin melihat apa yang ada dibalik rok-rok para gadis itu bukan?” seringai Eunhyuk, “Ayo mengaku saja!”

“Mwo?! Ya!” teriak Donghae memukul punggung cowok disebelahnya, “Aish! Jinja,”

Eunhyuk tertawa puas. Tentu saja dirinya sudah menduga reaksi Donghae akan seperti ini. Sejak kapan Donghae tertarik pada wanita? Bukannya berspekulasi, tapi faktanya diantara anggota Super Junior yang lain, hanya Donghae yang jarang menunjukkan ketertarikannya pada perempuan. Padahal, yang naksir dia sangat banyak.

“Kalau tidak salah, mereka Super Girl kan?”

“Ya, begitulah,”

“Aku kenal salah satu dari mereka. Yang itu..” Eunhyuk menunjuk seorang gadis dengan rambut warna pirang, “Cantik kan?”

“Hyoyeon maksudmu? Hm lumayan, ternyata seleramu tidak buruk juga,” kata Donghae, menganggukkan kepalanya.

Eunhyuk menepuk-nepuk dadanya.

Donghae terkekeh pelan. Matanya kembali tertuju pada satu-satunya gadis dengan kaos oblong warna pink. Saat ini, anggota Super Girl sedang latihan koreografi. Sepertinya untuk lagu debut mereka tahun depan. Terkadang Donghae heran. Melihat Jessica diteriaki pabo oleh kawan-kawannya karena dari tadi selalu salah melakukan gerakan. Herannya Jessica malah melet-melet sambil tertawa saja.

DRRRT! DRRRT!

Handphone Eunhyuk bergetar cukup keras. Bahkan Donghae ikut merasakannya. Eunhyuk segera mengangkat telepon yang masuk. Donghae mendengar kata-kata seperti ‘mwo?’, ‘jinja?’, dan ‘arraso’. Lalu mati.

“Ada apa?” tanya Donghae penasaran.

“Teuk hyung menyuruh kita berkumpul di dorm. Katanya akan memperkenalkan anggota baru kita,”

“Apa tidak bisa agak telat? Aku masih ingin disini,”

“Silahkan saja, jika kau ingin tidak dapat jatah makan malam,”

Kepalanya yang tidak gatalpun digaruk-garuk. Benar-benar mengganggu kesenangan orang. Terpaksa Donghae bangkit berdiri. Mengikuti langkah Eunhyuk keluar ruang koreo. Sambil jalan, dia mengingat-ingat kapan dia bisa mengambil jeda waktu untuk melihat Jessica latihan lagi. Habis ini mereka ada pengambilan video untuk perkenalan anggota baru, Cho Kyuhyun. Lalu latihan koreo. Ada latihan vokal juga atau tidak ya? Dia juga lupa.

BRUK!

“Aw! Mianhae, sunbae,”

Donghae mengelus-elus bahunya yang nyut-nyutan. Dia akan melayangkan protes, sebelum mengetahui kalau yang menabraknya adalah..

“Jessica-ssi,”

“Ah, Donghae sunbae. Jwesonghamnida,”

Dia berusaha menahan rona merah di wajahnya, “Gwaenchana,”

“Annyeong, sunbae,”

Gadis itu lari sekencang-kencangnya, menuju kearah toilet. Kelihatannya ada yang sedang kebelet kencing. Donghae tertawa pelan. Ah! Sesuatu terinjak olehnya. Kepalanya menunduk kebawah dan melihat sebuah buku notes kecil warna pink berada dibawah kakinya.

Dibukanya cover buku tersebut. Ini milik Jessica. Sepertinya terjatuh dari sakunya. Jessica memang memiliki kebiasaan membawa buku kecil kemanapun dia pergi. Katanya, otaknya terlalu penuh untuk mengingat menyanyi dan menari sehingga dia perlu notes ini untuk membantunya mengingat hal lainnya.

Cowok itu kembali berjalan keluar gedung SM. Fokusnya masih khusyuk membaca tiap lembar-lembar yang berisi jadwal keperluannya. Mulai dari ‘latihan koreo jam 8’ sampai ‘beli pembalut didekat dorm’.

“Ada apa denganmu?”

“Hah?” Donghae terkejut. Siwon sudah duduk disebelahnya ternyata. Dia juga tidak sadar.

“Wajahmu terlihat begitu ceria. Ada apa?” tanya Siwon lagi.

“Ani,”

Sepertinya Tuhan memberiku jalan untuk bersamanya, gumamnya dalam hati.

*****

Seoul, 28 April 2006

Jessica mendesah pelan. Dia menyerah. Seluruh sudut dari ruangan-ruangan, tempat dia berlatih kemarin sudah dicari. Namun tidak menemukan juga dimana notes kecilnya itu. Hilang dimana sih bukunya itu? padahal Jessica mencatat segala macam tetek-bengek hidupnya disana.

“Mencari ini, Jung?”

Gadis itu menoleh kebelakang. Matanya berbinar-binar. Sunbaenya berdiri dibelakang, dengan memegang buku notes kecil warna pink miliknya.

“Sunbae, kau menemukan bukuku? Ah gamsa..”

Baru saja Jessica akan menyautnya dari tangan Donghae, ternyata pria itu justru mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Tentu saja dia meloncat-loncat untuk mendapatkan, tapi sayang sekali dia kalah postur dari Donghae.

“Kembalikan bukuku, sunbae!” serunya sambil berusaha mengambil bukunya.

“Enak saja! Memangnya ada yang gratis di dunia ini? Kencing aja bayar,”

“Lalu?”

Donghae kini menyembunyikan tangannya dibelakang tubuhnya. Memajukan kepalanya hingga hanya berjarak beberapa senti dari wajah Jessica. Senyum menyeringai terpapar diwajah tampannya.

“Kau harus berkencan denganku,”

“Mwo? Kenapa aku harus melakukan hal seperti itu? Aish, cepat kembalikan, sunbae,” protes Jessica.

“Ya terserah saja, tapi aku berani jamin bukumu ini akan kembali tanpa kau bisa melihat keperluanmu selama seminggu kedepan,” kata Donghae santai.

“Bahkan kau tidak akan bisa melihat kapan jadwalmu membeli,” kini wajah Donghae tepat berada satu senti didepan Jessica, “Pembalut!”

Bibir Jessica menganga. Dipukulnya kencang-kencang cowok didepannya itu. kemudian tangannya terulur menutupi rona merah yang menyeruat keseluruh wajahnya. Donghae membaca hal itu? Aish sangat memalukan!

“Jadi gimana, nona Jung?” tanya Donghae masih dengan seringaiannya.

“Kau benar-benar menyebalkan, sunbae,”

Donghae tersenyum puas. dia melangkah meninggalkan Jessica sendiri di ruang koreo. Tangannya terangkat, membawa buku notes Jessica.

“Cha! Besok kita berkencan. Buku ini akan kukembalikan besok,”

Jessica mendengus kesal. Dia baru tahu kalau dibalik wajah malaikat Donghae, tersimpan sifat minta ditonjok.

*****

Seoul, 29 April 2006

“Wanna go somewhere, Jess?” tanya Tiffany melihat gadis itu sudah berpakaian rapi. Cukup mengherankan jika Jessica sudah bangun pukul enam pagi. Bahkan sudah rapi dengan pakaian joggingnya.

Jessica hanya menjawab dengan anggukan kepala.

Setelah berhasil mengikat kedua sepatu olahraganya, Jessica menitipkan pamitnya pada Taeyeon lewat Tiffany. Dilangkahkannya kedua kakinya meninggalkan dorm. Donghae benar-benar menyebalkan. Seharusnya jam segini, dia masih tidur enak-enak di kasurnya. Eh dia malah mendapatkan pesan dari cowok itu untuk menemuinya jam tujuh di taman dekat dormnya.

PUK!

“Aw!” pekik Donghae. Jessica duduk disebelahnya. Tangannya terbuka, seperti ingin meminta sesuatu.

“Apa?”

“Mana bukuku? Aku sudah menemui kan?”

Donghae tertawa, “Aku bilang, kau harus berkencan dulu denganku,”

“Ini kan sudah. Ayo kembalikan!” bela Jessica.

Donghae segera berlari santai, meninggalkan bangku taman yang didudukinya. Membuat Jessica bersumpah serapah, mengikuti langkahnya dibelakang. Kenapa Donghae harus semenyebalkan ini sih?

Eh?

Gadis itu terkejut. Tangannya tiba-tiba ditarik oleh Donghae, dimasukkan kedalam saku sweaternya. Ditatapnya wajah cowok yang kini berada disebelahnya itu. tak lama, pria itu ikut menatapnya. Dan.. tersenyum.

Astaga! Wajahnya pasti sudah memerah tidak karuan saat ini. Dia baru sadar mata Donghae begitu indah. Harus diakui bahwa dia sangat menyukainya.

“Ayo jalan bersamaku,”

*****

Seoul, 5 Mei 2006

“Sunbae,”

Donghae menengok ke arah kirinya. Menemukan seorang gadis dengan coat putih diatas lutut serta skarf merah yang tidak terikat, sedang berjalan kearahnya. Donghae harus bersyukur, wajah Jessica sudah tidak seganas kemarin pagi saat jogging. Sepertinya mulai luluh dengan sikap manisnya.

“Kau cantik,” puji Donghae.

“Aku sudah tau tanpa kau beritahu,” jawab Jessica kalem.

“Tapi terima kasih,”

Tangan Jessica digandeng halus oleh Donghae. Kemudian cowok itu mengeratkan topinya, menutupi wajahnya. Keduanya mulai menyusuri kios-kios sepanjang daerah Myeongdong. Mulai dari toko parfum, toko kosmetik, sampai toko baju.

“Donghae sunbae, ayo beli udang bakar itu!” ajak Jessica, menarik-narik tangan Donghae ke salah satu stand pedagang kaki lima. Wajahnya terlihat senang melihat asap putih hasil pembakaran arang itu mengepul-ngepul. Membuat Donghae tersenyum geli.

“Ahjussi, aku mau ini lima!” seru Jessica membuka semua jari tangan kirinya.

“Ya! Banyak sekali. Nanti kau gendut,”

“Tenang saja, aku tidak akan gendut walaupun makan sebanyak apapun,” ujar Jessica, “Ah gamsahamnida ahjussi,”

Donghae menyerahkan beberapa lembar uang seribu won kepada pria tua penjual udang bakar itu. Mereka melanjutkan acara kencan pertama keduanya. Kali ini, Donghae mengajak Jessica ke kios yang menjual pernak-pernik couple. Kaos, kemeja, gelang, sampai tas.

“Lihatlah, Jung! Ini lucu ya,” kata Donghae. Tangannya memegang salah satu gantungan handphone bergambar babi warna pink.

“Ah kyeopta!” balas Jessica yang memang menyukai aksesoris babi.

Donghae mengangguk-angguk, “Ayo kita lihat yang lainnya!”

Jessica mencibir, saat tangannya ditarik Donghae keluar toko itu, “Kukira kau akan membelikanku gantungan itu,”

“Kau sudah mengharap ya ternyata,” Donghae terkikik.

“Berisik! Diamlah kau,”

Jessica berjalan meninggalkan Donghae dibelakangnya.

Berjalan seharian, memasuki satu toko ke toko yang lain, membuat perut Donghae dan Jessica melolong kelaparan. Keduanya pun memutuskan untuk masuk ke food court yang ada di Lotte Departement Store.

“Aku ingin bubur labu saja,”

Donghae mendesis, “Aku jadi teringat Sungmin hyung mendengar labu,”

Jessica memutar matanya, “Kau ingin apa, sunbae?”

“Hm..” wajahnya tampak berpikir sejenak, “Sepertinya bubur sumsum enak,”

“Arraso, kau tunggu sini ya,” kata Jessica sebelum beranjak meninggalkan tempat duduknya untuk memesankan makanan. Donghae tampak terus menatap Jessica yang semakin menjauh. Dirasa aman, cowok itu mengambil handphone milik Jessica yang ditinggalkan diatas meja. Beberapa detik kemudian, dikembalikannya lagi ke tempat semula. Syukur Jessica masih jauh. Tidak tahu kalau handphonenya nyaris dicolong Donghae.

“Ah, maaf agak lama. Ramai sekali sih lotte hari ini. Ini dia pesananmu, sunbae. Ini punyaku,” Jessica menyerahkan semangkuk besar isi bubur warna putih kepada Donghae. Kemudian menaruh nampannya ke meja lain agar tidak mengganggu acara makan mereka.

DRRRT! DRRRT!

Gadis dengan rambut terikat satu itu melirik handphonenya yang bergetar. Oh, ternyata hanya pesan dari operator. Tunggu! Jessica merasa ada yang berbeda dari handphonenya. Apa itu.. ah ya! Diliriknya Donghae yang sibuk menyesap buburnya. Dengan gemas, dia menarik pipi kanan Donghae sangat kencang sampai membuat cowok itu mengaduh.

“Aw! Brutal sekali sih!”

Jessica menjulurkan lidahnya. Kemudian tersenyum begitu manis. Donghae tahu, gadis ini sudah menyadari perbedaan dari handphonenya pasti.

“Gomawo, sunbae. Gantungannya lucu,” kata Jessica.

Donghae tersenyum santai, “Jangan kau lepas gantungan itu! awas saja jika aku menemukanmu melepasnya, Jung,”

“Kenapa sih kau selalu memanggilku dengan sebutan Jung, sunbae,” protesnya heran.

Ganti Donghae yang menjulurkan lidahnya.

“Ah ya satu lagi, berhentilah memanggilku sunbae. Telingaku mulai sakit mendengar kata ‘sunbae’ terus. Panggil oppa saja lebih enak,”

Yang disuruhpun sempat mengangkat alisnya, sebelum akhirnya mengangguk paham, “Arraso, Donghae.. oppa,”

*****

Semenjak kencan pertama mereka, keduanya mulai tampak semakin dekat. Donghae akan  rela menunggu Jessica setengah jam hanya untuk mengajak gadis itu makan siang. Begitu pula jika Donghae belum ada didepan ruangannya, maka Jessica yang akan menghampiri cowok itu ke tempat latihannya. Terkadang, Jessica juga menyempatkan waktu untuk menonton penampilan Donghae. Seperti ketika SBS I-Concert, gadis itu berdiri ditengah-tengah untuk menonton pertama kalinya Super Junior tampil dengan 13 member. Donghae yang melihat gadis itu datang, langsung melemparkan senyum manisnya ke arah sebelah kanan, tempat Jessica berdiri.

Member Super Junior yang lain mulai melihat perubahan Donghae. sekarang member mereka yang satu itu terlihat lebih bersemangat saat latihan. Setiap hari wajahnya sangat ceria masuk ke ruang latihan. Padahal member yang lainnya saja masih ada yang berliur di wajah. Mereka mulai berpikir, hadirnya Jessica yang tidak pernah absen menemani Donghaepun menjadi suntikan motivasi tersendiri untuk cowok itu. maka dari itu tak heran jika setiap Jessica datang ke ruang latihan Super Junior, semua member mulai menggoda gadis itu.

*****

Seoul, 17 Juli 2007

“Aku takut, oppa,”

“Waeyo?” tanya Donghae, yang saat itu sedang mengupas apel didepan TV.

“Besok kami debut. Ottokhae?”

“Bukannya itu bagus? Dengan begitu kalian akan resmi masuk dunia entertainment Korea. Bukankah itu mimpimu selama ini, Jung?”

“Bagaimana jika besok aku melakukan kesalahan? Kau tahu kan kalau kemarin-kemarin aku sering lupa gerakan dance kami. Terus bagaimana jika banyak orang yang ternyata tidak menyukai kami? Bagaimana jika ternyata lagu kami nantinya tidak laku di pasaran? Bagai..”

“Jung,” potong Donghae cepat, “Semua akan baik-baik saja besok.”

“Bagaimana oppa tahu kalau semua akan baik-baik saja? Besok aku debut oppa..”

“Aku juga tahu kau debut besok, Jung. Kenapa kau jadi penakut seperti ini? tertular penyakitku ya? Bukankah selama ini kau bilang ingin memperlihatkan padaku seberapa hebat dirimu? Mau menarik kata-katamu sendiri?”

Suasana hening seketika menghampiri diantara kosongnya percakapan diantara mereka. Persis setelah cowok itu mencecar Jessica di telepon. Donghae mulai berpikir bahwa Jessica kaget akan nada tegas yang tadi dia keluarkan dan mungkin sakit hati. Buru-buru dia meralat, “Ah jangan tersinggung dulu, Jung. Maksudku..”

“Gomawo oppa,”

“Eh?” Donghae mengernyitkan dahinya.

“Aku lupa kalau aku sering mengejekmu ketika kau takut perform-mu buruk. Kau pasti berniat membalasku,” terdengar suara kekehan dari seberang telepon Donghae, “Baiklah, aku akan menunjukkan padamu bahwa aku sangat hebat,”

Donghae menarik napas lega. Kelihatannya gadis ini mengambil sisi positif dari perkataannya barusan. Syukurlah.

“Lakukan yang terbaik, Jung! Untuk dirimu sendiri,”

“Tentu saja!”

Tanpa mereka ketahui, senyum terulas di wajah keduanya di waktu yang sama.

*****

Seoul, 18 Juli 2007

Jessica menarik napas panjang. Ini saatnya. Dia harus melakukan pembuktian pada semua orang, pada dirinya sendiri. Bahwa Jessica Jung kini sudah siap melangkah ke dunia yang baru. Dia akan membuat semua orang bangga mengenalnya, lewat debutnya dengan SNSD.

Setelah berdoa bersama-sama dibalik panggung, Taeyeon memberi aba-aba mereka harus masuk ke panggung.

Kesembilan anggota sudah bersiap. Musik mulai diputar. Formasi V mulai terbuka. Jessica tersenyum. Menarikan koreo awal mereka ditengah. Taeyeon membuka penampilan diatas panggung mereka dengan suara indahnya. Diikuti oleh Seohyun. Jessica segera memasang senyum manisnya saat gilirannya yang bernyanyi. Dia berusaha memberikan yang terbaik.

“Dashi mannan uriye,”

Mereka menunduk, tanda penampilan selesai. Tepukan meriah mewarnai penutup penampilan mereka. Jessica mendongak. Melihat para penonton yang begitu terhibur dengan penampilannya. Matanya menyapu ke seluruh daerah penonton. Hingga menemukan seorang pria dengan topi hip hop hitam polos sedang mengacungkan jempol untuknya. Jessica mengangguk halus.

Aku berhasil, oppa.

“Say.. CHEERS!!”

Member SNSD dan Super Junior saling melakukan tos, merayakan debut dongsaeng Super Junior yang berhasil dengan sukses. Tawa menyelingi setiap canda mereka. Super Junior merupakan pendukung utama sekaligus yang terbaik pula bagi SNSD. Seperti tadi, seluruh member Super Junior, termasuk Siwon yang super sibuk, menyempatkan waktunya untuk menonton penampilan perdana mereka. Selain itu, oppadeul juga sering sekali memberikan masukan dan motivasi-motivasi yang bersifat membangun saat mereka latihan.

“Sudah kuduga kau disini,” ujar Donghae, sambil menyodorkan secangkir teh hangat.

Jessica tersenyum menyambut teh itu. Donghae tahu, rona wajah itu benar-benar sangat bahagia. Hilang kekhawatiran yang membuat gadis itu beberapa hari terakhir uring-uringan. Keduanya dengan tenang menyesap minuman di cangkir keduanya sambil menikmati udara malam di balkon dorm SNSD.

“Jung,”

“Hm?”

“Saranghae,”

Jessica dengan cepat menoleh. Wajahnya tak sanggup menutupi rasa kagetnya. Apa yang baru dikatakan Donghae barusan?

Donghae menghadapkan tubuhnya. Persis didepan Jessica. Setahun sudah mereka melakukan pendekatan. Saling memberikan semangat, mencurahkan perhatian. Sepertinya ini waktu yang tepat bagi Donghae untuk mengungkapkan perasaannya. Perasaan yang semakin lama semakin mengganggu tidur malamnya.

Diraih kedua tangan halus Jessica. Matanya menatap gadis itu di manik matanya. Wajah gadis itu tampak menunggu.

“Nan Jeongmal Saranghae, Jung. Aku menyukaimu sejak awal aku melihatmu. Aku semakin menyukaimu setelah aku mengenalmu. Dan aku baru sadar, bahwa aku cinta padamu. Entah sejak kapan. Aku benar-benar tak sanggup lagi untuk menutupi perasaanku padamu,”

Jessica masih terdiam.

“Aku tidak bisa menjanjikan apapun di masa depan untukmu. Yang aku tahu, aku mencintaimu. Sekarang. Semoga selamanya,”

Lidah Donghae mendadak kelu untuk meneruskan kalimatnya. Tubuhnya panas-dingin. Tapi, tidak ada waktu lagi jika tidak sekarang. Donghae membulatkan tekadnya.

“Bolehkah aku masuk dalam kehidupanmu? Menjadi salah satu bagian penting yang dapat menyokong hidupmu, Jung?”

Sudah. Perasaannya sudah setengah lega. Dia berhasil mengucapkannya. Dan sekarang, semua ada di tangan Jessica. Donghae tidak berani mengharap berlebihan, sementara dia tahu bahwa cukup banyak artis-artis di SM yang mengejar gadis ini.

Jessica tampak kaget mendengar pernyataan Donghae yang tiba-tiba itu. Dia harus menormalkan detak jantungnya menormalkan terlebih dahulu, sebelum menjawab pertanyaan pria yang setahun terakhir selalu bersamanya.

“A..”

“Jess, ayo ikut aku sebentar!” tiba-tiba Tiffany datang menarik tangan Jessica. Membuat gadis itu meninggalkan Donghae sendirian di balkon.

*****

Seoul, 10 Maret 2009

Dimana Donghae oppa?

“Ah!” pekik Jessica saat semua pandangannya menggelap. Seseorang menutup matanya dan dia tahu siapa yang melakukannya. Cowok itu sudah berdiri dibelakangnya dengan senyum khas kesukaan Jessica.

“Kenapa lama sekali sih? Aku sudah lapar, oppa,” rengek Jessica. Bibirnya dimanyunkan, menunjukkan bahwa dia sedang kesal.

Donghae yang gemas, mencubit hidung Jessica.

“Mianhae, kajja!”

Jessica mengangguk. Ditatapnya dandanan Donghae yang sedang fokus menyetir. Kemeja putih, jaket hitam polos, kacamata hitam, serta topi hip hop hitam andalannya. Sementara dirinya memakai hem lengan pendek yang ditutupi oleh jas penguin warna hitam. Dia juga memakai kacamata hitam dan topi. Kenapa pakaian mereka bisa senada begini? Jessica terkikik.

“Apa yang kau tertawakan?” tanya Donghae.

“Hah?”

“Kau tadi tertawa. Ada apa?”

Jessica mengangkat alisnya, “Memangnya aku tadi tertawa?”

“Lho? Bukannya begitu? Ah sudahlah,”

Sepertinya gadis itu terlalu sibuk dengan handphonenya sendiri. Tanpa Jessica sadari, Donghae sudah membawanya sampai ke Namsan Tower.

“Kita tidak jadi makan?”

“Jadi. Tapi aku ingin menghirup udara segar dulu diatas. Ayo turun,” Donghae yang keluar terlebih dahulu, membukakan pintu untuk Jessica. Dengan bergandengan tangan, keduanya berjalan menuju puncak dari Namsan Tower. Kebetulan hari ini keadaan agak sepi pengunjung. Membuat mereka cukup leluasa untuk saling menyentuh.

Jessica tersenyum melihat gembok-gembok disekeliling tower. Banyak sekali harapan dan cinta menyatu lewat gembok pasangan yang saling terkunci itu. Dibacanya satu per satu tulisan-tulisan yang ada disana. Setelah puas, matanya mencari dimana saat ini Donghae berdiri. Ternyata cowok itu sedang sibuk menikmati pemandangan Seoul.

“Jangan suka melamun. Nanti gila lho,”

Donghae mencibir, “Kau memang tidak pintar memilih kalimat yang manis ya,”

Jessica tertawa. Ikut berdiri disamping Donghae. Menghirup semilir angin yang melewati dirinya. Keduanya cukup lama keadaan hening berada diantara mereka. Terlalu fokus dengan apa yang ada di otak mereka masing-masing.

“Oppa,”

“Ne?”

“Apa oppa masih menyukaiku?”

“Hm,” Donghae mengangguk.

“Apa oppa masih mencintaiku?”

“Ne, waeyo?”

Jessica tampak menimang-nimang terlebih dahulu untuk mengatakannya, “Aku tidak semanis yang oppa kira,”

“Lalu?”

“Masih banyak juga yang lebih cantik dariku,”

“Aku tidak peduli,”

“Yang lain juga lebih baik dariku,”

“Itu urusan mereka. Yang menjadi urusanku adalah kau,”

Tanpa Donghae ketahui, Jessica tersenyum samar. Gadis itu melangkah menjauh. Mencoba menyibukkan diri dengan membaca tulisan-tulisan yang ada di gembok sana. Sedang asyik, tiba-tiba sebuah tangan menyodorkan gembok berwarna pink dan spidol.

“Ayo kita menuliskan harapan kita disini,” ajak Donghae, sambil menyodorkan spidol permanen warna hitam kepada Jessica. Gadis itu tersenyum, mengambil barang yang diberikan oleh Donghae. Wajahnya tampak serius berpikir. Kemudian menuliskan sesuatu entah apa di gembok itu. iseng, Donghae mendongak, mencoba melihat apa yang ditulis Jessica.

“Jangan mengintip!” serunya, membalikkan badan.

“Memangnya apa yang kau tulis sih?”

“Rahasia,” Jessica masih menuliskan sesuatu dibalik sana, “Sudah!”

Donghaepun mengajak Jessica untuk menaruh gembok mereka disalah satu tempat. Keduanya mencari tempat paling tinggi yang bisa mereka pakai untuk menyatukan gembok tersebut. Menurut keduanya, jika kita memiliki harapan, gantungkan harapan itu setinggi mungkin agar ada usaha dari mereka untuk mendapatkannya.

“Jung,” panggil Donghae, saat keduanya sedang berusaha mengunci gembok.

“Apa?”

“Aku mencintaimu. Benar-benar mencintaimu. Aku tidak peduli jika ada yang lebih baik, lebih manis, lebih cantik, lebih segalanya dari dirimu. Yang aku tahu, aku mencintaimu,”

“Apa oppa ingin tahu jawabanku? Aku bisa memberitahukannya sekarang,”

“Tidak,”

Jessica seketika mendongak. Menatap mata teduh Donghae yang selalu disukainya. Mencoba mencari tahu apa yang ada di pikiran cowok itu lewat matanya.

“Biarkan dulu aku mencintaimu dengan mengalir seperti ini. Aku ingin menikmatinya, saat dimana aku mencintaimu. Tapi aku berjanji, kau akan menjadi milikku suatu saat nanti,” jelas Donghae dengan nada yang begitu tegas.

*****

Seoul, 14 Oktober 2009

Mobil BMW 320i warna putih terparkir didepan apartement dorm Super Junior. Seorang gadis turun dari pintu pengemudi. Dengan rambut yang digulung keatas, dia melangkah membuka pintu pengemudi belakang. Mengambil sebuah kotak yang berisi kue ulang tahun. 11.55 PM. Dia harus bergegas.

Jessica sudah merencanakan hal ini sejak jauh-jauh hari. Dia selalu mencari celah-celah waktu untuk belajar membuat kue tart dari Hyoyeon. Kemudian kembali menyisihkan waktunya mencarikan kado berupa arloji sporty. Menurut penuturan Kyuhyun, gara-gara Donghae yang sering lupa waktu, jadwal Super Junior M sering kali molor. Makanya sepertinya cowok ini butuh arloji baru.

Ditekannya tombol 12 yang ada di lift. Sudah berulang kali dia datang ke dorm Super Junior membuatnya hapal lantai tiap anggota Super Junior. Gadis itu tersenyum ceria sambil melihat kembali isi kantong yang dibawanya. Sebuah kue tart besar juga kotak warna biru berisi kado darinya. Jessica tidak sabar untuk memberikan kejutan pada Donghae.

TING!

Pintu lift terbuka. Jessica keluar dari lift. Berjalan menuju apartement yang sekarang ditinggali oleh oppanya itu. Sebenarnya untuk kejutan ini, tidak ada satupun member Super Junior yang dia libatkan. Yang tahu saja hanya Kyuhyun (karena Jessica bertanya seputar kado padanya). Agak harap harap cemas juga. Takutnya nanti saat menekan bel, ternyata yang membukakan Donghae. Kan jadi tidak seru.

DEG!

Jessica tertegun. Kantong yang dibawanya seketika jatuh. Batal kakinya melangkah maju hingga sampai didepan pintu apartement. Dia merasakan kepalanya mendadak pusing. Dan tidak kuat untuk menatap apa yang ada didepannya.

Donghae menoleh. Menemukan Jessica yang berdiri mematung dengan bungkusannya yang tiba-tiba jatuh. Dilepaskan pelukannya dengan Yoona. Baru mau berjalan, Jessica sudah berlari kencang menuju lift.

“Jung!!” panggil Donghae saat mengejar Jessica yang turun. Terlambat, pintu lift sudah tertutup. Tidak kehabisan akal, dia berlari dengan tangga darurat. Berusaha mengejar. Namun sayang, Jessica sampai terlebih dahulu.

Didalam mobil, Jessica tidak mampu menahan aliran air matanya.

*****

Tidak ada lagi Donghae dan Jessica setelah kegagalan kejutan ulang tahun Donghae yang dibuat oleh Jessica. Keduanya seperti orang yang tidak saling mengenal. Jarang menyapa, berbicara seperlunya.

Keadaan ini cukup memprihatinkan dimata seluruh member, baik SNSD maupun Super Junior. Berulang kali Yoona mengatakan bahwa waktu itu mereka berpelukan karena ungkapan kesenangan saja atas CF pasangan mereka yang sukses. Dan berulang kali pula Jessica mengatakan bahwa dia tidak peduli dengan apa yang Yoona maupun member lain katakan. Yuri selalu ingin menangis saat melihat Jessica yang duduk didepan jendela termenung. Tak jarang gadis itu menitikkan air matanya disela-sela memandangi langit.

Member Super Junior selalu kesal bukan kepalang jika melihat Donghae yang marah-marah tidak jelas tiba-tiba. Kemudian mereka mendapati bahwa Jessica sedang digosipkan bersama pria lain di infotainment. Eunhyuk, yang paling dengan Donghae, sudah menyuruh cowok itu agar memperbaiki hubungannya dengan Jessica. Tapi sayangnya, sahabatnya itu sudah kehabisan akal untuk mendekati Jessica. Kesibukan yang semakin lama semakin membelenggu keduanya menjadi salah satu faktor sulitnya mereka berbaikan. Waktu tidak pernah bertemu dengan tepat. Setiap Donghae berada di belahan bumi timur, maka Jessica akan berlari sejauh mungkin ke belahan dunia bagian barat. Begitu pula sebaliknya. Namun faktor yang paling utama dari semua itu, keduanya saling menghindar.

*****

Seoul, 14 April 2014

“Jung,”

Donghae terkejut bukan main. Dikuceknya kedua matanya, berharap pemandangan dihadapannya itu bukan mimpi. Jessica sedang berdiri didepan dormnya. Sepertinya menimang akan menekan bel atau tidak. Donghae baru saja pulang dari pemotretan untuk majalan High Cut. Rasa lelah yang dirasakannya membuat dia berpikir bahwa hadirnya Jessica hanyalah ilusi belaka. Namun ternyata, itu nyata.

Jessica tersenyum. Sudah begitu lama Donghae tidak melihatnya. Tiga tahun? Empat tahun? Entahlah, dia juga tidak menghitungnya. Gadis itu berjalan mendekatinya. Berdiri tepat dihadapannya.

“Kenapa tidak masuk?”

“Aku.. menunggumu, oppa,”

Cowok itu mengernyitkan dahinya. Penasaran. Kenapa Jessica menunggunya?

“Kau mau ke lounge?”

“Gamsahamnida,” ucap Donghae saat pelayan mengantarkan dua cangkir berisi teh hangat. Disodorkannya salah satu cangkir kepada Jessica. Rasanya sangat nikmat, menegak secangkir teh di malam yang dingin seperti ini.

“Apa kabar dirimu?”

“Baik, oppa?”

“Setidaknya masih punya dua tangan dan dua kaki,” ujar Donghae asal.

Jessica terkikik.

“Lama juga ya kita tidak berbicara seperti ini. Ah rasanya jadi agak canggung,” desah gadis itu. Tangannya memegang tubuh cangkirnya yang hangat.

“Kau tidak berusaha menghubungiku,”

“Kau juga tidak berusaha menghubungiku,” balas Jessica.

Donghae tersenyum. Gadis ini masih sama seperti yang terakhir dikenalnya. Tetap menyenangkan. Tetap anggun. Jessica yang dikenalnya selalu tersenyum dalam keadaan apapun. Selalu cantik saat sedang diam maupun tertawa. Tidak berubah sama sekali.

Tiba-tiba Jessica mencari sesuatu dari dalam tasnya. Kemudian memberikannya pada Donghae. Sebuah undangan dengan kertas warna biru laut, warna kesukaannya. Disana tertulis ‘J&J’. Jessica & Jaejoong.

“Kau akan menikah?”

Kepala Jessica mengangguk berat. Tanpa suara.

Napas Donghae benar-benar sesak. Dadanya bergemuruh. Merasakan dia terjebak di pusara angin puyuh yang berputar tanpa henti. Jessica menikah? Ini bahkan tidak pernah ada dalam  mimpinya. Syok.

“Besok, aku akan menikah,”

Donghae berusaha untuk tersenyum, “Lalu kenapa masih disini, Jung? Ini sudah malam. Kau harus cantik besok pagi. Jangan sampai di hari bahagiamu, kau tidak mempesona semua orang,”

“Aku..” Jessica menelan ludah, “Ingin menghabiskan waktu terakhirku bersamamu, sebelum aku menjadi milik yang lain.”

Helaan napas panjang seketika keluar dari hidung Donghae. Cowok itu tahu dari mata Jessica. Ada sebagian dari diri gadis cantik itu yang masih menerima dirinya. Masih membuka hati untuknya. Sayang, itu hanya sebagian. Dan tidak cukup untuk menerima cinta dari Donghae seutuhnya.

Sunyi. Tidak ada satupun yang berbicara.

“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Donghae.

“Apapun,”

“Kenapa waktu pertama kali aku menyatakan padamu, kamu tidak langsung menjawabnya?”

Jessica tersenyum malu.

“Karena ada yang pernah mengatakan padaku, segala akan sangat indah saat kita sedang menjalani masa pendekatan. Waktu aku sudah menjadi milikmu, maka keindahan itu akan hilang dengan waktu. Aku tidak mau yang seperti itu. Makanya aku masih mengulur-ulur waktuku bersamamu,” jelasnya dengan tersipu.

Donghae tersenyum miris, “Kau keterlaluan sekali sih,”

Yang disindir masih tersenyum malu. Alasan yang diutarakannya memang bodoh sekali, bukan?

“Apa kau mencintai Jaejoong?”

Jessica menghela napas, “Hm begitulah. Aku merasa agak berat diawal aku harus menerimanya. Aku pernah dicintai olehmu dengan begitu indah, jadi aku selalu membandingkan setiap pria yang ingin bersamaku denganmu,”

“Wow, aku tersanjung,” kata Donghae datar.

“Aku serius. Tapi kupikir kehidupan akan terus berjalan. Aku tidak mungkin terus memikirkan yang ada dibelakang,”

Tanpa disadari, mereka menghela napas bersamaan. Rasa cinta mereka terhadap satu sama lain begitu menyesakkan. Donghae tidak pernah menyangka semua ini akan dialami olehnya. Jessica juga begitu. Dia pikir akan mudah sekadar memberikan undangannya kepada Donghae, karena hubungan mereka sudah tidak seperti dulu. Namun nyatanya, rasa itu masih ada untuk Donghae dan akan selalu ada untuk Donghae.

*****

Seoul, 15 April 2014

“Oppa,”

Senyum mewarnai wajah Donghae. Cowok itu melambaikan tangannya. Dilangkahkannya kedua kakinya mendekati pasangan yang baru saja melaksanakan akad nikah tersebut. Jessica terus menatapnya hingga sampai tepat berada dihadapannya. Semalam, sepulang dari menemui Donghae, dia masih wondering apakah pria itu mau datang ke resepsi pernikahannya. Rasa bahagia pun memuncak dalam dirinya saat melihat sosok yang ditunggunya sedari tadi.

Kini keduanya saling bertatapan. Saling bertukar senyum yang tak terbaca apa artinya. Mereka tak menyadari, bahwa semua member yang melihatnya saat ini sangat sedih. Dulu mereka pernah berharap, Donghae dan Jessica yang akan bersama disana. Berdiri menyambut mereka dengan senyuman yang bukan seperti sekarang mereka lihat. Manusia punya rencana, tapi sayang Tuhan memiliki kuasa.

Kebetulan Jaejoong, suami Jessica, kini sedang menyambut tamu yang lain dibawah. Donghae memberikan sebuah amplop pada Jessica.

“Bacalah,” ujarnya.

Dahi Jessica mengernyit. Dibukanya amplop tersebut. Dibacanya dengan seksama isi surat yang ditulis Donghae.

Maaf, aku gagal memenuhi janjiku padamu, bahwa aku akan membuatmu menjadi milikku. Tapi percayalah, jika kau melihat ke langit, kau akan menemukan bahwa masih ada dunia yang lain yang lebih indah dari sekarang. Aku akan memilikimu seutuhnya disana.

Terima kasih sudah memberikanku waktu untuk mencintaimu.

 

Selamat menempuh hidup baru,

Untuk Jung yang paling kucintai

 

“Terima kasih untuk mencintaiku dengan tulus, Donghae oppa,”

-END-

17 thoughts on “Seongsilhan

  1. Ceritax sedih…
    Padahal, aku berharap endingx HaeSica bersatu. Tapi, tidak apa2.
    Oh iya, bqn ff HaeSica lg ya, aku pengen genre family.😀

  2. author ini FF miris banget deh -,-
    Knp sica unnie nikahnya ama jae ?
    Knp bukan ama Hae ?
    Knp ? Knp? Knp ? *gakbisanerimakenyataan

    Buat yg HaeSica Marriage Life dong

    • hah? kan yang penting pada dasarnya mereka saling mencintai :3
      *alesan-_-
      gamsahamnida komennya ({}) waah kamu suka yang marriage life yaa :p ditunggu deeh ongoing kok

  3. Sumpah ya, awal pendekatan HaeSica memang manis tapi sayangnya harus berakhir dengan sedih… Duh… Tadi kukira Jessica nikah sama Donghae ternyata enggak… -_- Tapi… so sweet!!!! xD
    Ditunggu FF HaeSica selanjutnya

  4. Yah!kok bukan HaeSica sih! =[

    baca di awal2x nya manis eh akhirnya tragis.TT^TT

    minta sekuel!bikin konflik antara Hae-Sica-Jae dong!

  5. yah….endingnya buka haesica..andaii aja g ada kesalahpahaman itu terus haesica g sama2 menghindar…gimana lagi..author berkata lain#plak!
    Ditunggu karya lainnya.🙂

  6. Bikin jleb deh pas baca endingnya. Tapi, gak apa dah. Endingnya jleb, tapi ceritanya mantep. Tetep dong banyak part Haesica-nya, wkwk
    Itu gegara salah paham karena pelukan jadi fatal deh akibatnya, fiuuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s