The Forgotten Memories part 2

 

The Forgotten Memories

Romance & Marriage Life | Characters : Choi Siwon, Tiffany Hwang, Lee Donghae, Jessica Jung |

Ingatan terakhirku adalah ketika aku bertunangan dengannya, bukan menikah denganmu, Choi Siwon

*****

TOK! TOK!

“Miyoung-ah, ayo keluar! Kita sarapan pagi dulu,” ajak Siwon dari luar. Pria itu nampak menunggu sesaat. Sebelum kembali mengetuk pintu kamar yang ditempati Tiffany.

“Eomma sudah menyiapkan masakan untukmu. Apa kau tidak mau keluar?”

Tidak mendapat respon lagi. Ini ketiga kalinya Siwon mengetuk pintu. Mengajak perempuan yang ada didalam kamar itu untuk keluar kamar. Namun tidak ada jawaban juga.

“Miyoung-ah,”

“Kenapa kau ada didepan kamarku?”

Siwon menoleh. Mendapati Tiffany sedang berdiri didekat meja makan. Secangkir teh hangat berada di kedua tangannya. Dahinya tampak mengerut, merasa heran sepertinya.

“Bagaimana bisa kau ada disana?” tanya Siwon heran. Bukannya Tiffany belum bangun?

“Mau aku ada disini, disana, itu bukan urusanmu,” jawab Tiffany dengan ketus.

Ingin sekali Siwon menertawakan kebodohannya. Mau sampai jadi kakek reot jompo juga tidak akan ada yang menjawab ketukan pintunya jika orang yang dicari sudah diluar. Kakinya melangkah mendekati meja makan. Sudah ada Anna yang membawakan sepanci berisi samgyetang untuk hidangan sarapan pagi. Alex juga ada di meja makan, sedang membaca surat kabar berbahasa Inggris milik Siwon.

“Makanlah yang banyak, sayang. Kau harus cepat sembuh,” ujar Anna, sambil mencium kepala anaknya.

“Thanks, mom,”

“Anyway, how does your sleep, Miyoung?” tanya Siwon. Mencoba membuka pembicaraan.

“Quite nice,”

Pria itu terdiam. Bukan berarti dia menikmati santapan yang ada dihadapannya. Didalam kepalanya, dia teringat akan masa-masa awal berkenalan dengan Tiffany. Benar-benar masa yang penuh perjuangan jika dia mengenang kembali semua kejadian tersebut.

Tiffany Hwang–atau Hwang Miyoung–yang pertama kali dikenal olehnya adalah seorang perempuan modern yang sangat mendukung emansipasi wanita. Wawasannya sangat luas membuat pemikirannya begitu maju. Mungkin ini dikarenakan perempuan kelahiran 1 Agustus 1989 ini merupakan seorang aktivis sosial yang bergerak dibidang pendidikan. Kepribadiannya sangat mandiri, sabar, dan cermat terhadap segala sesuatu yang ada disekelilingnya. Memang cukup mengherankan, wanita sehebat dan seaktif ini ternyata sudah memiliki suami. Tapi seperti itulah kenyataannya.

Perkenalannya dengan Tiffany pertama kali disebabkan oleh kencan buta yang diatur oleh rekan kerjanya, Lee Hyukjae. First sight yang didapat Siwon ketika melihat Tiffany persis seperti judul lagu dari Snoop Dogg & Wiz Khalifa–Wild, Young & Free. Tampilan tubuhnya yang molek ditutupi oleh velvet dress warna hitam yang begitu menggoda, sempat membuat Siwon underestimate. Berpikir kalau perempuan ini tak ada bedanya dengan yang ada di club-club malam ternama. Namun saat mendengarkannya berbicara, Siwon tahu bahwa dia bukanlah perempuan sembarangan. Tiffany adalah perempuan berintelegensi tinggi yang memiliki sejuta kecerdasan tertumpuk di otaknya. Tipikal yang sangat berbeda dari yang pernah dia kenal sebelumnya–setidaknya yang dikenalkan oleh Eunhyuk. Sangat menarik.

Kemudian keduanya mulai mengalami masa penjajakan. Tak ada satupun momen yang dapat dilupakan Siwon ketika itu. Ketika pertama kali mereka berlarian ke halte saat hujan-hujan. Saat Siwon mendiamkan Tiffany menangis karena pertengkaran kedua orang tuanya. Ada juga yang sempat membuat laki-laki itu pontang panting, yaitu  ketika dia ingin mengajak Tiffany untuk sebuah makan malam. Setiap diajak keluar, dengan sopan perempuan itu menolak dengan alasan yang sama dari hari ke hari ‘sudah ada janji’.  Saat itu Siwon barulah menyadari, bukan hanya dirinya saja yang ingin menjadi bagian hidup Tiffany. Syukur pada akhirnya dirinyalah yang dapat memiliki hati Tiffany seutuhnya.

Namun itu dulu. Dulu. Sebelum terjadinya kecelakaan dua minggu lalu.

“Apa yang kau pikirkan?”

“Hah?” Siwon tersadar dari lamunannya. Tiffany sudah menatapnya dengan kedua alis yang hampir menyatu.

“Kau tidak suka masakan mom, ee..”

“Siwon!” celetuknya.

“Yeah,” kepala Tiffany mengangguk, “Whatever.”

“Apa kau mau eomma masakan yang lain, Siwon-ah?”

Siwon menggeleng halus, “Aniya eomma, ini saja cukup.”

Tangannya mulai kembali menyendok kuah dari samgyetag yang ada di mangkuk miliknya. Diliriknya makanan yang lainnya sudah hampir tak bersisa, sementara dirinya masih penuh. Berapa lama kira-kira dia melamun?

Kelihatannya Siwon terlalu terpaku dengan masa lalunya.

*****

Awkward. Satu kata yang mampu mendeskripsikan keadaan Tiffany dan Siwon saat ini. Keduanya sedang berada satu sofa di ruang tengah. Televisi LED yang tersedia dihadapan mereka memang menyala, namun tak ada satupun yang menontonnya. Baik Siwon maupun Tiffany lebih sibuk untuk saling melempar lirikan secara diam-diam. Orang tua Tiffany sedang ada urusan sehingga tidak ada di rumah. Tapi Tiffany sangat yakin bahwa urusan itu adalah reuni bersama teman SMA appanya.

“Miyoung-ah..” (Siwon)

“Siwon-ah..” (Tiffany)

Mereka menoleh. Menatap satu sama lain. Mengirimkan sinyal pertanyaan yang sama lewat hubungan mata mereka, ada apa?

“Ladies first,”

“Aku pendukung persamaan derajat antara pria dan wanita. Kau saja,”

Siwon tersenyum samar. Entah kenapa, tiba-tiba perutnya terasa mulas. Tangannya mengeluarkan keringat dingin. Rasa panik muncul seketika dalam dirinya. Bagaimana ini bisa terjadi, dirinya sendiri juga tidak mengerti. Siwon tidak pernah merasakan nervous yang seperti ini, dalam artian untuk jangka waktu yang cukup lama. Terakhir saat dia akan melamar Tiffany kepada orang tuanya. Dan sekarang dia kembali merasakannya.

“Em.. aku..”

Tiffany mengangkat alisnya, “Wae?”

“Berkencanlah denganku!”

“Mwo?”

Siwon mengangguk mantap, “Kau kehilangan ingatanmu selama lima tahun terakhir. Yang kau ingat adalah saat kau bertunangan dengan Donghae-ssi, bukan?””

Tiffany yang kali ini mengangguk.

“Aku ingin membantumu mengembalikan ingatanmu yang hilang. Kupikir, dengan membawamu ke tempat pertama kali kita bertemu, pertama kali berkencan, akan bisa membuat ingatanmu kembali. Maka dari itu, mari kita berkencan!” jelas Siwon.

“Apa ini memberikan efek padaku?”

Pria itu mengendikkan bahunya, “Kita tidak akan tahu jika tidak mencobanya bukan?”

Tiffany nampak membiarkan dirinya berpikir sesaat. Mempertemukan otak dan hatinya untuk menjawab ajakan tersebut. Sementara Siwon, yang mengajak, terlihat menunggu dengan rasa was-was. Ada dua pilihan yang kini menantinya. Yes, or no. Dia berharap, perempuan itu akan menjawab dengan kata yang pertama.

Agak lama suasana hening, sebelum Siwon melihat Tiffany beranjak dari tempat duduknya. Berjalan menuju kamar. “Mau kemana, Miyoung-ah?”

“Katanya kau ingin mengajakku berkencan, masa aku hanya memakai kaos oblong kebesaran dan hotpants,”

Aura cerah seketika mendatangi wajah Siwon.

*****

CKLIK!

“Jadi kita mau kemana?” tanya Tiffany setelah memasang sabuk pengamannya. Siwon telah duduk di kursi pengemudi. Bersiap untuk menjalankan mobilnya.

“Ke tempat pertama kali kita berkencan,”

“Aku juga tahu, tapi dimana?”

Siwon menatap Tiffany, tersenyum misterius.

“Jangan menatapku seperti itu! kau terlihat seperti om-om mesum yang ingin menerkamku sekarang,”

“Bukan sekarang, nanti,” ralat Siwon.

“MWO?!”

*****

“Namsan Park?” tanya Tiffany memastikan.

Siwon tersenyum, menggerakkan kepalanya keatas dan bawah.

“Ini tempat kencan pertama kita?”

“Ne. FYI, dulu untuk aku mengajakmu kemari saja, aku harus menculikmu dari candle light dinnermu dengan pria yang bernama.. Siapa ya..” tiba-tiba Siwon menjentikkan jarinya, “Ah! Ryeowook,”

“Aku baru tahu kalau suamiku itu memiliki catatan kriminal,”

“Kau bilang apa?”

Tiffany menggelengkan kepalanya. Sepertinya gumamannya barusan terlalu keras, hingga Siwon dapat mendengarnya walaupun samar. Keduanya berjalan melintasi pepohonan hijau nan rindang. Cuaca cerah pagi ini membuat kesegaran saat menghirup udara disini semakin bertambah.

Eh?

Tiffany menunduk kebawah. Dilihatnya perlahan, tangannya bersentuhan dengan tangan Siwon. Dan kini, pria itu telah berhasil menggandeng tangannya.

“Bolehkan?”

“Hah?” perempuan itu melongo.

“Seperti ini,” kata Siwon sambil mengangkat genggaman tangannya pada Tiffany. Dengan malu-malu, Tiffany mengangguk. Memperbolehkan Siwon untuk membungkus telapak tangannya.

Selama mengitari taman ini, Siwon dapat merasakan bahwa tatapan orang-orang sekitarnya tertuju pada dirinya dan perempuan disampingnya. Terdengar jelas kalimat-kalimat pujian dan perasaan iri yang terucap dari bibir mereka. ‘Pasangan yang sangat serasi’, ‘Sempurna sekali mereka itu’, dan masih banyak lagi perkataan yang membuat hati Siwon tersenyum. Ini persis seperti pertama kali mereka berkencan.

Lelah berjalan kaki, keduanya memutuskan untuk singgah disalah satu kursi taman yang tepat berada dibawah pohon Sakura besar. Dari tempat mereka duduk, dapat terlihat sebuah menara tinggi menjulang dengan puncak lancip yang biasa mereka panggil dengan Namsan Tower.

“Nih,”

Tiffany menoleh. Sebuah es krim cokelat tumpuk stroberi sudah menggoda lidahnya untuk segera dijilat. Disambarnya dengan sangat bersemangat es didalam cone itu.

“Pelan-pelan, Miyoung-ah,” ujar Siwon, melihat gaya Tiffany yang agak.. rakus.

“Habis es krim ini enak sekali. Terakhir aku memakannya bersama Donghae oppa waktu itu,”

Senyuman yang sedari tadi menghiasi wajah Siwon seketika menghilang. Tiffany menyebut dia terakhir makan es krim ini bersama Donghae? Pria itu mendesah. Pasti karena ingatannya kembali ke saat masih bahagianya bersama Donghae. Padahal, Siwon melakukan semua persis ketika kencan pertama mereka dulu. Tapi ternyata yang diingat Tiffany justru Donghae.

“Siwon-ssi, kenapa es krimnya tidak dimakan? Nanti keburu mulutku menyambarnya,”

“Kau mau?” tawar Siwon, disambut dengan anggukan semangat oleh Tiffany.

“Ambillah!”

“Jinja? Ah gamsahamnikka,” seru Tiffany begitu semangatnya. Lidahnya kembali bekerja menjilati makanan dingin berwarna coklat dan merah muda itu. Sementara Siwon, sepertinya pria itu sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Waeyo?” tanya Siwon, ketika melihat perempuan cantik disebelahnya itu menyodorkan kembali es krimnya padanya.

Mulutnya terbuka sambil berkata, “Aaa..”

“Sudah, untukmu saja,”

“Ani, buka mulutmu cepat! Aaa..”

Siwon menghela napas. Mulutnya terbuka, mendekati es krim yang ada didepan mulutnya itu. Namun tiba-tiba, Siwon justru menggerakkan telunjuknya kearah es krim dan mencoleknya ke hidung Tiffany.

“Ya!” Siwon tertawa geli. Tiffany yang tidak terima, segera membalas perlakuan Siwon. Sayang, pria itu lebih gesit. Dia sudah berdiri, mengambil langkah persiapan untuk kabur dari hadapan Tiffany. Maka, kejar-kejaran ala film India pun tak terelakkan.

“Siwon, kemari kau!”

*****

“Siwon?” panggil Tiffany saat mereka sudah berada didalam mobil.

“Hm?”

“Aku lapar,” rengeknya dengan aksen manja. Membuat Siwon geli mendengarnya. Kapan dia terakhir mendengarkan rengekan seperti ini? Entahlah, dia juga sudah lupa.

“Mana mungkin kencan tanpa makan malam spesial,”

Senyum lebar mewarnai bibir Tiffany, “Benarkah? Kita akan makan dimana?”

“Itu rahasia. Nanti kau juga tahu,” kata Siwon, dengan senyuman misteriusnya.

“Ah aku tidak suka ini. Jeongmal,” cibir Tiffany. Tak ada pembicaraan lagi setelah itu.

“Miyoung-ah?”

Kepalanya menoleh, “Apa?”

“Kau harus berhati-hati,”

“Untuk?”

“Kau harus berhati-hati, malam ini aku akan membuatmu mencintaiku lagi,” jawab Siwon dengan percaya diri.

Tiffany benar-benar berusaha untuk menahan tawanya yang nyaris meledak.

*****

“Sudah sampai,”

Siwon menatap Tiffany dengan senyuman khasnya. Dulu perempuan ini selalu mengatakan ‘aku suka senyumanmu yang seperti ini. Tersenyumlah seperti ini terus padaku ya’. Ah, sudahlah. Berhenti memikirkan masa lalu.

“Kita akan makan disini? Tapi kan restoran ini mahal sekali,”

Pria itu seketika mengernyit, “Kau lupa kalau aku sangat kaya?”

Tiffany mendesis, “Menyebalkan sekali sih,”

Dilepaskan sabuk pengamannya. Kemudian berjalan menuju pintu penumpang mobilnya. Mengajak Tiffany untuk masuk ke salah satu restoran bintang lima di Seoul. Ini tempat pertama kalinya mereka bertemu dalam kencan buta. Tempat paling bersejarah bagi Siwon, dan Tiffany seharusnya.

“Selamat malam tuan!” sapa seorang pelayan begitu ramah.

“Malam. Meja reserved atas nama Choi Siwon?”

“Ah, disana tuan. Mari ikut saya!”

Pelayan tersebut menunjukkan salah satu meja dipojok dekat jendela. Lewat jendela besar itu, mereka dapat melihat keindahan kota Seoul saat malam hari. Harus diakui, Tiffany sangat menyukai tatanan meja yang dipesan oleh Siwon. Mulai dari tirai disampingnya yang berwarna putih, taplak meja indah, lilin-lilin kecil yang berdiri menerangi meja, semuanya terlihat.. romantis.

Siwon menarik kursi untuk Tiffany. Mempersilahkan wanita cantik itu untuk duduk. Seorang pelayan pria menghampiri keduanya. Memberikan menu sangat ramah. Dengan patuhnya, dia mencatat semua pesanan yang disebutkan Siwon dan Tiffany. Setelah pelayan itu pergi, Tiffany mulai kembali menatap sekeliling restoran.

“Tempat ini sangat romantis, iya kan?”

Tiffany mengangguk sambil tersenyum. Raut wajahnya tiba-tiba berubah. Tangannya mencengkram, menekan keras daerah pelipisnya. Kepalanya sangat sakit, seperti ada palu yang memukul di tengkuknya. Siwon yang menyadarinya segera memeluk perempuan itu dari samping dengan hangatnya. Dirogohnya tas Tiffany, berusaha mencari obat yang ditaruh Tiffany didalam sana.

“Ini minum dulu,” kata Siwon lembut, memberikan sebuah pil warna putih dengan segelas air mineral. Dengan sabar, dia membantu Tiffany menghilangkan rasa sakitnya dengan memijat pelan kepalanya.

“Sudah lebih baik?”

Tiffany mengangguk, “Gamsahamida, Siwon-ssi.”

“Apa kau ingat sesuatu?”

Ada hawa tidak enak saat Siwon menanyakan soal itu. Tapi dia harus jujur. Tiffany menggeleng pelan. Sepertinya itu hanya sakit kepala biasa, bukan karena ada ingatannya yang kembali. Suara desahan yang keluar dari mulut Siwon dapat terdengar dengan jelas olehnya.

“Mianhae,”

Pria itu tersenyum, “Gwaenchana, Miyoung-ah.”

“Ah, makanannya datang! Ayo kita makan,” ajak Siwon, saat pelayan yang tadi kembali ke meja mereka dengan membawakan dua nampan pesanannya. Keadaan yang sempat canggung itu meleleh dengan aksi spontan Siwon menyuapi Tiffany. Keduanya saling melontarkan guyonan hangat yang tentu diselingi dengan suap-suapan.

“Makanannya sangat lezat,” puji Tiffany, “Gamsahamnida, Siwon-ssi,”

“Hari ini kau terlalu banyak mengucapkan terima kasih. Kau pikir ucapan saja cukup?”

Tiffany mengerutkan dahinya, “Lalu?”

“Ayo kita berdansa!”

“Mwo?”

“Aku tahu kau cukup ahli masalah berdansa. Tidak perlu mengelaknya, apalagi menolak,” decaknya.

Siwon menggenggam halus tangan Tiffany. Tangannya satu dilingkarkan ke pinggang perempuan itu. Kemudian meletakkan tangan Tiffany ke bahunya. Mereka mulai menggerakkan kaki seirama dengan musiknya. Sesaat Siwon melepas pegangannya pada pinggang Tiffany, menyuruhnya untuk berputar. Ada tawa yang sesekali menyelingi gerakannya. Tanpa mereka sadari, dansa spontan yang mereka lakukan ini telah menjadi hiburan sendiri bagi pengunjung yang lain.

Sungguh, ini benar-benar malam yang indah bagi Siwon maupun Tiffany.

“Jadi kencan kita ini belum membuahkan hasil untuk ingatanmu ya?”

Tiffany seketika merengut, “Kenapa kau mengingatkannya? Aku sedang berusaha menikmati dansa kita, tahu!”

Siwon tertawa kecil, “Jangan khawatir! Aku tidak akan menyerah untuk membuatmu mengingatku, semua tentang kita. Tidak akan pernah.”

TBC…

35 thoughts on “The Forgotten Memories part 2

  1. Kyak.a q pembaca pertama nih.hehehe
    wah. . .fany blum ingat juga pdahal siwon sdah brpa kli mncba.a. . .
    Kapan haesica couple muncul???

  2. wah semoga Fany unnie bisa inget Wonppa lagi🙂
    ayo semangat oppa , buat tiffany unnie inget lagi ,
    author jangan lama2 ya , FIGHTING !

  3. siwon oppa yg sabar yach …………………
    awas klo nggak sabar……………aku cariin suami baru buat uri eunni………….:P

  4. Ahhhhhh siwon appa romantis banget sama tipany umma
    semangat siwon appa
    aku slalu mendukungmu :)))
    tipani disini manja banget yaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s