Blind Dates Special – 15th Century

Blind Dates Special part 1 (15th Century)

Romance, Humor & Reality Show | Characters : Lee Sunkyu, Lee Sungmin, Kim Jong Kook, Lee Hyorin

sebuah reality show yang akan mempertemukanmu dengan takdirmu, percaya?

*****
“Tepat berada di jantung Kota Seoul..”

“Tempat dimana hanya ditemukan keceriaan dan tantangan..”

“Adakah cinta yang tersembunyi disana..”

Suasana menghening sesaat.

“Dan inilah program acara yang sudah kita tunggu-tunggu.. BLIND DATES!!”

Tepukan dan sorakan menggema keseluruh sudut menyambut pembukaan program Blind Dates, program TV yang saat paling dinanti oleh masyarakat Korea. Dengan pembawa acara Kim Jong Kook dan Hyorin SISTAR, mari kita saksikan.. BLIND DATES!

*****

“Benar ini tempatnya, hyung?” tanya Kyuhyun.

Siwon mengangguk mantap. Kepala mereka mendongak, membaca dengan baik-baik nama tempat yang kini mereka injak. Kyuhyun sendiri sepertinya masih bertanya-tanya, mereka salah datang atau tidak.

“Kita ini mau sebenarnya mendapat undangan jadi peserta untuk kencan buta atau untuk baby sitter sih,” Kyuhyun menggelengkan kepala, yang langsung mendapatkan getokan dari Siwon. Keduanya mulai berjalan masuk ke Lotte World mengikuti arah yang ditunjukkan oleh peta. Selama perjalanan, Kyuhyun selalu mengeluarkan kata ‘Whoa’, ‘Aigoo’, ‘Mwo’ untuk setiap pemandangan yang ditawarkan oleh Lotte World.

“Ya! Berhentilah menggumam tidak jelas, Kyu,”

Kyuhyun mencibir, “Aku ini kagum, hyung,”

“Apa?”

“Kapan lagi kita bisa masuk Lotte World sesepi ini tanpa bayar? Benar-benar menyenangkan,”

Siwon menyindir, “Sepertinya masa kecilmu kurang bahagia,”

Namun tidak mendapat tanggapan dari yang disindir. Mereka masih terus menyusuri jalanan yang kosong melompong di taman bermain ini. Entah sudah berapa jauh keduanya melangkah, herannya tidak ada yang menyadarinya.

“Hyung,”

“Ne?”

“Kenapa dari tadi kita tidak sampai-sampai ya?”

Merasakan bahwa pertanyaan Kyuhyun ada benarnya, Siwon mencoba mengeluarkan map yang sedari tadi disimpannya didalam tasnya. Dia mencari panah penunjuk jalan yang ada di jalan. Mencocokkan dengan yang tertera di peta.

“Astaga! Kita salah jalan!”

*****

“Yayaya,” pekik Kim Jong Kook saat melihat Donghae dan Sungmin berjalan penuh senyuman kearah mereka.

“Annyeonghaseyo!” sapa Sungmin dan Donghae ramah.

Sorak-sorai dari para penonton yang ada di Young Stage menyambut kedatangan dua personil boyband Super Junior. Seperti yang kita ketahui, Super Junior merupakan salah satu boyband percobaan. Berkat kegigihan dan kerja keras antar anggota, membuat grup satu ini dapat bertahan hingga sekarang.

“Apa kita sudah bisa memulai acaranya, oppa?”

“Kita masih menunggu dua bintang tamu yang lain. Kira-kira siapa bintang tamu kita lainnya?”

Suara hingar-bingar pun bertanya-tanya siapakah bintang tamu mereka selanjutnya. Hyorin pun membuka pembicaraan dengan pertanyaan, “Kalian datang cepat sekali. Lebih cepat lima belas menit dari waktu yang ditentukan. Apa kalian tidak kesulitan menemukan tempat ini, oppa?”

“A..”

“ANNYEONGHASEYO!!”

Teriakan seseorang dari kejauhan membuat Donghae menghentikan sejenak omongannya. Dia melihat ada dua orang laki-laki yang berlari kecil dari arah World Monorail, kereta gantung yang mengantarkan setiap pengunjung untuk mengelilingi seluruh wilayah Lotte World. Yang satu sibuk melangkah dengan riang, yang satunya lagi harus lari sampai ngos-ngosan.

“Kyuhyun-ah! Jangan seperti anak kecil!” teriak Siwon, yang sedang berdiri ruku’. Berhenti ditengah jalan sejenak untuk menarik napasnya yang sudah protol. Riuh rendah penonton semakin kencang ketika langkah Kyuhyun dan Siwon semakin mendekati panggung. Keduanya langsung memasang senyum cerianya, sambil sesekali membetulkan poninya.

“Wah, aku benar-benar kaget melihat bintang tamu yang begitu tepat waktunya datang,” puji Jong Kook.

“Terima kasih, tapi kami memang berprinsip bahwa datang lebih cepat lima menit artinya tepat waktu sementara datang tepat waktu artinya terlambat,” ujar Kyuhyun dengan santainya. Namun membuat semua orang yang ada disana menahan diri untuk tidak menonjok wajahnya yang menyebalkan itu.

“Kau datang lebih cepat dua menit, bukan lima menit, Kyu.”

Perkataan Hyorin langsung membuat wajah Kyuhyun memerah. Sementara yang lainnya terkekeh pelan. Dari sini, dapat dipastikan bahwa bintang tamu mereka seluruhnya adalah member dari Super Junior. Disisi kiri Kim Jong Kook kini sudah ada Kyuhyun dan Sungmin. Sementara Siwon dan Donghae berada disisi kanan Hyorin.

“Bagaimana kawan, apa kalian sudah siap untuk mengikuti permainan hari ini?” tanya Jong Kook.

“Em.. sebenarnya perutku sudah mulas sejak kemarin, membayangkan apa yang akan terjadi hari ini,” ungkap Sungmin, menggosok-gosok kedua tangannya yang dingin.

“Iya bahkan semalam hyung tidur sambil menggemeretak mengatakan ‘aku mau Sunny’ ‘aku mau Sunny’ berulang kali,” sindir Kyuhyun. Langsung tatapan tajam seluruhnya terarah kepadanya. Sontak tawa kegelian segera memenuhi ruangan.

“Baiklah daripada kita membuat Sungmin-ssi semakin menunggu Sunny,” Jong Kook melirik ke sebelah kirinya, “Sebaiknya kita mulai untuk mengundi saja.”

Siwon mengerutkan dahinya, “Mengundi?”

Jong Kook mengangguk sambil mengobok-obok isi kotak yang dipegang olehnya, “Ne, kita mulai dari Donghae-ssi,”

“Mwo? Aku? Oh..” laki-laki itu meniup kedua tangannya yang dingin, menempelkannya ke pipi. Tangannya berputar-putar didalam kotak hitam yang dibawa Jong Kook.

“Hyung, cepatlah ambil salah satu kertasnya!” seru Kyuhyun.

“Hei, styrofoam-nya menempel disela jariku,” desis Donghae, sebelum akhirnya berhasil satu kertas yang diselubungi oleh sedotan.

Baru akan membukanya, Hyorin buru-buru  menepus tangan Donghae, “Jangan dibuka dulu, oppa!”

Kemudian giliran Kyuhyun yang mengambil undian. Tidak butuh waktu lama bagi laki-laki kelahiran 3 Februari 1988 ini untuk memilih salah satu diantara kertas-kertas yang ada didalam sana. Disimpannya kertas undian itu didalam kantung jeansnya.

“Hah, sekarang giliranku!” Sungmin yang paling terlihat grogi. Beberapa kali laki-laki berwajah imut itu menghela napas panjang sambil memegangi dadanya. Berharap dengan begitu akan membuat rasa panik dalam dirinya menghilang.

“Ayolah Sungmin-ssi, rileks saja,” hibur Jong Kook.

“Wajahmu seperti sedang menunggu jawaban lamaran, hyung,” celetuk Siwon.

“Diam kau!”

Setelah Sungmin mengeluarkan tangannya dari dalam kotak, Siwon pun maju dari tempat berdirinya. Dengan senyum berlesung pipit yang khas, dimasukkan tangannya kedalam lubang. Mengobrak-abrik dulu isinya sekalian mencari kertas bertutup plastik yang tersisa.

“Siwon-ah, makanya berhentilah fitness! Lihat betapa besarnya tanganmu hingga tidak bisa keluar dari kotak,” ujar Donghae.

“Lihat nanti di dorm, Mokpo!”

Semua terkikik.

“Kelihatannya sudah memiliki kertas seperti ini semua bukan? Baiklah, kami akan memberitahukan peraturannya sekarang,”

Jong Kook mempersilahkan Hyorin untuk membaca peraturannya terlebih dahulu.

“Thank you so much, Jong Kook oppa,”

“My pleasure, dear,” ucap Jong Kook dengan nada manja. Menimbulkan sorakan ramai dari para penonton.

“Ya hyung! Jangan sok ber-aegyo seperti itu padanya,” protes Kyuhyun, yang segera menjauhkan Hyorin dari Jong Kook.

“Kyuhyun-ah, tidak perlu cemburu. Sehabis ini kujamin kau pasti akan jadian dengan wanita cantik, bukan dengan dia,”

Hyorin langsung menyipitkan matanya, “Jadi maksudmu, aku bukan wanita cantik begitu?”

“Ah aniya, maksudku.. Astaga! Kenapa kita jadi membahas hal seperti ini? Sudah. Hyorin-ah, jelaskan saja peraturannya bagaimana,” suruh Jong Kook dengan wajah merengut. Menjadi bahan tertawaan bagi yang lain.

“Didalam plastik itu terdapat sebuah kertas yang akan menunjukkan dimana tempat kami menaruh petunjuk. Petunjuk tersebut berbentuk bola berwarna emas yang didalamnya berisi gulungan kertas untuk menuju lokasi pasangan kencan buta kalian. Waktu yang kalian dapat digunakan untuk mencari bola emas sampai menemukan pasangan kalian dimulai dari pukul sepuluh sampai pukul satu siang ini. Setelah terpenuhi semua, kalian harus kembali kemari. Paham?”

“Ne!”

“Oke, akan kuhitung mundur,” Jong Kook bersiap dengan stopwatchnya, “Tiga.. Dua.. Satu.. Go!”

*****

– SUNGMIN –

“Find Our King Taejo,” ucap Sungmin berdasarkan tulisan yang tertulis di kertas miliknya. Laki-laki itu seketika mengkerut.

“Waeyo, Sungmin-ssi?” tanya kameramen yang bertugas menemani laki-laki itu.

“Nilai sejarahku dulu sering tidak lulus. Aku tak tahu siapa King Taejo itu. Apa dia seorang atlet bulutangkis?”

Tak mau membuang-buang waktu, Sungmin segera berlari meninggalkan gedung show yang berada di kawasan Magic Island di Lotte World. Sambil menyusuri jalan, dia mengeluarkan peta taman hiburan yang dia miliki.

Sungmin tampak mulai menganalisa, “Karena kupikir raja itu berada di zaman dahulu, seharusnya dia berada di museum kan? Mungkin kita harus ke Folk Museum.”

Young Stage

Jong Kook       : Wah, Sungmin-ssi cepat sekali membuat hipotesanya! Dia sangat pandai.

Hyorin             : Harusnya kita tidak mengundangnya.

Jong Kook       : (memandang rekannya tanpa ekspresi)

Kemudian mereka mulai berlari melewati kawasan 2F menuju kawasan 1F yang kebanyakan berisi wahana-wahana petualangan yang menegangkan. Sungmin membaca kembali map yang ada di tangannya saat dia sudah berdiri didepan tempat ice skating.

“Kalau ini tempat skate.. ah, ini garden stage. Sepertinya ke kiri,” katanya sambil memperhatikan setiap jalan yang dilewatinya. Benar saja, tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang, terlihat gate menuju kawasan 3F, tempat beradanya Folk Museum.

The Lotte Folk Museum merupakan museum sejarah bernuansa modern. Walaupun judulnya museum, bukan berarti tempat ini sepi pengunjung. Banyak sekali anak-anak yang saat musim liburan mendatangi Folk Museum ini. Segala hal mengenai budaya dan cerita masa lampau Korea semua dijelaskan secara jelas dan menyenangkan disini. Selain itu, media dan reka model kehidupan bangsa Korea jaman lampau juga tersedia lengkap disini, baik secara visual maupun audio. Tak heran, The Lotte Folk Museum menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi oleh para wisatawan di Lotte World.

“Ahjussi, apa kau tahu King Taejo ini berada pada dinasti kapan?” tanya Sungmin pada salah satu kru Blind Dates.

“Mana kutahu. Aku tidak pernah belajar sejarah selama sekolah,”

Laki-laki itu mendengus kesal, “Aish, tempat ini luas sekali. Mana mungkin aku mengitari seluruh––Ya! Sudah hampir setengah jam!”

Dengan cepat Sungmin mengelilingi sepintas ruangan pameran sejarah di museum ini. Di Historical Exhibition berisikan tentang kehidupan masa lampau pada Dinasti Goryeo. Selama didalam, Sungmin tidak membiarkan matanya tertutup sedikitpun.

“Sungmin-ssi, jangan lupa untuk berkedip dan menutup mulutmu yang menganga dari tadi,” ingat kameramen.

“Aku takut saat mataku berkedip, ternyata bolanya sudah terlewat,” ujarnya sambil menyapukan pandangannya kearah ksatria-ksatria mini warna cokelat itu.

Hampir setiap ruangan di tempat itu telah ia kelilingi, namun hanya mendapatkan nihil. Wajah Sungmin sudah agak putus asa sewaktu dia memasuki ruangan yang berisi miniatur kehidupan kerajaan Choseon. Mengapa dia tidak menemu––

“Itu bola emasnya!” pekik Sungmin. Segera disambarnya sebuah bundaran pejal yang bersembunyi dibalik model mini sebuah peternakan kuda. Sungmin terlihat melonjak-lonjak bahagia.

First Mission Completed!

*****

“Apa yang kau lakukan disini, Sungmin-ssi?” tanya sang kameramen ketika yang ditanya itu mendudukkan dirinya didepan stand hotdog.

“Kau tidak lelah berlari sejak tadi sambil membawa kamera? Kemarilah, kau duduk disini. Kita minum es limun dulu,” ajak Sungmin.

Young Stage

Hyorin             : Sepertinya es limun milik Sungmin-ssi sangat segar.

Jong Kook       : Tak ada yang lebih menyegarkan dari melihat wajahmu tersenyum.

Hyorin             : (memberi tatapan sinis) Dasar penggombal gagal!

 

Napas Sungmin sepertinya sudah mulai menormal. Memang itulah tujuannya memilih untuk duduk sejenak setelah hampir setengah jam berlari-larian tanpa henti. Dengan santai dia memutar bola emas itu, mengambil gulungan kertas kecil yang ada didalamnya.

Pergi ke Desa Tradisional Yongin. Temukan gadis muda berkumis dengan hanbok yang paling istimewa.

“Ya! Ayo kita ke mobil sekarang!” serunya sambil menarik-narik tangan kameramen disebelahnya. Mereka bergegas menuju parkiran, mencari mobil yang sudah diberi pengenal untuk Sungmin. Personil Super Junior ini segera menyuruh supir untuk menjalankan mobilnya menuju Yongin.

“Kenapa tidak ada GPS?”

“Yang disediakan disini hanyalah peta Kota Seoul,” kata supirnya.

Sungmin tampak mengerucutkan bibirnya. Terpaksa dia menarik peta tersebut dari kantung belakang jok penumpang depan. Telunjuknya mulai menyusuri keberadaan mereka sekarang. Setelah itu mencari dimana letak Desa Yongin. Lalu menghubungkan keduanya. Mobilpun berhenti karena sedang terkena lampu merah.

“Ahjussi, kita ke arah selatan ya,”

Dengan sopan, supir itu mengangguk. Mengendarai mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi, namun tetap berhati-hati. Tiga puluh menit kemudian, Sungmin dan kru sampai di Desa Tradisional Yongin. Sesaat dia terpana dengan pemandangan yang ditawarkan di desa ini.

“Aku merasa seperti kembali ke kehidupan tahun 1800-an melihat semua ini,” kata Sungmin dalam perjalanan menuju gerbang masuk desa.

“Memangnya tahun segitu kau sudah hidup?”

Sungmin mendesis, “Itu hanya perumpamaan,”

Dengan santainya, mereka berjalan mendekati gerbang masuk. Namun saat Sungmin mau masuk kedalam, dua orang bertubuh dua kali lebih besar dari Kangin menutupi jalannya.

“Ahjussi, izinkan aku lewat,” pintanya pelan.

“Tidak! Kalau tidak memakai hanbok, dilarang masuk!”

Sungmin melongo, “Mwo?! Wae?”

“Kau buta? Sudah jelas tertulis disana,” ujar salah satu penjaga itu. Telunjuknya terarah ke sebuah bingkai besar yang bertuliskan tentang peraturan bagi pengunjung. Ternyata benar. Aturan bahwa pengunjung diwajibkan menggunakan pakaian tradisional Korea itu bahkan tertulis nomor satu. Sial sekali, karena Sungmin tidak membawa pakaian apapun diluar yang dipakainya sekarang. Mau beli? Dompetnya ada didalam tasnya yang ditinggal di Young Stage.

“Ini untukmu, Sungmin-ssi,” kru Blind Dates memberikan satu stel atas-bawah beserta aksesoris untuk hanbok yang dipakai Sungmin. Kasihan juga sih melihat laki-laki itu duduk frustasi dibawah papan peraturan besar ini.

“Jeongmal? Ah gamsahamnikka!!” serunya sambil memeluk kru itu erat-erat.

Young Stage

Hyorin             : Aigoo!! Aku ingin menjadi kru itu!

Jong Kook       : Untuk apa? Bukannya kau sudah pernah nyaris ciuman dengannya?

Hyorin             : Kelihatannya besok aku harus membeli lakban untukmu.

Jong Kook       : (berusaha membujuk) Ah, jangan sebegitunya dong.

Sungmin kembali kali ini dengan hanbok berwarna merah, berlengan putih, serta sabuknya warna hitam. Dia terlihat begitu gagah dengan penampilan barunya ini. “Aku merasa seperti ksatria dari kaisar kuno.”

Dengan penuh semangat, dilangkahkan kakinya memasuki kawasan tenang Desa Youngin. Tugasnya sekarang adalah mencari perempuan yang akan menjadi pasangannya untuk acara kencan buta besok.

“ANDWAE!!” pekik Sungmin terkaget-kaget.

Kenapa semua orang memakai hanbok dan kumis? Kalau begini, bagaimana caranya mengetahui siapa yang menjadi pasangannya? Ini benar-benar membuat Sungmin menghela napas berulang-ulang.

“Aku baru tahu, mencari jodoh saja sebegini sulitnya,” Sungmin menggeleng-gelengkan kepalanya.

Waktu yang tersisa kini tinggal satu setengah jam. Tidak mungkin dia mendatangi rumah satu per satu, sementara disini ada kurang lebih 300 rumah penduduk yang ditempati. Tangannya terangkat mengelus-elus dagunya. Wajahnya menunjukkan bahwa dia sedang berpikir keras, dimana kira-kira pasangannya ‘disembunyikan’.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya kameramen, yang berjalan disamping Sungmin.

“Dimana pasanganku berada,” jawabnya singkat, seperti tidak ingin diganggu. Matanya nampak mengamati sekelilingnya secara intensif. Tidak ada satu halpun yang dilewatkan dari pandangannya. Sungmin sangat yakin, dari semua wanita yang hulu-hilir dari hadapannya, pasti memberikannya suatu petunjuk.

Cukup lama dia bersama kru berjalan tanpa arah. Tiba-tiba langkah Sungmin yang semula lurus-lurus saja, berubah arah mendekati wilayah khusus para bangsawan. Tatapannya masih terus menyisiri setiap wanita yang berpapasan dengannya. Entah feeling apa yang menghampirinya, tapi Sungmin terus berkeliaran disekitar rumah-rumah cantik ala borjuis tahun abad ke 15.

“Jeogiyo,” kata Sungmin, memanggil seorang wanita tua yang sedang menyiram tanaman. Wanita itu menoleh pelan.

“Saya ingin bertanya pada anda, nyonya. Apakah semua wanita didaerah sini wajib memakai hanbok warna merah muda?”

Young Stage

Jong Kook       : Mwo? Sungmin menyadarinya?

Hyorin             : Jinja? Waah, Minnie oppa benar-benar cocok menjadi detektif.

Jong Kook       : (memegang pipi Hyorin, mengarahkan wajah gadis itu padanya) jangan      memanggil pria lain semanis itu! Aku cemburu.

Hyorin             : (menjitak kepala Jong Kook) Diam kau!

Wanita tua itu tersenyum mengatakan, “Tidak, ada seorang wanita muda yang memakai hanbok dengan warna berbeda dari kami,”

“Jeongmal? Warna apa?”

“Saya kurang tahu, nak. Jwesonghamnikka,”

Sungmin memang tidak bisa menyembunyikan raut kecewanya. Tapi dia tidak lupa untuk berterima kasih karena wanita itu telah mau memberinya informasi. Walau hanya sedikit. Mereka kembali melanjutkan perjalanan.

“Aku merasa seperti seorang pengembara cinta,” kata Sungmin sambil terkikik, “Ah aku haus. Seharusnya didekat sini ada mata air.”

Sesekali saat berjalan, dia menyeka keringatnya dengan saputangan. Jalan-jalan siang bolong menggunakan hanbok tidak ada bedanya dengan sauna di salon. Langkah demi langkah yang dititi, akhirnya Sungmin menemukan sebuah sungai dangkal yang masih berada di wilayah bangsawan. Dan BINGO! Dia juga menemukan seorang perempuan dengan hanbok warna merah dan keemasan berdiri diatas jembatan, penghubung antara daratan yang terpisah dengan aliran air.

Perlahan, dia melangkah menaiki jembatan. Sungmin begitu yakin kalau gadis ini merupakan pasangannya dalam Blind Dates.

“Ah!” pekik gadis itu saat disentuh pundaknya oleh Sungmin. Betapa terkejutnya dirinya melihat wujud asli gadis dihadapannya itu.

“Sunny-ah!” (Sungmin)

“Sungmin oppa!” (Sunny)

Keduanya tertawa lucu. Benar-benar suatu kebetulan mereka bisa bertemu disini.

“Apa yang kau lakukan disini, Sunny-ah?”

“Aku.. menunggu pasanganku menjemput,” ujar gadis itu tersipu-sipu.

Sungmin mengeluarkan seringaiannya, “Siapa?”

“Molla. Oppa sendiri sedang apa disini?”

“Sedang mencari seorang gadis berkumis yang memakai hanbok paling istimewa. Dia pasanganku,” kata Sungmin.

“Aku tadi dipakaikan itu, tapi..” Sunny mengeluarkan sejumput rambut yang membentuk kumis dari dalam kantungnya, “Aku geli. Jadi kulepas.”

“Bagaimana dengan hanbokmu? Apa itu istimewa?”

Sunny memutarkan tubuhnya. Dia juga bingung ternyata, “Aku tidak tahu, oppa. Orang bagian kostum tadi bilang bahwa hanbok ini adalah model yang hanya bisa dipakai oleh ratu saja,”

Laki-laki itu tertawa riang. Tangannya mengarah ke pipi kanan Sunny, mencubitnya dengan gemas, “Berarti kau pasanganku, Sunny-ah!”

“JINJA OPPA?!”

Sungmin mengangguk mantap. Memeluk tubuh Sunny dengan agak malu-malu.

Young Stage

Hyorin             : Aigoo! Belum-belum mereka sudah bermesra-mesraan.

Jong Kook       : Berarti kau pasanganku, Sunny-ah! (meniru gaya Sungmin)

Hyorin             : Jinja oppa?! (meniru gaya Sunny)

Keduanya tertawa kegelian.

Misi Sungmin sukses!

Bagaimana dengan tiga orang lainnya? Tunggu episode selanjutnya!

 TBC..

12 thoughts on “Blind Dates Special – 15th Century

  1. Wah! Aku pembaca pertama ya.
    Author, aku suka ff ini. Tolong cepat lanjutinx. Aku pengen tw tentang Kyuhyun-oppa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s