Saltarcume part 5

Saltarcume

Romance & Sad | Characters : Tiffany Hwang, Choi Siwon, Kwon Yuri, Lee Donghae, Jessica Jung |

tak ada hal yang terindah dari melihatmu berputar dan.. mencintaiku

*****

“Kau beruntung bisa berteman dengannya. Dia sangat baik,”

Tiffany menoleh, “Dia siapa?”

“Kurasa perspektif kita mengatakan satu orang yang sama,” kata Seohyun sambil menyesap teh Oolong. Setelah acara cicip-cicip waffle tadi, Siwon memutuskan untuk mengajak sahabatnya itu bertanding catur didekat kolam renang. Sementara dia bersama istri Kyuhyun itu duduk bersantai di gazebo belakang rumah.

Apakah semua orang disekeliling Siwon sangat mencintai teh Oolong?

“Siwon memiliki kepribadian yang sangat baik dan menyenangkan. Orangnya juga sangat sopan dan ramah. Siapapun yang kenal dengannya pasti akan merasa sangat nyaman berteman dengannya. Bukan begitu?”

“Yah, begitulah,” sahut Tiffany sambil tersenyum.

Bahkan, aku tidak tahu kalau orang itu punya sifat seperti itu, gumam Tiffany dalam hati.

“Sejak dulu, dia tidak pernah bersikap menyebalkan dihadapan kami. Oh, tapi itu diluar gayanya perfeksionisnya yang kadang mengganggu,”

Tiffany terkikik pelan, “Ternyata kau juga merasakannya,”

Seohyun tersenyum, “Dia juga seperti itu padamu? Haha.. Siwon memang tidak pernah berubah.”

“Apa kalian sudah berteman sejak lama?”

“Kyuhyun oppa, dan Siwon sudah berteman sejak duduk dibangku sekolah menengah. Aku baru masuk ke lingkar persahabatan mereka saat sekolah menengah atas. Namun, saat menjelang ke perguruan tinggi, Siwon meninggalkan kami untuk bersekolah di Amerika. Kau tahu dia bersekolah di Harvard?”

“Tentu, dia sangat sering menyombongkan title belakangnya,” celetuk Tiffany asal.

Seohyun tertawa.

“Walau begitu, Siwon itu sahabat yang sangat setia. Saat dulu kami duduk di tahun kedua sekolah menengah atas,” Tiffany mulai menyilangkan kakinya, menyimak cerita Seohyun,  “Musibah mendatangi keluarga suamiku. Keadaannya benar-benar kacau waktu itu. Appanya.. tersandung kasus korupsi atas uang kewajiban negara untuk anak-anak jalanan.”

“Astaga,” gumam Tiffany pelan.

“Masalah itu benar-benar bergulat hebat. Beritanya bahkan berulang kali tayang di televisi. Bisa dibayangkan seluruh Korea menggunjing appa, dan tak terkecuali keluarganya. Banyak teman-teman satu sekolah yang menatap sinis kearah Kyuhyun oppa. Waktu itu, jabatan suamiku sebagai ketua I organisasi siswa pun harus dicopot demi nama baik sekolah. Bisa kau bayangkan bukan bagaimana hancurnya Kyuhyun oppa,” ujar Seohyun sedih.

“Disaat semua orang bersikap acuh tak acuh, Kyuhyun oppa pernah bercerita padaku, bahwa dia bertanya pada Siwon ‘apa kau tidak malu berteman denganku? Aku anak seorang koruptor’. Apa jawaban dari Siwon? dia menjawab ‘kau hanya anak seorang koruptor. Apa masalahnya? Itu kan hanya masalah appamu yang berimbas padamu. Aku sih tidak peduli’. Sebenarnya itu bukan perkataan yang menghibur, tapi entah kenapa Siwon menyiratkan bahwa ‘aku berteman denganmu ya karena dirimu, bukan orang lain’.”

Seohyun masih meneruskan ceritanya, “Siwon sangat sering membantu Kyuhyun oppa waktu itu, baik dari segi rohani maupun finansial. Mungkin karena setiap pagi dia membaca alkitab, jadi Siwon memiliki pembawaan tenang menghadapi emosi suamiku yang agak labil. Dia juga membantu Kyuhyun oppa dalam hal biaya sekolahnya. Kebetulan orang tua Siwon tidak tinggal bersamanya, mereka tinggal di NYC. Jadi dia yang mengatur keuangannya sendiri, hingga dapat membantu sahabat-sahabatnya.”

Dari raut wajah Seohyun, Tiffany dapat melihat betapa beratnya masa-masa persahabatan mereka dulu. Tangannya terulur menghapus air mata yang terlanjur membasahi pipi merah Seohyun.

“Persahabatan kalian benar-benar terjalin indah,” hibur Tiffany.

“Mungkin bisa dibilang begitu. Aku sangat senang memiliki dua pria yang sangat setia seperti mereka. Sampai sekarang, Siwon masih sering berkunjung kemari, walau terkadang saat dia berkunjung kami tidak ada. Kyuhyun oppa kan salah seorang penyanyi Broadway,”

Entah disadari atau tidak, aura tubuh Tiffany seketika bergeser saat mendengar kata ‘Broadway’.

“Siwon juga sangat pandai berdansa. Dulu saat prom night, dia meraih gelar homecoming prince karena kemampuan waltznya,”

Tiffany menyipitkan matanya, “Sepertinya aku harus memaksanya untuk tahu soal itu.”

“Bukankah kau seorang balerina? Pasti kalian akan menjadi perpaduan yang sangat hebat. Ini tandanya kau harus benar-benar mengajaknya berdansa denganmu,” Seohyun tak sengaja melirik kearah pergelangan kaki Tiffany yang diperban, “Nanti mungkin.”

Tak mau membuat khawatir, Tiffany tersenyum sambil berkata, “Pasti.”

*****

“Oppa! Bisakah kau kemari? Aku membutuhkan bantuanmu!” teriak Seohyun dari dalam rumah. Membuat Kyuhyun terpaksa permisi pada Siwon untuk masuk. Berselang dua detik, Siwon melihat Tiffany berjalan kearahnya dengan membawa nampan dengan dua cangkir. Lalu duduk ditempat yang sebelumnya duduki Kyuhyun.

Dia mendengar Tiffany bertanya, “Mau?”

Tangan gadis itu menyodorkan secangkir berisi teh Oolong. Matanya menyipit saat menerimanya, “Kau yang membuatnya?”

“Tentu saja,”

“Apa didalamnya kau beri racun?”

“Aku janji akan membayar seluruh perawatan hingga pemakamanmu jika kau mati setelah meminumnya,” balas Tiffany kalem.

Siwon terkekeh. Menyesap teh buatan Tiffany yang baru dibuat. Terlihat dari kepulan asap halus putih diatasnya. Laki-laki itu tampak mengecap-ngecap.

Tidak buruk. Malah sangat enak.

“Aku tidak tahu bisa membuat teh Oolong,”

“Kau terlalu sering meremehkanku,”

“Karena kau memang tidak menunjukkan sikap tidak pantas untuk diremehkan,”

Siwon dapat mendengar desahan keluar dari mulut Tiffany. Disusul dengan gerutuan dan cibiran yang menggumam tentunya. Suatu kenikmatan sendiri baginya melihat ekspresi Tiffany yang kesal seperti sekarang. Walaupun terkadang kasihan juga menyecar gadis itu sampai skak mat, tapi entah kenapa Siwon sangat menikmatinya. Sikap Tiffany yang cenderung seadanya namun siap dalam keadaan apapun itu membuatnya semakin menarik.

“Sepertinya besok aku harus berganti kacamata saat melihatmu,”

Siwon mengernyit, “Sejak kapan kau pakai kacamata?”

“Habisnya aku tidak melihat apa yang Seohyun-ah dan Kyuhyun-ssi lihat tentangmu,” jawabnya sambil memiringkan pelan.

“Memangnya apa yang mereka lihat?”

Tiffany menoleh, menatap Siwon dengan mata segaris, “Kau yakin mau mendengarnya? Hal-hal yang akan kuucapkan akan membuat kepalamu semakin membesar,”

Siwon mengendikkan bahu, “Aku sudah siap helm untuk menjaga ukuran kepalaku normal,”

“Tadi Seohyun menceritakan tentang persahabatan kalian padaku,” sahutnya, “Mendengarkan setiap kenangan tentang kalian, setiap hal yang kalian lakukan bersama, setiap hal yang kau lakukan untuk mereka, aku merasa..”

Laki-laki itu masih memandangi wajah Tifany yang terdiam. “Aku merasa bahwa selama ini aku belum melihat dirimu yang sebenarnya.”

“Kau pikir aku memiliki kepribadian ganda begitu?”

Tiffany berdecak, “Kesimpulanmu sangat buruk sekali sih. Maksudku, yang kulihat selama ini adalah dirimu yang menyebalkan, perfeksionis, cerewet kayak ahjumma-ahjumma. Tapi aku belum pernah melihat sifat-sifatmu yang dikatakan oleh Seohyun tadi.”

Keduanya kini hening seketika. Seperti sedang sibuk mengurusi apa yang ada di otak mereka masing-masing.

“Tak kusangka kau masih punya sisi baik, walau sedikit. Kupikir, kau diciptakan untuk menjadi malaikat kehancuran,”

Pernyataan Tiffany barusan langsung mengundang tatapan sinis Siwon, “Kau mau kaki sebelahmu ikut patah, Hwang?”

*****

“Astaga, dimana dia?” gumam Tiffany pelan sambil mencari-cari didalam tasnya. Rasa sakit di kepalanya benar-benar tak tertahankan. Kelihatannya ini karena kelalaiannya meminum obat tadi siang.

Tak menemukannya didalam tas, membuat perempuan itu membuka laci sebelah ranjangnya. Diambilnya sebutir pil warna putih dari dalam botol. Kemudian dia menarik selimutnya sebelum  menelan obatnya.

Hari ini sangat menyenangkan. Dia boleh berjalan tanpa kruk, makan siang bersama Donghae, tahu kalau Siwon membeli DVD dokumenter pentasnya, berkenalan dengan Seohyun dan Kyuhyun. Ini pertama kalinya dia melakukan aktivitas sebanyak itu tanpa merasa terbebani–walau akibatnya baru dirasakan sekarang.

Pusing yang mendera kepalanya membuat kelopak matanya pun terasa berat. Tapi Tiffany dapat memejamkan matanya dengan senyuman malam ini.

Semoga setiap hari yang tersisa dalam hidupku akan terus seperti ini.

*****

“Kau yakin mereka ada di rumah?” tanya Jessica sambil menenteng keranjang berisi buah-buahan untuk Tiffany.

“Tadi pagi, aku mengirim pesan padanya. Dia menjawab tidak kemana-mana,”

“Buktinya tidak ada sahutan sama sekali begini,”

Donghae mengangkat bahunya, “Mungkin kita kembali lagi nanti sore saja.”

Baru saja berbalik badan, akan menuju pagar depan saat mobil Mercedes-Benz keluaran 2012 berhenti. Dari pintu pengemudi, keluar seorang pria yang berlari kecil untuk membukakan pintu penumpang. Tampak Donghae menyipitkan matanya.

“Oh jjakaman jjakaman!” sergah Tiffany, “Dimana aku menaruhnya?”

“Kau ini bisanya apa sih? Masa kunci rumah sampai hilang,” omel Siwon.

“Kau ini benar-benar cerewet. Aku hanya.. Ah! Ini dia kuncinya,” ucap Tiffany saat menemukan kunci rumahnya dari dalam tas. Membuat Jessica dan Donghae saling bertatapan, lalu tersenyum kecil.

“Kalau melihatmu sudah bisa marah-marah seperti ini, sepertinya kau sudah sembuh ya,”

Tiffany dan Siwon mendongak berbarengan. Senyum langsung mengembang di wajah gadis itu. Dia melangkah dan langsung memeluk sahabatnya itu, “Jessica! Bogoshippo!”

Sementara Siwon, sepertinya dia masih mengobservasi terlebih dahulu siapa pria yang ada dihadapannya. “Donghae? Kau Lee Donghae?”

Tingkah Donghae yang seperti tidak kenal membuat Siwon jadi agak tidak enak untuk meneruskan pertanyaannya. Namun berselang beberapa detik, Donghae tertawa sambil berkata, “Wah, kau ternyata masih bodoh seperti dulu ya, Siwon!”

“Mwo? Berarti benar, kau raja ikan Mokpo itu?”

Donghae tertawa sambil meninju bahu kanan Siwon, “Memangnya seberubah apa diriku sampai kau bisa lupa? Ini aku yang memang berubah atau IQ-mu yang semakin jongkok?”

“Ya! Kau menghinaku?”

Keduanya seketika tertawa. Membuat Jessica dan Tiffany menatap mereka heran.

“Kau mengenalnya, Hae?” tanya Tiffany.

“Tentu saja. Kami dulu satu klub dance. Iya kan, Siwon-ah?”

Siwon tersenyum kecut, “Itu masa lalu,”

Pantas saja bisa berdansa, gumam Tiffany sebelum mempersilahkan mereka masuk ke rumahnya.

*****

“Jadi kau tinggal disini?!”

Siwon menatap terkejutan dari ekspresi wajah Donghae, “Kau tidak perlu sekaget itu. Aku juga lupa bagaimana ceritanya hingga aku bisa tinggal disini,”

Dia menuangkan sebotol berisi jus jeruk ke gelas milik Donghae. Kemudian kembali duduk di sofa sebelah. Donghae masih mengerjap-ngerjapkan matanya, “Berarti kau yang..”

“Sudah! Tidak perlu dibahas. Aku yakin kau mengetahuinya,” balas Siwon, dalam artian mengiyakan omongan Donghae.

“Wah dunia ini benar-benar sempit ya,”

“Begitulah. Aku juga kaget ternyata Donghae yang selama ini selalu on the phone dengan Tiffany itu Donghae yang ini,”

“Memangnya Donghae ada yang mana lagi?”

Siwon mengendikkan bahunya. Menyesap cangkir berisi minuman kesukaannya. Tentu semua orang juga tahu isinya apa bukan?

“Berarti kau juga yang beberapa hari yang lalu memarah-marahi Tiffany saat makan siang?”

“Kau yang mengajaknya keluar tanpa memberitahuku? Haah.. kalian berdua sama-sama merepotkannya,” desah Siwon.

Donghae tertawa, “Jangan sesedih itu! Aku jauh lebih sedih saat mengetahui sainganku seberat dirimu,”

“Hah?” tanya Siwon, karena tadi dia tidak terlalu fokus dengan omongan Donghae barusan. Dia baru saja memperhatikan Tiffany dan Jessica yang sibuk tertawa-tawa sendiri di dapur.

“Nothing. Forget it!”

“Ngomong-ngomong,” Siwon membuka pembicaraan, “Kau kenal dengan Hwang sejak kapan?”

“Kenapa kau memanggilnya Hwang?” tanya Donghae.

“Itu menjawab pertanyaanku, dude,”

Donghae mengingat-ingat, “Sejak dia jadi instruktur balet di studio sebelah. Mungkin.. hampir dua tahun.”

“Dia masih baru?”

“Begitulah,”

Siwon mengangguk-angguk, “Berapa banyak pria yang berusaha mendekatinya?”

“Mwo?! Kenapa pertanyaanmu seperti itu? Mana kutahu, aku juga tidak menghitungnya. Menghitung jumlah fans Tiffany sama saja aku menghitung jumlah bintang yang bertaburan di angkasa,” jelas Donghae.

“Sebanyak itu kah?” tanya Siwon.

“Well,” Donghae menegak jusnya, “Tidak sebanyak itu juga. Cuma kalau ditanya berapa, jawaban yang pantas ya banyak.”

“Sikapnya selalu ramah, santai, namun anggun. Dia sangat humble pada semua orang. Siapapun pasti akan merasa nyaman jika berada didekatnya. Gayanya juga sangat menarik. Terlebih jika orang sudah melihatnya menari, pasti..” dia mencari kata yang pas, “Langsung terpesona. Siapa yang tidak tertarik untuk mendekatinya?”

Kenyataan bahwa Tiffany memiliki sisi menarik yang mampu memikat orang lain untuk mendekatinya memang tidak dapat Siwon pungkiri. Tapi kalau ramah? Santai? Humble? He’s not sure. Dia melihat sisi yang berbalik dari semua itu.

“Selain itu,” Donghae melanjutkan, “Tiffany juga cukup terkenal tidak hanya dikalangan penari. Tapi juga pebisnis-pebisnis.”

“Dia menari untuk para pebisnis?” tanya Siwon, yang cenderung arahnya berkonotasi negatif. Membuat Donghae menatapnya sinis.

“Tentu saja tidak! Kau tahu kan kalau appanya seorang pengacara terkenal? Beliau banyak menangani kasus-kasus berat, terutama yang dihadapi oleh para pebisnis. Tak jarang beliau diajak ke acara makan malamnya para pengusaha besar. Dan disitulah, Tiffany berkenalan dengan anak-anak pengusaha yang seumuran dengannya,” jelas Donghae.

Siwon hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Tanpa disadari olehnya, rasa penasarannya akan seperti apa Tiffany semakin berkecamuk di otaknya.

“Kenapa tiba-tiba bertanya tentangnya?”

“Hanya heran saja. Hampir setiap malam pasti ada yang menelponnya berjam-jam. Saat kutanya siapa, dia hanya menjawab teman,” jawab Siwon datar.

“Itu sudah menjadi salah satu bukti kan kalau dia terkenal?”

“Yah.. mungkin.”

*****

Tiffany meluruskan kakinya ke sanggahan sofanya. Donghae dan Jessica sudah pulang sejam yang lalu. Waktunya bersantai. Diambilnya setoples berisi keripik kentang kesukaannya, kemudian menyalakan televisi. Disimaknya setiap gambar yang disuguhkan sambil nyemil.

“Kenapa kau tidak bersiap-siap?” tanya Siwon tiba-tiba.

Membuat gadis itu menoleh kebelakang. Dilihatnya Siwon sudah memakai setelan jas dan bawahan formal serta dasi warna merah. Tiffany mengerutkan dahinya, “Kau mau kemana?”

“Handphonemu hilang kemana memangnya? Aku sudah mengirimkan pesan padamu,”

Seketika Tiffany merogoh-rogoh pinggiran sofa. Mencari dimana handphonenya. Saat berhasil menemukan, dia cengar-cengir tidak jelas, “Mati.”

Napas Siwon terhela panjang. Jari tengah dan telunjuknya mengelus alis kanannya pelan. “Cepat ganti pakaian! Kau ikut denganku ke hotel,”

Mata Tiffany seketika terbelalak. Tangannya tersilang didepan dada, “Kau mau melakukan apa padaku di hotel?”

“Melakukan apa? Ya! Kita akan ke perayaan resmi MoU hotelku. Kau pikir apa?”

“Oh, bilang dong dari awal. Kalau begitu tunggu disini!” ujar Tiffany sambil melangkah santai kedalam kamarnya. Sementara Siwon menggerutu sendiri di ruang tengah. Terkadang, kecerobohan Tiffany yang seperti ini berhasil menjatuhkan mood laki-laki itu.

Lima belas menit kemudian, Tiffany keluar kamar dengan balutan mini dress warna merah bermodel halters. Rambutnya digulung keatas, menampakkan lehernya yang indah. Bahkan Siwon menelan ludahnya sendiri saat mendapati potongan gaun belakang sangat rendah, membuat punggung mulus gadis itu terlihat jelas olehnya. Hanya sayang dengan penampilan seseksi itu, Tiffany tidak bisa memakai high heels karena keadaan kakinya yang masih mengenaskan.

“Kau yakin mau memakai gaun seperti itu?”

Tiffany seketika berputar menatap tubuhnya sendiri, “Memangnya kenapa? Jelek?”

“Tidak takut masuk angin?”

“Ini hanya gaun biasa, Siwon!”

Siwon menggigit bibir bawahnya. Sepertinya gadis ini tidak paham maksudnya. “Kajja!”

*****

“Boleh aku bertanya sesuatu?” bisik Tiffany kearah Siwon. Pria itu baru saja turun dari panggung. Dia baru selesai memberi ‘kata pengantar’ sebagai seorang CEO Miracle Hotel.

“Hm?”

“Kenapa mereka semua melihatku seperti itu?”

Siwon terkikik. Sesaat dia berpikir. Ternyata Tiffany itu sangat polos juga ya. Dia sudah berusaha menyindir tadi saat di rumah, sepertinya gadis itu memang tidak paham maksudnya. Sekarang pertanyaan, dengan tubuh seindah itu–dengan terpaksa Siwon mengakui, laki-laki mana yang tidak jelalatan saat dia memakai pakaian seminim itu. bahkan dirinya sendiri tadi juga berusaha menahan napas saat melihat pertama kali Tiffany keluar kamar.

“Eh?”

Pria itu memberikan jasnya kepada Tiffany, “Pakailah. Biar mereka tidak melihatmu seperti itu lagi.”

Kalimat yang dikatakan Siwon memang masih memerintah. Namun nadanya sangat halus. Membuat Tiffany entah kenapa merasa tidak enak. Diambilnya jas yang diberi oleh Siwon. Memakainya untuk menutupi tubuh bagian atasnya.

Hangat. Jas Siwon memang sangat longgar di tubuhnya, tapi mampu memberikan kehangatan pada Tiffany. Samar-samar, gadis itu juga dapat mencium bau khas Siwon yang tertempel disana.

MC mempersilahkan para tamu undangan untuk beramah-tamah. Ketika akan berbalik untuk berdiri, tiba-tiba seorang wanita yang sepertinya sebaya dengannya menghampiri. Siwon terbelalak mengetahui dia, “Yuri-ah,”

“Kita harus berbicara,” ujarnya dengan nada tegas. Lalu berjalan meninggalkan mereka.

“Setelah mengambil makan, kau tunggu aku disini. Jangan kemana-mana!” pesan Siwon sebelum pergi.

Tiffany punya feeling buruk.

*****

“Jagi,” panggil Siwon, membuat Yuri menghentikan langkahnya. Wanita itu berbalik badan saat pacarnya–entah masih bisa disebut begitu atau tidak–menyentuh pundaknya. Tatapannya sangat tajam, sempat mengagetkan Siwon. Yuri tidak pernah memandangnya seperti itu seumur-umur.

“Apa yang mau kau jelaskan sekarang?”

“Hah?”

“Kau tahu, aku selalu menunggu teleponmu selama lebih dari seminggu terakhir. Aku selalu menunggu pesanmu. Aku selalu menunggumu di rumah. Kau tidak ada kabar sama sekali. Kau seperti menghilang ditengah samudera. Dan aku hanya bisa melongo sendiri, tak tahu harus bagaimana,” kata Yuri. Terlihat amarah sedang ditahannya sendiri saat ini. Siwon baru sadar, dia tidak memberikan kabar apapun pada pacarnya. Terakhir mereka komunikasi saat dia bersama Tiffany di toko DVD. Itupun sudah beberapa hari yang lalu dan Yuri yang menghubunginya.

Yuri melanjutkan mengeluarkan emosinya, “Aku memang mengizinkan kau untuk tidur serumah dengan si Tiffany itu karena kau harus bertanggung jawab terhadapnya. Tapi bukan berarti kau harus lupa untuk bertanggung jawab terhadap pacarmu. Atau jangan-jangan kau benar-benar lupa denganku?”

“Sekarang apa argumenmu untuk melawanku? Aku menunggu,” tambahnya sambil melipat tangan didepan dada.

Siwon masih diam. Tidak menjawab maupun membalas perkataan Yuri. Hanya diam. Lidahnya mendadak kelu. Hanya satu kalimat yang dia keluarkan, “I’m trying.”

“Trying for what? Forgetting me? Having fun with the other girl?”

Dahi Siwon mengerut, “Apa maksudmu?”

“Oh come on, boys! Apa kau tidak menyadari, semenjak ada Tiffany dalam hidupmu, kau seakan hidup di dunia fana. Yang ada di otakmu hanyalah keyakinan bahwa kau harus melindungi Tiffany. Kau tidak ingat, dalam realitanya kau masih punya aku, yang butuh perlindunganmu juga. Duniamu sekarang hanya diisi dengan rasa bersalahmu padanya yang membuatmu terikat untuk menolongnya. Karena korban yang kau tabrak dengan mobilmu..”

“Hei!” potong Siwon cepat, “Kemana sebenarnya arah pembicaraanmu? Aku minta maaf karena kelalaianku. Aku juga sibuk mempersiapkan untuk memenangkan tender ini, makanya aku tidak bisa menghubungimu. Tapi bukan berarti aku lupa denganmu. Aku ingat, tapi..” Siwon kehabisan kata.

“Tapi apa? Astaga!” tangan Yuri terulur, menutupi mulut dan sebagian hidungnya, “Aku bahkan tidak mengenali kau yang sekarang. Choi Siwon yang kukenal tidak pernah menyapaku dengan ‘annyeong’ atau ‘Yuri-ah’, dia selalu memanggilku menggunakan kata ‘jagi’ sampai kapanpun. Choi Siwon yang kukenal tidak pernah berbicara menggunakan kalimat seformal ini. Choi Siwon yang kukenal tidak pernah sekalipun membentakku. Lalu ini? Choi Siwon yang ada dihadapanku ini Choi Siwon siapa? Choi Siwon milik Tiffany?”

Perkataan Yuri terakhir berhasil membangkitkan emosi yang sedari tadi diredam Siwon. Hampir saja dia melontarkan kata-kata kasar jika dia tidak ingat kalau semua ini bermula dari dirinya. Siwon memilih untuk diam saja selama Yuri meluapkan amarahnya.

“Sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, Choi Siwon?”

Pria itu tetap teguh untuk diam. Menunduk sambil meratapi seluruh kesalahannya.

“Jawab aku Siwon! Apa kau bisu?!” pekik Yuri benar-benar kesal.

Mulutnya terbuka, namun beberapa saat kembali menutup sebelum berkata, “Aku sempat berharap kau mengajakku ke peresmian cabang hotelmu ini, Siwon. Memang aku mendapatkan undangannya, tapi aku butuh invitasi resmi darimu, karena aku pacarmu. Ternyata hal itu tidak datang juga dan–Ah! Enough. I wanna go home now,” kata Yuri sambil mengangkat kedua tangannya, menyerah. Dia melangkah menjauhi Siwon yang berdiri mematung didepan pintu ballroom. Air mata tak sanggup lagi ditahan olehnya.

“Satu lagi,” kata Yuri tanpa berbalik, “Sebenarnya sejak tadi aku menunggumu untuk berbicara. Kalimat apapun yang penting itu usahamu untuk menolong hubungan kita. Tapi sepertinya kau juga tidak mengharapkan kita masih bersama.”

Yuri menarik napas berat. Ini puncak kesedihan yang tak mampu ditahannya lagi. “Better we gotta go our own way now. See you, Choi Siwon!”

“Yuri-ah!” panggil Siwon. Namun tak didengar sama sekali oleh pemilik nama. Yuri melangkah pasti meninggalkannya sendiri.

“ARGH!” pekiknya sambil meninju tembok. Siwon mengacak-acak rambutnya sendiri. Dia tidak mengerti, seharusnya malam ini menjadi malam yang membahagiakan untuknya. Namun kenapa berakhir seperti ini?

Baru akan meninju untuk kedua kalinya, tangan Siwon tertahan. Dilihatnya dibelakang Tiffany berdiri, menatapnya sedih. Disatu sisi dia sangat ingin memukul wajah gadis itu. Kehadiran gadis itu perlahan berhasil menghancurkan hubungannya dengan Yuri. Namun disisi lain, Tiffany tidak bersalah. Tiffany sudah berulang kali menolak saat Siwon berniat ingin membantunya karena takut terjadi salah paham. Tapi dia saja tetap bersikukuh untuk membantu. Tidak ada yang bisa disalahkan oleh Siwon. Kalaupun ada, itu dirinya sendiri.

“Ayo kita pulang!”

*****

Siwon terdiam sendiri di ruang tengah. Matanya menatap kosong kearah gelas di tangannya. Kemudian menegak kembali wine yang ada didalamnya. Siwon sebenarnya tidak pernah meminum wine, vodka, atau sejenisnya sama sekali. Tetapi, kata orang, minuman alkohol dapat menghilangkan stress. Dia pikir tidak ada salahnya untuk dicoba.

Hasilnya? Sudah hampir sebotol besar dihabiskan olehnya. Otaknya seperti melayang, tidak merasakan apa-apa.

Seseorang menepuk bahunya pelan. Siwon menoleh. Dilihatnya Tiffany menatapnya khawatir. Gadis itu duduk disampingnya, memandangi Siwon yang terlihat sangat kacau saat ini. Siwon kembali menegak winenya.

“Ada apa denganmu, Siwon-ah?”

“Aku? Aku hanya ingin bersamamu saja..” Siwon tersenyum menyeringai. Tangannya mengelusi paha mulus Tiffany. Saat berusaha menolak, tiba-tiba Siwon menarik tengkuk Tiffany, mencium bibir gadis itu kasar. Tiffany berusaha menjauhi Siwon, namun pria itu justru melumati bibirnya, bahkan mengelusi perutnya yang tertutupi kaos.

PLAK!

“SIWON!” pekik Tiffany, setelah menampar pipi Siwon cukup keras.

“Kenapa kau sebrengsek ini sih?”

“Kau baru menyadarinya? Kalau aku brengsek? Seluruh dunia juga tahu aku brengsek. Tampar aku lagi, bukankah pria brengsek pantas untuk ditampar? Tampar aku, Hwang! Tampar!” Siwon meraih tangan Tiffany, memukul-mukulkan ke pipinya. Dengan cepat Tiffany menarik kembali tangannya. Ditariknya tubuh besar Siwon, dipeluknya begitu erat.

“Jangan begitu!” sergahnya, “Aku tidak akan menamparmu lagi. Aku tahu kau sedang ada masalah. Tidakkah kau mau berbagi denganku? Jangan menyimpannya sendiri, Siwon,”

Tiffany mengelus punggung Siwon halus. Didalam pelukan itu, Siwon baru sadar betapa hina hal yang dia lakukan barusan terhadap Tiffany. Gadis itu masih mau memeluknya, mengajaknya berbagi kesedihannya, sementara Siwon hampir saja mencelakakannya.

Siwon merasakan sesuatu bergetar. Dilihatnya sepintas. Tiffany menangis! Sekarang ganti dia yang bingung kenapa jadi Tiffany yang menangis?

“Hwang,”

“Aku tidak suka melihatmu yang seperti ini. Lebih baik kau menceritakan semuanya sampai kau lega daripada kau bertingkah like a jerk seperti tadi. Kau juga bisa meminjam bahuku untuk menangis,” Tiffany masih tersedu-sedu.

Siwon melepas pelukannya dengan Tiffany. Dia menghapus air mata yang mengalir di wajah Tiffany. “Hei, sudah. Jangan menangis! Yang punya masalah kan aku, kenapa jadi kau yang menangis,”

Gadis itu masih sesenggukan. Berusaha menormalkan kembali napasnya. Siwon berdiri menuju dapur sambil membawa gelas dan botol winenya. Kemudian kembali duduk di sofa dengan membawa dua gelas baru berisi air putih. Diberikannya segelas kepada Tiffany.

“Gomawo,” ujarnya sebelum meminum air putih tersebut.

“Sudah tenang?”

Tiffany mengangguk pelan. Kini direngkuhnya tubuh gadis itu kedalam pelukannya. Siwon tahu, tidak ada salahnya jika dia bersandar sejenak di bahu Tiffany. Barangkali dapat menghilangkan sedikit penatnya malam ini. Dia mulai menceritakan kejadian demi kejadian yang sudah berlangsung agak lama diantara dia dan Yuri. Mulai dari awal saat dia menabrak Tiffany sampai kejadian malam ini. Sementara Tiffany menyimak dengan baik setiap curahan hati Siwon. Sesekali Tiffany mengelus kepala belakang Siwon sambil mengatakan kalimat-kalimat yang dapat membantu menenangkannya. Membuat Siwon sendiri merasa sangat nyaman.

“Boleh kupeluk sampai pagi?” tanya Siwon masih memeluk Tiffany.

“Kalau bisa menenangkanmu, tidak masalah. Tapi kau harus janji tidak bertingkah jahat seperti.. menciumku tadi,”

Siwon terkekeh, “Tidak akan. Jangan kau lepaskan ya sampai aku tenang,”

Tiffany mengangguk, mengencangkan pelukannya.

*****

TBC…

author note : gamsahamnida buat semua readers yang udah ngingetin aku sama fanfic ini. eheheh aku nyaris melupakannya karena asik dengan fanfic baru maaf yaa -________- selamat menikmati hasil karyaku semua!😀

52 thoughts on “Saltarcume part 5

  1. Aih. . .saeng koq sampai lupa sih. Padahal ini ff yg eonni tunggu lho, sumpah nih ff seru sekali saeng. Yg penting ending.a nanti jangan smpai membuat sifany pisah.
    Harus happy ending ea saeng??
    Ayo. . .ayo. . .cpat d lanjutin lho perlu nanti malam di post lagi

  2. Akhirnya stelah skian lama aku mnunggu thor akhirnya publish jga!! Aku slalu mngagumi karya mu thor, susunan bhasa nya sperti penulis yg sudah bnyak pengalaman!! Next part ya thor jgn lama2🙂 hwaiting thor

  3. Anyeong maaf bru komen dpart ini….
    bner2 deh critana kereeeeeeeeeeeen…
    author ini bneran sad end….klo bsa jngan dong…
    q ska dngan couple ini jga coalnya hehehehehe
    dtnggu klnjtannya jngan smpek lupa ya….
    Gumawo

  4. aaahhhhhh akhirnya keluar juga
    Authornya emang bisa bangett buat FFnya sekeren ini *peluk

    Ayoooo lanjutin cepat cepat!
    Jangan lama2 lohh

  5. Asyiiik, ceritanya benar-benar seru! Mantap dah! xDD
    Ehm… kok porsi HaeSica di sini kok sedikit yaaaa? Part selanjutnya harus ada HaeSica lhoooo… coz aku suka banget couple itu u,u
    Ditunggu lanjutannyaaa

  6. udah nunggu lama bgt ni fanfic . akhirnya muncul lagi . keren thor , wah kayaknya siwon jatuh cinta nih *soktau* dilanjut ya author😀

  7. Chingu udah berapa hari ga dilanjut nih please postin next part nya secepatnya udah penasaran sama sifany jjang xD

  8. Siwon putus sama yuri?? Wah… Sifany😮 hahahaa.. Terkesan jahat banget ya.. Malah berharap yulwon gag balikan ,hehe.. Aku yakin nih, masti tiffany punya penyakit yang parah.. Yahhh andwae!! Biarkan mereka bersatu dulu… Gag rela kalo sifany pisah -,-a .. Keep writing chingu ditunggu part 6ny🙂

  9. aaaaaaaaaaaaa………………………..so sweet bgt bgt bgt…………………
    author cepetan next partnya udah nggak sabar nich……….!!!!!!!!
    siwon oppa udah falling in love blom sama uri eonni????
    klo belom kpn sdarnya sich………….

  10. aaaaaaaaaaaakh innie, seru banget romantis won oppa sama fany pas lagi berbagi kesedihan, siwon sepertinya mulai suka sama fany, tapi itu fany kayanya punya penyakit ya ko dy sakit kepala terus, bergantung sama obat itu lagi.. part 6 di tunggu ya unnie jangan sampe lupa ff ini ya gara2 asiik bikin ff lain, hehehehe

  11. dan pasti fany oenni udah mulai tesentuh sama cerita seohyun ini….
    fanny oenni juga pasti muali penasaran juga sama siwon oppa…
    author emang daebak…

  12. wah, author.. dibanding chap sbelumny, kyak.ny reader pling suka chap ini.
    lihat tuh koment.ny, gila.. bny amat. haha
    DAEBAK buat author.. figthing!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s