Saltarcume part 6

Saltarcume

Romance & Sad | Characters : Tiffany Hwang, Choi Siwon, Kwon Yuri, Lee Donghae, Jessica Jung |

tak ada hal yang terindah dari melihatmu berputar dan.. mencintaiku

*****

Tiffany melenguh. Matanya mengerjap, baru saja terbangun dari alam bawah sadarnya. Ketika berusaha bangun, gadis itu mendapati dirinya sedang berada di sofa ruang tengah. Kemana Siwon?

“Sudah bangun, Hwang?”

Ah! Suara itu.. Tiffany menolehkan kepala kebelakang. Melihat sesosok pria bertubuh tegap sedang berjalan mendekatinya dengan membawa dua buah cangkir. Matanya terus mengikuti gerak-gerik Siwon hingga pria tersebut memberikan salah satu cangkir di tangannya kepada Tiffany. Seperti biasa, teh Oolong.

Suasana cukup sepi diantara mereka. Keduanya memilih untuk menikmati secangkir teh hangat mereka terlebih dahulu. Tiffany berjanji, seumur hidupnya dia tidak akan pernah melupakan aroma dan rasa khas dari secangkir teh buatan Siwon ini. Kenyataannya, dia merasakan bahwa ada perbedaan yang sangat mencolok antara teh Oolong buatan Siwon dibanding dengan buatan lainnya. Bagi Tiffany, rasanya sangat pas.

“Mian,”

 

*****

Siwon melirik sejenak kesamping kanannya. Tiffany sedang terpejam selagi menghirup kepulan asap hangat beraroma teh yang segar dari cangkirnya. Pria itu menaruh tehnya diatas meja.

“Mian,”

“Hm?” Tiffany menoleh.

Ditariknya napas panjang sejenak, “Semalam aku hampir saja mencelakakanmu. Padahal aku ditugasi appa-mu untuk menjagamu. Aku benar-benar payah.”

“Gwaenchana. Aku tahu kalau kau hanya sedang kalut. Sepertinya begitu banyak masalah yang tertumpuk di otakmu hingga akhirnya meledak seperti semalam. Aku dapat memakluminya,”

“Kau sungguh-sungguh sudah memaafkanku?”

Tiffany terkekeh pelan, “Untuk apa aku tidak memaafkanmu? Toh itu hanya masalah kecil, Siwon-ah,”

Pria itu mengangguk paham. Lalu terdiam kembali.

“Bagaimana keadaanmu? Aku yakin kau sudah membaca alkitab pagi ini,”

“Darimana kau tahu kalau tadi aku akan membacanya?” alisnya terangkat.

“Semuanya tertulis di keningmu, tahu!” Tiffany menjundu daerah diatas alis Siwon.

“Kau orang yang sangat religius. Kalau sedang ada masalah, seharusnya kau berlari ke tangan Tuhan. Bukan justru menegak minuman beralkohol,”

Mata Siwon langsung menyipit, “Bermaksud menyindirku, Hwang?”

Tiffany tertawa geli.

“Kata Seohyun-ssi, pagi-pagi sekali kau selalu membaca alkitab. Saat melihat kau bertengkar dengan pacarmu, kupikir kau akan mengurung diri seharian di kamar atau pergi menginap di gereja untuk memohon pertolongan Tuhan. Ternyata yang kudapati kau malah berusaha menenangkan diri dengan hal yang tidak berguna,” Tiffany kemudian menoleh kearah Siwon, “Kalau Tuhan memang sedang sibuk hingga tidak bisa mendengar permohonanmu, bergantunglah pada orang lain. Setidaknya kau bisa sedikit menenangkan diri dengan bercerita pada sahabat atau teman terdekatmu. Akupun juga bersedia untuk mendengarkan semua ceritamu. Kau harus bersyukur semalam kau minum wine itu di rumah, sehingga yang terkena imbasnya hanya aku. Coba bayangkan jika kau berada di jalan raya! Biasa-bisa kau membuat skandal besar, Siwon,”

Gadis itu membungkam sesaat. Sebelum menambahkan, “Makanya jangan seperti itu lagi ya! Aku tahu, kau bukan orang berwatak sebrengsek semalam.”

Siwon menatap manik mata Tiffany. Terpancar rasa yang begitu tulus untuk memaafkan serta memberi pertolongan dari dalam sana. Tatapan yang begitu teduh dan menenangkan baginya. Selama beberapa saat, Siwon tidak mengalihkan pandangannya sama sekali dari Tiffany. Seperti ada sesuatu yang berhasil membuatnya merasa nyaman menatap mata gadis itu.

Kejadian semalam membuat Siwon teringat akan perkataan Donghae mengenai Tiffany. Selama ini dia cukup mengenal bahwa Tiffany adalah tipikal gadis keras kepala, senang menyuruh-nyuruh, agak egois, serta bergengsi tinggi. Sangat sulit bagi dirinya pada mulanya untuk mendekati gadis berambut keriting gantung ini. Dia sangat ingat, ketika Siwon memutuskan untuk tinggal di rumah Tiffany, gadis itu dengan tegas menolak dan tidak menyerah untuk mengusirnya. Yah, walaupun akhirnya usaha itu sia-sia karena Siwon menemukannya hampir pingsan.

Namun, dari kejadian semalam–ketika Siwon hampir mencelakakan Tiffany–dia bisa melihat dengan jelas bahwa Tiffany benar-benar gadis yang berhati lembut. Disaat Siwon yang seharusnya menangisi masalahnya, justru Tiffany yang menggantikan posisinya untuk menitikkan air mata. Disaat Siwon sedang kalut dan bahkan hampir melakukan hal yang dapat membahayakan masa depan Tiffany, gadis itu justru tersenyum dan merangkulnya. Tiffany sangat pengertian dan peduli terhadap orang lain. Siwon mulai merutuki dirinya yang selama ini menganggap Tiffany sebagai orang paling tidak tahu diri dalam hidupnya.

“Kau tahu,” celetuk Tiffany tiba-tiba, “Dari cara kau menatapku, aku merasa bahwa kau sedang memikirkan cara untuk menyerangku. Asal kau tahu ya, aku bukan perempuan gampangan. Jadi jangan kau pikir akan semudah itu untuk mendapatkanku!”

Hilang seketika semua pujian yang terlintas di otaknya mengenai Tiffany. Mata Siwon langsung membesar, “Kau ingin mencari gara-gara denganku, Hwang?”

 

*****

 

“Sir?”

Jemari Siwon yang semula sibuk mengayunkan pena hitamnya diatas dokumen, tiba-tiba terhenti. Pria itu mendongakkan kepalanya dan menemukan perempuan bertubuh mungil namun enerjik tengah berjalan dengan membawa setumpuk map. Pelan, dia mendesah.

“Ini dokumen apa?” Siwon mulai membuka file folder paling atas.

“Ini adalah dokumen-dokumen milik hotel cabang bagian marketing, Sir. Bisa anda periksa terlebih dahulu,”

“Hm,” gumamnya. Tangannya mulai membolak-balik lembaran-lembara laporan yang baru saja Sunny, sekretarisnya itu, berikan. Inilah tugasnya sehari-hari. Mengecek laporan dan budget, menandatangani proposal, serta mengikuti rapat sana-sini. Mau bagaimana lagi, sudah kewajibannya melakukan semua itu sebagai seorang GM.

“Hal apa saja yang sudah include didalamnya? Masih adakah laporan yang menyusul?”

“Saya rasa tidak, Pak. Tadi Mr. Lee mengatakan kalau semuanya sudah ada di laporan ini. Mulai dari perhitungan break even point, return of investment, hingga rencana-rencana pemasaran,” jelas Sunny. Perempuan itu sangat tahu keperfeksionisan dari atasannya ini. Kalau tidak dijelaskan dari awal, pasti akan banyak pertanyaan yang muncul. Maka dari itu, untuk mengantisipasi pertanyaan yang kemungkinan tidak bisa dijawab olehnya, lebih baik diberitahukan saja terlebih dahulu.

Siwon mengangguk paham. “Nanti akan kuperiksa lagi. Kembalilah,”

Sunny membungkukkan badan, seraya memohon izin untuk pergi. Baru saja membalikkan badannya, tiba-tiba dia teringat, “Ah Sir–”

“Yes?”

“Ini,” Sunny memberikan secarik kertas lux warna merah marun. Membuat alis mata Siwon pun terangkat.

“Ini undangan pesta dari Graciue untukmu,”

“Graciue?” tanya Siwon mengulangi kata aneh yang diucapkan sekretarisnya.

“Mereka salah satu grup tari balet terkenal di Eropa, Pak. Saat ini, Graciue sedang mengadakan tur dunia mereka, dan Korea masuk salah satu dalam daftar negara yang mereka tuju. Rencananya, sabtu malam besok, mereka akan mengadakan konferensi pers serta pesta penyambutan tertutup di ballroom hotel kita di Incheon,”

“Kenapa kau memberikannya padaku?”

Sunny tertawa kecil, “Tentu saja karena anda juga diundang, Pak.”

“Tapi bukannya kau paham kalau aku tidak terlalu suka datang ke pesta macam ini?”

“Hm soal itu––” Sunny tampak menimang sejenak, “Saya pikir anda butuh penyegaran untuk pikiran anda.”

“Maksudmu?”

“Ya, sudah jadi rahasia umum lah, pak, bagi karyawan disini perihal masalah anda dengan nona Kwon yang agak pelik. Mungkin anda bisa sedikit melepas penat anda dengan bersantai selagi menikmati suguhan tari. Toh, mereka bukan penari kacangan, Pak. Mereka Graciue yang sudah mendunia. Pasti anda tidak akan rugi jika melihat mereka,”

Pria itu hanya manggut-manggut. Bukan hal yang buruk. Mendengar kata balet membuat pikirannya melayang pada balerina terhebat yang pernah dia kenal. Tentu dia Tiffany. Kelihatannya gadis itu akan sangat senang jika diajak kesana. Hitung-hitung, membantu menghilangkan rasa lelahnya sambil menyenangkan hati orang lain. Sebaiknya dia segera pulang dan memberi tahu Tiffany.

 

*****

“Jess?”

Donghae lari terburu-buru mendekati Jessica yang baru saja sampai di parkiran mobil. Gadis yang dipanggil itupun menoleh, menatap lembut kepada pria dihadapannya. “Ada apa?”

“Haah.. haah.. bisakah kau tunggu sebentar?” Donghae masih berusaha mengatur napasnya. Berlari dari lantai 3 hingga parkiran setelah menari hip hop tentu menghabiskan tenaga bukan?

Jessica mengangguk, tetap tersenyum manis. Dia menunggu Donghae yang masih terengah-engah akibat berlarian. Sepertinya ada sesuatu yang sangat penting hingga membuat pria itu rela mengejar dirinya seperti ini.

Sesaat senyum di wajah Jessica memudar. Apakah ini soal Tiffany?

“Ada masalah apa hingga kau terburu-buru seperti ini?”

“Kau punya minum?” tanya Donghae, tanpa menghiraukan pertanyaan Jessica sebelumnya.

Gadis itu mendesah pelan. Dikeluarkannya botol minum 750 cc warna merah miliknya. Kelihatannya Donghae sangat kelelahan hingga dia harus menghabiskan setengah botol air sendiri.

“Hah,” Donghae menghela napas, “Gamsahamnida.” Memberikan botol itu kepada pemiliknya.

“Jadi? Ada apa?”

Pria itu berdeham sekali. Mengeluarkan sebuah kertas lux warna merah marun dari saku jaketnya. Jessica menyambut lembar yang diulurkan untuknya tersebut.

Astaga! Matanya seketika berbinar melihatnya.

“Ini––”

“Mau datang bersamaku?”

Mulut Jessica menganga, kaget, “Kau mau datang bersama.. ku?”

Donghae tertawa sembari mengusap-usap puncak kepala gadis itu, “Tentu saja. Apa kau mau?”

“Kenapa kau tidak mengajak Tiffany?”

“Karena aku tidak mau,”

“Kenapa? Bukannya kau suka dengannya?”

Pria itu mengernyitkan dahi, “Memangnya kalau datang ke pesta ini harus bersama orang yang kusuka?”

“Entahlah,” Jessica mengangkat bahunya, “Kupikir akan lebih menyenangkan jika bersamanya,”

“Ayolah! Aku sedang berusaha menggaetmu. Apa kau tidak tertarik dengan itu?”

“Bukan begitu––”

“Cepat pilih. Yes or no?”

“Tapi––”

“Yes or no?”

Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Namun sedetik kemudian, seulas senyum terpampang di wajahnya.

 

*****

 

“Wow, apakah ini efek dari dirimu yang patah hati?”

“Mwo?!” pekik Siwon pelan.

“Sejak kapan kau bisa pulang sebelum jam enam sore? Apa jam di kantormu mati?”

Pria mendesah. “Percayalah, office boy dan office girl di hotelku bekerja sangat baik. Tidak mungkin mereka membiarkan jam di ruang kerja Direktur Utama dibiarkan mati.”

Tiffany mengangkat bahunya. Tidak peduli dengan apa yang pria itu katakan. Siwon mengikuti langkahnya memasuki ruang tengah rumah Tiffany. Dijatuhkan tubuhnya diatas sofa, selagi tangannya mengurai ikatan dasi di lehernya.

“Hwang, bisakah kau membuatkanku teh Oolong?” tanyanya.

“Tentu!” sahut Tiffany langsung.

Tiffany pergi menuju dapur dan mata Siwon mengikutinya dari belakang. Pria itu mengamati gadis itu menuangkan teh kedalam cangkir. Melihat gerakan lincah Tiffany sore ini–meskipun dengan jalan yang masih agak menyeret–entah kenapa membuat Siwon begitu senang. Rasanya seperti melihat perempuan itu bersemangat membuatkan minuman untuk–Ah! Apa yang dia pikirkan.

Berselang beberapa menit, Tiffany datang dengan membawa dua buah cangkir teh Oolong yang masih panas. Siwon mengangkat cangkir tersebut dengan kedua tangannya. Meniup asap putih halus yang masih mengepul diatasnya. “Aigoo.. Aigoo..”

Gadis itu terkikik mendengarnya, “Aku tidak tahu kalau teh Oolong buatanku sebegitu nikmatnya,”

Siwon menyesap tehnya, dan tersenyum, “Secangkir teh hangat memang paling nikmat di sore hari,”

“Cih,” cibir Tiffany halus. Kemudian ikut menghirup aroma segar dari cangkirnya.

DRRRT!

Dua pasang mata itu langsung menuju kearah handphone milik Tiffany yang bergetar. Gadis itu segera menyaut telepon genggamnya dan menaruhnya didekat telinga kanan.

“Yeoboseyo?.. Ne, wookie-ssi.. Sabtu malam? Ah––”

Siwon sepertinya paham arah pembicaraan orang yang sedang menelpon Tiffany itu. dengan tegas dia menggumam, “Bilang tidak bisa! Bilang tidak bisa!” sementara tangannya membentuk tanda silang.

Tiffany mengerutkan dahinya. Bermaksud bertanya mengapa. Namun Siwon hanya terus mengatakan ‘tidak bisa’ saja. Membuatnya berkata, “Sepertinya aku ada perlu dengan orang lain.. Mianhae, wookie-ssi.. Hm, lain kali aku pasti akan ikut.. Ne, annyeong!”

KLIK!

“Sekarang jelaskan mengapa tadi tingkahmu seperti orang autis!” tuntut Tiffany begitu sambungan telepon terputus.

Siwon bertanya balik, “Apakah dia mengajakmu keluar Sabtu malam?”

“Kau seorang Merlin?”

“Tentu saja bukan!” cetus Siwon, “Aku ingin mengajakmu ke pestanya Graciue bersamaku.”

“Graciue?”

Pria itu mengangguk. “Kudengar mereka sebuah grup balet.”

Tiffany terdiam sejenak. Lalu berkata, “Ya, mereka cukup terkenal di Amerika. Apakah ini mengenai tur dunia mereka?”

“Wah, kau ternyata juga mengikuti beritanya,” Siwon mengangguk, “Mereka berencana mengadakan press conference sekaligus pesta penyambutan di ballroom hotel kami di Incheon. Jadi, sebagai seorang GM, aku tentu mendapatkan undangan resmi dari mereka,”

“Hm.”

“Sebenarnya aku tidak terlalu suka ikut pesta model begini. Tapi, berhubung aku mendengar mereka balerina, aku jadi teringat denganmu. Pasti sangat menyenangkan bagimu melihat mereka. Selain itu, jika kau ikut, aku juga jadi ada teman berbicara. Jadi kau bisa menemaniku.”

“Oh.”

Siwon memperhatikan gerak-gerik Tiffany yang kembali menyesap tehnya. Semula dia berpikir bahwa Tiffany akan sangat kegirangan mendengar berita ini. Nyatanya, gadis itu sedari tadi hanya membalas dengan sepatah kata tanpa arti.

“Aku tidak menyangka responmu seperti ini,” komentar Siwon.

Tiffany membalas menatapnya. “Kau kira seperti apa?”

“Pokoknya tidak seperti ini,”

“Tidak jelas,” cibir Tiffany, “Apa kau berharap aku akan berkata ‘Ya Tuhan, ini benar-benar sangat mengejutkan! Kau benar-benar orang terbaik di dunia, Choi Siwon.’ seperti itu? You got it!”

“Dan aku hampir muntah melihat wajahmu yang seperti itu,”

Tiffany menggerutu tidak jelas.

 

*****

“Sampai!”

Siwon mematikan mesin saat Tiffany keluar mobilnya. Tampak karpet merah telah diinjaki oleh tamu-tamu undangan. Mereka memang datang lima belas menit lebih lambat dari waktu yang dijadwalkan karena Siwon harus menunggu Tiffany berdandan terlebih dahulu. Namanya juga wanita. Sepertinya tidak perlu diceritakan gerutuan seperti apa yang keluar dari mulut Siwon selama menunggu perempuan itu bersolek satu jam lebih.

“Mau minum sesuatu?”

Tiffany mengangguk. “Kita akan minum apa?”

“Cocktail?”

“Sepertinya beralkohol,”

“Apa mau kuambilkan jus jeruk saja?” tawar Siwon.

“Kedengarannya lebih baik,”

Siwon mengulurkan tangannya. Mengambil salah satu gelas yang dibawakan oleh pramusaji, dan memberikannya kepada Tiffany. Sementara untuk dirinya, Siwon mengambil sampanye. Keduanya saling melakukan tos sebelum menyesap minumannya pelan. kelihatannya pidato pembukaannya telah usai, melihat beberapa orang sudah memutuskan untuk berdansa. Sayangnya, Siwon tidak mungkin mengajak Tiffany melakukannya sementara keadaan kaki Tiffany seperti sekarang.

“Kalian juga datang?”

Baik Siwon maupun Tiffany sama-sama menoleh. Menatap Jessica dan Donghae yang sudah mendekati mereka. Senyum Tiffany langsung mengembang saat melihat Jessica. “Jessie!”

“Bagaimana keadaan kakimu?” tanya Jessica lembut sambil memeluk tubuh sahabatnya.

“Jauh lebih baik. Sepertinya lusa aku sudah bisa melepas perbannya,”

“Jinja?”

Tiffany mengangguk.

“Omo.. chukkae!” Jessica menepuk tangannya. Ada rasa lega dan senang dalam ekspresi wajahnya saat itu.

“Kukira kau tidak suka datang ke pesta seperti ini,” ujar Donghae tiba-tiba. Melirik kearah Siwon.

“Memang tidak.”

“Lalu kenapa sekarang kau ada disini?”

Siwon menyipitkan matanya, “Kau tidak ingat atau tidak tahu kalau aku pemilik hotel ini?”

Donghae langsung menepuk dahinya, “Aku lupa kalau aku memiliki teman yang sangat kaya,”

Siwon hanya diam. Menatap kearah sekeliling gedung sambil menganggukkan kepala. Tiffany dan Jessica sudah berjalan entah kemana. Sepertinya mereka bertemu dengan sesama pengajar balet di studionya.

“Bagaimana misi pendekatanmu?”

“Siapa yang sedang pendekatan?”

“Tentu saja kau dengan Tiffany,” kata Donghae.

“Aku tidak merasa kami dalam masa pendekatan,”

“Lalu apa namanya jika kalian pergi bersama? Datang bersama? Bahkan datang bersama?”

“Sstt!!” desis Siwon, “Kecilkan volume suaramu! Itu bisa membuat skandal besar jika sampai didengar oleh tamu lainnya.”

Donghae terkekeh pelan.

“Kau memang selalu bersi–Hey, Susan!” sapa Donghae tiba-tiba.

Siwon menatap seorang wanita anggun berperawakan seperti Tiffany sedang berdiri dihadapannya. Donghae dan Susan itu langsung berpelukan sambil bercipika-cipiki layaknya reuni kawan lama.

“Kau tetap hebat seperti biasanya,” puji Donghae.

“Ini hanya bagian dari produksi kami. Pesta ini juga sudah termasuk didalamnya,”

“Kuharap gaun malammu tidak habis untuk pesta seperti ini berturut-turut,”

Susan tertawa manis. Kemudian menatap kearah Siwon sambil menyipitkan mata.

“Kau––Siwon-ssi, ne?”

Siwon tersenyum tipis, “Annyeonghaseyo!”

“Oh, berarti kau pemilik hotel ini?” Susan langsung mengulurkan tangannya, “Suatu kehormatan sekali bisa mendapatkan hotel mewahmu untuk pesta kami. Hotel ini benar-benar menakjubkan,”

“Ah, jangan berlebihan seperti itu! Kami semua masih belajar,”

“Aigoo..” Donghae menepuk bahu Siwon pelan, “Sepertinya temanku ini terlalu merendah ya,”

“Ngomong-ngomong,” Susan melirik ke kanan dan kiri, “Apa kalian datang sebagai pasangan?”

Donghae langsung tertawa geli, “Tentu saja tidak! Kami datang dengan pasangan masing-masing. Itu mereka disana, dekat dengan para dancer,”

Susan mendongakkan kepalanya, “Ah yang itu––Astaga! Oh! Itu..”

“Ada apa?” tanya Siwon.

“Itu.. benarkah dia Tiffany Hwang?” tanya Susan sambil menunjuk-nunjuk.

Siwon terkejut. “Kau mengenalinya?”

“Tentu saja, aku mengenalnya. Dia balerina terbaik yang pernah kumiliki. Tidak ada penari yang bisa membawakan segala macam gerakan seindah dia,” mendadak aura kesedihan meliputi balik badan Susan, “Sayang sekali, dia tiba-tiba mengundurkan diri dua tahun yang lalu. Aku benar-benar kecewa.”

 

*****

“Tiffany!”

Dibiarkan saja Susan memeluk dirinya begitu erat begitu dia dan Jessica kembali ke dekat Siwon. Tiffany membalasnya dengan senyuman yang sangat ramah.

“Aku benar-benar terkejut kau datang kemari,”

“Sebenarnya Siwon yang mengajakku,” ujar Tiffany sambil melirik kearah pria yang berdiri disebelah kanannya.

Jessica mengerutkan keningnya, “Apa kalian saling mengenal?”

Tiffany mengangguk, “Beliau guru yang sangat hebat selama aku belajar balet,”

“Jangan merendah,” Susan mengibaskan tangannya, “Kau adalah balerina dengan fouettés terbaik. Tentu saja kau yang terbaik. Ingat saat kita mengadakan pertunjukkan di Wina?”

“Oh, waktu Swan Lake bukan? Astaga!––” keduanya langsung bercerita panjang lebar. Bernostalgia dengan pengalaman-pengalaman mereka yang sangat berharga di masa lampau. Tiffany membiarkan Siwon, Donghae, dan Jessica tercengang sendiri dengan cerita mereka, tanpa dia sadari. Siapa yang menyangka kalau dibalik tingkahnya yang sederhana, ternyata Tiffany seorang balerina kelas dunia?

Cukup lama mereka saling bercakap, hingga Susan mohon pergi untuk menemui tamu yang lain terlebih dahulu. Saat itu, Siwon dan Tiffany tinggal berdua karena Jessica dan Donghae ingin berdansa ketengah. Suasana hening, hanya terdengar kecapan ‘ah’ lega setelah meneguk minumannya.

“Jadi kau pernah bergabung dengan mereka?” tanya Siwon tiba-tiba.

“Hm. Begitulah. Tapi tidak lama,”

“Aku baru tahu,”

Tiffany menyeringai, “Setidaknya kau pernah tahu. Itu sudah cukup.”

“Kau mengharap lebih dariku?” Siwon balas menatap.

“Aku tidak menyangka perspektif kita berdua sama-sama jalan,”

Siwon terkikik pelan. Baru akan mengeluarkan kalimatnya, tiba-tiba Tiffany berkata, “Maukah kau menemaniku diluar? Suasana disini mulai bising,”

Pria itu mengangguk, “Tentu.”

 

*****

Siwon menggerutu. Siapa yang menyangka bahwa ajakan Tiffany keluar itu ternyata akan membuatnya semakin tersisih. Gadis itu sedari tadi sibuk berbicara dengan teman-teman lamanya di Graciue dulu. Mereka berhaha-hihi dengan cerianya, tanpa mengetahui bahwa Siwon sudah berlumut dibelakang mereka. Jadilah dia menghabiskan dua gelas sampanye selagi menunggu Tiffany.

“Siwon?”

Yang dipanggil itupun menoleh. “Oh, Leeteuk-ssi! Annyeonghaseyo!”

Keduanya saling berjabat tangan dengan hormat. Leeteuk adalah kakak kelas Siwon ketika mereka duduk di bangku SMA. Ketika itu, pria ini menjabat sebagai ketua organisasi siswa di sekolahnya. Tentu saja Leeteuk mengingat siapa Siwon, karena dia adalah pengganti Leeteuk setelahnya.

“Jadi kau pemilik..” Leeteuk menunjuk bangunan dalam ruangan.

Siwon hanya tersenyum sopan menjawab pertanyaan tersebut.

“Aigoo.. kau benar-benar menjadi orang sukses sekarang ya!”

“Ah, tidak sebanding denganmu, Leeteuk-ssi,”

Leeteuk tertawa pelan sambil memukul bahu Siwon.

“Apa itu milik yeojamu?” dilihatnya adik kelasnya itu menenteng tas kecil perempuan warna hitam.

Siwon menjawab sambil menunjuk kearah Tiffany yang berdiri agak jauh darinya, “Ini milik dia.”

Leeteuk mengangguk paham.

Sejujurnya, ada rasa ingin menjawab ya dari dalam diri Siwon saat Leeteuk bertanya tentang tas itu milik perempuannya. Astaga! Hentikan pikiran itu! syukur akal sehatnya masih bisa mengekang keinginannya.

“Siwon,” Tiffany memutar badan. “Bisakah kau mengambilkan handphoneku? Ada di bagian tengah,”

Kemudian gadis itu melanjutkan percakapannya. Siwon mulai merogoh-rogoh isi tas tersebut. Dikeluarkannya beberapa barang seperti dompet, obat, dan, “Ah! Ini dia!”

“Leeteuk-ssi, bisakah kutitipkan ini sebentar padamu?”

Saat itu, Siwon belum menyadari keterkejutan yang hadir di wajah kakak kelasnya. Sekembalinya dari memberikan handphone tersebut pada Tiffany, dia melihat Leeteuk menggenggam strip obat yang berasal dari tas Tiffany.

“Ada apa?”

“Ini milik siapa?”

Siwon mengernyitkan dahi, “Memangnya kenapa?”

“Apa kau tahu kalau ini obat peredam rasa sakit dosis tinggi?”

“Mwo?!” pekiknya pelan. “Anio, aku tidak tahu.”

Leeteuk kembali bertanya, “Ini milik siapa?”

Siwon hanya diam tanpa kata.

“Gadis itu sakit apa?”

Pria itu masih saja diam, tidak menjawab pertanyaan dengan satu katapun.

Leeteuk tampak menghela napas. Kemudian memasukkan obat itu kembali kedalam tas. “Aku seorang dokter. Tentu aku tahu dengan pasti kalau ini obat peredam rasa sakit dosis tinggi. Obat itu tidak mungkin dimiliki oleh seseorang yang hanya mengalami kecelakaan di kaki karena dosisnya yang terlalu tinggi. Setahuku, yang biasa meminumnya itu seorang penderita.. kanker otak.”

TBC…

author’s note : JWESONGHAMNIDAAAA!! part ini amat sangat telat! kemarin sebenernya sempet mau kupost. tapi pas kubaca ulang, ternyata banyak banget part ngawurnya dan aku lagi males editing. akhirnya kubiarkan mengendap dan ternyata.. terkubut beneran!-_-semoga readers  mau baca fanfic ini yaa amin selamat menikmati😀

54 thoughts on “Saltarcume part 6

  1. Yeaah!^^
    Part ini akhirnya datang juga~ Alhamdulillah, ada scene HaeSica! Kangen banget aku sama couple itu hihihi. Hm sepertinya Siwon mulai suka sama Tiffany…. bagaimana dengan Yuri? Semoga hubungan mereka baik-baik aja ok tapi harus putus ya kalau mau sama Tiffany ya! Hahaha. Eh, lhoo… kayaknya… Tiffany sakit seperti ibunya… Iya kan?
    Part selanjutnya ditunggu lho!🙂

    • hahah maaf yaa part ini ngentang banget datengnya-_-
      hubungan Siwon sama Yuri akan dibahas lagi kok di part selanjutnya🙂 jadi tunggu yaa eheheh
      gamsahamnida komennya ({})

  2. yaaa bneran tiffany skitna kanker otak ya bner2 sad end nnt…..
    sdih bnget ngebayangin siwonpa bkal dtnggal fany…..!!!!
    haepa akhirna mulai membuka hti untuk sica snengna
    dtnggu klnjtanna jngan lma2 ya
    Gumawo

  3. Kasian tifany teryata dibalik sifat cerianya teryata menyimpan penyakit yg menakutkan.aku harap ada penyelesain yg indah buat ff ini.ditunggu lanjutannya yah

  4. Yah tiffany nya sakit kanker bukan itu?? Yah thor jangan sad ending donk😦 ditunggu bnget thor part slanjutnya!! Hwaiting thor ^^

  5. Ah. . . Cerita.a di publis juga nih,
    tau g’ saeng q nunggu crita ini smpai lumutan tau. . .
    Aku baca part ini tegang skali pha lg pas bagian belakan.
    Aku berharap cerita ini jangan smpai sad ending saeng. Harus happy ending ea saeng.
    Btw itu knpa fany minum obat yg dosis.a tinggi? Pha jngan2 dia mempunxai penxakit kangker?? Next part.a jngan lama2 saeng. . .

    • ahahah mianhamnida eonnie, ini juga baru sempet publish kemarin
      endingnya ditunggu aja yaa eon😉
      kenapa tiffany eonnie minum obat itu, penyakit, nanti dibahas di part selanjutnya kok😀
      gamsahamnida komennya eon ({}) ditunggu yaa😀

  6. Andweeeeeee………………….
    knp fany eonni sakit……….hiks hiks hiks………kanker otak lagi?????
    yeach siwon oppa udah mulai suka sama uri eonni………..^_^
    next part yach thor……^_^

  7. yeah. akhirnya lanjutannya publish..

    oh omo.. tiffany kenapa? kanker otak? andwae :((

    cie itu donge sama sica suka2an cieee…

    ditunggu next partnya🙂

  8. yyeeeehhh akhirnya Part 6nya keluarrr
    Omo omo siwon oppa mulai naksir ama fany unnie nih
    Mana yuri ? Lupain aja oppa ada fany unnie kok *plakkkkkk dibunuh Yuri

    Aaahh what ?
    Fany unnie sakit ?
    Mwo!! Kanker Otak ?
    Hah ?
    Sad ending
    *lebay -,-

    hhuuuaaakkk part 7 disegerakan !!!!

  9. Kyaaaa
    akhirnya kluar jga lanjutan ny nie…
    Tiffany eonnie sakit…???
    Hemmmm
    sedih😦
    dtggu klanjutan ny,,,,
    *FIGHTING!!!!

  10. MWO?? author jahat banget klo bikin ini ff sad ending sumpah TT.TT
    Tiff kenapa kanker otak? parah!!! author jahattttt :” jadiin happy ending please😥

  11. Tuhkan.. Kecurigaan.ku terbukti #plak tiffany kena kanker otak😦 andwae,chingu… Jangan pisahkan sifany😦 disaat mereka saling membutuhkan..huhuhu.. Ditunggu next part ya..🙂

  12. huaa.. bagus banget part ini
    kereeen..
    fany sakit? pantes aja dia pusing gitu.

    hahaha.. aku suka karakter fany yang kuat disini. HaeSica jjang! hae ngajak sica date!
    tapi aku jd kasian sama yuri nih. hihii..

    update soon ne?

  13. Omo.. Kanker otak… ksian bget ci Tiff eonni,
    jgn d’bkin mati ea thor Tiffany’y..
    Lanjut thor… Keep Writting…🙂

  14. Fany sakit kanker ? Andwaeee *lebay?
    Klopun akhirnya fany sakit tp end nya harus sembuh , harus ! *maksa
    Trz hub.siwon sama yuri gmana ??
    Next part jgn lama” y :d

  15. Omo!jangan bilang bakalan sad ending nantinya sifany bakalan pisah?o no no no andwae*tutupmata* aaa sifany jjang!chingu lanjutannya jangan ngaret lagi ya xD

  16. T.T Fany eonnie~!!! andwaee~!! Akk smpe nangis bca.a Thorr sroott *lap ingus #plakk… Mkin pnasaran! Author yg paliing baik, next partnya jgn lma” y? Gege.. HWAITING~!!

  17. Aishh-.- can’t waiting. Kasian yuri yah.. Tapi mau gimana lagi, siwon kan manusia biasa._. Yang penting sih ada HAESICA wkwk. SiFany juga deng.-. Hwaiting ya chingu

  18. Daebak!! Aku ngikutin dari part 1 tapi baru bisa ngereview di part ini mian😦
    kereeenn, suka banget sama sifany :3 im sifany shiper
    love it~ dilanjutin ya plisss panasaran

  19. aduuh tiffany sakit ya?
    apa jgn” kanker kok minum obat yg dosisnya tinggi??
    jgn lama” ya thor part 7 nya !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s