Saltarcume part 7

Saltarcume

Romance & Sad | Characters : Tiffany Hwang, Choi Siwon, Kwon Yuri, Lee Donghae, Jessica Jung |

tak ada hal yang terindah dari melihatmu berputar dan.. mencintaiku

*****

“Haah..”

Sudah kelima kalinya Siwon mendengar Tiffany menghela napas panjang selama mereka dalam perjalanan pulang. Gadis itu tampak beberapa kali memijat-mijat daerah pelipisnya. Kemudian memejamkan matanya sebentar. Dan beberapa detik berselang, menghembuskan napasnya kasar. Begitu terus.

“Apa yang kau lihat? Sudah sadar kalau orang disampingmu ini sangat cantik?”

Laki-laki itu berdecak, “Kelihatannya kau memiliki tingkat percaya diri tinggi yang sangat akut,”

“Itu yang kubanggakan selama ini,”

Siwon terkekeh. Namun cepat terhenti saat tangannya tak sengaja menyentuh sebuah benda di kantung celananya.

 

*****

“Eodigaa? Ck!–Aish!”

Bernapas sejenak. Matanya memutar, menyapu seluruh bagian kamarnya sekilas. Sebelum dia kembali mengobrak-abrik seluruh isi tas pestanya. Dimana sih?

Nihil.

Tiffany menggaruk kulit leher belakangnya. Keningnya mengkerut. Sedang berusaha mengingat dimana dia menaruh obatnya. Masih sangat diingatnya, strip obat itu telah dia masukkan kedalam tas sebelum berangkat ke pesta Graciue bersama Siwon. Tapi kenapa sekarang sudah raib begini? Malah itu adalah strip obat terakhirnya.

Ayolah! Dimana obat itu? Tiffany benar-benar membutuhkannya. Sebelum..

“Sedang mencari apa?”

“Ah?” Gadis itu terkejut. Ditolehnya kebelakang dan ia menemukan sesosok pria bertubuh besar sedang menengklengkan kepala ke kanan. “Sejak kapan kau ada disini?”

“Beberapa detik yang lalu. Aku sedang menunggu magic jar dan melihatmu sedang kebingungan. Kupikir kau butuh bantuan,” jelas Siwon.

Tiffany mengganggukkan kepalanya, “Oh, sejak kapan kau menjadi Hercules, suka membantu orang?”

Siwon tertawa hambar. “Astaga, sepertinya apapun yang kulakukan pasti selalu salah di matamu ya,”

Tiffany mengangkat bahunya.

Fokus matanya berpindah, kembali menyapu keatas meja belajar dan rak-rak di kamarnya. Meneliti kembali, barangkali obatnya dia tertinggal disana. Saat dia menemukan bahwa strip obat itu benar-benar tidak ada, Tiffany hanya mampu menghembuskan napas kasar.

“Sepertinya kau sangat suka menghela napas panjang hari ini,”

“Maksudmu?”

“Asal kau tahu saja,” Siwon melipat tangannya didepan dada sambil telunjuknya mengacung, “Tidak ada satupun yang terlewatkan oleh mataku. Semua hal yang kutemukan pasti akan terekam dengan baik di otakku. Apa kau sadar jika kau sudah membuang napasmu seperti itu sebanyak sembilan kali di mobil?”

“Berarti sekarang sudah genap sepuluh,” celetuknya asal.

“Jangan mengalihkan pembicaraan,”

“Memang apa yang kita bicarakan saat ini?”

Mendadak mulut Siwon menganga. Matanya berkedip-kedip cepat. Sebelum mengatakan, “Wah! Kau terlalu pandai berkelit,”

“Terima kasih pujiannya,”

Siwon mendengus kesal. Membuat Tiffany menahan dengan susah payah rasa ingin tertawanya.

DEG!

Tuhan! Kening Tiffany kembali mengerut. Rasa sakit itu kembali datang ke kepalanya. Digigit bibirnya bagian bawah. Berharap dengan begitu akan dapat mengurangi rasa sakitnya. Matanya terpejam sesaat.

“Ada apa denganmu? Kau baik-baik saja?” Siwon segera mengulurkan tangannya untuk memegangi tubuh Tiffany. Namun ditepis.

“Nan gwaenchana,”

“Sungguh? Wajahmu terlihat agak pucat,”

“Aku baik-baik saja,” Tiffany mengangkat kepalanya. Tersenyum kearah Siwon yang sedang memandangnya panik. Dia tahu kalau laki-laki itu pasti tidak percaya dengan perkataannya, maka dia menambahkan, “Hanya pusing kurang tidur.”

“Apa yang kau kerjakan sampai kurang tidur?”

Tiffany mendesah. “Apapun yang kulakukan tidak harus selalu kau tahu, bukan?”

“Lalu jam berapa kau tidur semalam?”

“Aku tidak pernah memakai arloji saat tidur,”

“Apa benar hanya kurang tidur? Aku mencium bau bukan hanya sekadar ‘lelah’ darimu,”

“Ada apa sebenarnya denganmu?” Tiffany menatap Siwon tajam, “Apa yang kulakukan, kapan aku tidur, aku lelah atau tidak, itu semua bukan urusanmu. Urusi dirimu sendiri!”

Dia membuang pandangannya. Melihat wajah Siwon saat ini hanya menambah emosinya saja. Sudah pusingnya semakin tidak karuan pula. Aish! Memang siapa Siwon sampai harus tahu apapun yang terjadi pada dirinya? Aneh!

Terdengar suara desahan keluar dari mulut Siwon. Mata Tiffany melirik sinis. Laki-laki itu memasukkan tangan kedalam saku celananya. Gerakannya seperti mengambil sesuatu dari dalam. Mulutnya terbuka lebar saat melihat, “Itu!!”

 

*****

“––Urusi dirimu sendiri!”

Siwon menyerah saat melihat gadis dihadapannya itu melipat tangan sembari membuang muka. Dia tidak mengatakan apapun lagi. Kelihatannya pancingannya terhadap Tiffany sama sekali tidak berhasil.

Diputuskannya untuk merogoh saku celananya. Mengambil barang yang–“Itu!!”

Benar kan, sudah diduganya bahwa Tiffany pasti sedang mencari ini. “Ini milikmu?” Dari reaksinya saja, Siwon tahu bahwa benda ini pasti milik dia.

“Dimana kau menemukannya?” tanya Tiffany, menarik strip obat yang ada di tangan Siwon.

“Tidak dimana-mana.”

Kini laki-laki itu terdiam. Dia yakin, Tiffany tahu bahwa dia sedang menunggu gadis itu untuk menjelaskan.

“Apa?”

“Obat apa itu?” sebenarnya Siwon juga sudah tahu obat itu apa, namun entah mengapa dia ingin mendengarnya langsung dari mulut Tiffany.

Gadis itu terdiam sesaat. Terdapat raut kelegaan melintas sesaat. Kemudian saat ekspresi wajahnya sudah menormal, dia menjawab, “Supplemen.”

“Hanya supplemen?” Siwon berpikir sesaat, “Bukan pereda rasa sakit?”

Rahang Tiffany agak mengeras. “Kata siapa?”

“Siapapun itu kurasa kau tidak perlu tahu,” Siwon masih terus memahami siratan makna dari mimik muka Tiffany. Apakah wajah gadis itu terlihat panik? Tidak. Mungkin karena Siwon lupa kalau Tiffany memiliki kemampuan mengatur emosi yang cukup baik. Sesaat dia mulai berpikir, apakah Leeteuk itu salah membaca obat ini?

“Kalau begitu apalagi yang orang itu katakan?”

Dia menjelaskan, “Katanya obat itu adalah pereda rasa sakit yang dosisnya cukup tinggi. Sangat jarang orang yang meminumnya kalau hanya penyakit biasa. Penderita yang mengonsumsinya kebanyakan adalah orang yang mengalami depresi akut atau–”

“Atau apa?”

Kalimatnya terhenti. Ditatapnya Tiffany dengan memohon, agar gadis itu tidak menyuruhnya menyebutkan satu penyakit lagi. Tidak tahu apa alasannya, tetapi Siwon sangat tidak ingin mengetahui bahwa kemungkinan penyakit yang sedang diderita Tiffany adalah yang akan disebutkannya. Sayangnya, saat ini telepati mereka sedang tidak berjalan.

TING!

God sake! Suara penyelamat!

“Nasinya sudah matang. Aku akan menyiapkan makan malam dulu. Kau mandi dulu saja!” suruh Siwon, meninggalkan Tiffany sendiri di kamar.

Dalam hati, dia sangat bertanya-tanya, “Apakah Tiffany benar mengidap penyakit kanker otak?”

 

*****

“Okay, dad! I’m going to work, see you later!”

KLIK!

Laptop Jessica tertutup. Barusan dia menghubungi daddy-nya via skype, kebiasaan wajibnya setiap hari Jumat. Maklumlah, Jessica merupakan satu-satunya keluarga inti yang tersisa bagi ayahnya. Selain itu, dia juga tinggal terpisah dengan ayahnya itu. Jadi mau tidak mau harus saling mengontak sesering mungkin. Pernah sekali dia kelupaan menghubungi ayahnya. Akibatnya, tidak ada uang tambahan dari ayahnya selama sebulan!

Gadis itu bangun dari tempat tidurnya, pergi menuju dapur untuk mengambil botol minumnya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Waktunya bekerja!

“Baju, handphone, dompet, snack, botol.. apalagi yang kurang ya,” gumamnya pelan, mengingat-ingat barang yang harus dimasukkannya lagi kedalam tas. Setelah meyakini semua siap, barulah dia beranjak keluar rumah. Dipasangnya headset iPod touch miliknya seperti biasa.

“Annyeong,”

Jessica terkejut. Bola matanya membesar saat mendapati Donghae sudah berdiri didepan pintu apartemennya sambil tersenyum. “Donghae,”

“Mau berangkat kerja?”

Gadis itu terkikik, “Apa aku masih terlihat seperti anak kuliahan?”

Telunjuk dan jempol Donghae bertemu membentuk persegi panjang, menyorot penampilan keseluruhan Jessica pagi ini dengan wajah menelisik. “Kalau yang kulihat sih, dari dandananmu kau seperti perawan usia 40 tahun.”

“Cih,” cibir Jessica.

Donghae tertawa.

“Kau tidak mengajar hari ini?” tanya Jessica melihat Donghae memakai hanya memakai polo shirt dan jeans, pakaian yang tidak cocok untuk seorang hip-hop dancer.

“Hari ini aku akan mendampingi anak didikku lomba tingkat nasional,”

“Maggie Boys?”

Donghae menyipitkan mata, “Darimana kau tahu?”

“Kau pernah menceritakannya, bodoh,”

Jessica mencubit pipi Donghae keras, sampai laki-laki itu mengaduh kencang, “Aw! Parah!”

Tersangkanya hanya menjulurkan lidah. Terkekeh puas.

“Jadi mereka berhasil menang di provinsi?”

“Begitulah. Kuharap penampilan mereka nanti lebih memuaskan,”

Jessica mengangguk semangat, “Pasti. Fighting!”

Gemas dengan wajah Jessica yang terlihat ehem.. manis, Donghae tersipu. Tangannya mengelus kepala Jessica pelan.

“Haah..” Donghae menghela napas, “Daripada nanti kau telat kerja lalu menyumpah-nyerapahiku dan menyebabkan timku kalah, lebih baik kita segera berangkat!”

“Eerr.. aku punya mobil sendiri,”

Laki-laki itu tersenyum, “Tumpangan gratis. Nanti juga kujemput. Bagaimana?”

 

*****

Siwon memutar kepalanya. Lehernya terasa sangat tegang setelah hampir dua jam setengah mendengarkan laporan pemasukan bulan pertama hotel cabang mereka di Incheon. Kakinya melangkah dari meeting room menuju ruang kerjanya. Manajer keuangannya dan para pemegang saham sebenarnya mengajak untuk makan siang bersama di Poirot, restoran Italia yang baru dibuka di hotel cabang. Tetapi sepertinya dia lebih memilih untuk bersantai di ruangannya saja sambil menyelesaikan beberapa pengecekan tax hotel.

Ketika memasuki ruangan, Siwon dikejutkan dengan seorang wanita bertubuh semampai berdiri didekat kursi kerjanya.

“Kau––”

 

*****

“Gamsahamnida,” ucap Yuri saat seorang pelayan menuangkan air teh kedalam cangkirnya. Sementara Siwon hanya mengangguk sembari memberikan senyum tipisnya. Keduanya kini sedang berada di salah satu executive lounge yang tersedia di Gimpo International Airport.

Setelah pelayan itu pergi, baik Siwon maupun Yuri sama-sama lebih sibuk mengaduk teh mereka. Tak ada satupun kata yang terucap dari mereka. Keduanya seperti terlihat begitu canggung untuk memulai.

“Jadi,” Siwon membuka pembicaraan setelah sekian menit, “Bagaimana kabarmu?”

“Cukup baik,”

Laki-laki itu kembali mengangguk.

“Satu jam lagi kau akan berangkat ke Amerika?”

“Begitulah,”

Jawaban yang dingin. Membuatnya sesaat teringat, sewaktu dia meminta izin Yuri untuk tinggal di rumah Tiffany.

 

“Jadi apa yang oppa ingin katakan?”

“Hah?”

“Bukannya ditelpon tadi oppa bilang ingin mengatakan sesuatu? Ada apa?”

Siwon menghela napas panjang sesaat. Matanya kini menatap mata indah milik Yuri. Sementara perempuannya itu menunggu kalimat apa yang habis ini dilontarkan olehnya.

“Bolehkah aku menginap di rumah Tiffany seminggu ini?”

 

Siwon hanya berkata bahwa dia akan tinggal seminggu saja disana. Sekarang dia masih tinggal di rumah Tiffany dan Yuri sudah bersiap berangkat?

“Ternyata, aku sudah berada disana selama sebulan lebih,” desahnya pelan.

“Apa yang oppa katakan?”

“Eh?” Siwon terkaget, tak lama kembali tersenyum, “Aniyo.”

Suara helaan napas panjang terdengar sangat pilu di telinga Yuri dan Siwon. Mata laki-laki itu menerawang, terbang menuju waktu dimana hubungannya dengan Yuri masih baik-baik saja. Setiap Siwon akan tugas dinas atau kunjungan keluar negeri, maka mereka akan saling bertemu disini. Bertukar cerita, mengaduk secangkir teh bersama, membagi rasa cinta untuk keduanya sambil menunggu di pesawat Siwon datang. Begitupula ketika Yuri yang bersiap kembali ke Amerika.

Ah, sudah berapa lamakah kenangan itu terlewatkan? Setahun? Dua tahun? Entahlah. Dia  tidak ingat.

Mata Siwon menelisik setiap inci tubuh Yuri. Tak ada perubahan yang begitu spesifik dialami oleh Yuri. Badannya tetap indah dengan bentuk gitar Spanyol andalannya. Kulitnya juga mulus dan sangat terawat. Rambut lurusnyapun masih tergerai lembut seperti dulu. Namun ada dua hal yang ia sadari berubah dari perempuan itu. Pertama, mata, tatapan cinta yang selalu Yuri tunjukkan ketika bertemu dengannya. Kedua..’

“Cincin apa itu?”

“Ah?”

Yuri terkesiap. Mendapati telunjuk Siwon menunjuk tegas benda emas yang melingkar di jari manisnya.

“Ini–”

“Kau sudah bertunangan?” tanya Siwon lurus.

Sungguh. Laki-laki itu masih belum siap mendengar jawaban atas pertanyaannya sendiri. Benarkah.. Benarkah Yuri sudah bertunangan? Benarkah perempuan yang menghiasi tidur malamnya selama dua tahun kemarin, kini sudah memiliki pria lain lagi di hatinya?

Yuri belum mengatakan apapun. Tetapi dia sangat yakin, bahwa gadis itu sedang memikirkan kalimat terhalus untuk menjawab pertanyaannya. Siwon memalingkan wajahnya. Menata hatinya yang sekarang sudah benar-benar hancur, semampu diri. Pusara pertanyaan terus berputar di otaknya bak angin topan yang siap menerjang rumah-rumah kokoh. Semudah itukah Yuri melupakannya?

“Aku..” Akhirnya gadis itu membuka mulut, “Sudah bertunangan dengan Yesung oppa tiga hari yang lalu.”

Siwon menutup matanya. Tetap memalingkan mukanya.

“Saat aku sedang kalut akibat hubungan kita, dia begitu setia menemaniku. Yesung oppa selalu memberiku semangat untuk bangkit, menyuruhku untuk memperbaiki hubunganku denganmu. Menurutnya, hubungan kita rusak kemarin hanya karena salah paham.”

“Aku mendengarkan perkataannya. Kupikir, kita berdua sudah berhubungan sejak lama. Rasanya tidak rela jika kita menghentikan semua ini tanpa ada perjuangan dahulu. Tetapi, ketika aku ingin bertemu denganmu, aku justru menemukanmu membawa gadis itu ke pesta Graciue. Wah.. aku langsung tersentak. Euhm..” kalimat itupun tersendat, karena Yuri menahan keras air matanya yang nyaris berjatuhan.

Siwon kini menatap tajam kearah Yuri. Siap mendengarkan penjelasan gadis itu dengan seksama.

“Sebelum itu, appa sudah memintaku terlebih dahulu untuk menjalin hubungan dengan Yesung oppa,”

“Apa itu ketika kita putus kemarin?” sela Siwon cepat.

Yuri menggeleng, “Permintaan itu sudah lama diutarakan appa, bahkan sebelum kita berpacaran. Namun, baru kemarin aku benar-benar memikirkannya. Yesung oppa sangatlah baik, peduli padaku dan seorang pendengar yang baik pula. Tidak ada salahnya jika aku mencoba menerimanya. Maka dari itu, aku.. menerima pertunangan ini.”

Kuasa Tuhan, keduanya menghempaskan tubuh mereka ke sandaran kursi bersamaan. raut Siwon maupun Yuri sama-sama tak dapat terbaca artinya. Terlalu banyak guratan abu-abu yang memenuhi pikiran keduanya.

Sudah tak ada yang bisa diperbaiki. Satu benang kesimpulan yang dapat Siwon ambil secara kasat mata. Satu masalah yang terus bertumpukan lalu itu, kini telah menemukan puncaknya. Setiap hal akan selalu ada klimaksnya bukan?

Hanya saja, ini bukan klimaks yang dia inginkan. Ini bukan akhir cerita cinta seperti yang selalu ditampilkan dalam film maupun drama romantis. Siwon tersenyum miris menyadari semua kenyataan ini.

Dihadapannya, Yuri tampak sangat kalut. Sungguh, perempuan manis itu tidak pernah menyangka akan sebegini sulitnya menjelaskan secara tatap muka kepada mantan kekasihnya itu. Sangat berat menata hatinya agar tetap teguh pada keputusannya saat ini. Siwon, pria itu memang tidak mengatakan apapun, tak memberi sedikitpun tanggapan. Akan tetapi, dia sangat paham, bahwa dalam hatinya, Siwon adalah pihak yang sangat amat tersakiti dengan keputusannya. Laki-laki itu pastilah sangat kecewa ketika menyadari bahwa tidak ada happy ending dalam hubungan mereka sekarang.

Tetapi inilah yang terbaik.

Inilah resolusi yang paling tepat yang mampu diketok olehnya. Mana mungkin Yuri hanya terpaku menunggu sepucuk cinta satu kumbang, sementara masih ribuan lebah yang mampu memberikan segala apa yang dia inginkan?

Life must go on.

Terdiam keduanya cukup lama. Saling mendalami isi pikiran maupun hati masing-masing. Mencari tahu, benarkah semuanya telah berjalan dengan benar? Hanya..

 

Pesawat Terbang Singapore Airlines SG-0708 dengan tujuan New York City telah mendarat. Dimohon..

 

“Itukah pesawatmu?” tanya Siwon, menghentikan keheningan mereka.

Yuri tersenyum. Diambilnya tas jinjingnya, lalu berdiri untuk bersiap-siap. Tak lama berselang, Siwon turut berdiri. Membuat posisi mereka kembali berhadapan.

Siwon mengulurkan tangannya.

“Selamat atas pertunangan kalian berdua! Aku belum mengucapkannya bukan?” laki-laki itu tertawa sumbang, “Majulah dan jadi balerina hebat dunia setelah kau kembali nanti. Kalau kau tampil di Broadway, hubungi aku! Aku pasti akan menjadi orang terdepan yang melihatmu menari. Arraso?”

Yuri mengangguk, “Ne! Oppa juga. Hiduplah dengan baik setelah ini! Aku pasti akan terus mendoakan oppa dari sana. Hwaiting!”

Siwon ikut tersenyum melihat kedua sudut bibir perempuan itu tertarik. “Bolehkah aku memelukmu? Setidaknya ini pelukan terakhir dariku sebelum kau berada di Amerika dalam waktu lama.”

Terhenyak. Tangan itu.. adalah tangan yang paling Yuri rindukan. Gadis itu tak kuat  menahan tangisnya sembari menutupi wajahnya. Pelukan Siwon yang begitu hangat. Yuri yakin, jika saat ini Siwon menahannya untuk pergi, dia pasti akan menurutinya sekarang.

Sayangnya, Siwon yang dia kenal tidaklah seegois itu. Dia bukanlah pria yang tega memutus kepakan sayap seseorang dengan menghambat cita-citanya. Akhirnya, Yuri hanya mampu menikmati detik-detik yang berjalan cukup lambat diantara keduanya saat ini. Seluruh panca inderanya kini sedang mengingat-ingat bagaimana hangat, aroma, lembutnya tubuh Siwon yang memeluknya.

Sementara Siwon, laki-laki itu yang paling tahu mengapa dia melakukan hal ini pada Yuri. Memeluk perempuan itu di detik-detik terakhir keberangkatannya. Demi Tuhan, Siwon tidak rela sedikit perempuan itu meninggalkannya sekarang, sedangkan dia belum melakukan apapun untuknya.

But time is over.

Dengan sedikit kehangatan pelukan yang bercampur air mata.

 

*****

“Kelihatannya ada yang butuh teh Oolong,”

“Ah,” Siwon terkejut. Mendapati secangkir minuman hangat itu tengah ada didepan wajahnya. Didongakkan kepalanya. Matanya tertuju pada wajah gadis yang kini sedang mengangkat kedua alis hitamnya.

Disunggingkannya senyuman sambil menarik cangkir tersebut, “Gamsahamnida!”

Pria itu sadar bahwa Tiffany masih menatapnya dengan aura penasaran. Setelah disesapnya air teh tersebut, Siwon menoleh, “Waeyo?”

“Ani,” Tiffany mengubah pandangannya, namun tetap tertuju pada Siwon, “Ehm.. Apakah kau bertemu dengan mantan pacarmu itu hari ini?”

Siwon langsung menoleh menatapnya. “Wow, kau benar bukan keturunan Nostradamus? Sudah berapa kali kau membaca pikiranku?”

Tiffany memeletkan lidahnya, “Salah sendiri, menuliskan segala sesuatu di dahi lebarmu,”

Siwon berdesis, “Cih!”

Gadis itu tersenyum manis. Kemudian meniupi cangkir tehnya sebelum meneguknya sedikit. Panasnya sangat menghangatkan perut, apalagi disaat hujan deras seperti sekarang.

“Bolehkah aku bercerita?”

“Tidak gratis tentunya,”

Siwon menatap sinis kearah Tiffany, “Materialistis!”

“Di dunia yang serba korupsi, ha––”

“Hanya orang materialistislah yang mampu bertahan hidup. Aku tidak bodoh. Tidak perlu kau ulangi terus motto hidupmu itu,” desah Siwon, lalu meminum kembali teh kesukaannya tersebut.

Tiffany menarik napas panjangnya perlahan. Diluruskan kedua kakinya, memijat bagian belakang betis kecilnya yang tidak pegal. Lalu menoleh menatap Siwon sembari bertanya, “Apa yang ingin kau ceritakan?”

Sesapan Siwon akan tehnya terhenti sesaat. Pria itu terdiam, sebelum kembali bergerak menaruh cangkirnya diatas meja. Raut wajahnya tampak sedang berpikir ulang untuk menceritakan apa yang dialaminya tadi siang. Sementara Tiffany setia menunggu kata pertama yang akan terucap dari bibirnya.

“Yuri..” Tiffany masih menatap Siwon begitu intens, “Telah bertunangan,”

 

*****

 

“Yuri.. Telah Bertunangan.”

Tiga kata singkat itu sekejab mampu membelalakkan kedua mata Tiffany. “Jinja?”

Tak ada jawaban yang langsung terlontar tegas. Siwon hanya menatap kosong sambil menopang dagu dengan kedua tangannya. Rasanya, agak sulit dipercaya bagi Tiffany. Yuri sangat menyayangi Siwon. Dia tahu itu dengan pasti. Tidak mungkin secepat itu Yuri melupakan Siwon dan bertunangan dengan pria lain. Pasti ada kesalahpahaman disini.

“Siwon?” panggil Tiffany lagi, karena tidak mendapat jawaban.

“Ne,” kini laki-laki itu menatap Tiffany.

Kesedihan.

Kekecewaan.

Tiffany dapat membaca semua perasaan yang terpeta jelas di mata Siwon. Betapa sakitnya hati pria itu saat menyadari bahwa perempuan yang telah menemani dirinya beberapa tahun terakhir, kini telah bersama seseorang lain. Siwon sangat ingin marah, Tiffany sadar itu.

“Saat aku bertemu dengannya di bandara, dia mengenakan cincin pertunangan di jari manisnya. Yuri.. juga mengatakan bahwa kini dia sudah membuka hati sepenuhnya untuk Yesung hyung,” jelas Siwon begitu pelan.

“Apa kau..” Tiffany menghentikan kalimatnya sesaat, “Kecewa dengan keadaan saat ini?”

Siwon tersenyum hampa. “Bohong jika aku mengatakan bahwa aku baik-baik saja ketika mengetahuinya. Tapi aku sadar, semua ini juga bermula dari kesalahanku sendiri.”

Tiffany mengalihkan pandangannya. Mengikuti Siwon yang menatap lurus kedepan. “Kau tidak ingin mengubahnya?”

“Maksudmu?”

“Mengembalikannya kepelukanmu?”

“Lalu mengulangi kembali kesalahan yang sama?” Siwon meringis, “Tidak.”

Kembali perempuan itu menatap pria yang duduk disebelahnya. Kaget dengan jawaban tegas yang tidak sesuai dengan prediksinya.

“Cukup aku membuatnya sakit hingga tidak bisa bernapas seperti kemarin. Yuri gadis yang sangat baik. Dan dia salah berada disisi pria brengsek sepertiku––”

“Kau tidak brengsek, Siwon,” potong Tiffany cepat.

“Yuri pantas mendapatkan segala yang terbaik untuk hidupnya. Keluarga yang bahagia, karir yang cemerlang, dan tentunya, pria yang sempurna. Aku yang sekarang belum mampu membahagiakan wanita sebaik dia. Dan Yesung hyung.. pantas mendapatkannya,”

Siwon menghembuskan napas kasar. Setetes kristal cair tanpa sanggup ditahannya dari ujung mata. Menyadari kebodohan yang telah dia lakukan kemarin, hingga membuatnya begitu sesak seperti sekarang. Andaikan dia mampu menahan egonya. Andaikan dia mampu memperbaiki semua keadaan kemarin. Andaikan dia mampu menahan Yuri untuk pergi. Andaikan..

Semua pengandaian itu sama sekali tidak berarti apapun. Hanya berbuah pahit. Kenyataannya tak ada satupun hal yang mampu diubahnya untuk membuat Yuri dan dirinya kembali bersama.

Sesal. Satu hal yang tersisa dan sangat Siwon rasakan saat ini.

Tiffany berusaha sekuat tenaga menahan diri untuk tidak ikut menangis. Kedua kalinya, ia melihat Siwon berada dalam titik paling rendah penuh kerapuhan dalam kehidupannya. Dan hal itu, sangat menyayat hatinya.

Dia tahu Siwon adalah pria yang sangat tulus. Baik dalam melakukan segala sesuatu, termasuk dalam mencintai seorang wanita. Sungguh, ada perasaan iri sekilas di hati Tiffany saat melihat betapa pria ini mencintai wanitanya dan mampu ikhlas menerima kenyataan bahwa wanita yang ia cintai kini sudah menemukan jalannya sendiri.

Perlahan, tangan Tiffany menarik pelan telapak kanan Siwon. Mengelusnya lembut. Berusaha memberikan sedikit semangat dengan sedikit sentuhannya.

Pria itu menatap mata bulan sabit milik Tiffany. Sorot yang selalu meneduhkannya. Entah dapat, tetapi Siwon dapat merasakan ketenangan saat menatap kedua bola mata coklat ebony itu.

“Kau..” Seulas senyum kini terpatri di wajah Tiffany, “Harus terus bersemangat. Jika kau ingin Yuri bahagia, berusahalah yang terbaik dan jadilah pria yang hebat. Berbahagialah karena kau sudah berhasil melewati masa beratmu kemarin, sehingga kau dapat menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya,”

“Selain itu, masih banyak orang yang membutuhkanmu dalam hidup mereka.. termasuk aku,”

Siwon terbelalak mendengarnya. Tak lama, senyuman penuh kelegaan menghampiri wajah pria itu. Kalimat Tiffany benar-benar berhasil membangkitkan semangatnya. Dipeluknya begitu erat tubuh mungil perempuan cantik itu. Hidungnya begitu bahagia saat menghirup wangi strawberry manis dari leher Tiffany.

“Gamsahamnida,” ucap Siwon, “Kau selalu berhasil membangkitkan semangatku,”

Tiffany tersenyum lembut.

Cukup lama keduanya berpelukan. Hingga Tiffany yang pertama kali melepas pelukan tersebut. Memberikan senyumannya yang begitu manis ketika keduanya bertatapan. Tangannya terkepal sambil berkata, “Hwaiting!”

Siwon membalas senyuman tersebut, mengangguk.

 

*****

TBC..

60 thoughts on “Saltarcume part 7

  1. yahhh chingu knp udahan ..
    next part nya jangan lama-lama yah..
    hampir tiap minggu aku lyat blog ini, nunggu uda ada belum saltarcume 7 nya..
    oia chingu, tiffanynya jangan mati yah ..
    gak rela …
    hahahaha
    fighting chinguu

    • ahahah apanya yang udahan? masih ada next part gitu :p
      jwesonghamnida cinguuu kelamaan ngepostnya-_-
      tiffany jangan mati-mati? kita lihat nanti yaa, bergantung suasana hati saya hahaha *ketawa setan*
      gamsahamnida komennya cinguu ditunggu yaa😀

  2. Thoooooor yaampun ini udah lama bgt yak gak ngepost huhu aku nungguin kapan nongolnya haaaaa penasaran sama tiffany eonninya trus gregetan sama donghae oppa pokoknya suka bgt!!! Semangat thoor buat nulis, aku akan selalu nunggu hihi

  3. Makin keren ceritanya
    Tp please dong jgn dibuat sad ending~
    Pokonya harus happy ending yaaa haha
    Next chapternya ditunggu yaa^^

  4. bner2 ksihan ma siwonpa….
    udah dtnggal yuri tnangan jngan sampai dtnggal ma fany jga…..
    dtnggu klnjtanna jngan lma2 ya hehehehe
    Gumawo

  5. akhirnya rilis juga aku kira bener* hiatus.
    ok kok ceritanya cuma kurang panjang aja😀 .
    udah deh siwon sma tiffany aja.ga usah inget* yuri lagi *devil*

  6. aduh siwon jangan nangis masih ada tiffany eonni koq, relakan saja yuri untuk bang yeye, aduh saeng knapa mesti hiatus sih, padahan saltarcume and ff yang lain blum slesai.

  7. uwahhh, bagus banget thorr.. I like it.. Ku tunggu part berikutnya yap! Tapi ada satu permintaan, fany ama bang siwon jgn pisahh ya🙂

  8. saatnya bilang W.O.W .
    kasian siwon oppa, sini aku peluk #dipukulin siwonest . Me : Tiffany unnie aku mau peluk siwon oppa tapi dipukulin ama siwonest . Tiffany : itu sih DL . Me : unnie jahatt . Tiffany : terus gue harus bilang W.O.W gitu ?
    #mojok sambil meluk pocong(?) .
    daebbakk unnie ! ditunggu part 8 nya . Hwaiting !

  9. hhuuaaa akhirnya Part 7nya keluar setelah Jamuran nungguin
    Bagus bagus
    Okelahhh SiFany SiFany😀

    Part 8nya jgn ampe aku lumutan yah -___-

  10. wwaaaaahh
    akhirnya FF Favorite ku muncul juga

    cingu jangan lama-lama lagi ya ngepostnya
    penasaran banget sama nih FF

    oia, mianhae baru koment di Part ini,
    hehehehe
    *.*v

    pengennya SIFANY aja Endingnya#maksa banget dah

  11. Jangan sampe endingnya tiff meninggal andwae!:( aaaa aku udh lama nunggu kelanjutan ff ini,jangan lama2 dilanjut dong chingu u,U hehe aku request juga klo bisa buat ending yg ga bisa ditebak ya;;D

  12. adch apakah mereka akan bersatu sifany………………..

    wonppa ikhlaskan yuri ma yesungoppa ya………..

    next………….

    tapi masalah penyakitnya tiffany

    next secepatnya ok.gmawo

  13. Lanjutt eonni, jangan lama” yah part 8 nya, terus satu lagi eonni, harus happy ending ne, jangan ada acara meninggal”an.. Hwaiting eonni!!!!!! Buat ff SiFany lagi yah eonni..🙂

  14. aaahh bikin penasaran nih…
    author yg daebak klo bisa ini jangan sampa sad ending ya nantinya..
    terus tambahin juga adegan romantis sifanynya
    jangan lama’ ya lanjutannya…

  15. Waaaaa semoga siwon beneran jatuh cinta sama tiffany , dan melupakan yuri.
    Part selanjutnya apa sudah muncul???

  16. Ini udah gak dilanjut lagi ta? Gak tanggung jwab banget yang bikin. Wee nunggu’in bolak balik dari dulu -.-

  17. Hya…… Comentar ke 50 huwoooo

    KERJAAN SIDERS GILA SATU INU
    NEXT NEXT YANG KILAT THOR PALLIWA DAEBAKKNEXT NEXT YANG KILAT THOR PALLIWA DAEBAKKNEXT NEXT YANG KILAT THOR PALLIWA DAEBAKKNEXT NEXT YANG KILAT THOR PALLIWA DAEBAKKKKKK

  18. Author..kok blm da lanjutan saltarcume part 8 siih? Aku udh nunggu lama bgt lho😦 aku mohon lanjutin ff ini author! Please!😦 Jgn lupain ff ini…aku suka pke bgt sma ni ff😥 hiks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s